PART 8

1075 Kata
Zahra shock berat, keringatnya bercucuran dan oksigen seakan menjauhinya saat ini. Bagaimana bisa harapannya tidak terkabul, dan malah menjadi rumit seperti ini. Sudah tiga hari Zahra tenang karena tak bertemu pria yang membuatnya malu setengah mati. Tapi hari ini? Bahkan pria bernama Zen Mardentan, itu akan membantunya. Artinya, dia akan menikah dengan Zen bukan? Ya Allah, kenapa takdir berjalan seperti ini. "Astaghfirullah, jadi dokter Zahra yang bakalan gue bantu?" tanya Zen pada Abi. Dia masih tak percaya jika harus bertemu kembali dengan Zahra, dan semakin tak percaya jika dia akan menikah dengan perempuan itu. Ya, Zen. Pria itu sudah sering mendapat desakan pernikahan dari neneknya. Tapi kedua orang tua Zen, Mardentan dan Zalen. Mereka tidak memaksa putranya untuk segera menikah, karena mereka ingin Zen menikah dengan perempuan pilihannya sendiri. Untuk urusan neneknya, itu permintaan pribadi beliau pada Zen selaku cucu tercintanya. "Loh kalian saling kenal? Kalau gitu enak dong, ya gak Zar?" Ingin rasanya Zahra menyumpal mulut Abi dengan roti dihadapannya, entah kenapa pria itu tidak tahu sikon kalau bicara. "Abi, tolong tinggalkan kami berdua. Bisa?" pinta Zen. Abi berpikir sejenak, ekor matanya melirik Zahra, yang ternyata perempuan itu mengangguk kecil. Selepas kepergian Abi, Zahra melihat jam dipergelangan tangannya. Sudah menunjukkan jam 2 siang, artinya dia sudah meninggalkan rumah sakit sekitar setengah jam. "Mungkin pertemuan pertama kita sangat memalukan. Tapi jujur, saya juga terkejut saat perempuan yang dimaksud Abi, adalah dokter. Dan untuk ini, jika dokter keberatan dokter bisa menolak. Saya gak maksa untuk masalah ini." ucap Zen, memulai pembicaraan. Zahra terdiam, ucapan waktu itu seakan menjadi kenyataan.  "Andaikan ada pilihan. Nikah sama polisi itu atau nikah sama orang gila. Pasti aku bakal milih nikah sama orang gila. Ya, meskipun aku bakalan jadi perempuan bodoh kalau itu benar terjadi."  Dan Zahra juga sadar, kalau dia pernah mengatai jika Zen adalah pria gila yang menyebalkan. Kenapa seolah semua perkataan Zahra berbalik pada dirinya sendiri. "Apa Anda--" ucapan Zahra terpotong saat Zen dengan cepat menyelah ucapannya. "Jangan panggil Anda, saya punya nama dokter!" "Saya harus panggil kamu apa?" tanya Zahra. Dia bingung saat pria dihadapannya melarang dia menyebut kata Anda. Dan dengan terpaksa Zahra menggunakan panggilan kamu untuk sementara. "Zen. Cukup panggil saya Zen." Zahra mengangguk, dia menarik napas sebelum memulai pembicaraan dengan Zen. Ya, setidaknya dia harus mengontrol detak jantungnya terlebih dahulu. Maklum, dari tadi jantung Zahra tak berhenti berdebar saat dirinya dipertemukan kembali dengan Zen. "Apa kamu bisa bantu saya, sembunyi dari kejaran calon suami saya?" tanya Zahra. Tapi bukan jawaban yang diterimanya, melainkan tawa kecil yang Zen berikan untuk merespon pertanyaan Zahra. "Ternyata kamu menganggap dia sebagai calon suami. Padahal dari cerita Abi, kamu sepertinya gak suka sama pria itu. Benar?" Zahra mendecak kesal, saat ini dia ingin serius, tapi sepertinya Zen lain pendapat dengan dirinya. "Bisa kita jangan bahas hal yang gak penting? Bicarakan aja yang penting dan melupakan saya mau anggap dia calon atau bukan!" tegas Zahra. Zen tersenyum tipis, sebelum kembali berbicara pria itu meminum kopi dihadapannya. "Maaf, bisa kita lanjutkan?" tanya Zahra "Bisa. Jadi, saya rasa kamu gak perlu ragu untuk itu. Karena saya lebih berkuasa dari pada dia. Ya, meskipun dia seorang polisi, saya yakin jika saya lebih unggul dan lebih bisa membuat kamu aman." Zahra terdiam, dengan tangan yang sibuk mengaduk jus jambu dihadapannya. Lagi dan lagi Zahra merasa bimbang. Dia belum siap menikah, tapi jalan satu-satunya harus menikah dengan orang lain jika tidak ingin Vade menjadi suaminya. "Zen, kamu yakin bisa lindungi saya dari kejaran Vade?" "Vade?" "Iya, namanya Vade. Inspektur kepolisian." jelas Zahra. "Begini Zahra. Kapan tanggal pernikahan kalian ditentukan?" "Seminggu lagi. Dan pernikahan akan dilangsungkan seminggu setelah tanggal ditetapkan." Zen mengangguk, otaknya mencoba mencari cara untuk membebaskan dan membantu perempuan dihadapannya ini. Mungkin, lebih tepatnya calon istrinya! "Apa kamu siap kalau saya ajak kamu pergi dari Jakarta, bahkan pergi meninggalkan Indonesia?" Mata Zahra membelak, tak percaya dengan ucapan Zen padanya. "Artinya kita akan hidup di negara lain?" "Iya, kita hidup di negara lain. Tapi sebelum itu, kita selesaikan masalah disini dulu." Zahra meremas jari-jari tangannya, pertanda kalau dia tengah bimbang untuk saat ini. Jangankan meninggalkan Indonesia, meninggalkan kedua orang tuanya saja Zahra merasa tak sanggup. "Tapi kamu bisa memastikan semuanya kan Zen?" "Bisa!" Zahra memejamkan matanya, dan membuka kembali walau merasa enggan. "Setelah saya bantu kamu kabur, detik itu juga saya akan nikahi kamu dihadapan nenek dan kedua orang tua saya. Mungkin sekitar seminggu setelahnya, saya akan bawa kamu meninggalkan Indonesia." jelas Zen. "Gimana dengan Abi saya? Bahkan orang tua saya gak akan setuju dengan pernikahan kita." "Jelasnya kita akan menikah tanpa diketahui mereka. Gila aja kalau mereka tau kita menikah, yang ada mereka bakalan bawa Vade menemui kita." "Jangan khawatir, saya tau apa yang saat ini kamu pikiran. Masalah wali, bukan jadi masalah buat pernikahan kita. Kalau Abi kamu gak bisa, pasti ada kakak, adik atau kerabat dari Abi kamu yang bisa jadi wali nikahan kita." lanjut Zen. "Lalu, kelanjutan pernikahan kita akan seperti apa? Apa ini pernikahan kontrak, atau pernikahan--" "Selamanya." lanjut Zen. Zahra menatapnya tak percaya, ingin memprotes tapi Zen lebih dulu menyelat ucapannya. "Saya bukan berniat menikah kontrak. Jadi kamu bisa putuskan ini lebih dulu, sebelum mengiyakan semuanya." Jadi, kalau Zahra menerima. Artinya dia akan menjadi istri Zen untuk selamanya, dan bukan sementara. "Tapi pernikahan kita bukan karena cinta. Apa bisa bertahan selama itu?" Zahra menatap kosong kearah lain, perempuan itu masih bingung dengan situasi kali ini. "Cinta bisa datang karena terbiasa, jadi jangan khawatir. Pasti nanti ada saatnya saya cinta sama kamu dan kamu cinta sama saya." ucap Zen berusaha meyakinkan Zahra. Ternyata Zahra adalah perempuan yang sulit untuk diyakinkan. Dan artinya, Zen sudah tepat jika memilih Zahra untuk menjadi istrinya. Apalagi, sifat Zahra yang diceritakan Abi cukup membuatnya yakin. "Saya gak punya waktu lama, sebentar lagi saya harus menghadiri rapat. Jadi, tolong putuskan sekarang, iya atau tidak." pinta Zen. Zahra menatapnya, seakan keberatan jika harus memberi keputusan saat ini juga. Seolah mengerti arti tatapan mata Zahra, Zen kembali bersuara. "Saya gak punya waktu untuk menunggu besok atau nanti. Putuskan sekarang, dan saya akan menyiapkan segalanya." Diam, lidah Zahra terasa keluh untuk mengulurkan suara. Terlalu takut mengambil keputusan, takut-takut dia akan salah langkah. "Iya atau tidak? Diam mu, memberikan jawaban tidak buat saya. Permisi."  Zen bangkit dari duduknya, merapikan jas dan melangkah meninggalkan Zahra. Tapi detik berikutnya, suara Zahra menghentikan langkah kaki Zen. "Saya mau. Artinya, iya untuk semua ini." ^•^•^•^•^ Bacaan apapun, yang lebih utama adalah Al-Qur'an Follow i********: : alivinad
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN