Lissa sebal saat melihat Clara duduk di atas meja, tepat di sebelah laptopnya. Beberapa hari ini Clara selalu mengikuti Lissa ke mana pun dia pergi. Ada yang aneh, gadis itu sepertinya memiliki kemampuan daripada beberapa waktu yang lalu, saat dia hanya muncul ketika Lissa tertidur pulas. Kehidupan Lissa seperti sedang dibuntuti dan yang mengekor adalah arwah Clara. Bagaimana Lissa tidak risi. Sangat menyebalkan ketika Clara mengawasinya yang sedang mengerjakan tugas akhirnya. Ia lebih senang diawasi oleh dosen daripada oleh hantu Clara.
“Aku tidak menyangka jika kau cukup pintar.”
“Memangnya dirimu?” Lissa sudah memasang headset di telinganya yang langsung disambungkan ke ponsel. Seolah-olah dia sedang menelepon seseorang di perpustakaan sambil mengerjakan tugas kuliah. Suaranya sangat lirih, takut mengganggu orang lain yang ada di sana.
“Apa aku akan cepat lulus? Itu terdengar bagus sekali. Saat aku menjadi arwah entah mengapa aku merasa bebas. Aku tidak perlu belajar dengan tekun, tapi aku tidak bisa berbicara dengan ayahku. Aku sangat merindukannya, tapi sekarang aku masih bisa melihatnya. Bukannya kita harus selalu bersyukur atas segala yang ada di sekitar kita.” Clara tampak ceria.
“Kau tidak lelah berbicara dari tadi? Aku sudah mulai pening.”
“Kau harus berhenti mengerjakan tugas.” Clara mengatakan dengan sangat mudah.
Lissa menghela napas, sebenarnya ini adalah tugas Clara bukan tugasnya. Lissa memang sering kesepian karena tidak memiliki teman ngobrol, tapi bersama Clara beberapa hari ini membuatnya merasa kalau dia sangat membutuhkan ketenangan. Lissa lebih banyak bersabar kepada Clara, karena bagaimanapun Lissa lebih tua daripada Clara. Lissa harus banyak memaklumi anak remaja di depannya yang sedang memandanginya dengan penuh minat.
“Aku baru tahu kalau aku terlihat cantik ketika serius seperti itu. Aku jadi terlihat cantik dengan pakaian anehmu itu. Tubuhku seperti tidak salah mendapatkan tuan sepertimu.” Clara memuji Lissa. Memang apa yang ia katakan tidak berlebihan sama sekali. Penampilan Lissa lebih baik.
“Pakaian ini sama sekali tidak aneh, kau saja yang selalu senang dengan pakaian kunomu itu. Aku tahu itu adalah pakaian ibumu.”
“Aku merindukan ibuku, aku ingin meninggalkan dunia ini dengan tenang. Ingat kau harus menghabisi orang-orang yang sudah membunuhku.”
“Aku ingat semuanya. Norman selanjutnya. Berhubung dia sedang berlibur selama seminggu di pulau milik orang tuanya … aku tidak bisa melakukan apa-apa selain mengerjakan tugas akhir dengan sebaik-baiknya.” Lissa mengeluh, padahal Lissa ingin semuanya selesai dengan sangat cepat. “Apa tidak bisa diganti dengan orang lain saja?” Lissa sudah sedikit menyelidiki soal Norman.
“Aku ingin Norman.” Clara tampak keras kepala dengan urutan yang ia buat. Bagi Lissa bukannya sama saja selama semuanya bisa ia habisi?
“Oke.” Pada akhirnya Lissa pun mengalah kepada Clara yang duduk bersila di atas meja sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a.
Lissa segera membereskan barang-barangnya dan memasukkan semuanya ke dalam tas. Jemputannya sudah datang, ia harus segera pulang. Ia meninggalkan Clara. Bocah itu pasti akan menyusul. Clara suka muncul sesuka hatinya. Sangat sering membuat Lissa kaget setengah mati. Meskipun Lissa seperti melihat dirinya ketika masih muda, kehadiran Clara tetap membuatnya kaget. Lebih tepatnya Lissa belum terbiasa dengan Clara. Untung saja Clara tidak menampakkan wajah seramnya. Akan sangat merepotkan kalau Clara muncul dalam wujud yang mengerikan. Lissa agak takut dengan hantu.
***
Cal berjalan sambil berlari masuk ke dalam hutan untuk memastikan sesuatu. Brick baru saja mengatakan kalau Joan meninggal. Ia langsung melihat mobil milik Joan yang diberi garis polisi. Dengan tergesa-gesa Cal tidak mempedulikan garis yang dibuat, ia hanya ingin memastikan sendiri. Sudah ada beberapa temannya yang datang ke sana. Beberapa orang sedang menarik jasad Joan dari tengah danau. Aroma busuk sudah tercium sejak tadi dan ketika tubuh Joan berhasil ditarik ke permukaan bau itu semakin menusuk hidung.
Kaki Cal lemas, itu benar-benar Joan. Ia masih ingat baju yang dikenakan oleh temannya. Dia pikir kalau Joan … kalau Joan sedang bersenang-senang dan melupakan mereka. Joan beberapa hari ini tidak memberi kabar apa-apa. Setelah pihak keluarga melakukan pencarian tanpa membuahkan hasil, lalu ada penemuan yang begitu mengejutkan. Mobil Joan ada di pinggir hutan dan ada mayat yang mengapung di danau tidak jauh dari lokasi mobil ditemukan.
“Joan meninggal.” Andreas dari tadi hanya menggumankan kalimat itu beberapa kali. Ia agak terpukul dengan kematian Joan yang begitu tiba-tiba.
Brick menepuk pundak Andreas. Cal mendekati mereka dan terlihat gusar. “Itu sungguh Joan?” Cal masih tidak percaya.
“Itu Joan.” Davis mengatakan dengan nada datarnya. “Aku sudah menelepon Eros untuk mengabari jika Joan sudah tidak ada dengan kita lagi.” Lebih tepatnya Davis baru saja menghubungi Mormo.
“Siapa yang tega membunuh Joan?” Trevor tidak terima.
“Kita harus menunggu dari polisi untuk menyelidiki lebih lanjut.” Brick mengatakan dengan nada sedih. Mereka baru saja mendapatkan kabar duka. Teman mereka berkurang satu.
“Aku pikir kalau Joan pergi seperti biasa. Aku sempat kaget ketika ibunya meneleponku kalau Joan menghilang dan tidak bisa diketahui keberadaannya. Setelah melapor kepada polisi di waktu yang hampir bersamaan mobil Joan ditemukan di sini.” Andreas bercerita.
“Sudah. Joan akan tenang jika kita tidak bersedih atas kepergiannya. Kita harus mengusut semuanya. Apakah ini kecelakaan atau ….” Kalimat Brick terpotong, karena ada seorang polisi meneriakan sesuatu.
“Sepertinya korban bunuh diri.” Teriak salah satu regu penyelamat.
“Cepat bawa kantong mayat ke sini!” Seorang pria segera memasukkan tubuh Joan ke dalam kantong jenazah untuk dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.
“Tidak mungkin Joan bunuh diri.” Cal menolak percaya dengan teriakan salah satu regu penyelamat. Cal menggeleng dan segera menuju ke mobilnya sendiri.
“Cepat-cepat! kita harus ke rumah sakit. Katakan kepada Eros kalau kita semua di rumah sakit.” Davis memberi perintah entah kepada siapa.
Brick segera mengirimi Eros pesan kalau mereka semua ada di rumah sakit.
Satu per satu orang meninggalkan lokasi menuju ke rumah sakit. Polisi yang tersisa masih mencari sesuatu di lokasi kematian Joan. Berharap menemukan sesuatu. Tidak ada yang berhasil mereka temukan. Tidak ada jejak dan tidak ada barang yang mencurigakan. Semuanya tampak alami dan itu cukup membuat polisi bingung.
Di mansion mewahnya, Eros baru saja tidur dan dibangunkan oleh Mormo. Eros menaikkan sebelah alisnya ketika Mormo memberinya kabar duka kalau Joan meninggal. Teman-teman Eros sulit menghubunginya, sehingga mereka menghubungi asisten yang biasanya menangani segala kebutuhan Eros. Mormo awalnya ragu ketika ingin membangunkan Eros yang sedang beristirahat, akhirnya ia tetap membangunkan Eros.
“Kau serius?” Eros masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia baru beberapa hari ini kembali dari perjalanan jauhnya. Badannya bahkan masih lelah sehingga memutuskan untuk tinggal di rumah selama beberapa hari.
“Maaf, Tuan. Tuan Joan meninggal hari ini.”
“Di mana mereka sekarang?”
“Di rumah sakit. Sopir sudah disiapkan jika Tuan ingin menyusul ke sana. Satu jam yang lalu kabarnya sudah ada di televisi.”
“Kupikir ini hanya lelucon.” Eros segera mencari kunci mobilnya. Ada raut yang sulit terbaca dari wajah lelah milik Eros. Pria itu agak tidak percaya, karena teman-temannya sering membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu. Eros tidak tahu kalau berita yang ia terima sepenuhnya adalah sebuah kebenaran.