Possesive Prince || 13

745 Kata
Seluruh buku dan alat tulis ku masukkan ke dalam tas dengan terburu-buru. "Kenapa terburu-buru sekali, honey?" Tegur Prince yang menyadari tingkahku. Ah, dia memang sangat peka. "Aku ingin ke toilet dulu. Bawa tasku bersamamu ya!!" Prince mengangguk patuh dan aku segera kabur ke toilet karena sudah tidak tahan lagi. Untung saja toilet tidak terlalu jauh dari kelasku ini. Sayangnya para murid yang hendak pulang ke rumah masing-masing menghambat lariku. Kala sampai di toilet aku langsung masuk ke dalam salah satu bilik yang kosong dan menuntaskan kegiatanku secepat mungkin. Baru lah terasa lega. Seolah beban hidupku terangkat begitu saja. Tanganku yang hendak membuka pintu menjadi tertahan mendengar ucapan seseorang. "Xa, apakah kita benar-benar akan membiarkannya di sini? Kalau dia mati bagaimana?" Mereka habis membully seorang?! Cepat-cepat ku hidupkan video hpku dan mengarahkan ke arah mereka setelah membuka sedikit bilik kamar mandi yang ku tempati. "Iya lah. Biar dia tahu rasa." "Tapi kalau dia mati, bagaimana?" "Bagus dong. Jadi aku tidak perlu melihat wajah memuakkannya yang menempel terus dengan Rafael." "Tapi, Aku takut kita terkena masalah nantinya kalau saja dia mati." "Kalau kau takut, jangan berteman lagi denganku!! Aku tidak butuh orang penakut sepertimu!!" "Xa! Kau berbicara apa?" "Masih kurang jelas?! Aku tidak ingin berteman dengan pengecut sepertimu!" Aku langsung keluar dari bilik kamar mandi karena tidak tahan lagi namun kameraku tetap mengarah ke mereka. Wajah mereka terekam jelas di hpku saat berbalik. Mereka berdua terlihat sangat terkejut. "Hentikan!! Jangan merekam ku!!" Bentak Alexa. Anak kelas sebelahku yang sering bersikap sok penguasa. "Bagaimana kalau aku menyebarkan rekaman ini ke sosmed menurutmu?" Kekehku. Alexa tersentak lalu dia memeluk kakiku. "Aku mohon jangan! Jangan sebarkan video itu! Aku tidak ingin orangtuaku malu." Dikarenakan dia memohon seperti itu, jadi aku mematikan video dan menyimpannya dalam saku rok. "Jadi, dimana orang yang kalian bully itu?" "Di sana." Jawab Silla cepat sambil menunjuk salah satu bilik kamar mandi yang tertutup rapat. "Bawa dia keluar!" Titahku. Mereka berdua kompak melakukan perintahku lalu membawa orang yang mereka bully itu. Alya, orang itu. Wajahnya terlihat merah dan dipenuhi cakaran, sudut bibirnya robek, lengannya dipenuhi luka-luka, kepalanya berdarah, dan seluruh tubuhnya basah. Menyedihkan sekali keadaannya. "Kalian pergi lah! Aku akan mengurusnya!" Mereka berdua mengangguk dan berlari keluar dari toilet. Aku langsung menghubungi Prince agar dia bisa membantuku mengurus gadis menyebalkan ini. Setelah menghubunginya aku berjongkok di depan Alya. Memeriksa apakah dia masih bernafas atau tidaknya. Untungnya si menyebalkan ini masih bernafas. Meskipun dia menyebalkan, tetap saja aku tidak akan mengharapkan kematiannya. Aku tidak sejahat itu oke?! "KAU APAKAN ALYA, SIALAN?!" teriakan Rafael menggema di dalam toilet. Aku menoleh malas ke arahnya. "BERANINYA KAU MENYAKITI ALYAKU!!" bentaknya dan menampar pipiku begitu saja. Tentu saja aku tidak terima diperlakukan kasar seperti ini. Selama ini, belum pernah ada yang menampar pipiku!! Aku segera berdiri dan meninju wajahnya kuat hingga hidungnya berdarah. Dia menatapku marah. "Beraninya kau meninju wajahku! Aku akan membunuhmu!!" Aku menyeringai sinis. "Sebelum kau membunuhku, aku duluan yang akan membunuhmu!!" Bentakku. Rafael melayangkan tinjuannya padaku tapi aku segera mengelak hingga serangannya hanya mengenai udara. "Udah? Hanya segitu kemampuanmu, huh?" Ejekku. Rafael tampak semakin marah dan semakin menyerangku bertubi-tubi. "Aku akan membunuh orang yang menyakiti Alyaku. Tidak peduli kau pacar Prince atau tidaknya! Aku akan membunuhmu!!" Ujarnya berapi-api. Dia sama sekali tidak berhasil meninjuku karena serangannya dapat ku hindari dengan mudah. Orang marah memang sangat mudah tertebak gerakannya. Prince tiba-tiba datang dan mengunci tubuh Rafael dari belakang dengan wajah penuh amarah. "Apakah kau gila?! Kau menyerang seorang perempuan, Rafael!!" Bentaknya marah. "Dia menyakiti Alya!! Aku tidak akan membiarkannya lepas!!!" Jeritnya marah. "Bodoh! Bukan aku yang menyakiti Alya!! Masih untung aku menolongnya. Dasar tidak tahu terimakasih!!" Sebuah tamparan kuat ku layangkan di pipinya sehingga sudut bibirnya berdarah. Baru lah aku merasa puas. "Lepaskan dia, Prince. Kita pergi sekarang juga dari sini. Aku malas meladeni orang yang tidak tahu terimakasih." Sinisku. Prince melepaskan Rafael. Rafael menatapku lemah dan juga bersalah. "Lalu, siapa yang menyakiti Alya?" "Bukan urusanku!! Lebih baik kau membawanya ke rumah sakit sebelum dia mati!!" Sinisku. Lantas menarik tangan Prince mengikutiku. Meninggalkannya bersama Alya yang menyedihkan. Prince memeluk pinggangku posesif. "Kau tidak apa-apa 'kan, honey? Dia tidak berhasil melukaimu 'kan?" Aku menatapnya kesal karena teringat dengan perlakuan Rafael beberapa menit yang lalu. Menunjuk pipiku sendiri dengan wajah kesal. "Dia menamparku di sini!" Wajahnya tampak kaget dan marah secara bersamaan. Pelukannya terlepas dari pinggangku. "Beraninya dia menyakitimu! Aku akan memberikannya pelajaran!!" Aku segera menahan tangannya. "Jangan bertengkar dengan kembaranmu sendiri gara-gara aku. Tenang saja, aku sudah membalas perlakuannya." -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN