Sebuah Akhir untuk Awal yang Baru
Masa SMP adalah masa yang cukup indah bagiku. Berbagai pelajaran dasar seperti organisasi, ekstrakurikuler, dan banyak kisah humoris lainnya bersama sahabat semasa SMP. Wajar saja, SMP tempatku belajar dahulu memiliki peraturan ketat terhadap kedekatan laki-laki dan perempuan, sehingga kelas laki-laki khusus laki-laki dan perempuan khusus perempuan. Sehingga kami menjadi dekat satu sama lain. Akan tetapi masa itu telah usai, saatnya memasuki babak baru dalam kehidupan banyak orang yaitu masa SMA. Bagi beberapa orang masa SMA adalah masa yang sulit dilupakan. Persahabatan, jati diri, bahkan highschool love story seringkali menjadi hal yang berkesan. Aku memutuskan mendaftar di salah satu SMA terdekat dari rumah, hitung-hitung menghindari terlambat dan termasuk salah satu unggulan di kota tempatku tinggal. SMA Harapan Bangsa menjadi tempat yang tidak akan pernah kulupakan, menjadi tempat yang akan selalu ku kenang dengan semua memori baik dan buruknya.
Agenda pertama yang harus aku jalani sebagai siswa baru adalah menjalani masa orientasi siswa. Masa orientasi siswa kulewati dengan lancar tanpa ada halangan. Tibalah aku pada waktu pengumuman jurusan. Jadi di SMA Harapan Bangsa terdapat tiga jurusan yaitu IPA, IPS, dan Agama. Jurusan yang kupilih adalah agama. Bukan karena ingin menjadi seorang ustadz, bukan karena ingin memperdalam ilmu agama, tapi hanya untuk menghindari matematika hehehe. Jurusan agama terbilang jurusan baru di sekolah ini, aku adalah salah satu siswa yang menjadi angkatan ketiga. Karena peminat jurusan ini tidak sebanyak IPA dan IPS, siswanya juga sedikit dan hanya tergabung dalam satu kelas saja. Perlahan, anggota kelas ini mulai dekat satu sama lain. Rio dan Adit, mereka teman SMP ku yang juga menjadi bagian dari kelas ini. Salah satu bagian penting dari kisah SMA adalah persahabatan. Porseni adalah awal dari bagaimana persahabatanku dengan kelas ini terbentuk.
Sebagai anggota kelas agama, tentu memiliki stereotype untuk bisa melakukan hal yang dekat dengan agama seperti ceramah dan mengaji. Karena stereotype itu, kelas kami cenderung dipandang sebelah mata oleh para guru mata pelajaran umum. Kami dituntut untuk menjadi seorang siswa teladan yang suci tanpa kesalahan. Padahal, tidak semua siswa memiliki jalan pikiran yang sama. Jika kami gagal dalam pelajaran umum seperti matematika, ekonomi, bahasa Inggris, dll pasti akan mendapat cibiran "wajar aja, kan anak agama jadi paling bisanya ngaji ama ceramah". Jika gagal di pelajaran agama, omongannya beda lagi. "masa anak agama ga bisa ngafalin hadits ini, ayat itu". Terjadi gap juga dalam angkatan. Kelas kami cenderung kurang bergaul dengan anak jurusan lain karena di cap sebagai anak suci, ga asik. Kami menyebut diri kami sebagai "arkadas", dalam bahasa Turki berarti "teman". Kami sepakat untuk menjadikan Porseni sebagai ajang pembuktian bahwa kelas agama tidak se-sempit mengaji dan ceramah, banyak keterampilan yang bisa kami tunjukkan. Porseni di sekolah kami memiliki beberapa cabang olahraga, salah satunya voli. Voli memiliki tempat khusus di hatiku. Dalam voli sangat mengandalkan kerjasama. Setiap pemain hanya boleh menyentuh bola maksimal dua detik saja. Sisanya, ada 5 pemain yang bisa diandalkan. Posisiku dalam voli adalah seorang setter/pengumpan. Seorang setter adalah menara kontrol tim, memutuskan bola harus dipukul oleh siapa, mengatur pola serangan yang akan dilakukan, serta menjadi pondasi tim. Menurutku, voli sekolah kami saat itu merupakan salah satu yang terbaik. Anggota voli kelas 3 memiliki serangan dan pertahanan yang bagus. Oleh karena itu, aku tertarik untuk mengikuti klub agar bisa belajar dan bertambah kuat. Aku dan beberapa teman kelas seperti Rio juga mengikuti ekstrakurikuler voli. Setiap minggu, kami latihan 3 kali. Aku dan Rio yang sudah berteman sejak SMP memiliki chemistry yang cukup bagus. Serangan kami bertambah kuat jika aku mengisi posisi setter dan Rio sebagai spiker/pemukul.
Tibalah porseni, sebagai ajang pembuktian kami kepada seluruh warga sekolah. Porseni kali ini tidak membuahkan banyak hasil. Wajar saja, ini pertama kali bagi kami sebagai kelas 1 untuk mengikuti ajang porseni, sebuah ajang yang sangat dinantikan seluruh siswa dan harus berkompetisi dengan ditonton banyak siswa menjadi tantangan tersendiri. Tim voli kelas kami yang seluruh anggotanya merupakan member klub voli sekolah harus mengakui kekalahan melawan kelas IPA 4, dan menerima kenyataan gugur di 8 besar. Aku melakukan kesalahan fatal dengan memaksa mendorong bola sehingga mengenai net dan point untuk tim lawan. Lomba lain yang diikuti tim futsal kelas juga tidak menghasilkan apa-apa, harus kalah di pertandingan kedua. Tim debat yang aku ikuti juga harus kalah di awal kompetisi bahkan. Kelas kami belum bisa membuktikan apa-apa di porseni pertama. Harus legowo menerima kenyataan bahwa kami kalah dan tidak berhasil di porseni pertama. Anehnya, kami yang sempat down justru tidak berlangsung lama dan terpacu kembali. “Voli sekolah ternyata ga ada harapan, kelas agama yang anggotanya anak voli aja gabisa menang di porseni. Sayang banget gada yang nerusin legacy anak kelas tiga”. “Anak kelas agama ko gabisa menang di lomba tilawah, kan itu relate sama jurusan agama banget”. Omongan sana sini dari guru dan siswa kelas lain sangat sering kami dengar setelah kegagalan kami di porseni pertama. Beberapa bulan berlalu, kelas tiga pun dinyatakan lulus dan sekarang aku memasuki tahun kedua di SMA. Masih menjadi setter utama klub voli, dan terpilih sebagai ketua sekaligus kapten voli SMA Harapan Bangsa. Aku terus berlatih voli di dalam maupun di luar sekolah. Namun, voli bukan tentang bermain sendiri, melainkan permainan tim. Beruntungnya, aku tidak berjuang sendirian untuk membuktikan voli sekolah kami masih bisa bersaing, voli kelas kami pantas juara di porseni. Perjalanan berkembang sebagai pemain voli kulewati bersama Rio di posisi Spiker, Dimas di posisi Spiker, Dian sebagai Libero, Fadel sebagai Middle Blocker, dan Raja di posisi Spiker. Selain berlatih tiga kali seminggu di kegiatan voli sekolah, kami latihan di luar sekolah untuk menambah pengetahuan tentang voli. Mungkin beberapa orang berpikir kami terlalu berlebihan, tapi semangat untuk membuktikan bahwa voli sekolah dan kelas kami bisa berprestasi di porseni sangat besar. Setelah beberapa bulan latihan intens, tentu ada masa di mana kami bolos latihan, bermalas-malasan, tapi menurutku istirahat juga dalah salah satu bagian dari latihan. Mengingat kami juga masih berstatus sebagai siswa, tentu mengerjakan tugas dan bersaing di akademik juga perlu. Porseni kedua tersisa beberapa hari lagi, kami yang merasa sudah siap untuk porseni kali ini pasti sangat bersemangat dan tidak sabar. Tidak hanya tim voli, tentu “arkadas” sudah siap memberikan dukungan dan semangat kepada tim voli sebagai represntasi kelas kami yang paling memungkinkan untuk mengangkat piala pada cabang lomba voli, karena proses kami untuk berkembang tentu tidak lepas dari pandangan teman kelas yang lain.
Pertandingan pertama dan kedua kami lewati dengan lancar, tidak ada perlawanan berarti dari lawan. Dengan hasil yang kami dapatkan di pertandingan pertama tentu semakin memicu semangat kami. Menurutku, yang sedikit tegang justru pertandingan semifinal. Melawan kelas 11 IPA 4, yang dulu menghentikan langkah kami di porseni pertama. Sebagai setter, aku tentu tidak bisa melupakan kesalahan fatal yang mengakibatkan tim kelas kami kalah. Meskipun voli adalah olahraga kerjasama, kesalahan yang aku lakukan di porseni pertama murni kesalahan sendiri karena terpancing emosi untuk segera menyudahi pertandingan dan memenangkannya. Tetapi, setelah latihan intens yang kami lakukan kami berhasil mengalahkan 11 IPA 4 dengan kemenangan telak 2-0 dalam best of three games. Dua momen yang tidak bisa aku lupakan adalah saat di set kedua, kami mengalami rally yang panjang. Dian saat itu melakukan penyelamatan bola yang sangat fantastis dengan diving lalu menyentuh bola dengan punggung tangannya beberapa cm sebelum menyentuh lantai. Lalu sebagai setter sudah tugasku untuk mengambil peran di bola kedua. Aku putuskan untuk mengumpan bola kepada Rio di sisi kiri untuk menyudahi rally panjang yang sangat melelahkan. Bola dipukul dengan keras menggunakan tangan kanan Rio mengenai sisi lapangan lawan sehingga last point untuk kami. Kami berhasil menang mengalahkan tim yang membuat kami gugur di porseni tahun lalu. Momen kedua adalah setelah pertandingan, aku dan setter tim lawan berjabat tangan lalu dengan nada bercanda aku berkata “sekarang 1-1 kan? Hehe”. Akan tetapi perjuangan kami belum selesai. Masih ada kelas 12 IPS 2 yang menunggu kami di pertandingan final. Karena pertandingan final termasuk salah satu pertandingan special, panitia penyelenggara memutuskan final seluruh perlombaan akan dilangsungkan besok hari. Sehingga kami punya cukup waktu untuk beristirahat. Keesokan harinya, pertandingan final voli yang kami nantikan akan telah dimulai. Setelah pertandingan 3 set yang ketat, akhirnya kami bisa memenangkan partai final. Kelas 11 berhasil mengalahkan kelas 12. Arkadas keluar sebagai juara I porseni cabang olahraga voli. Pertandingan yang disaksikan hampir seluruh siswa sekolah, seluruh guru. Pertandingan hasil latihan intens sore-malam, pertandingan yang diakhiri dengan tawa dan haru, dengan rasa bangga. Bahkan setelah kemenangan kami, masih terdengar sindiran “Anak agama mah wajar menang voli, kan anggotanya pemain inti klub semua”. Seolah tidak diberikan waktu untuk bersantai dan menikmati euphoria kemenangan, kami masih harus sekali lagi membuktikan kepada warga sekolah bahwa Arkadas tidak bisa dipandang sebelah mata. Target kami di porseni selanjutnya adalah menjadi juara bukan hanya di cabang olahraga voli, tapi sebanyak mungkin menjadi juara di cabang perlombaan lain. Masih ada waktu beberapa bulan untuk persiapan memenangkan cabang olahraga lain. Tidak hanya berusaha mempertahankan gelar juara tim voli putra, tim voli putri kami juga berusaha sebisa mungkin untuk membuahkan hasil di porseni selanjutnya. Tim voli putri kami menyempatkan diri untuk berlatih sekali seminggu di jam olahraga dengan bantuan anggota tim putra termasuk aku. Tim futsal kami juga tentunya tidak mau kalah. Selain berusaha menjadi juara di bidang olahraga, kami juga berusaha untuk bisa menunjukkan hasil melalui bidang non-olahraga seperti mengaji, ceramah, debat, dan lain-lain. Karena waktu bagi kelas 3 tidak banyak mengingat upacara kelulusan yang akan segera dilaksanakan jarak dari porseni sebelumnya ke porseni ketiga tidak terlalu lama. Akhirnya acara yang dinanti tiba juga. Porseni ketiga, porseni terakhir kami, tempat kami membungkam semua omongan sebelah mata kepada kelas agama dengan prestasi, ajang untuk membuktikan hasil kerja keras dan latihan yang telah kami jalani. Pada pertandingan voli putra, kami berhasil keluar sebagai juara I mengalahkan rival kami 12 IPA 4 dan mempertahankan gelar kami dari porseni sebelumnya. Selain berprestasi di sekolah melalui porseni, kami berhasil berprestasi dengan menjadi juara I turnamen voli tingkat kota. Berhasil meneruskan legacy senior kami sebelumnya dan membuktikan bahwa Klub Voli SMA Harapan Bangsa tetap menjadi salah satu yang terbaik. Kembali ke porseni, selain juara I voli putra kami juga menjadi juara II Tenis Meja Putra, juara I Tenis Meja Putri, juara I lomba kaligrafi, juara I lomba ceramah, juara I lomba tillawah, dan yang terakhir juara I lomba voli putri. Menjadi kelas agama pertama yang keluar sebagai juara umum porseni. mengawinkan piala voli, memberikan piala juara umum kepada wali kelas kami dengan bangga. Membalas semua cacian yang kami terima dengan prestasi. Porseni terakhir kami tutup dengan bangga, tawa, dan haru bahagia. Beberapa teman bahkan sampai meneteskan air mata membayangkan semua proses yang kami lalui bersama, semua latihan, semua waktu, materi, keringat yang telah dikorbankan.
Kisah perjuanganku bersama Arkadas akan selalu menjadi memori special yang akan kuceritakan kepada anak dan cucuku nanti. Lingkup pertemanan kelas kami layaknya keluarga. Bahkan setelah lulus kami tetap dekat satu sama lain. Serasa tidak ada jarak dalam pertemanan kami. Dari sekumpulan siswa yang dipandang sebelah mata karena masuk jurusan agama, hingga keluar menjadi keluarga kedua yang bangga dengan semua perjuangan yang dilalui bersama. Arkadas mengajarkanku bahwa persahabatan akan menjadi erat bukan karena uang, bukan karena saling menyaingi satu sama lain, tapi dengan bersepakat kepada satu tujuan bersama. Kelas kami tentu tidak pernah lepas dari pertengkaran satu sama lain, tapi layaknya saudara, tidak butuh waktu lama untuk kembali dekat dan saling memaafkan. Terima kasih Arkadas, dimanapun kalian berada, kisah kita bersama akan menjadi salah satu memori berkesan dan salah satu kenangan manis yang pernah aku rasa. 31 orang yang berhasil membungkam cacian satu sekolah dengan prestasi dan mengukir sejarah bersama. Jika kelak kita bertemu dimanapun dan kapanpun, semoga kalian akan selalu menjadi keluarga dan bagian cerita hidup yang takkan pernah aku lupakan.