22. Berbicara Sendiri

1099 Kata
Cukup jauh Lissa berjalan untuk sampai di tempat pemberhentian bus. Beruntung bus datang beberapa menit setelah Lissa menunggu di sana. Bus hanya memiliki beberapa orang sebagai penumpangnya. Lissa maklum, karena memang wilayah di sekitar tempat itu begitu sepi. Meskipun ada beberapa orang yang memiliki rumah di sana, kebanyakan di antara mereka lebih senang menetap di kota. Lissa memilih duduk di kursi paling belakang sambil menikmati pemandangan dari balik kaca bening yang ada di dekatnya. Iringan musik terdengar merdu di telinga Lissa. Selain sejuk, bus itu dilengkapi dengan suguhan musik yang nyaman di telinga. Lissa jadi agak mengantuk. Ia sangat lelah dan ingin tidur sebentar. Tugasnya sudah selesai. Semoga tidak ada bukti yang nantinya akan ditemukan. Lissa pasti pusing jika ada bukti yang tertinggal. Menurut Lissa ia sudah membereskan semuanya dengan sangat baik. Lissa menggunakan segala kemampuannya agar semuanya berjalan lancar. Lalu Lissa kembali menguap, setelah tiga kali Lissa ketiduran, akhirnya Lissa memilih untuk mengucek matanya, agar tidak mengantuk lagi. Tiba-tiba jantung Lissa berdetak cepat, ia langsung menengok ke sampingnya. Ia baru saja melihat Clara dari pantulan kaca. Benar saja, Clara berada di sampingnya. Gadis itu terlihat tersenyum cerah ke arah Lissa. Baru kali ini Clara tampak begitu nyata di depan mata Lissa. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Sekarang aku bisa muncul di depanmu dengan begitu mudahnya. Apa ini karena kau sudah menyelesaikan salah satu tugasmu?” Clara menaikkan kedua pundaknya. Tampak tidak peduli, tapi ia sangat senang. Clara masih menggunakan baju yang sama. Lissa malah jadi berpikir, apa setiap jiwa yang tidak tenang akan menggunakan pakaian yang sama dengan pakaian yang ia gunakan terakhir kali semasa hidup? Lissa jelas tidak tahu pasti. Terlalu memikirkannya malah akan membuat Lissa pening. “Aku sudah menyelesaikan tugasku dengan baik. Kau tahu itu.” Lissa diam-diam memasang headset ke telinganya, agar orang-orang mengira kalau dia sedang menelepon seseorang. Lissa tidak mau beberapa orang menganggapnya aneh, karena berbicara sendiri. “Tadi aku membantumu, ada beberapa helai rambutmu di mobil Joan.” “Kau menghilangkannya?” Lissa tiba-tiba meninggikan suaranya. Salah satu orang yang tidak jauh berada di dekat Lissa segera menengok Lissa yang tiba-tiba berbicara sangat keras. “Maaf.” Lissa langsung paham dan meminta maaf tanpa suara ke arah penumpang lain yang sedang memperhatikannya. “Apa karena itu … aku jadi bisa menampakkan diri. Sayangnya, hanya kau saja yang bisa melihatku. Itu sangat konyol.” Clara terlihat sedang menyentuh sandaran kursi dan melihat kalau tangannya menembusnya dengan sangat mudah. Seperti kursi tadi, itu tidak nyata bagi Lissa. Beruntung Lissa sudah terbiasa dengan kemunculan Clara, jadi ia tidak perlu merasa sangat takut. Lissa tidak takut, karena Clara memiliki wajah yang sama dengan dirinya. Hanya saja rambutnya sangat berantakan, tapi masih terlihat cantik seperti peri dengan kulit pucatnya. “Aku melihat bagaimana caramu membunuh Joan. Kau terlihat sangat ahli.” Clara memuji. “Itu pekerjaanku.” “Aku tidak bisa menjadi sekuat dirimu.” “Tubuhmu sudah kulatih dan sama kuatnya dengan diriku.” Lissa berbicara lirih, agar tidak menimbulkan rasa penasaran orang lain. “Aku ingin Norman mati.” Ucap Clara yakin. Lissa mengurut pelipisnya, ia tidak tahu pria mana yang bernama Norman. Ia tahu kalau dia pasti berada di rombongan yang sama dengan Joan. Ia jadi ingat kalau ada beberapa orang lagi yang harus ia bunuh secepatnya. “Oke. Beri aku waktu.” “Ini bukan sesuatu yang sulit, kan?” Clara bertanya kepada Lissa yang fokus dengan jendelanya. Pemandangan luar sangat asri, terlalu banyak pohon di sana. “Tidak. Tapi akan sangat merepotkan jika sampai ketahuan.” Lissa kembali menceramahi Clara. “Tidak akan bukti yang mengarahkan kalau kau adalah pembunuhnya. Selain itu, kalian baru saja mengenal. Akan lebih bagus jika bergerak masing-masing, agar mereka kesulitan menemukan dirimu, Lissa.” “Oke, aku akan mengingatnya. Hari ini aku sangat lelah. Sepertinya aku akan langsung pulang, tanpa kembali lagi ke kampus. Ini sangat melelahkan.” “Lakukan sesukamu.” “Berhubung kau lebih solid, maka kau bisa meminta bantuan dariku. Selama aku bosan.” “Baik.” Clara langsung menghilang, setelah Lissa menyanggupi. Lissa menghela napas. Akan sangat mengagetkan jika Clara muncul dan pergi sesuka hatinya sendiri. Lissa harus membiasakan diri dengan kemunculan Clara Lissa yang tiba-tiba. Bus melaju dengan kecepatan sedang membawa Lissa kembali ke kampusnya. Di perpustakaan Norman tampak gelisah, Andreas tampak mengamati temannya itu dengan waspada. “Kau kenapa?” Brick bertanya kepada Norman. “Aku lupa sudah menitipkan dompetku kepada Joan. Tapi dia mengatakan kalau sedang berkencan di café depan. Apa aku harus mendatangi mereka?” Norman meminta pendapat kepada teman-temannya. “Jangan diganggu, kau ingin membeli apa? Pakai uangku dulu.” Cal menawarkan bantuan. Joan suka marah-marah kalau kegiatan kencannya diganggu. Cal tahu sekali bagaimana temperamen teman baiknya itu. “Apa perlu kita ke depan untuk melihat seberapa cantik wanita yang menjadi teman baru Joan?” Davis memberikan usul. “Dia terlihat cantik.” Cal menunjuk seorang gadis secara random, lalu tertawa. “Bukan tipe Joan.” Norman menjelaskan. “Persetan dengan tipe Joan. Selama dia cantik maka itu adalah tipeku.” Brick terkikik, lalu kembali melanjutkan kegiatan membacanya. “Aku di sini saja, aku tidak mau ke depan hanya untuk mencari tahu.” Andreas yang banyak diam memilih ikut ambil bagian. “Aku merindukan Eros. Berapa bulan kita akan ditinggalkan seperti ini?” Davis bertanya dengan nada prihatin. “Eros pergi ke Jepang dan Eropa kalau tidak salah. Pasti akan sangat panjang. Kau sabar saja. Kenapa kemarin kau tidak ikut dengannya?” Cal mencari tahu. “Eros pasti tidak akan mengizinkannya. Pekerjaannya akan terganggu jika aku ikut.” Davis terlihat menaruh dagunya di atas meja. “Tapi aku penasaran dengan teman kencan Joan. Katanya cantik.” Brick kembali mengatakan soal cantik. Davis, Cal, serta Norman tampak tidak peduli dan kembali mengerjakan tugas mereka. “Bukannya setiap wanita itu memiliki tingkat cantik masing-masing? Aku tidak peduli.” Cal berbicara, itu urusan Joan. “Aku bertanya kepada Joan kapan kembali dan dia tidak membalasnya.” Norman mengeluh. Ia sudah berkali-kali mencoba menghubungi Joan, tapi Norman tidak mengerti kalau ponselnya dalam keadaan kurang bagus. Brick selalu mencoba, tapi mereka berada d luar jangkauan. Mereka tidak tahu kalau ponsel Joan ikut ditenggelamkan oleh Lissa. “Mungkin dia sedang berada di hotel terdekat.” Davis iseng. “Jika secepat itu Joan menundukkannya, maka sebentar lagi Joan akan berganti pasangan. Kadang aku khawatir akan ada karma jika kita mempermainkan perasaan wanita.” Brick masih berpikiran normal. “Selama Joan senang … aku lebih baik tidak mengganggu.” Cal memberi kesimpulan. “Jangan bicara soal hotel, aku jadi sangat mengantuk detik ini.” Trevor yang banyak diam, kini mengambil inisiatif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN