Apa yang Zahra takutkan menjadi kenyataan. Satu tamparan dari Vade melayang tepat mengenai permukaan kulitnya.
Untung saja saat ini mereka berada didalam mobil, dan tidak mengundang perhatian banyak orang.
Sekarang Zahra tahu satu hal lagi akan sosok Vade. Dia muda tersinggung, yang artinya Zahra harus pintar dalam mengolah kata-kata untuk disampaikan pada pria itu.
Jika salah sedikit saja, akan mengundang emosi pria itu. Benar-benar gila!
"Sekali lagi kamu begitu, bukan hanya tamparan yang kamu dapatkan Zahra." desis Vade.
"Bahkan kedua orang tua ku aja gak pernah nampar aku. Tapi kamu yang bukan siapa-siapa, dengan berani bermain fisik sama aku. Gimana jadinya kalau Abi sama Umi tau apa yang kamu lakuin ke aku."
Sorot mata Vade menggelap, pria itu berusaha mati-matian untuk tidak melayangkan tamparan lagi pada Zahra. Karena nyatanya perempuan itu sendiri tidak bisa mengontrol ucapannya.
"Aku melakukan ini karena ingin berlaku tegas sama kamu. Supaya kamu tau saat kita udah nikah nanti, agar kamu gak akan ngulangi ini lagi." ucap Vade.
"Terus aja menyumpahi aku di dalam hati, karena aku gak peduli. Dan kamu harus tau, meksipun orang tua kamu tau siapa aku sebenarnya. Mereka bakalan tetap maksa kamu buat nikah sama aku. Karena apa? Rasa gak enak hati sama balas budi, mereka junjung tinggi!"
Zahra tertawa hambar, apa yang dikatakan Vade ada benarnya. Meskipun orang tuanya tahu, Zahra akan tetap dipaksa menikah dengan dia. Karena apa? Ketika seseorang meminta sesuatu berselimutkan "Itung-itung sebagai balas budi." maka, Jangankan menolak. Berniat menolak saja tidak bisa.
"Sudahlah, Minggu besok kayaknya aku gak bisa antar kamu ke Bandung. Kamu mending pergi sendiri, naik kereta atau apalah itu. Aku sibuk!"
Zahra mengangguk, dia juga tidak mau memaksa Vade. Toh dirinya ke Bandung juga bukan untuk pernikahannya dengan pria itu, melainkan pernikahannya dengan Zen.
"Sekarang aku antar ke rumah sakit. Ingat, seperti peringatan ku setiap harinya. Batasi interaksi mu dengan pasien atau dokter laki-laki."
"Iya."
Untuk sementara saja bukan, menuruti perintah dan keinginan Vade? Jika terus didebat, pria itu akan kembali emosi dan berakhir dirinya yang mendapatkan k*******n fisik.
Jangankan dapat lagi, bekas tamparan di pipi saja belum hilang sepenuhnya. Lihat, bekas kemerahan sangat kentara dipipi Zahra. Maklum, kulitnya yang putih membuat bekas itu tampak terlihat jelas.
Sekitar setengah jam, mobil yang dikendarai Vade berhenti tepat didepan rumah sakit tempat Zahra bekerja. Dengan segera Zahra membuka pintu dan tak lupa mengucapkan kata terima kasih.
Bagaimana pun buruknya sikap Vade pada dirinya, Zahra tetap akan mengucapkan terima kasih saat pria itu membantunya. Dan Zahra akan mengucapkan tolong, saat dirinya butuh bantuan pria itu.
Terlepas dari rasa ketidaksukaannya pada Vade, Zahra tidak pernah melupakan kata tolong, terima kasih dan maaf dalam hidupnya.
Usai hilangnya mobil Vade dalam pandangan Zahra, perempuan itu membalikkan badan dan berniat memasuki rumah sakit. Meskipun sudah hampir pukul sepuluh malam, rumah sakit tidak pernah sepi dan orang yang berlalu lalang seakan tak kenal waktu.
Ya, namanya rumah sakit. Setiap jam nya, bahkan menitnya. Banyak orang yang masuk dan keluar secara bersamaan, bahkan ada yang merasa jika rumah sakit adalah rumah ke duanya.
"Zahra."
Panggilan itu terasa tak asing ditelinga Zahra, dia berhenti dan berbalik arah. Matanya melebar melihat seorang pria berjas hitam berdiri jauh didepannya.
"Zen?" lirihnya.
"Tunggu."
Terlihat Zen berjalan mendekat dan menatap aneh kearah wajah Zahra. Tatapannya menelisik mencoba mencari jawaban dari apa yang dilihatnya.
"Bekas tamparan?"
"Hah?"
"Saya tanya, kamu jangan balas tanya juga. Itu bekas tamparan kan? Pipi kamu merah banget itu."
Astaghfirullah, Zahra gelagapan sendiri saat Zen menyadari bekas tamparan Vade.
"Bukan ini--"
"Saya tau, gak usah kamu jawab saya udah tau jawabannya. Sekarang, bisa kita pergi berdua?"
Zahra menggeleng, dari siang sampai malam dia meninggalkan tanggung jawabnya di rumah sakit. Gila saja jika sekarang dia harus kembali keluar lagi. Bisa-bisa di cap sebagai dokter tidak bertanggung jawab.
"Saya--"
"Saya udah izinkan kamu cuti untuk 2 hari kedepan, termasuk hari ini juga." ucap Zen, sontak membuat Zahra melongo tak percaya.
"Kok bisa?"
"Untuk sekedar ini aja saya bisa, apalagi buat bantu kamu nanti." gumam Zen.
Zahra hanya bisa memutar bola mata malas, kenapa semakin kesini Zen semakin terlihat menyebalkan.
"Mau pergi ke mana?" Zahra menatap Zen, melihat penampilan Zen dari atas sampai bawah. Terlihat sekali jika dia baru saja pulang kerja.
"Maunya kemana?"
Lah? Orang ini sepertinya ingin membuat Zahra jengkel. Benar-benar!
"Ck, kalau gitu saya gak bisa. Lebih baik saya pulang ke rumah aja, daripada ikut kamu yang gak jelas tujuannya." ketua Zahra.
Baru ingin pergi dari hadapan Zen, pergelangan Zahra dicekal membuat perempuan itu memutar kembali tubuhnya.
"Apa?"
"Cuti 2 hari, apa sebaiknya digunakan untuk hal yang bermanfaat? Misalnya mendatangi rumah paman kamu, atau menyiapkan semuanya. Kalau bisa kamu besok ikut saya menemui orang tua serta nenek saya. Saya berani jamin, mama saya pasti shock kalau tau kamu akan saya nikahi."
"Kenapa shock, gak nyangka gitu kalau anaknya bentar lagi mau nikah?"
"Bukan begitu Zar. Tapi ini jujur, mama saya suka sama kamu--"
"Apa? Mama kamu belok? Astaghfirullah, saya benar-benar gak nyangka. Gimana nanti kalau mama kamu tau, calon mantunya adalah orang yang dia sukai. Aduh saya gak bisa bayangin perasaan papa kamu, gimana dia--"
Mata Zahra melotot saat telapak tangan Zen membungkam erat mulutnya. Bahkan saat Zen mengisyaratkan Zahra untuk diam, perempuan itu malah semakin bergumam tak jelas.
"Jangan gila, mama saya gak belok. Enak aja kamu, mama saya itu suka ke kamu bukan artian dia belok. Ada-ada aja."
Zen melepaskan tangannya, sedangkan Zahra melotot marah kepada Zen.
"Terus suka kayak gimana?"
"Gak tau kenapa waktu pertama kali mama lihat kamu masuk ke kamar inap saya, saat itu juga mama bilang dia sreg sama kamu. Dia punya harapan kalau kamu bakal jadi mantu dia, karena mama merasa kamu itu perempuan baik-baik." jelas Zen.
Zahra mengerutkan keningnya, pertanda dia bingung dengan penjelasan Zen. "Kok cepet gitu suka ke saya? Kok mama kamu gampang banget bilang saya itu perempuan baik-baik. Padahal cover itu gak menjamin kualitas diri."
Zen mengedikan bahunya, "Saya gak tau, katanya dia sreg aja sama kamu. Dia juga bilang, mau lamar kamu buat saya. Awalnya saya anggap mama saya itu aneh, dan keinginannya itu mustahil banget. Tapi kayaknya ucapan mama saya tempo hari, langsung didengar sama yang diatas. Jadi dia menakdirkan kita seperti ini."
"Jadi? Kita mau melanjutkan pembicaraan di depan rumah sakit, dengan tetap berdiri seperti ini?" tanya Zahra.
Seolah sadar, Zen tertawa kecil dan mengajak Zahra untuk masuk ke dalam mobilnya. Mungkin bicara di restoran, lebih baik dari pada berbincang di depan rumah sakit. Tidak elit sama sekali.
^•^•^•^•^
Bacaan apapun, yang lebih utama adalah Al-Qur'an
Follow i********: : alivinad