Daffi tertegun sesaat menatap Friska yang kini hanya berjarak kurang lebih setengah meter dari dirinya. Wangi parfum aroma floral yang menyegarkan langsung merasuk masuk ke dalam penciumannya hingga mampu membuat pria itu sedikit terbuai. Degup jantungnya pun bergerak semakin cepat.
Daffi tak menolak saat wanita itu kembali mendekatkan tubuhnya semakin dekat bahkan wajah mereka hampir tak berjarak. Tiba-tiba terdengar suara denting kaca yang beradu dengan lantai.
"Ma-maaf, Pak, saya gak sengaja, tangan saya licin," ujar Bik Sumi yang tiba-tiba saja sudah berada di sana. Ia menjatuhkan cangkir minuman yang semula akan ia sajikan untuk Daffi.
"Gak apa-apa, Bik. Tolong dibereskan aja jangan sampai ada pecahan yang berserakan." Daffi menjauhkan diri dari Friska dan mencoba menenangkan diri.
"Baik, Pak," Bik Sumi dengan cekatan segera membereskan pecahan cangkir dengan tangannya. Ia juga tak peduli akan pandangan tajam dari Friska yang menatapnya dengan raut wajah kesal. Sebenarnya tadi Bik Sumi memang sengaja menjatuhkan gelas itu untuk menghentikan sesuatu yang sedang terjadi di depan matanya.
"Ayo Fris, aku anter pulang."
Friska sebenarnya masih ingin membujuk Daffi agar mengizinkannya menginap di sana, tapi dia menahan diri. Ia sadar tidak boleh terlalu memaksa.
Sebelum pulang, ia pergi mengambil tasnya terlebih dulu sebelum menyusul Daffi yang sudah menunggu di luar.
***
"Ya udah kalau gitu, segera kamu urus perceraian kalian, ngapain juga masih kamu pertahankan rumah tangga ini? Kan dia sendiri yang udah kabur. Dasar wanita gak tau diri, istri macam apa yang pergi gitu aja meninggalkan anak dan suaminya?" Juwita yang duduk tepat di depan Daffi mencoba membujuk putranya itu.
Sore itu, Juwita sedang mengunjungi rumah putranya. Ia sengaja ingin menekan Daffi agar segera mengambil keputusan atas status rumah tangganya bersama Riana.
"Daf, kamu mencintai Friska, kan? Apalagi yang kamu tunggu? Ibu yakin dia akan jadi istri dan juga ibu yang baik untuk Liana. Liana juga sayang kok sama Friska," bujuk Juwita lagi.
"Lagian ibu curiga, jangan-jangan si Riana itu kabur sama cowok lain."
Daffi hanya diam seraya menatap kosong ke arah televisi yang sedang ditontonnya. Ia memikirkan permintaan ibunya dan juga Liana. Daffi sendiri tidak mengerti kenapa hatinya tidak bisa langsung setuju dengan permintaan ibunya.
***
Sepulangnya dari bekerja, Daffi mengunjungi kantor pengacara keluarga mereka, Sahid Anwar, yang juga merupakan sahabat baik Asmoro.
Ia sudah menyatakan segala maksud dan tujuannya pada Sahid tentang keinginannya untuk menceraikan Riana yang sudah pergi tanpa kabar berita.
"Jadi kamu ingin menceraikan Riana karena dia pergi dari rumah?" tanya Sahid yang sudah menganggap Daffi seperti anaknya sendiri. Daffi hanya menunduk diam.
Sahid memperhatikan pemuda itu dengan seksama lalu dia menghela napas berat.
"Om tanya sekali lagi, kamu yakin ingin menceraikan Riana?"
Akhirnya Daffi mengangguk ragu. Membuat Sahid menggeleng heran karena jelas sekali jika anak muda di depannya itu tidak yakin dengan keputusannya sendiri.
"Kamu tau kan syarat dari Asmoro jika mau mendapatkan seluruh hak waris atas namamu?"
"Iya, Om, tapi kan Riana yang pergi meninggalkanku. Bukan salahku, dong. Lagi pula kata Riana, dia yang akan menggugat cerai duluan, bukan aku."
"Daffi, Daffi." Sahid hanya geleng-geleng kepala mendengar jawabannya tadi. "Kamu tau, ga, kenapa papamu memaksa agar kamu menikah dengan Riana?" sambung Sahid sambil menatap tajam Daffi.
Daffi menggeleng karena memang papanya tidak pernah memberitahu.
"Memang apa alasannya, Om?"
"Om udah janji pada Riana untuk tidak memberitahumu soal itu. Kamu harus cari tau sendiri. Satu pesan, Om. Kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Terlebih keputusan tentang perceraian. Kamu tau kan efeknya akan berdampak buruk buat semuanya, terutama untuk Liana."
"Tapi, Om, justru karena Liana yang minta, makanya Daffi melakukan ini."
"Liana masih kecil, Daf, belum mengerti apa-apa. Dia bersikap buruk pada Riana juga karena kamu dan mamamu yang sudah membuatnya jadi seperti itu. Jangan jadikan putrimu sebagai alasan hanya untuk melancarkan keinginan pribadi kamu!"
"Kenapa si, om dan papa percaya banget sama Riana? Kalau kemarin dia minggat sama laki-laki lain gimana? Sampai sekarang saja dia tidak menghubungi Liana sama sekali. Apa itu bisa dibilang sebagai istri dan ibu yang baik?" Daffi masih mencoba untuk membantah Sahid.
"Riana itu wanita yang baik, om dan Asmoro kenal baik siapa dia dan dari keluarga seperti apa dia. Akan sangat disayangkan jika kamu sampai menyia-nyiakan wanita berhati emas seperti Riana."
Tak dipungkiri, kalimat Sahid tadi memang benar adanya. Riana yang dia kenal selama ini adalah wanita yang baik, bahkan terlalu baik untuknya. Wanita itu tidak pernah mengurangi sedikit rasa hormat padanya walaupun ia sudah sering kali memperlakukannya dengan buruk. Satu-satunya kekurangan Riana hanyalah pada wajahnya yang memiliki bekas luka. Namun, hatinya selalu menolak wanita itu, karena sudah ada Friska yang bermukim lebih dulu di sana.
"Jika om mau aku mengetahui tentang Riana, kasih aku satu petunjuk."
"Om cuma bisa bilang, kalau itu ada hubungannya dengan kejadian lima belas tahun lalu. Waktu kamu terkena kasus n*****a dan hampir dijatuhi hukuman mati."
Kalimat Sahid tadi membawa ingatan Daffi pergi ke masa lima belas tahun silam, saat itu usianya masih sangat belia, baru saja menginjak usia tujuh belas tahun. Akibat dijebak oleh salah satu kawannya, ia dijebloskan ke dalam penjara karena tertangkap basah kedapatan membawa n*****a jenis kokain seberat 0,85 gram dalam tas. Semua saksi dan bukti pada saat itu mengarah padanya. Vonis pengadilan juga menjatuhkan hukuman maksimal untuknya, hukuman mati.
"Saat itu, kamu tau kenapa tiba-tiba bisa bebas?" tanya Sahid.
Daffi kembali menggeleng.
"Apa itu karena Riana?"
Sahid diam tak menjawab.
"Tapi, bagaimana ceritanya? Om ga bohong, kan? Mana mungkin perempuan lemah seperti dia bisa membebaskanku begitu saja? Om dan papa itu sama saja!" Daffi bangkit lalu pergi meninggalkan kantor Sahid begitu saja.
"Daffi, kalau kau tidak percaya apa yang om sampaikan barusan, tanyakan pada hati nuranimu!" teriak Sahid mengiringi langkah Daffi yang baru saja keluar pintu.
***
"Aaarggh!" Setir bundar itu menjadi korban pelampiasan rasa kesal pria yang hatinya tengah dirundung rasa bimbang itu. Di satu sisi ia sangat yakin akan keputusannya menceraikan Riana, tapi di sisi lain ada suara kecil yang melarang tindakannya.
"Apa sih hebatnya perempuan itu? Dia hanya pandai membuatku kesal saja setiap hari!" Daffi terus saja meracau sambil berjalan menuju ke dalam rumah. Tiba-tiba rasa sakit yang cukup hebat datang menyapa kepalanya. Daffi mengerang cukup kuat, bahkan ia sampai susah berjalan.
"Bik! Bibik!" panggil Daffi yang sudah berbaring di atas sofa di depan televisi.
"Iya, Pak. Ada apa bapak teriak-teriak?"
"Kepala saya sakit, Bik! Cepat ambilkan obat."
Bik Sumi bergegas mengambil obat-obatan di kotak P3K yang ada di ruang makan. Ia lalu memberikannya kepada Daffi.
"Bukan obat ini, Bik! Ga mempan saya pakai obat murah kayak gini! Cari yang lain!"
"Tapi, Pak, di kotak obat cuma ada obat ini."
"Yang hijau, Bik. Yang hijau!"
Bik Sumi merasa bingung karena obat yang Daffii maksud tidak bisa ia temukan.
"Bik, cepat, Bik!"
"Ga ada, Pak. Gak ada obat yang warna hijau."
"Coba Bibik tanya Riana, dia tau obat apa yang paling ampuh untuk menyembuhkan sakit kepala saya!"
Bik Sumi semakin bingung. "Tapi ibu, kan, sudah ga ada di rumah ini, Pak," jawab Bik Sumi mencoba untuk menyadarkan Daffi yang masih terus berteriak.
"Bik, cepat cari Riana sekarang! Katakan saya butuh dia! Cepaaat!"
Bersambung.