Possesive Prince || 07

959 Kata
Gadis cantik berambut pirang itu meremas kuat bagian kanan perutnya. Tak tahu kenapa perutnya terasa sangat sakit. Belum pernah dia merasakan perutnya sesakit ini. Keringat dingin muncul di sekitar dahinya. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Sayangnya, tidak ada yang menyadari rasa sakit yang dialaminya. Semua orang terlampau sibuk memperhatikan guru yang tengah menjelaskan di depan. Tidak tahan lagi, akhirnya Roselyn menyerah dan memutuskan untuk keluar dari kelas. "Bu, Roselyn permisi ke toilet sebentar." Meski tengah menahan rasa sakit, gadis cantik itu tetap mengeluarkan suara penuh keceriaan dan seolah tidak terjadi apa pun. "Jangan lama-lama." "Oke, bu." Roselyn keluar dari kelas dengan tubuh tegak dan ekspresi seperti biasa namun setelah keluar dari kelas ia langsung meringis pelan sembari meremas perutnya. "Astaga, kenapa sakit sekali sih?! Apa ini karena sarapan?" Dengan langkah sempoyongan Roselyn pergi ke UKS. Untungnya letak UKS tidak terlalu jauh dari kelasnya. "Eh, ada Roselyn. Ada apa?" Tanya ibu guru penjaga UKS yang bertugas hari ini. Clara, namanya. Roselyn menggigit bibir bawahnya kala rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. "Perut Roselyn sakit, bu." Bu Clara menjadi panik mendengar perkataan Roselyn. "Tunggu sebentar. Ibu cariin obatnya. Kau tidur saja di kasur." Roselyn mengangguk patuh dan tidur di salah satu kasur yang kosong. Matanya kembali terpejam dengan tangan yang masih meremas perutnya. Beberapa menit kemudian, ia merasakan elusan lembut di puncak kepalanya. "Ayo minum dulu obatnya, setelah itu baru tidur lagi." "Sakit, Bu. Perut Roselyn sangat sakit. Rasanya Roselyn tidak sanggup untuk bangun lagi." Ujarnya lemah. Jika sudah sakit begini, sisi manja Roselyn memang akan keluar ke orang yang membuatnya nyaman. "Iya, sayang. Makanya minum obat dulu." "Bantu Roselyn duduk, Bu." Dengan senang hati Bu Clara membantu Roselyn duduk. Bu guru cantik itu menyodorkan pil dan air ke Roselyn. Roselyn menerimanya dan langsung meminum obat tersebut lalu kembali berbaring di tempat tidur. "Udah izin sama Bu guru yang mengajar 'kan?" Tanya Bu Clara memastikan. Roselyn menggeleng pelan. "Tidak ada yang tahu Roselyn sakit?" Roselyn mengangguk. "Roselyn mau istirahat di sini atau istirahat di rumah saja?" "Di sini saja, Bu. Di rumah terlalu sepi." Ya, rumahnya memang sangat sepi di jam segini karena mommy dan daddynya sedang sibuk bekerja di perusahaan. "Oke. Kalau begitu ibu izinin Roselyn dulu ke kelas. Dan kau tidur lah agar kau tidak kesakitan lagi." Bu Clara mencium kening Roselyn sekilas sebelum meninggalkan Roselyn sendirian. "Ini semua pasti sarapan itu, ish, kenapa juga sih aku luluh mendengar tawaran menggiurkan Prince?" Dumelnya kesal. "Ah, ya sudahlah. Aku tidur saja dulu supaya tidak terasa lagi sakitnya." **** Di dalam kelas, Prince sudah sangat khawatir dengan Roselyn yang tidak kunjung kembali. Berulang kali dia melihat jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Tiga menit, enam menit, sepuluh menit terasa berlalu cepat. Namun gadisnya tak kunjung kembali. Ujung penanya mengetuk-ngetuk buku tulisnya tak sabaran. Ia takut gadisnya mengalami masalah hingga tidak bisa kembali ke kelas dengan cepat. Di saat hendak bangkit dari bangkunya, tiba-tiba seorang ibu guru berjas putih memasuki kelasnya, Bu Clara. "Permisi, Bu. Di sini saya mau memberikan surat izin sakit Roselyn." Tutur Bu Clara. Prince tersentak mendengarnya. "Apa? Dia sakit?! Lalu dimana dia sekarang?" "Iya, Bu. Sekarang dia sedang beristirahat di UKS." Prince buru-buru pergi ke UKS setelah mendengar dimana gadisnya berada. Sama sekali tidak mempedulikan ibu guru yang menyuruhnya untuk kembali. Nafasnya memburu kala sampai di UKS. Dia memeriksa setiap tirai yang tertutup hingga berhasil menemukan keberadaan Roselyn. Bahunya meluruh seketika saking leganya melihat gadisnya itu sudah tertidur. "Kenapa tidak mengatakannya kepadaku, honey? Jika aku tahu kau sedang sakit, pasti aku akan menemanimu di sini sejak awal." Gumamnya cemas. Prince berjalan mendekat, membuka jaketnya, dan meletakkannya di paha Roselyn. Pria itu ikut naik ke atas kasur dan tiduran di samping Roselyn. Dipeluknya tubuh Roselyn yang terasa sangat mungil di dalam dekapannya. Bibirnya mendarat di puncak kepala Roselyn. Mengecupnya berulang kali dengan penuh kelembutan. "Jangan sakit. Aku tidak suka melihatmu jatuh sakit, honey." Matanya terpejam. Meresapi pelukan hangat mereka dengan jantung yang berdebar kencang. Tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta semudah ini kepadamu. Belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini dalam hidupku. Sebenarnya, ini sebuah keberuntungan atau kesialan untukku, honey? Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin selalu berada di sisimu. Aku ingin kau selalu menjadi milikku seutuhnya. Tidak peduli bagaimana pun caranya, kau harus tetap menjadi milikku. Aku akan menggunakan berbagai cara demi menahanmu di sisiku. Tapi, aku harap kau bisa menerima kehadiranku dengan baik. Dan aku harap kau jatuh cinta padaku secepatnya. Prince sibuk bergelut dalam pikirannya tentang Roselyn. Gadis yang diclaimnya begitu saja. "Hei, kau! Menjauh dari kakakku!" Prince tersentak dari lamunannya mendengar suara Jonathan. "Bangunlah! Aku akan membawanya pulang!" Usir Arsen. Kedua Wang bersaudara itu memang sudah memutuskan untuk membawa Roselyn pulang dan mereka pun sudah meminta izin ke guru piket. Tas Rosleyn pun sudah mereka bawa. Prince yang memahami situasi langsung bertindak. "Aku yang akan menggendongnya." "Tidak usah. Kau tetap lah di sini." "Aku mau menjaga gadisku! Jadi, jangan larang aku!" Tegasnya sehingga membuat Arsen terdiam sebelum mengangguk tak peduli. *Padahal aku pun bisa menjaga kakak sendiri. Tidak perlu bantuan dari orang asing untuk menjaga kakak." Sinis Jonathan. Pria itu langsung terdiam ngeri melihat tatapan membunuh Prince ke arahnya. "Aku bukan orang asing. Aku tunangannya!" Jonathan tertawa kaku. "Bercanda. Jangan dianggap serius, kakak ipar." Lalu pria tampan itu segera kabur dari sana lantaran terlalu ngeri melihat tatapan membunuh tersebut. "Oke, sekarang ayo kita kembali. Gendonglah dengan hati-hati agar dia tidak terbangun." Tutur Arsen. "Aku tahu." Sahut Prince cuek. Digendongnya tubuh Roselyn dengan penuh kehati-hatian agar gadisnya tidak terbangun. Langkahnya pun terlihat sangat berhati-hati. Arsen yang mengamati dari belakang hanya bisa menghela nafas lalu bergumam lirih. "Semoga saja kakak tidak akan tersakiti lagi karena pria. Aku tidak tega jika harus melihatnya menangis karena pria b******k lagi. Semoga kau tidak pernah mengecewakan kakakku seperti dia, Prince." -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN