Aku mengernyitkan kening heran melihat dua gadis di meja makan.
Katanya hanya berempat, tapi sekarang kok berlima?
Siapa anggota tambahan itu?
Anak sahabat Aunty Mi Li?
"Prince, masih ingat dengan Alya? Dia ini sahabatmu dan Rafael waktu kecil." Tutur Aunty Mi Li.
"Oh, Alya."
Begitu biasa responnya sehingga aku tidak perlu merasa was-was akan dikhianati kedua kalinya karena Prince sama sekali tidak tertarik dengan gadis bernama Alya itu.
Kalau dia tertarik, sudah pasti dia akan menjawab dengan antusias dan mengajak Alya berbicara banyak hal.
Yang perlu ku lakukan sekarang hanya lah menjauhkan Alya Alya itu dari Prince supaya dia tidak punya kesempatan untuk menggoda Prince.
Insting sebagai wanitaku yang menyatakan Alya tertarik dengan Prince. Tatapannya sungguh tidak biasa.
"Oh ya, bagaimana perutmu, Roselyn? Sudah baikan?"
Aku mengangguk sambil tersenyum manis ke arah aunty. "Udah, aunty."
"Bagus deh kalau gitu. Sekarang ayo duduk, makan lah yang banyak. Jangan sungkan-sungkan ya!"
"Iya, aunty." Kekehku.
Prince menarikkan kursi untukku lalu menuntunku duduk dengan manisnya. Lalu dia duduk di sebelahku.
"Kau ingin makan apa, honey? Biar aku ambilkan." Ucapnya penuh perhatian.
"Aku bisa mengambilnya sendiri." Sahutku cepat.
"No!! Jawab saja pertanyaanku!! Aku yang akan mengambilkannya untukmu!!"
"Berlebihan sekali kau ini." Ejek Rafael sehingga mendapatkan tatapan tajam dari Prince.
Rafael manggut-manggut dan mengisi piringnya sendiri tanpa mempedulikan Prince lagi.
"Prince sayang banget ya sama Roselyn. Kayak daddy yang sayang mommy." Kikik aunty Mi Li yang mendapat kecupan lembut dari uncle Adelard. Aww, mereka benar-benar manis. Membuatku iri saja.
"Karena kau tidak menjawab ucapanku, maka kau makan steak saja, honey." Ucapnya mengagetkan.
Steak yang sudah dipotongnya kecil-kecil di letakkan di depanku. "Thank you." Gumamku pelan. Mau gimana lagi kan. Masa aku tidak mengucapkan terimakasih sama sekali.
"Tidak menerima ucapan terimakasih tapi menerima tindakan langsung dari ungkapan terimakasih."
Menaikkan alis sebelah dan menatapnya heran. "Maksudnya?"
Tiba-tiba saja dia mengecup bibirku secepat kilat. Benar-benar membuatku terkejut.
Aku menatapnya tajam dan penuh peringatan. "Jangan macam-macam atau aku tidak akan memaafkanmu."
Prince tersenyum miring. "Hanya satu macam, honey."
"Ih, kakak jahat. Masa membiarkan aku dan Kak Alya yang jomblo ini melihat keromantisan kalian." Protes Liana dengan wajah kesalnya yang terlihat sangat imut.
"Makanya cari pacar, Lia." Ledek Rafael.
"Si Alya juga. Cari pacar! Kalau tidak ada calon, aku siap kok menjadi pacar dadakan Alya." Imbuh Rafael lagi.
Sementara Prince menyuapiku makan. Sudah kutolak tapi tetap saja dia memaksaku.
Benar-benar pria yang tidak bisa ditolak sama sekali.
"Mulai besok Kak Alya akan pindah ke sekolah kakak loh."
Ucapan Liana kembali membuatku tersentak dan hampir tersedak.
Untung saja si Prince tidak melihat reaksiku karena dia sedang sibuk dengan makanannya.
"Sttt, jangan bicara lagi, sayang. Nanti kau tersedak." Tegur Uncle Adelard lembut.
Liana mengerucutkan bibirnya kesal tapi tetap menuruti ucapan uncle.
Beberapa menit terlalui, akhirnya selesai makan malam.
Kami kembali ke kamar namun saat hendak masuk ke dalam kamar si Alya mencegat kami. "Prince tidak merindukan Alya ya?"
Pertanyaannya membuatku memutar bola mata malas.
Kami sama-sama berbalik. Alya terlihat meremas ujung pakaiannya cemas.
"Alya kangen Prince. Alya ingin memeluk Prince. Boleh?"
Dih, pakai acara minta peluk segala.
Kangen ya kangen.
Ngobrol aja, gak usah pelukan.
"Tidak boleh!"
Wajah Alya tampak murung, membuatku bersorak girang dalam hati.
Jahat banget gak sih aku kesenangan melihat dia ditolak mentah-mentah Prince?
Ah, bodo amat!!
"Kenapa, Prince? Bukan kah kita dulu sangat dekat? Kenapa sekarang Prince menjauh? Prince marah karena lima tahun yang lalu Alya kembali ke Indonesia?" Tanyanya bergetar.
Aku menatap ekspresi Prince yang masih saja tenang. "Bukan. Aku tidak pernah marah dengan hal itu."
"Lalu kenapa Prince jaga jarak dengan Alya?" Tatapannya tampak menyedihkan seolah dia perempuan yang paling tersakiti di dunia.
"Karena ada hati yang harus ku jaga. Aku tidak mau membuatnya sakit hati karena melihatku berpelukan dengan gadis lain."
Saat Prince menatapku, jantungku langsung berdebar tak karuan. Tatapan dalamnya membuatku gugup dan refleks kabur ke dalam kamar karena tak sanggup menghadapinya.
Astaga, aku baper.
Bagaimana ini??!!
-Tbc-