Possesive Prince || 08

637 Kata
Arsen tidak jadi ikut dengan Prince karena ada urusan penting lainnya. Tentu saja hal itu sangat membahagiakan bagi Prince yang bisa berduaan dengan gadisnya tanpa gangguan Arsen. Karena kembaran Roselyn tidak mengikutinya, jadi ia bisa membawa gadis cantik itu ke rumahnya langsung. Dia akan merawat gadis itu sampai sembuh nantinya. Dia bisa berduaan dengan gadisnya tanpa gangguan siapa pun. Sangat menguntungkan baginya. Sesekali pria tampan itu mencuri pandang ke arah Roselyn yang masih tertidur pulas di sampingnya. Bibirnya mengulas senyum tipis melihat gadis yang sangat dicintainya berada di sisinya. Pria itu kembali mengalihkan tatapannya ke depan namun tangan kanannya mengambil ponsel di seragam sekolahnya. Ia menelpon dokter pribadi keluarganya dan menyuruh datang ke rumahnya langsung. Meski sibuk bertelponan, dia tetap fokus mengendarai mobil. Setelah sambungan telepon terputus, ia semakin menambah kecepatan mobilnya hingga sampai di rumah megahnya dengan cepat. Turun dari mobil lalu menggendong Roselyn hati-hati agar gadisnya itu tidak terbangun karena ulahnya. "Kenapa kau dan Roselyn sudah pulang sekolah?" Tanya mommynya, Mi Li. "Roselyn sakit, mom." Mi Li tampak terkejut. "Kalau begitu cepat bawa dia ke kamarmu, mommy akan memanggilkan dokter untuk memeriksanya." "Tidak usah, mom. Aku sudah menghubungi dokter." "Hah, syukur lah kalau begitu. Sekarang cepat istirahatkan Roselyn di kamarmu." "Iya, mom. Aku ke atas dulu ya." Setelah berpamitan dengan sang mommy, Prince langsung menaiki tangga tanpa kesusahan meski sedang menggendong tubuh Roselyn. Setiba di lantai dua, dia langsung menuju kamarnya. Membuka pintu kamar, berjalan menuju ranjang, dan meletakkan tubuh Roselyn hati-hati. Menarik selimut dan menyelimuti tubuh Roselyn. "Kau harus cepat sembuh, honey." Bisiknya pelan sembari mengecup kening Roselyn. Tak lama, dokter pribadi keluarganya pun datang bersama Mi Li yang mengekori dari belakang. Langsung saja Prince menyuruh dokter tampan tersebut untuk memeriksa Roselyn. Setelah mendengar keadaan Roselyn seusai pemeriksaan baru lah dia bernafas lega. **** ROSELYN POV. Kali pertama membuka mata, aku sudah berada di ruangan asing yang belum pernah ku pijak sebelumnya. Kamar ini begitu luas dan mewah, sama halnya dengan kamar ku. Hanya saja kamar ini serba abu-abu. Suram! Memutuskan untuk melihat-lihat ke sekeliling setelah bangkit dari rebahan. Untung saja perutku sudah tidak sakit lagi hingga bisa bergerak bebas. Kaki telanjangku menyentuh karpet yang begitu lembut kala turun dari tempat tidur. Masih berusaha mencerna dimana aku sebenarnya. Tidak mungkin kan aku diculik oleh seseorang sewaktu istirahat di UKS? Memangnya ada ya yang nekat menculik seseorang di sekolah? Kalau ada, hebat banget penculiknya tuh. Tapi, sepertinya dugaanku tentang penculik salah. Aku mengenali aroma kamar yang sangat menenangkan ini. Aromanya sama seperti aroma tubuh dia. Mungkin kah dia yang membawaku? "Bagaimana perasaanmu sekarang?" Refleks aku berbalik mendengar suaranya. Dia hampir saja membuat jantungku copot. "Sudah lebih baik. Tapi, kenapa aku ada di sini?" Prince berjalan mendekat lalu menuntunku kembali duduk di kasur. Menurut saja lah dulu. "Aku membawamu pulang ke rumahku agar bisa merawatmu secara langsung. Aku sangat khawatir melihatmu tadi." "Oh, begitu." "Sekarang istirahat lah lagi agar cepat sembuh." Tuturnya pelan dan begitu perhatian. "Aku sudah sembuh dan sekarang aku ingin pulang." Tatapannya seketika menajam ke arahku. "Apa segitu tidak sukanya berada di dekatku?" Tanyanya sedih dan tak terima. "Bukan itu. Aku tidak biasa tidur di rumah orang lain." Elakku. "Sama saja. Ini juga akan menjadi rumahmu nantinya. Mulai sekarang biasakan lah dirimu di sini!" Dasar pria otoriter. Memerintah seenak jidatnya saja! "Tapi aku ingin pulang, mommy pasti mencemaskan ku," Masih memberikan alasan lainnya supaya dia mengizinkanku pulang. Sungguh tidak terbiasa aku berada di sini. Aku ingin berada di rumahku sendiri. Rumah sendiri lebih nyaman dibandingkan rumah orang lain. "Tenang saja, aku sudah memberitahu mereka bahwa kau akan menginap di rumahku, honey." Jawabannya membuatku tersentak. "Aku tidak mau nginap di sini!! Aku mau pulang!!" Jeritku kesal. Aku semakin terkejut melihat ekspresi marahnya yang seperti hendak menerkam seseorang. Nyaliku mendadak ciut kala dia menindih tubuhku dan mencengkram daguku. "Kau tidak akan bisa pulang sekarang!!" Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN