Possesive Prince || 06

829 Kata
Roselyn yang baru saja turun dari kamarnya menganga kaget melihat penampakan Prince di meja makan bersama keluarga tercintanya. Tidak dapat dipercaya pria itu sudah berada di rumahnya sepagi ini. Tak mau berpikir banyak, Roselyn pun menghampiri mereka dan duduk di salah satu kursi yang kosong. Tentunya kursi yang jauh dari jangkauan Prince. "Pagi, honey." Sapaan Prince diam-diam membuat Arsen dan Jonathan menahan mual. Entah kenapa terasa menjijikkan bagi mereka mendengar kakak kesayangan mereka dipanggil seperti itu. "Kenapa kau ada di sini?" Bukannya membalas sapaan Prince, Roselyn malah bertanya kesal. Seolah tidak mengharapkan kehadiran Prince sama sekali di sana. Prince tak merasa tersinggung sedikit pun. Pria tampan tersebut malah tersenyum kecil ke arah Roselyn yang terlihat tidak bersahabat. "Tentu saja untuk menjemputmu, honey. Mulai hari ini dan seterusnya aku yang akan mengantar jemputmu." "Memangnya kau beralih profesi menjadi sopirku?!" Dengus Roselyn sebal. "Sudah, sudah. Jangan ajak Prince berdebat, sayang." Ujar Aurora menengahi. "Lebih baik kita mulai sarapan." Sambung Goumin. Suasana di meja makan akhirnya tenang. Semua orang sibuk dengan makanan masing-masing, kecuali Prince yang masih saja menatap Roselyn dalam diam dengan tatapan memuja sambil melahap sandwich nya. Pria tampan itu tersentak ketika menyadari sesuatu. "Kau tidak makan, honey?" Roselyn yang sedang bermain ponsel mendongakkan kepalanya, menatap Prince. "Aku tidak terbiasa sarapan." "Itu tidak baik untuk kesehatan. Mulai sekarang kau harus sarapan." "Tidak mau!" Tolak Roselyn mentah-mentah, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke ponsel. Prince menghela nafas melihat hal itu. Beranjak dari kursinya dan duduk di samping Roselyn sambil membawa piringnya. "Harus mau." Meletakkan piring yang di bawanya ke hadapan gadis cantik itu. "Makan lah!" Titahnya tegas. Roselyn hanya menatap piring tersebut tanpa berniat untuk menyentuhnya sehingga membuat Prince menghela nafas lagi. "Ayo, makan. Kau harus sarapan agar tubuhmu bertenaga." Ia hanya tidak ingin melihat gadis yang dicintainya itu jatuh sakit nantinya karena tidak sarapan. Ia ingin gadisnya selalu sehat. Roselyn kembali menjawab dengan kekerasan kepalanya. "Tidak mau. Kau saja yang sarapan." Prince mengambil kembali piring itu dan meletakkan di depannya. "Ayo buka mulutmu. Aku akan menyuapimu sampai habis," katanya lembut. Roselyn menutup mulutnya rapat sembari menatap Prince yang mengatur-ngaturnya kesal. Jika tidak ingin sarapan, kenapa harus dipaksa sih?! Keluarganya saja tidak pernah memaksa! "Nanti aku belikan ice cream kesukaanmu sampai kau puas kalau kau menghabiskan ini." Baru lah gadis itu membuka mulut mendengar tawaran yang sangat menggiurkan tersebut. Kapan lagi dia bisa makan ice cream gratis sepuasnya. Prince tersenyum penuh kemenangan melihat gadis itu mulai membuka mulut dan menerima setiap suapannya. Diam-diam interaksi keduanya membuat keluarga Wang tersenyum geli. Mereka tidak menyangka Roselyn yang tidak terbiasa sarapan bisa menurut hanya karena bujukan Prince. Setelah sarapan selesai, Prince dan Roselyn keluar dari rumah besar tersebut dan bersiap pergi ke sekolah. Roselyn terpaksa berangkat bersama Prince ke sekolah karena pria itu memaksanya. Selama di dalam mobil pun Roselyn hanya diam, tidak berniat membuka suara sama sekali. Kala sampai di sekolah, Prince membukakan pintu mobil untuk Roselyn. Para siswi yang melihat hal itu menjerit tidak percaya melihat cogan incaran baru mereka pergi ke sekolah bersama Roselyn. Sebagian dari mereka menggeram iri dan tak terima. Dulu Alvaro dan William, sekarang Prince. "Abaikan saja ucapan orang yang iri itu, honey." Roselyn menyibak rambut pirangnya songong. "Memang aku abaikan. Tidak penting juga mendengar celotehan tak bermutu mereka." Prince tersenyum geli dan memeluk pinggang gadis yang dicintainya posesif. "Jauhkan tanganmu dariku!" Ia menyeringai mendengar perkataan tegas Roselyn. "Tidak mau." "Lepasin gak?!" Roselyn melototi Prince kesal namun hal itu malah membuat Prince semakin senang dan mempererat pelukannya. "Ck! Menyebalkan!" Roselyn yang merasa tidak akan menang melawan Prince hanya bisa pasrah. Mereka berjalan dalam diam menuju kelas, mengabaikan tatapan heran, penasaran, dan iri dari para murid yang melihat mereka. Sesampainya di kelas, Roselyn langsung melepaskan pelukan Prince darinya kala pria itu lengah. "Pagi, guyss!!" Sapanya ceria ke Alvaro dan William. "Wihh, berangkat bareng Prince nih?" Kekeh Alvaro. "Ciee si Sely udah gak sendiri lagi." Ledek William. "Ish, tuh orang memaksaku untuk berangkat bersamanya. Padahal aku ingin pergi sendiri ke sekolah." Adu Roselyn sebal ke Alvaro sambil duduk di samping pria itu. "Lebih aman kalau kau pergi ke sekolah bersamanya, Sel." Roselyn melotot kesal. "Jadi, kau tidak membela sahabatmu ini?!" "Kau pergi lah dari sini! Mulai sekarang aku yang akan duduk bersama Roselyn!" Titah Prince tiba-tiba mengusir Alvaro. "Aku tidak mau duduk bersamamu." Tolak Roselyn mentah-mentah. Prince menatap gadis cantik itu datar. "Aku tidak peduli." Alvaro yang tak mau keduanya semakin berdebat memilih mengalah. "Jangan ribut lagi kalian berdua. Aku akan duduk di samping William." Prince tersenyum penuh kemenangan sedangkan Roselyn mendengus kesal karena Alvaro tidak berpihak padanya. Padahal kan ia tidak ingin duduk berdua dengan Prince yang aneh. Prince tiba-tiba merangkul bahu Roselyn, mendekatkan wajahnya, mencium pipi chubby Roselyn, dan berbisik lirih di telinga gadis cantik itu. "Mulai sekarang dan seterusnya, kau harus duduk berdua bersamaku. Dan asal kau tahu, honey. Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan pria lain. Kau harus menjaga jarak dengan pria lain mulai sekarang jika tidak ingin mereka menghilang selamanya dari muka bumi ini!!" -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN