Seperti hari-hari sebelumnya, aktivitas Zahra tidak pernah jauh-jauh dari rumah sakit dan mengontrol pasien. Terkadang, Zahra berpikir betapa melelahkan nya profesi sebagai dokter.
Tapi dia sadar, kalau perjuangan untuk sampai dititik ini tidaklah mudah. Perlu keringat dan air mata, jujur itu benar terjadi!
Meskipun bukan dokter spesialis, setidaknya mendapatkan gelar dokter adalah sebuah pengorbanan. Dimana kesabaran dan pantang menyerah adalah faktor utama.
"Zar, kok diam aja sih. Oh iya, tadi aku udah minta maaf sama pasien yang jadi korban keteledoran aku. Untungnya dia baik ya, aku langsung dimaafin gitu. Gak kebayang deh kalau dia itu nuntut, dan--"
"Udah deh, jangan dibahas lagi. Malu tau kalau keinget itu, rasanya ditaruh dimana muka aku."
Salwa terkekeh kecil, tidak menyangka jika keteledorannya membuat Zahra malu setengah mati. Lagipula, siapa sih yang tidak merasa malu saat salah sasaran, apalagi Zahra sempat berdebat dan berikukuh.
"Oh iya, gimana itu kelanjutan hubungan kamu sama pak Vade?" tanya Salwa.
Mereka masih memiliki sekitar 20 menit untuk mengobrol. Karena jam istirahat baru berlangsung sepuluh menit.
"Ya gitu." jawab Zahra. Perempuan itu asik mengaduk mie ayam, tanpa berniat memakannya.
"Kalau saran ku nih ya, mending kamu tolak aja. Jangan sampai nikah, soalnya pria kayak pak Vade itu gak pantes buat dijadiin suami." jelas Salwa.
Ya, selama ini orang terdekat Zahra hanyalah Salwa. Perempuan itu lebih percaya untuk menceritakan keluh kesahnya pada Salwa, karena hanya Salwa yang percaya jika Vade bukanlah pria baik-baik. Dan hanya Salwa yang sependapat dengan dia.
"Aku gak tau, Abi sama Umi masih gak percaya. Tapi kemarin aku udah bicara sama Umi, dan respon Umi antara ragu dan--"
"Gak usah dilanjutin, aku tau kok pasti mereka gak percaya. Apalagi pak Vade kalau didepan orang tua kamu, dia itu baik banget. Kalau menurutku nih ya, pak Vade itu bukan cinta sama kamu. Tapi dia terobsesi memiliki kamu!"
Zahra menghela napas panjang, mulai memakan mie ayam yang sempat diaduknya, tatapan matanya sayu, sangat memperlihatkan jika perempuan itu sedang banyak masalah.
"Salwa, kalau misal aku minta tolong sama kamu, kamu mau bantuin aku gak?" tanya Zahra. Dia meletakkan garpu dan mulai menatap serius pada Salwa.
"Apa?"
"Kalau tanggal pernikahan udah ditentuin, aku mau kabur. Kamu mau bantu gak?"
Mata Salwa membelak, perempuan itu terkejut dan menatap tak percaya pada rencana Zahra.
"Serius kamu? Gila kamu Zar, kamu malah buat masalah besar kalau kamu benar-benar kabur. Lebih baik tolak aja deh, gimanapun caranya kamu harus tolak dia. Kamu mikir gak sih, aku mau bantu kamu kabur ke mana? Dia itu polisi, mudah banget kalau urusan cari kamu atau lacak keberadaan kamu."
Salwa menggeleng, kali ini perempuan itu tidak sependapat dengan Zahra. Karena baginya, ide Zahra bukanlah ide brilian.
"Lah terus gimana?" tanya Zahra. Dia mengusap wajahnya frustasi.
"Cari orang yang cocok buat kamu mintai bantuan. Aku itu cuma dokter, sulit kalau untuk bantu kamu kabur dari pak Vade. Saran ku, mending cari orang yang lebih berkuasa dan berkoneksi banyak untuk melebihi pak Vade. Aku yakin, acara kabur kamu bakalan berhasil." jelas Salwa. Dia tersenyum manis, melihat reaksi Zahra saat ini.
"Tapi siapa orangnya?"
"Ya Allah. Ya cari lah Zar, masa iya langsung ada aja gitu." greget Salwa.
Sedangkan Zahra, perempuan itu tidak ada list orang yang tepat untuk membantunya. Apalagi semua paparan Salwa itu benar adanya. Kalau Vade seorang polisi, tidaklah sulit untuk mencari keberadaannya. Intinya dia tidak bisa meminta bantuan Salwa.
"Udah ya Zar, aku pergi dulu ya. Ada pasien yang belum aku periksa soalnya, assalamualaikum." pamit Salwa.
Perempuan itu pergi meninggalkan Zahra sendirian.
"Waalaikumsalam."
"Emang siapa ya yang mau bantu aku? Astaghfirullah pecah ini kepala kalau lama-lama mikir." keluh Zahra.
"Udah deh, balik aja ke ruangan."
°•°•°•°•°
Dilain sisi, seorang pria berpakaian dinas polisi, tengah menggeram marah kala mendengar laporan dari anak buahnya.
Ya, dia Vade. Salah satu inspektur kepolisian di ibu kota Jakarta. Pria yang sebentar lagi akan dinikahkan dengan Zahra.
"Siapa yang berani melamar Zahra heh?" tanya Vade. Rahangnya mengeras, tatapannya tak lepas dari berkas yang ada ditangannya.
"Dia itu salah satu rekan sesama dokter nyonya Zahra. Tapi dari info yang kami dapat, Abi dan Umi nyonya Zahra menolak lamaran pria itu." jelas salah satu anak buahnya.
Vede menyeringai licik, ternyata rasa sungkan dan tak enak hati orang tua Zahra sangat menguntungkan dirinya. Entah ini sebuah keberuntungan atau apa, intinya keputusan Vade beberapa tahun lalu tidaklah salah, untuk membantu keluarga Zahra.
Ah, jika membayangkan wajah cantik Zahra, rasanya Vade ingin menikahi perempuan itu sekarang juga.
Tapi sayang, sampai sekarang Zahra tak kunjung menerima dirinya. Padahal, jika dilihat-lihat, Vade lebih segalanya dari kebanyakan pria yang datang melamar perempuan itu.
Vade itu seorang polisi, terlebih dia itu inspektur. Soal kekayaan jangan pernah ditanya, kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan sekaligus. Apalagi investasi nya ada dimana-mana, lalu kurang apa lagi dia?
Dia juga mencintai Zahra, sangat malahan.
Mungkin, ya dia sedikit tempramen. Dan itu sering dia perlihatkan dan imbas kan pada Zahra.
Tapi menurut Vade, itu karena salah Zahra sendiri. Siapa suruh perempuan itu terus menolaknya, dan sering membangkang perintahnya.
"Kalian boleh pergi. Kali ini saya gak akan suruh kalian kasih dia perhitungan, itung-itung sekarang saya lagi baik hati." ucap Vade.
"Kalau begitu kami permisi."
"Ya."
Vade menghembuskan napas panjang, dia kembali bergelut pada beberapa laporan kejahatan didepannya. Untuk masalah Zahra, mungkin nanti malam dia akan meminta izin pada Abi dan Umi Zahra, untuk membawa perempuan itu keluar.
Vade harus bertindak lebih tegas pada perempuan itu. Karena bagaimanapun, Zahra sudah terikat hubungan dengannya. Dan sebentar lagi mereka juga akan menikah.
Tinggal menunggu seminggu lagi, maka tanggal pernikahan akan ditentukan. Setelah itu, Vade akan semakin tegas pada Zahra. Dan jangan harap dia akan berlemah lembut kalau Zahra terus saja mengabaikan perintahnya.
"Saya itu cinta kamu Zahra. Saya sangat ingin menikahi kamu, tapi sepertinya kamu terlalu mengabaikan kehadiran saya."
"Udah lama saya menginginkan kamu, dan baru sekarang ini saya akan mendapatkan kamu seutuhnya. Jangan dikira saya akan diam aja kalau kelakukan kamu terus seperti itu. Saya bisa pastikan, kamu akan tunduk dan menuruti semua perintah saya." monolog Vade. Pria itu mengedikan bahunya, memikirkan apa yang akan ia tegaskan pada Zahra untuk kedepannya.
"Tunggu tanggal main ku Zahra!"
^•^•^•^•^
Bacaan apapun, yang lebih utama adalah Al-Qur'an
Follow i********: : alivinad