Possesive Prince || 12

710 Kata
Jam istirahat telah tiba. Guru yang mengajar di dalam kelas langsung keluar begitu pun dengan anak-anak dalam kelas. Mereka saling berlomba-lomba ke kantin. Biasanya aku juga akan langsung berlari ke kantin untuk membeli makanan tapi sekarang tidak. Aku tidak mood karena Alya Alya itu. Ku benamkan kepalaku di atas lipatan tangan dan mengosongkan pikiran. Aku ingin tertidur untuk sejenak. "Honey, kau sakit?" Pertanyaan Prince hanya ku jawab dengan gelengan kepala. Malas sekali berbicara rasanya. "Ayo bangun. Sekarang kita ke kantin. Kau belum sarapan sejak tadi loh." Tuturnya lembut seraya mengusap puncak kepalaku pelan. "Aku tidak lapar sama sekali." "Bohong! Tidak mungkin kau tidak lapar, honey. Kau ingin makan apa? Biar ku belikan." "Terserah saja lah. Aku mau istirahat sejenak. Jangan ganggu!" Prince terdengar menghela nafas kasar. "Baiklah, aku tidak akan menganggumu. Aku pergi membelikan makanan untukmu dulu, honey." Setelah kecupan mendarat di kepalaku, dia langsung bangkit dan pergi. Elusan lainnya mendarat di puncak kepalaku. Kali ini elusan Arsen. Kenapa aku tahu padahal belum melihat orangnya? Itu karena dia selalu bisa kukenali meskipun tanpa melihat! "Kenapa kakak lesu gini? Kakak cemburu karena Alya itu?" Aku menepis tangannya kesal. "Jangan menyebut namanya karena mendengar namanya telingaku sudah gatal duluan." Arsen terkekeh geli. Aku menghela nafas lalu menegakkan tubuhku seperti semula. Tubuhku langsung dipeluk lembut oleh Arsen. "Cemburu boleh kak asal jangan berlebihan. Lagipula Prince tidak menanggapinya sama sekali kan? Jadi, kakak tidak perlu sekhawatir ini." Aku menjitak belakang kepalanya lalu mendorongnya menjauh. "Aku tidak cemburu sama sekali dengan gadis lemah itu!" "Kakak menggemaskan sekali kalau sedang cemburu ya." "Dasar adik nyebelin!! Aku tidak cemburu sama sekali!!" "Di mulut memang berkata tidak tapi perilaku kakak mencerminkan rasa cemburu." Ledeknya sembari mencubit pipiku. "Yak!! Nyebelin!!" Kesalku namun hanya mendapat kekehan geli dari Arsen. "Nih, ice cream strawberry kakak! Jangan galau lagi." Jonathan tiba-tiba saja datang dan meletakkan ice cream di atas mejaku. Perasaanku mendadak baik seketika melihat ice cream strawberry pemberian Jonathan. "Aww, makasih, sayangku. Kau memang yang terbaik." Sorakku semangat sambil melahap ice cream kesukaanku tersebut. "Halah, sekarang saja bilangnya yang terbaik, biasanya..." Ucapan sinisnya tak ku sahut sama sekali karena untuk sekarang ice cream lah yang paling utama. "Segitu lezatnya ya sampai kedua adikmu ini dicuekin." Sinis Jonathan lagi. Sudah lah, untuk sekarang dia tidak penting! Mau berkicau seperti apa ya terserah. "Kenapa makan ice cream sekarang, honey? Perutmu belum terisi loh sebelumnya." Cemas Prince yang tiba-tiba datang. "Berhubung Prince sudah datang, aku dan Jonathan ke kantin lagi ya, kak. Bye." Aku mengangguk. Prince duduk di sebelahku dan merampas cup ice cream yang sudah kuhabiskan itu. Untung saja sudah habis. "Sekalian buang ke tong sampah ya." Kikikku. Prince tiba-tiba mendekat dan mengecup sudut bibirku secepat kilat. Tingkahnya mampu membuatku sangat terkejut dan berdebar. "Apaan sih." Gumamku sok kesal supaya dia tidak tahu jantungku berdetak tak karuan. "Ada ice cream di sudut bibirmu." Jawabnya lalu menjilat bibirnya s*****l. Ku tabok lengannya kesal sehingga dia meringis kesakitan. "Jangan lebay deh." Cemoohku. "Pukulanmu sangat menyakitkan sekali, honey. Sekarang tanganku terasa patah." Jawaban berlebihannya membuatku mendelik kesal. "Mau aku patahin beneran tanganmu?" Ancamku. "Kau jahat, honey." Renggutnya. "Jangan drama. Kau membuatku ingin memukulmu lagi." Prince terkekeh geli. "Baiklah, baiklah. Aku tidak akan melanjutkan dramaku lagi. Sekarang ayo buka mulutmu, aku suapin." Aku mengangguk semangat lalu menerima suapannya dengan senang hati. "Kau juga makan, Prince," kataku setelah menelan nasi gorengku. "Aku masih kenyang, honey." "Kalau kau tidak makan juga, aku tidak akan mau makan lagi." Ancamku. Terpaksa dia pun ikut makan bersamaku. Kami melahap semuanya sampai tandas. "Kalian so sweet banget sih." Aku menoleh ke asal suara dan melihat William menatapku dengan bertopang dagu. "Sejak kapan kau di sana?" Tanyaku heran. "Sejak adegan suap-suapan kalian. Aku juga akan mencari pacar baru supaya bisa mesra-mesraan seperti kalian." "Memangnya kau bisa mencari pacar dengan tampang pas-pasan dan sifat nyelenehmu itu?" Ledekku hingga mendapat pelototan darinya. "Dimana matamu, Sely?! Aku ini sangat tampan!! Banyak wanita yang tergila-gila padaku!!" Sahutnya tak terima. "Jangan bicara dengan dia lagi, honey. Sekarang habiskan dulu ice cream strawberry mu." Aku menatapnya tak percaya akibat mendengar perkataan terakhirnya itu. "Wah!! Kau membelikanku itu juga??" Ia mengangguk seraya tersenyum manis. Karena terlampau senang, aku segera memeluk tubuhnya. "Terimakasih, Prince." Prince pun membalas pelukanku dan mengecup puncak kepalaku lembut. "Tidak perlu berterimakasih, honey. Sudah tugasku membuatmu senang." -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN