Possesive Prince || 09

618 Kata
Sakitku sudah sembuh sepenuhnya tapi tetap saja tidak diperbolehkan pulang olehnya. Aku disuruh menginap semalam di sini. Tidak yakin juga sih melihat ekspresi anehnya. Takutnya nanti dia malah memaksaku tinggal di sini terus bersamanya. Tau saja lah, dia itu crazy! "Wangi sekali kau, honey." Tau-taunya Prince langsung memeluk ku erat saat baru saja membuka pintu kamar mandi. "Apaan sih. Lepasin deh. Rambutku masih basah." Mendorong dadanya kesal. "Baiklah, sekarang aku akan mengeringkan rambutmu." Aku menurut saja saat dia menuntunku duduk di kasur. Dia mengambil alih handuk yang menggantung di leherku lalu mengeringkan rambutku dengan hati-hati seolah takut menyakitiku. "Bagaimana kalau mulai sekarang kau tinggal di rumahku saja, honey?" Pertanyaan mendadaknya membuatku tersentak. "Aku ingin melihatmu setiap saat, aku ingin memelukmu setiap saat, dan aku ingin mengeringkanmu rambutmu seperti ini terus." "Tidak mau. Aku tidak mau pisah dengan keluargaku." Jawabku kesal. "Di sini juga keluargamu, honey. Ada Daddy, mommy, Rafael, dan Liana." "Hm? Liana?" Siapa itu Liana? Kenapa aku baru mendengar namanya? "Iya. Liana itu adik perempuanku yang masih berumur 15 tahun." "Ohh, ku pikir adikmu hanya Rafael." "Tidak, adikku ada dua. Yang satu menyebalkan dan yang satunya lagi menggemaskan. Kau pasti akan suka dengan Liana nantinya." "Memangnya sifat Liana seperti apa?" "Baik hati, polos, dan menggemaskan." "Sayang banget kayaknya sama Liana." "Aku memang sangat menyayanginya. Aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya dan selalu membuatnya bahagia." "Sepertinya dia beruntung banget ya punya kakak sepertimu. Andai saja aku juga punya kakak sepertimu." "Kau memang tidak punya kakak sepertiku tapi kau punya kekasih sepertiku. Aku akan melindungimu sampai titik darah penghabisan, aku akan selalu menyayangimu, dan aku akan selalu membahagiakanmu." "Oh ya, benarkah? Kenapa aku tidak percaya ya?" Godaku. "Kau lihat saja nanti, aku akan membuktikan seluruh ucapanku." Tersadar, ini adalah rekor terlama kami berbicara dengan pembicaraan yang membuat nyaman. Aku merasa dia semakin menarik. Mungkin dia memang pemaksa, posesif, dan protektif tapi aku tahu dia tulus menyayangiku. "Sudah kering." Kecupan lembut mendarat di puncak kepalaku. Dia bangkit dari tempat tidur dan mengambil sisir lalu kembali duduk di belakangku. "Aku akan menyisir rambutmu, kalau sakit katakan saja, honey." "Iya." Sahutku pelan seraya menikmati sisirannya yang sangat lembut, membuatku menjadi mengantuk. "Apa sebelumnya kau sudah pernah pacaran, honey?" Tanyanya tiba-tiba. Aku mengendikkan bahu tak peduli. "Pernah tapi berakhir dikhianati." "Dia benar-benar bodoh menghianatimu!" Ucap Prince menggebu-gebu. "Kayaknya aku yang bodoh dulunya bisa jatuh cinta dengan playboy sepertinya. Aku pikir dia sudah tobat dan tidak akan bermain dengan banyak wanita lagi tapi aku salah, dia bermain dengan banyak wanita termasuk sahabatku. Aku tidak sengaja melihat mereka berciuman di belakang sekolah waktu itu." "Tapi, sekarang kau tidak mencintainya lagi 'kan?" Tuntutnnya. "Tidak sama sekali!! Aku sudah move on! Pria sepertinya tidak pantas mendapatkan cintaku!!" Kesalku. Jika dikhianati sekali, maka aku akan langsung membenci orang itu sampai ke tulang-tulang. Aku ini orangnya terlalu pendendam. Cintaku pada orang itu telah berubah menjadi benci sepenuhnya. Memang sempat menangis dan terpuruk karena penghianatannya tapi tidak lama-lama terpuruknya karena aku selalu berusaha mengalihkan pikiranku ke hal lain, salah satunya adalah dengan mengikuti balapan liar. Saat berhasil move on, hanya Penyesalan dan kebencian yang tersisa untuknya. Bahkan aku merutuk diriku dulu yang terlalu bodoh karena cinta. "Siapa namanya, honey?" "Setan." Jawabku ketus. Prince malah terkekeh dan memelukku erat dari belakang. "Aku jadi penasaran dengan pria yang dengan bodohnya menghianatimu itu. Nanti kalau bertemu dengannya aku akan mengucapkan terimakasih padanya karena sudah melepaskan gadis sepertimu hingga aku berhasil mendapatkanmu sekaligus memberikannya hadiah." "Tidak usah aneh-aneh. Abaikan saja dia karena dia itu sama sekali tidak penting!! Dia itu hanya sampah yang tidak bisa didaur ulang lagi!!" "Baiklah, baiklah. Sekarang kita ke ruang makan. Pasti mereka sedang menunggu kita sekarang." Prince beranjak dari tempat tidur lalu menggendongku ala bridal style. "TURUNIN!!" -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN