Siasat

1168 Kata
Pov Author "Daffi, lagi mikirin apa, si? Kok kelihatannya suntuk banget, ga kayak kamu yang biasanya. Jangan-jangan kamu lagi mikirin istri kamu yang minggat," tebak Friska saat siang itu mereka sedang berada di restoran miliknya. Daffi yang sedang melamun tersentak kaget saat tiba-tiba saja Friska menyentuh pundaknya. "Aku cuma lagi mikirin ke mana dia pergi," jawab Daffi mencoba berusaha bersikap biasa. "Terus, kalau udah tau, Kamu mau nyusul dia?" Friska bertanya lagi dengan raut wajah yang sedikit ditekuk. "Ya, gak lah. Kamu itu ada-ada aja, Fris. Ngapain juga aku nyusulin orang yang udah kabur." Daffi tertawa getir. "Aku, tu, cuma berpikir, kalau nanti aku mengajukan cerai, surat cerainya mau dikirim ke mana? Riana di mana aja aku ga tau. Udah ah, ga usah bahas wanita itu terus. Mending kita mulai makan aja, ni makanannya udah mulai dingin," sahut Daffi lagi sambil berusaha mengalihkan pembicaraan. Friska masih menatapnya curiga. "Beneran cuma karena itu? Atau ...." Friska menggantung kalimatnya. "Atau kamu baru menyadari kalau kamu itu sebenarnya peduli sama dia setelah dia ga ada kayak sekarang?" Daffi tersedak. Beberapa kali ia terbatuk akibat perkataan Friska tadi. Ia lalu mencoba meredakan rasa tidak nyaman di kerongkongannya dengan meminum segelas air mineral yang ada di dekatnya. "Apaan si lo, Fris? Ga ada itu gue peduli sama si Riana, kalaupun iya, yah karena dia itu, kan, ibu dari Liana, sebatas itu aja." Friska menyadari bahwa pria di depannya ini tengah berbohong. Ia sudah lama mengenal Daffi tapi sebagai wanita yang memang sudah mencintainya sejak lama, ia berusaha menepis semua praduganya tadi. "Um, Daf, sebenarnya gimana sih perasaan kamu terhadap Riana? Selama ini, kan, kamu selalu cerita, kalau kamu merasa terganggu dengan keberadaan dia, tapi aku perhatiin semenjak dia pergi, kamu tuh jadi kayak orang bingung." "Udah, deh, Fris, kamu ga usah ikut-ikutan nuduh aku yang aneh-aneh. Aku hanya masih kesal karena dia pergi gitu aja tanpa mikirin Liana." "Kamu itu gimana, si, Daf, justru dia itu pergi karena nurutin permintaan Liana. Kamu, kan, dengar sendiri kemarin itu, anak kamu yang nyuruh Riana pergi, supaya jauh-jauh dari dia." Daffi terdiam, apa yang dikatakan Friska tadi memang benar adanya. Liana sendirilah yang menyuruh ibunya pergi menjauh darinya ketika pertengkaran mereka di sekolah saat itu. Apa memang karena itu Riana memutuskan untuk pergi? Daffi terdiam beberapa lama. Potongan ingatannya tentang Riana terputar jelas di kepalanya. Bagaimana wanita itu selalu membuatnya marah. Bahkan ia tidak betah berlama-lama bersama dengannya. Namun, gambaran saat wanita itu begitu cekatan membantunya saat Daffi sedang sakit dan mempunyai masalah juga menganggu perasaannya. Selama ini tidak ada orang lain yang begitu sabar menghadapi sikap kerasnya lebih baik daripada Riana, tidak juga Friska. "Kamu masih mencintaiku, kan, Daf? Janji untuk menikahiku masih berlaku, kan?" tanya Friska sambil menatap tajam langsung ke manik coklat milik pria itu. Daffi mulai gerah mendengar pertanyaan-pertanyaan yang Friska lontarkan. Nafsu makannya seketika hilang, padahal makanan yang tersaji di depannya adalah makanan favorit yang khusus Friska buatkan untuknya. Kopi aroma mint favoritnya juga tak tersentuh sedikitpun. Entah kenapa, tapi menurut Daffi rasanya sangat berbeda dengan kopi yang biasa dibuat oleh Riana. Jika Riana yang membuatkan, ia akan langsung meminumnya sampai habis. "Tentu aja, Fris, kok, tiba-tiba kamu nanyain itu? "Sekarang, kan, Riana sudah pergi, gak ada lagi penghalang di antara kita. Kamu hanya perlu mengurus perceraian kalian. Setelahnya kita bisa menikah. Aku udah terlalu lama nunggu, Daf. Sebagai wanita, aku juga butuh kepastian," bisik Friska tepat di telinga Daffi hingga membuat darah pria itu berdesir. *** "Sayang, kok belum bobo?" tanya Daffi sepulangnya ia dari bekerja, dia pergi ke kamar putrinya untuk melihat keadaan Liana. Rupanya anak itu masih belum tertidur padahal ini sudah cukup larut. "Kenapa? Lagi ada yang dipikirin?"Daffi mengusap lembut kepala Liana. Liana tidak langsung menjawab, kepalanya tertunduk. "Kira-kira ibu kemana ya, Pa?" Daffi sedikit memicingkan matanya, "Kenapa? Kok tumben nanyain ibu? Liana mau ketemu ibu? Bukannya Liana sendiri yang mau ibu pergi?" "Iya sih, soalnya, kan, malu. Muka ibu nyeremin," jawabnya polos. "Liana cuma belum biasa aja kalau ibu ga ada. Oh ya, Pa, tadi Tante Friska bilang, dia bisa jadi mamanya Liana kalau ibu udah pergi, apa sekarang Tante Friska udah bisa jadi mamanya Liana, Pa?" "Kamu yakin mau Tante Friska jadi pengganti ibu?" "Liana sayang sama Tante Friska, Pa. Liana pengen banget punya mama kayak Tante Friska. Orangnya cantik, baik, pinter masak lagi. Teman-teman Liana juga banyak yang bilang kalau Tante Friska itu cantik, mirip sama Liana." Daffi hanya tersenyum hambar mendengar celotehan sang putri. "Terus ibu gimana? Memangnya Liana gak khawatir? Ga papa kalau ibu ga ada?" Liana menggeleng pelan. "Gak, Pa. Ga pa-pa, kok, kalau ibu pergi. Nanti juga biasa." *** Sudah satu bulan sejak Riana menghilang tanpa kabar berita. Daffi sendiri tidak tau harus mencarinya ke mana karena dia sama sekali tidak tau tentang keluarga istrinya itu. Sejak Riana pergi dari rumah itu, Daffi sedikit merasa khawatir pada Liana, karena sudah tidak ada lagi sosok ibu yang mengawasinya setiap hari. Tapi keberadaan Friska yang hampir setiap hari datang ke rumahnya untuk menemani putrinya membuat rasa khawatirnya sedikit berkurang. Liana juga terlihat sangat senang saat Friska ada di dekatnya. Wanita itu selalu memberi perhatian layaknya seorang ibu seperti yang Liana harapkan selama ini. Juwita juga jadi sering berkunjung ke rumah Daffi untuk ikut menemani Liana. Malam itu, Daffi terus terjaga. Kebiasaannya yang sebelum tidur selalu minum s**u hangat buatan Riana yang dapat membantunya tidur nyenyak seketika terhenti. Ia mencoba bangkit menuju dapur. "Ah, bikin sendiri juga bisa." Daffi lalu mencoba menghabiskan s**u buatannya itu. Walaupun rasanya sedikit berbeda, tapi ia mencoba untuk tidur. "Siapa kamu?" Daffi melihat wanita mirip Riana yang berpenampilan begitu berbeda. Tapi wajahnya sangat cantik dan tidak ada luka di wajahnya. "Aku Riana, Mas." Kahfi hanya memandangi wajah Riana dengan penuh kekaguman. Perlahan ia bangkit dan mencoba untuk menyentuhnya, tapi tidak bisa. Mendadak ia pun tersadar. "Ternyata cuma mimpi. Apa aku begitu merindukannya sampai-sampai ia hadir di mimpiku? Tapi di mimpiku tadi kenapa dia begitu cantik? Apa memang seperti itu wajah aslinya? Daffi seketika menyadari kalau selama ini ia memang tidak pernah memperhatikan baik-baik wajah istrinya. *** Daffi baru saja tiba di rumah, dia menghempaskan tubuhnya di sofa, melonggarkan dasi yang serasa mencekik lehernya. Ia lalu mengusap tengkuknya yang terasa berat, raut wajahnya terlihat lelah. "Kamu dari mana aja, Daf? Kenapa jam segini baru pulang?" Daffi tersenyum hangat melihat Friska masih ada di rumahnya. Dia memang tau jika hampir setiap hari gadis itu datang, tapi biasanya sebelum jam delapan malam ia sudah pulang, sedangkan saat ini sudah pukul sebelas malam. "Tadi Liana minta aku temenin, habisnya kamu belum pulang, si. Kamu lembur?" Daffi mengangguk pelan. Friska lalu duduk disebelah Daffi, diusapnya pelan lengan pria itu. "Daf, jadi kapan kamu mengajukan cerai? Aku udah ga sabar ingin jadi istri kamu, bukan cuma sekedar sahabat seperti saat ini." Dengan suaranya yang manja, Friska mencoba untuk semakin mendekati Daffi. Tak dipedulikannya kalau status pria itu masih merupakan suami dari orang lain. Dalam pikirannya saat itu hanyalah bagaimana caranya agar secepat mungkin Daffi bisa menjadi miliknya dan semua rencananya bisa berjalan lancar. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN