PART 7

1089 Kata
Sudah dua hari sejak kepulangan Zen dari rumah sakit. Pria itu kembali disibukkan dengan urusan pekerjaan dan berkas yang sudah menggunung. Sesekali Zalen juga memarahi putranya, karena terlalu memforsir pekerjaan. Seperti sekarang ini, Zen sudah melewatkan jam makan siangnya. Pria itu lebih memilih menyelesaikan dokumen dari pada memutuskan makan siang walaupun sebentar. Bagi Zen, pekerjaan yang sering ditunda itu tidaklah baik. Apalagi Zen bukan tipe pria seperti itu. Dia cenderung lebih rajin dan mengedepankan hal yang lebih penting. Tok tok Ketukan pintu terdengar, membuat perhatian Zen teralihkan sebentar. Dia melirik jam dipergelangan tangannya, dan mendapatkan sekarang sudah hampir pukul satu lewat lima menit. "Masuk!" Pintu terbuka, muncul seorang perempuan dengan tangan membawa nampan yang terisi makanan dan minumannya. "Maaf pak Zen, ini saya pesankan makan siang lengkap sama soda nya." "Siapa yang suruh kamu?" tanya Zen. Pria itu menatap sang sekretaris tajam.  "Maaf, tadi pak Zen melewatkan makan siang. Jadi saya berinisiatif memesankan makanan buat bapak." jelasnya. Perempuan bertag nama Laura itu tersenyum manis. Dia berjalan mendekat dan meletakkan nampan diatas meja kerja Zen. "Pak Zen jangan terlalu memforsir pekerjaan, apalagi pak Zen kan baru keluar dari rumah sakit." Sesaat Zen menatap menu yang dibawakan Laura, matanya menajam dan bibirnya mendecak kesal. "Kamu mau buat saya kolesterol?" Laura gelagapan, dia bingung kenapa Zen bisa berkata seperti itu. "Maaf pak, maksudnya?" "Menu bebek goreng lengkap dengan soda. Gila aja, menu itu bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh seseorang. Lain kali, jangan bawakan saya makan siang." "Tugas kamu itu bukan menyiapkan makan siang buat saya. Tapi saya berterima kasih karena kamu udah menyiapkan ini buat saya. Lain kali, jangan pedulikan makan siang saya." lanjut Zen. Terlihat Laura salah tingkah sendiri, perempuan itu merasa tak enak hati dan sangat malu dengan penuturan atasannya. Niatnya yang ingin mencuri perhatian, malah gagal total saat Zen malah tidak menyukai menu yang disiapkannya. "Kalau gitu saya keluar dulu pak. Maaf sekali lagi, biar saya bawa lagi makanan." ucap Laura. "Gak perlu, nanti saya makan. Saya menghargai kamu, jadi gapapa." Laura tersenyum dan segera berlalu pergi dari ruangan Zen. Sepeninggal Laura, Zen menutup laptopnya dan membereskan map yang berserakan diatas meja. "Bebek goreng, ya." lirih Zen. °•°•°•°•° Zahra menatap kesal pada calon suami sahabatnya. Bisa-bisanya pria itu membawa Zahra pergi di jam tugasnya, apalagi dengan tujuan tak pasti. "Abi, kamu mau bawa aku ke mana sih? Jangan aneh-aneh ya, banyak pasien yang belum aku periksa loh." kesal Zahra. Ya, dia Abi. Calon suami Salwa, yang kebetulan dekat juga dengan Zahra. "Cuma bentaran Zar. Kamu mau gak sih aku bantu, jadi diam aja dan jangan banyak tanya."  "Bantu apa lagi?" "Kamu mau kabur kan dihari pernikahan kamu nanti. Jadi, aku punya rekomendasi orang yang tepat buat bantu kamu. Tapi, ya gitu. Kamu harus bantu dia juga." Kening Zahra mengkerut, pertanda bingung dengan arah pembicaraan Abi. "Maksudnya?" "Aku ada teman, udah dua tahun ini diteror kapan nikah sama neneknya sendiri. Soalnya neneknya minta dia cepet-cepet nikah, tapi dia belum juga nikah soalnya gak ada perempuan yang cocok. Jadi--" "Jadi apa, Bi?" "Aku gak yakin kamu mau nerima saran ini apa enggak. Kalau menurutku dan Salwa, ini adalah kesempatan buat kamu." "Jangan berbelit-belit, jangan buang-buang waktu juga Abi!" "Kamu bakal dibantu kabur sama dia dihari pernikahan kamu. Tapi, kamu harus mau nikah sama dia." jelas Abi dalam sekali tarikan napas. Sontak ucapan Abi membuat mata Zahra melotot. Perempuan itu menatap Abi dengan tajam, dan siap mengeluarkan kata-kata mutiara nya. "Gila kamu ya. Itu namanya keluar kandang buaya masuk kandang singa. Gak, aku gak mau!" "Loh Zar, ini keputusan paling tepat buat kamu. Sekarang ada dua pilihan buat kamu. Kamu tolak tegas pernikahan kamu sama pak Vade, atau kamu terusin rencana kabur kamu itu. Jelas kalau kamu nolak dia dari awal, pasti orang tua kamu bakal ngurung kamu di rumah. Atau lebih parah, pernikahan kamu sama Vade dipercepat." "Pilihan kedua, kamu bakalan dibantu kabur tapi kamu harus nikah sama dia. Aku berani jamin, dia itu pria baik-baik dan gak pernah main tangan sama perempuan. Itung-itung, kalian simbiosis mutualisme deh. Saling menguntungkan gitu." lanjut Abi. "Enggak, kalau pilihannya itu, aku lebih baik kabur sendiri tanpa bantuan kalian. Percuma dong kalau nolak nikah sama Vade, tapi ujungnya nikah sama teman kamu." tolak Zahra. "Gini loh Zar, aku cuma mau bantu kamu aja. Ini bayangan ku ya, kalau misal kamu kabur sendiri terus ketangkap sama pak Vade dan gak ada yang lindungin kamu, gimana? Kamu sendiri kan bilang kalau pak Vade itu orangnya tempramen, bakal jadi apa kamu kalau dia berhasil nemuin kamu yang kabur dihari pernikahan?" Zahra terdiam, menebarkan penjabaran yang diberikan Abi. Tapi perempuan itu juga bimbang antara menerima usulan Abi atau justru menolaknya. Intinya, dia sama-sama menikah. "Gini deh, sekarang ini aku mau kenalin dia ke kamu. Biar kamu sendiri yang nilai orang itu baik enggak nya. Kalau kamu tetap gak setuju, ya gapapa." "Tapi gak harus nikah juga kan? Dia aja pingin nikah karena desakan neneknya, artinya gak ada kata cinta diantara kita dong?" tanya Zahra. Abi tertawa, mengetik sesuatu di ponselnya. "Aku udah kasih tau dia, kalau kita bakal ke sana. Dan soal cinta, cinta itu bisa datang karena terbiasa. Aku berani sumpah kalau dia gak akan sakitin kamu Zar, karena dia itu pria baik-baik dan dia pria penyayang. Apalagi sama ibunya, meskipun mereka sering berdebat, tapi dia tetap sayang ibunya lebih dari apapun." jelas Abi. Pria itu mencoba menyakinkan Zahra sekali lagi. "Gini, neneknya dia sakit kanker. Bisa dibilang dia itu cucu yang paling dekat dan paling disayang. Jadi, permintaan nikah itu harus dia iyakan karena gak mau buat neneknya kecewa. Kalau bisa sih kamu rebut hati neneknya dan sayang juga sama neneknya. Soalnya, dia itu tipe pria penyayang dan gak akan bisa bersanding dengan perempuan yang hanya cinta sama dia. Tapi dia ingin perempuan yang juga cinta dan sayang sama keluarganya." "Maksud kamu, ini pernikahan kontrak gitu?" tanya Zahra. "Bukan." "Berarti kalau neneknya meninggal, kami gak akan cerai?" "Enggak Zar." "Kok aku ragu ya Bi. Takut aja gitu, takut banget malahan." jujur Zahra. "Aku nanti bantu yakinin kamu deh. Percaya sama aku." "Kalau aku percaya, kamu harus bisa jamin kalau dia pria baik-baik." "Iya aku bisa jamin." Hening beberapa saat, sampai pertanyaan Zahra mencairkan suasana. "Salwa tau orangnya?" "Enggak, mungkin setelah kamu ketemu sama dia. Aku beritahu Salwa." Ah, ini jadinya, kalau Zahra maju dia bakal nikah. Dan kalau mundur juga bakal nikah. Intinya, maju kena mundur pun kena. ^•^•^•^•^ Bacaan apapun, yang lebih utama adalah Al-Qur'an Follow i********: : alivinad
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN