24. Menargetkan

1105 Kata
Makanan yang Lissa makan terasa sangat pedas. Padahal ia sudah meminta agar tidak banyak menambahkan banyak saus ke dalam rotinya. Kantin begitu padat, saat jam makan siang ada banyak sekali mahasiswa yang datang untuk mengisi perut mereka. Akan tetapi, kursi di depan Lissa sepenuhnya kosong. Tidak ada yang menghampirinya, karena ia makan di gedung lain. Bukan di wilayahnya. Lissa menghabiskan waktu di kantin hanya untuk mencari informasi soal Joan dan gengnya. Berhubung Joan sudah berhasil ia singkirkan, ia hanya perlu membereskan sisanya. Ketika Joan meninggal, sudah pasti Norman akan segera pulang dari berlibur. Lissa cukup terkesan dengan kekompakan mereka. Bukan hal baru jika mereka selalu bersama-sama. Lissa yakin sekali jika kematian Joan pasti akan membuat teman-temannya sangat sedih. Lissa menatap ke arah Clara yang sedang melihatinya makan siang. Mungkin tempat itu akan tetap kosong selama Clara duduk di sana. Lissa tidak tahu. Mata Clara kini beralih ke sekelompok anak perempuan yang sedang bergosip sambil makan. Lissa melihat dan mendengar mereka, tapi ia sama sekali tidak peduli. Bahkan makanannya lebih menarik daripada mereka. “…” “Aku melihatnya di televisi, itu benar Joan. Dia meninggal. Awalnya aku tidak percaya. Dia begitu tampan. Apa dia benar bunuh diri?” “Beritanya langsung mereda, bukannya hari ini adalah hari pemakamannya?” “Perwakilan kampus sudah pergi sejak tadi pagi. Andai aku bisa pergi ke sana. Aku masih sedikit tidak percaya dengan berita itu.” “Ya. Aku juga. Kita kehilangan pria tampan.” “Aku masih berpikir keras, seseorang melakukan bunuh diri pasti ada pemicunya. Dia cukup kaya. Apakah dia patah hati?” “Ada banyak wanita yang patah hati karenanya. Joan memang tampan, tapi semua orang tahu kalau dia adalah tipe orang yang tidak bisa setia dan mudah bosan. Aku sendiri masih tidak yakin jika dia bunuh diri karena patah hati.” “Bisa saja, ia ditolak oleh wanita yang dia sukai. Seorang seperti Joan pasti akan menemukan karmanya. Lalu dia tidak bisa menanggungnya dan ia memilih bunuh diri.” “Hahaha … kau terlalu banyak membaca novel.” “Tapi hal itu bisa saja terjadi.” “Mereka tidak akan kekurangan stok penggemar. Selain kaya, mereka memiliki wajah di atas rata-rata.” “Memang sulit untuk mengetahui detailnya. Orang kaya selalu memiliki caranya sendiri untuk menutupi fakta yang ada.” “…” Lissa mendengarkan sambil makan, meskipun agak mengangganggu dirinya. Lissa tersenyum miring ke arah Clara. “Kau puas? Joan sudah mendapatkan karmanya.” Lissa berbisik. Ia memastikan agar pembicaraannya tidak didengar oleh siapa pun di tempat itu. Akan gempar jika mereka semua tahu kalau dirinya yang sudah menghabisi nyawa Joan. Kalau dipikir-pikir, membunuh Joan begitu mudah. Tenaga pria itu langsung menghilang, ketika Lissa menindih tubuhnya dan memasukkan kepalanya di air danau. Lissa memang menendang kaki Joan, tapi ia memilih posisi di mana nanti ketika tubuh Joan diotopsi, maka mereka hanya akan menemukan kalau pria itu tersandung dan jatuh ke danau. Meskipun agak aneh ketika seseorang tenggelam di danau yang tidak begitu dalam. Lissa tidak peduli, selama Joan mati maka dirinya akan baik-baik saja. Lissa agak khawatir jika ia membunuh Norman, maka mereka akan semakin curiga. Sudah pasti kalau beberapa diantara mereka akan mati di tangannya. Lissa harus berpikir agar kematian mereka terjadi seperti sebuah kecelakaan. Bukan seperti ada seseorang yang sengaja menargetkannya. “Sebentar lagi adalah giliran Norman.” Terdengar Clara berkata dengan nada dinginnya. Lissa tahu kalau dia begitu membenci mereka. “Aku mengingatnya dengan sangat baik.” Balas Lissa. Lissa tampak acuh dan menatapnya sambil mengunyah makanannya. Ketika sudah habis, Lissa segera meninggalkan tempat itu. Semua teman Joan melayat ke rumah duka. Tidak mungkin ia akan menemukan salah satunya di kantin kampus. Lissa hanya mendengarkan apa yang dapat ia jadikan informasi tambahan. Hari ini ia masih ada jadwal dengan Jonathan. Ia butuh beberapa latihan berat untuk membuat otaknya bekerja dengan baik. Ia masih belum memikirkan cara yang pas untuk mencabut nyawa Norman. Cepat atau lambat, Lissa akan melakukannya. Ia akan mengambil nyawa Norman. Tidak baik membuat Clara menunggu terlalu lama. Ia juga butuh ketenangan. Lissa berterima kasih sekali jika Tuhan mau membantunya untuk melancarkan segalanya. Lissa hanya membantu para malaikat untuk menghukum para manusia keji itu. Orang-orang seperti mereka, tidak akan pengerti betapa berharganya sebuah nyawa. Sejak awal merekalah yang menjadi penyebab Lissa begitu bersemangat untuk membunuh mereka. *** Mereka menyaksikan ketika peti mati Joan ditimbun dengan banyak tanah. Para pelayat datang dan tampak mendukung keluarga yang ditinggalkan. Ibu Joan tampak terpukul sekali dan sempat pingsan. Setelah dari pemakaman sebagian diantara para pelayat ikut ke rumah duka. Teman-teman Joan tampak sedang mengenang sosok yang tiba-tiba meninggalkan mereka dengan cara yang begitu tragis. Ada rasa tidak percaya, ketika sahabat mereka meninggal di usianya yang begitu muda. “Aku masih tidak percaya jika Joan terlempar ke danau dan langsung meninggal. Sebenarnya apa yang terjadi?” Eros masih mempertanyakan hal yang sama. Bahkan ketika dia ada di rumah sakit, ia sempat berdebat dengan beberapa orang tentang keanehan itu. “Memang sulit untuk dipahami, ada luka di kakinya yang kemungkinan karena tersandung. Selebihnya tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya.” Brick mengatakan apa yang sedang ia pikirkan. “Asumsiku Joan tidak sadarkan diri. Apa dia mabuk parah? Memang ada alkohol di tubuhnya. Akan tetapi, Joan memiliki batas toleransi yang tinggi untuk alkohol. Dia suka minum dan jarang sekali benar-benar mabuk.” “Itu masih kupikirkan.” Eros menimpali. “Memangnya siapa yang berani macam-macam dengan kita? Mereka tidak akan ada yang berani melakukannya.” Andreas ikut ambil bagian. Ia sebenarnya memiliki banyak sekali hal yang ia pikirkan, tapi karena rasa kehilangan seorang teman membuatnya lebih banyak diam. Ini adalah pukulan yang berat, karena Joan hampir selalu bersama mereka. Bahkan sudah sejak mereka masih kecil. “Pada waktu itu aku ingat sekali kalau dia sedang berada di café, kami berniat menyusulnya tapi tidak jadi. Pikiranku kalau dia sedang berkencan. Sejak saat itu dia menghilang dan ketika diketahui, Joan sudah meninggal.” Trevor tampak mengingat-ingat. “Siapa teman kencannya?” Eros bertanya. “Tidak tahu. Aku tidak tahu bagaimana bisa Joan memilih mendatangi tempat seperti itu. Apa dia sungguh-sungguh bunuh diri? Itu sama sekali bukan tempat yang biasa ia datangi. Meskipun di sana tenang, Joan tidak akan datang ke tempat itu seorang diri.” Davis menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Cal lebih banyak diam bersama dengan Norman. Mereka sudah tidak bisa berpikir dengan benar, sehingga mereka memilih diam. Kehilangan Joan sudah seperti pukulan bagi mereka. Memang benar hidup adalah sebuah misteri, hanya saja mereka masih tidak percaya kalau Joan hari ini sudah tidak berada di sekitar mereka lagi. Joan selalu ceria dan itu sangat mengganggu pikiran mereka. Joan tidak hanya seorang teman, tapi juga saudara mereka.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN