Possesive Prince || 11

732 Kata
Rasa kesal menyelimuti hatiku sedari tadi karena si pendatang baru itu, Alya. Dia selalu saja dekat-dekat dengan Prince meskipun Prince sudah berusaha menghindar namun dia selalu saja mengekori Prince layaknya anjing. Sialnya lagi kami satu kelas. Benar-bemar menyebalkan. Jika satu kelas gini, sudah pasti dia akan semakin sering menganggu Prince. Dan benar saja, baru memikirkan hal itu, dia sudah beraksi. "Prince, Alya ingin duduk bareng Prince." Ujarnya takut-takut sambil menatapku penuh harap. Berharap aku pergi maksudnya. Tapi bukan Roselyn namanya jika pergi begitu saja hanya karena nada bicaranya yang seperti orang tertindas itu. Aku tetap duduk di kursi sambil bermain hp. "Apa kau tidak melihat pacarku duduk di sini?" Pertanyaan dingin Prince mampu membuatku terkikik di dalam hati. Mampus kau Alya!! "Tapi Alya ingin duduk bersama Prince seperti dulu lagi." Rengekannya terdengar begitu memuakkan di telingaku. Rasanya, tanganku gatal sekali memvideokannya dan mempostingnya di Instagramku dengan caption 'si tidak tahu malu' Berhubung dia teman masa kecil Prince dan Keluarga Prince pun tampak menyayanginya, aku jadi menahan tanganku sendiri untuk tidak mempostingnya. Aku tidak ingin di cap buruk oleh keluarga Prince. "Hei! Lihat anak baru itu! Dia tidak tahu malu!" Sorak Ana. "Anak baru!! Jangan merengek seperti itu ke Prince. Kami malu melihatmu seperti itu." Ledek Keisha. "Hei kau! Jangan menggoda pacar Roselyn seperti jalang sok polos!!" Yang lainnya pun ikut mencemooh Alya sehingga gadis berambut hitam itu menangis. Ckck, mental lemah gitu sok sok an merebut punya orang. Rafael tiba-tiba datang dan merangkul bahunya. "Kalian jangan mengganggunya atau aku akan memberikan kalian pelajaran!!" Sentaknya keras sehingga murid kelasku terdiam sambil berdecih pelan. "Alya duduk di dekatku saja ya? Prince tidak bisa duduk bareng Alya lagi karena dia sudah punya pacar." Rafael menasehati Alya seperti anak kecil. Anehnya lagi si Alya menurut begitu saja dengan Rafael. "Kok bisa si Alya itu nurut banget ke Rafael?" Bisikku ke Prince. Prince menatapku lalu memelukku gemas. "Karena sejak kecil kami selalu bersama, jadi dia selalu nurut ke kami." "Ohh. Tapi dia nyebelin banget loh. Masa kau sudah punya pacar, dia tetap ngintilin seperti itu." Gumamku kesal. Prince mengusap puncak kepalaku lembut. "Alya itu polos dan kekanakan. Sejak kecil kami selalu bersama. Kami tumbuh di lingkungan yang sama karena ibunya pembantu di rumahku. Selain itu, kami teman pertamanya karena dia dulunya selalu dibully karena bukan anak orang kaya. Makanya dia selalu ingin dekat dengan kami. Dulu, dia paling dekat denganku karena aku tidak suka menjahilinya seperti Rafael. Asal kau tahu, honey, dia itu tidak jahat. Dia hanya tidak bisa lepas dari kami berdua." Aku merenggut tidak terima mendengar ucapannya. Masa berusaha memonopoli dirinya yang berstatus sebagai pacarku bukan orang jahat. "Kalau disuruh milih antara aku dan dia, kau pilih siapa?!" Tanyaku iseng tapi juga penasaran. Prince melepaskan pelukannya lalu mencubit kedua pipiku kuat sehingga membuatku menjerit kesakitan. "Apaan sih cubit-cubit!!" Sentakku marah. "Kau sangat menggemaskan sewaktu cemburu, membuatku tidak tahan untuk mencubitmu." Kekehnya yang mendapat pukulan kesal dariku. "Cemburu bapakmu!! Aku tidak merasa cemburu sama sekali yaa!!" Tegasku. Prince tersenyum miring dan menatapku dengan tatapan menggoda. "Yakin kau tidak cemburu, honey?" Aku menjambak rambutnya gemas. "Jangan menatapku seperti itu!" "Astaga, honey. Rambutku menjadi kusut karena ulahmu." "Bodo amat!! Makanya jangan nyebelin jadi orang!!" "JANGAN SAKITI PRINCE!!" Teriakan Alya membuatku memutar bola mata malas. Kulepaskan jambakanku pada rambut Prince lalu menatap Alya datar. "Lo jangan ikut campur, b***h. Urus saja kehidupanmu sendiri!!" Ujarku penuh tekanan. "Tapi jangan menjambak rambut Prince, nanti Prince kesakitan." Ujarnya takut-takut. Aku menoleh ke arah Prince. "Apakah jambakanku membuatmu kesakitan, Prince?" Prince menggeleng lalu mengecup pipiku sekilas. "Tidak sakit sama sekali, honey." Aku tersenyum penuh kemenangan ke arah Alya. "Dengar kan ucapannya?! Dia tidak merasa sakit sama sekali!! Jadi, kenapa kau yang sewot?? Kau iri melihatku dekat sama Prince, hah?!" Mata Alya berkaca-kaca lagi. Halah, padahal belum aku bentak tapi sudah nangis duluan. "Sudah lah, kakak ipar. Jangan memarahi Alya lagi." Rafael malah membela Alya. "Heh! Aku tidak memarahinya!! Aku hanya bertanya!!" Cetusku kesal. "Tapi, kau membuatnya menangis." Kesal Rafael. "Dianya saja yang cengeng!!" "Dia tidak akan menangis kalau kau tidak memarahinya!!" Aku menatapnya tajam. "Teman-teman, apakah aku memarahi Alya??" Tanyaku ke para penonton. "TIDAK!!" Aku tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban mereka. "Dengar itu?! Kata mereka aku tidak memarahi Alyamu itu." Rafael menatapku tak kalah kesal. "Aku tidak Sudi punya kakak ipar sepertimu." "HEI! KAU PIKIR AKU SUDI PUNYA ADIK IPAR MENYEBALKAN SEPERTIMU?!" "Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Bu guru menganggu suasana. -Tbc- firza532
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN