Sesal

1036 Kata
Pov Author "Habis ini Liana mandi, trus istirahat, ya," ucap Daffi setibanya ia di rumah sambil menggendong Liana ke kamarnya. Sebelum memasuki kamar Liana, ia sempat memindai sekeliling tapi merasa sedikit aneh karena tak menemukan kehadiran Riana di sana. Biasanya Riana akan menyambutnya di depan pintu saat ia baru saja memasuki halaman rumah. Namun, Daffi hanya mengangkat bahu berusaha cuek dan berpikir mungkin istrinya itu sudah berada di kamar. "Pa, Liana mau di kamar aja, ya, Pa?" pinta gadis kecil itu dengan suara manja. Ia masih merasa kesal dengan kejadian di sekolahnya tadi. "Ya sudah, nanti papa suruh Bik Sumi bawain s**u coklatnya ke sini. Nanti susunya harus di habiskan, loh, ya." "Iya, Pa." Daffi mencium kening Liana lalu keluar dari sana menuju kamarnya. Namun, lagi-lagi ia tidak bisa menemukan Riana. Setibanya di sana, kondisi kamarnya gelap dan tidak ada siapapun di dalam. *** "Bik tolong buatkan s**u coklat untuk Liana, ya. Terus tolong bibik antar ke kamarnya." "Baik, Pak." Baru beberapa langkah akan beranjak dari dapur, Daffi berbalik lagi menghampiri Bik Sumi. "Oh, iya, bibik tau di mana Ibu?" "Sa-saya gak tau, Pak," jawab Bik Sumi berbohong. Ia memilih langsung menjauhi Daffi agar majikannya itu tidak curiga. Dahi Daffi berkerut. Ia heran mendengar jawaban Bik Sumi. Kenapa bisa Riana tiba-tiba menghilang, apa mungkin dia sedang keluar tanpa sepengetahuan Bik Sumi? "Apa kalau saya sedang tidak ada di rumah, Riana selalu seperti ini, Bik? Pergi tanpa pamit?" "Oh, gak Pak. Ibu itu hampir setiap hari selalu berada di rumah, tidak pernah keluar rumah," bela Bik Sumi. "Buktinya sekarang dia ga ada, kan? Kapan bibik terakhir liat dia?" "Tadi sore, Pak. Oh iya, Pak. Tadi saya menemukan ini di atas ranjang kamar bapak." Bik Sumi menyerahkan sebuah kertas putih yang sudah terlipat menjadi dua. Daffi langsung mengambil kertas itu, lalu bergegas pergi ke kamarnya. *** Selamat sore Mas, Maaf sebelumnya karena aku pergi tanpa pamit. Jujur aku terpaksa melakukannya, karena mungkin itu adalah hal yang Mas Daffi dan Liana inginkan. Mas, aku akan mengajukan surat cerai, dengan begitu Mas Daffi tidak perlu khawatir tentang masalah warisan papa. Saya akan mengurus semuanya agar bisa segera beralih atas nama Mas Daffi. Saya titip Liana, ya, Mas. Didiklah ia dengan baik. Dan jika memang ia menginginkan Friska untuk menjadi ibunya, Mas bisa menikahi dia. Insyaa Allah saya ikhlas dunia akhirat. salam, Riana "Baguslah, kenapa ga dari dulu dia ambil keputusan seperti sekarang ini," ujar Daffii emosi sambil meremas kuat surat Riana. Walaupun begitu, Daffi masih berpikir logis. Ia masih mencoba untuk menghubungi ponsel Riana, tapi nomornya tidak aktif. Ia berpikir istrinya itu tetap harus pamit pada sang putri. Daffi berjalan ke arah lemari tempat Riana biasa menyimpan pakaiannya dan ternyata lemari itu sudah kosong. Barang-barangnya sudah tidak ada. "Bik, Bik Sumi!" Bik Sumi berjalan cepat menghampiri kamar Daffi. "Ada apa, Pak?" "Bik, Riana sudah tidak ada. Dia pergi, barang-barangnya sudah dibawa semua." Liana yang sedang berada di kamarnya ikut menghampiri kamar sang papa karena mendengar Daffi bersuara keras. "Kenapa si, Pa? Kok teriak-teriak?" "Liana, ibu pergi dari rumah, Nak." Liana terdiam, ini juga adalah hal yang gadis itu inginkan sejak lama, tapi entah kenapa hatinya tidak merasa bahagia. Hampir sama dengan apa yang Daffi rasakan. "Ke mana, Pa?" tanya Liana. "Papa masih belum tau, Sayang," jawab Daffi dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Pasti Bik Sumi tahu, kan, ke mana Riana pergi?" tanya Daffi tidak sabar. Wajah Bik Sumi seketika pias. Ia terus menautkan kedua tangan di depan d**a. "Sudah, Bik, cepat jawab saya! Pergi ke mana dia?" "Saya, saya, saya ga tau, Pak. Permisi, Pak, saya mau kembali ke dapur dulu." Bukannya menjawab, Bik Sumi malah memilih menjauh dari Daffi hingga membuat Daffi jadi semakin kesal. Bik Sumi memang tahu ke mana tujuan Riana, tapi ia sudah berjanji pada wanita itu untuk tidak memberitahu hal tersebut pada Daffi. Riana bilang, kalau memang ia masih dibutuhkan di rumah itu, Daffi pasti bisa menemukannya cepat atau lambat. Daffi menghela napas dalam, berusaha agar tetap tenang terutama di depan Liana. "Pa, ibu pergi ke mana malam-malam begini? Memangnya ibu punya tempat tinggal lain selain di sini?" tanya Liana. Daffi diam, tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Liana barusan. Ia hanya mengetahui kalau Riana sudah tidak memiliki keluarga. Saat mereka menikah dulu, walinya juga diwakilkan oleh wali hakim, tidak ada sanak saudaranya yang hadir saat itu. Selain itu, Daffi memang tidak pernah menanyakan apapun tentang keluarga dan kehidupan Riana sebelum menikah dengannya. Dia tidak peduli pada perempuan itu. Daffi menikah dengan Riana hanya karena mengikuti perintah ayahnya. Tiba-tiba Daffi teringat sesuatu. Ia ingat saat pernikahannya dulu, ada seorang pria, tetangga Riana yang hadir. "Kalau tidak salah namanya adalah Rafif. Yak, aku ingat benar namanya Rafif. Apa jangan-jangan dia pergi bersama pria itu, ya? Sia**n!" pikir Daffi sambil mengepal kuat tangannya. *** Juwita merasa kesal pada putra suaminya itu. Sejak tadi, sudah berkali-kali Daffi menanyakan pertanyaan tentang kampung asal Riana. "Mama beneran gak tau, Daf! Ayahmu yang membawa wanita itu ke sini, mama gak tau asal usulnya dari mana. Ayahmu cuma bilang kalau Riana perempuan yang baik, istri yang tepat untukmu. Mama cuma tau kalau dia yatim piatu, sisanya mama gak tau!" jawab Juwita jengkel. "Lagian kamu yang tinggal serumah sama dia, masa gak tau apa-apa tentang dia? Memang dia gak pernah cerita tentang keluarganya? Kalian ga pernah ngobrol satu sama lain?" Daffi terdiam. "Gak, Ma. Daffi gak pernah tanya juga. Ga penting. Yah, mama tau, lah, gimana buruknya hubungan kami." "Hubungan buruk dan gak suka, tapi bisa sampai punya anak segala," cibir Juwita. "Ma, waktu itu aku terpaksa menggauli dia karena permintaan papa," ujar Daffi. Daffi mulai tidak nyaman dengan pertanyaan mamanya. Walau bagaimanapun, dia sangat menyayangi Liana anaknya, meski tidak suka pada perempuan yang sudah melahirkannya . "Tapi, Daf, bagus dong kalau wanita menyeramkan itu pergi. Kamu jadi bisa cepat menceraikan dia dan menikah dengan Friska. Warisan papamu juga aman. Kan, bukan kamu yang mengusirnya. Dia sendiri yang pergi atas keinginan dia. Itu, kan, yang sudah lama kamu inginkan?" "Demi Tuhan aku membencinya, tapi aku tak suka jika dia tak ada," gumam Daffi tanpa sadar. "Riana, berani-beraninya kamu pergi dariku dengan cara seperti ini. Bersembunyilah sesukamu, aku pasti akan segera menemukanmu lagi!" Daffi segera mematikan ponsel. Ia bergegas menuju mobilnya. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN