PART 9

1071 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, yang artinya Zahra sudah lama sekali meninggalkan rumah sakit. Ini semua diakibatkan rasa bimbang dan takut dihatinya. Pandangan Zahra menelisik ke jalanan yang dipenuhi berbagai kendaraan roda dua dan roda empat. Maklum, ini jam pulang jadi jalanan ibu kota terjadi kemacetan. "Mbak, ini macet loh. Apa gapapa?" tanya pria baya, si pengemudi taksi. Ya, Zahra memutuskan pulang sendiri tanpa diantar Abi. Karena ini ingin punya waktu sendiri dan berpikir serta memantapkan hati. "Gapapa pak." Cling Zahra menatap ponselnya yang menampakkan notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal. Enggan untuk membuka, Zahra lebih memilih mengabaikannya. Tapi belum sampai satu menit, ponselnya kembali berdering dan panel notifikasi kembali muncul. Sekarang, ada 5 pesan yang belum terbaca. From : 088223++++ Saya Zen Minggu besok, apa kamu siap kalau saya akan perkenalkan kamu dihadapan orang tua saya? Beritahu saya siapa yang akan kamu minta untuk jadi wali nikah Saya udah siapkan semuanya Kamu harus siap Zahra menghela napas panjang, kepalanya terasa mau pecah membaca deretan pesan yang dikirim oleh Zen.  Dengan malas Zahra menyimpan nomor pria itu, dan memikirkan untuk membalas apa. Lagipula, Zahra ragu untuk meminta bantuan paman nya yang ada di Bandung untuk menjadi wali nikahnya. Takut-takut, jika paman nya akan membocorkan keberadaannya pada kedua orang tuanya. Itu akan semakin menambah masalah. To : Zen Mungkin kakak dari Abi saya bisa membantu. Nanti akan saya kabari lagi Zahra keluar dari ruang chat antara dia dan Zen. Dengan cepat Zahra mensilent ponselnya, dan kembali memasukkannya kedalam tas. Biar saja jika ada pesan atau telepon yang masuk. Untuk saat ini Zahra ingin tenang dengan pemikirannya. Entahlah, seolah takdir mempermainkannya saat ini. Berawal dari pertemuan memalukan, dan tanpa diduga mereka akan terikat dalam pernikahan. Cerita hidup macam apa itu? Terlalu aneh dan tak ada sensasinya. Seolah-olah terjadi begitu saja, tanpa diharapkan. °•°•°•°•° Malam harinya, tanpa bisa Zahra menolak, Vade sudah lebih dulu meminta izin pada orang tuanya untuk membawa Zahra keluar makan malam. Awalnya Zahra bersikukuh tidak mau dan beralasan tak enak badan. Tapi tatapan mata tajam Vade dan tatapan sayu kedua orang tuanya, membuat Zahra pasrah dan mengiyakan ajakan pria itu. Bagi Zahra, ini hanya untuk kedua orang tuanya. Dan disinilah mereka berdua, salah satu restoran yang menyajikan berbagai olahan seafood. "Kamu tadi gak ada ke rumah sakit, kata mereka kamu pergi sama Abi. Bukankah dia calon suami Salwa? Apa diantara kalian ada hubungan, apa kamu berniat jadi bibit pelakor?" Zahra tersentak, matanya memanas dan berusaha menahan amarahnya. Ini yang dia tidak sukai dari seorang Vade, menuduh tanpa ada bukti. "Enggak, ngapain juga jadi pelakor. Lagian tadi aku keluar sama Abi, Salwa nya sendiri juga tau. Bedanya, Salwa gak tau aku sama Abi mau ke mana."  Keduanya saling bertatapan, tapi tak lama Zahra langsung membuang pandangannya. "Jangan terus bertany--" "Kalian pergi ke mana?" "Beli kado buat ulang tahun Salwa. Abi minta bantuan, agar pesta yang dia buat bisa berjalan lancar tanpa sepengetahuan Salwa." alibi Zahra. Tidak mungkin kan dia mengatakan hal yang sebenarnya. Vade mengangguk meskipun terselip rasa ragu dari pengakuan Zahra. Karena dari yang Vade tahu, Zahra adalah tipe perempuan yang sangat pintar menyembunyikan sesuatu. Sampai-sampai dari tatapan mata saja, kadang sangat susah untuk menebak isi suasana hatinya. "Vade." panggil Zahra. Ini kali pertama Zahra memanggil Vade terlebih dahulu.  "Ya sayang?" "Bisakah setelah menetapkan tanggal pernikahan, kamu antarkan aku ke Bandung?" pinta Zahra. Sekarang Zahra harus pintar-pintar mengolah kata agar Vade tak terpancing emosi. Lagipula memanfaatkan Vade untuk kelancaran rencananya, tidaklah salah. Ini benar, dan ini sebagai tanda memperjuangkan kebahagiaan. "Untuk apa ke Bandung?" "Menemui keluarga paman, mau menyampaikan kabar pernikahan kita secara langsung. Apalagi kemarin kak Fulya udah telepon, katanya aku harus datang ke sana." jelasnya. "Begitu?" "Iya, kalau gak mau antar juga gapapa. Aku bisa naik kereta. Lagian deket kok dari Jakarta ke Bandung."  Vade menggeleng, pria itu tersenyum kecil merasakan perubahan pada diri Zahra. Jika Zahra terus seperti ini padanya, maka Vade pun tak akan mengasari perempuan itu secara fisik. Ya, selama Zahra manis padanya dan tidak membuatnya marah, maka dengan senang hati Vade berperilaku lembut dan menyayangi Zahra. Tangan Vade terulur ingin menggenggam tangan Zahra, tapi sepertinya perempuan itu masih belum mau. Terlihat dari Zahra yang langsung menarik tangannya. "Dimakan Zahra, jangan hanya dilihat." "Iya." Baru beberapa suap, ponsel Zahra berdering tanda satu pesan w******p masuk. Dengan ragu Zahra melihat, dan ternyata Zen yang mengiriminya pesan. "Siapa?" "Salwa, dia minta aku buat gantiin shift malam nya."  Lagi dan lagi Zahra berbohong. Benar kata orang, sekali berbohong maka seterusnya akan ada kebohongan untuk menutupi kebohongan pertama. Ya Allah, maafkanlah Zahra. Sesungguhnya Zahra juga tidak ingin berbohong. To : Zen Maaf ya, saya gak bisa kalau hari Minggu. Saya mau ke Bandung, nemuin paman buat bantu jadi wali nikah kita. Zahra terdiam, kembali memikirkan semuanya. Mulai dari rencana gilanya, dan lebih gila saat harus memutuskan menikah dengan Zen Mardentan. Pria yang menjadi korban keteledoran Salwa. Jalan hidup seperti apa ini. Sebenarnya Zahra menolak menikah dengan Vade, karena pria itu kasar dan hanya terobsesi dengan dirinya. Selain itu, Zahra juga belum siap untuk membina rumah tangga. Baik dengan Vade maupun Zen! "Zahra, kamu gapapa?" Zahra terbuyar dari lamunannya, dan mengangguk atas pertanyaan Vade. "Kita pulang sekarang, Salwa butuh bantuan aku. Langsung antar ke rumah sakit aja." ucap Zahra. "Zahra, bahkan aku belum makan." "Kalau begitu aku pergi sendiri." Brakk Zahra terperanjat, jantung nya berdebar karena gebrakan meja yang tiba-tiba. Ekor matanya melirik takut ketauan Vade, yang tampaknya pria itu tengah menatapnya tajam. Apalagi perhatian pengunjung restoran terpusat pada mereka berdua. Ya, si pelaku yang menggebrak meja adalah  Vade. Entah kenapa pria itu tiba-tiba marah dan membuat kehebohan disini. "Jangan seenaknya sendiri Zahra. Aku dari tadi udah selembut mungkin berperilaku sama kamu. Jangan mentang-mentang aku seperti itu, kamu malah ngelunjak. Kurang ajar sekali kamu pergi tanpa menunggu aku makan. Bahkan sesuap pun belum masuk ke perut ku!" hardik Vade. Kenapa pria itu mempermasalahkan hal sekecil ini? "Aku kan bilang mau pergi sendiri, gak diantar juga gapapa. Kenapa kamu malah marah?" "Beruntung kita saat ini di restoran, kalau enggak mungkin bibir kamu itu yang aku jadiin sasaran." desis Vade. Rahangnya mengeras, tatapannya menajam membuat Zahra kelimpungan sendiri. Kalau dikatakan berani, dia berani dengan Vade. Tapi mau diapakan pun, Zahra tetaplah seorang perempuan. Punya rasa takut, apalagi lawan dihadapannya tak segan-segan menggunakan k*******n. ^•^•^•^•^ Bacaan apapun, yang lebih utama adalah Al-Qur'an Follow i********: : alivinad
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN