George mengamati perubahan yang terjadi pada Clara Lissa. Pria tua itu tidak banyak berkomentar, karena putrinya jadi semakin cantik. Sangat mirip dengan Diana. George jadi makin merindukan istrinya yang sudah lama tiada itu. George senang, ketika Lissa masih menatapnya dengan penuh perasaan seperti biasa. Lissa akan terus menjadi anak kesayangannya.
“Clara … bagaimana kuliahmu?” Ayah Clara menatap putrinya yang asyik dengan kegiatan mengoles mentega di atas rotinya.
“Baik. Aku masih harus menyelesaikan tugas akhirku. Ada beberapa yang perlu kuperbaiki. Aku jadi semakin banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Itu menyebalkan sekali.” Lissa tidak salah soal dirinya yang tidak suka mengerjakan tugas. Ia hanya bosan karena siklus hidupnya kembali lagi. Dulu ia sudah pernah merasakan bagaimana pusingnya hanya untuk mendapatkan gelar sarjana. Lissa tidak suka ketika ada yang memanggilnya dengan nama Clara, ia hanya tidak terbiasa dengan itu.
“Tidak apa-apa. Apa aku perlu menyuruh orang lain untuk membantumu? Aku mengenal beberapa orang yang pernah lulus di jurusan sastra.” George tahu bagaimana kemampuan anaknya. Ia hanya tidak mau anaknya tertekan hanya karena ingin lulus kuliah.
“Tidak usah. Aku bisa mengerjakannya sendiri. Aku tidak mau ada campur tangan orang lain untuk kelulusanku. Itu tidak mandiri.”
“Ayah hanya tidak mau kau sakit.” George masih saja cemas.
“Terima kasih, tapi aku tidak mau bergantung pada orang lain.”
George semakin bangga dengan Lissa yang sudah mulai dewasa. Anaknya itu selalu manja kepadanya. “Ayah senang mendengarnya.” Lissa tersenyum maklum ke arah George yang sedang menyeruput teh hangatnya.
“Ayah, tidak apa-apa kalau aku sering pulang terlambat ….” Lissa memang sering pulang malam. Lissa harus membagi waktunya untuk melatih fisiknya. Berlari saja tidak cukup.
“Tidak masalah. Kau memiliki sopir yang bisa menjemputmu sewaktu-waktu. Tidak perlu khawatir.”
“Terima kasih.” Lissa senang.
“Ayah senang ketika dirimu memiliki semangat menyelesaikan pendidikanmu. Biasanya kau akan cemberut setiap mendapatkan tugas yang banyak dari kampus.”
“Sekarang tidak lagi.” Lissa segera menjawab. “Aku akan mengerjakannya dan mendapatkan nilai yang bagus.” Ucap Lissa percaya diri.
“Itu terdengar bagus sekali.” George tidak tahu apakah putrinya sedang menghiburnya atau sedang bersungguh-sungguh. Dia tahu kalau Clara Lissa paling benci dengan kegiatan yang banyak menggunakan pikiran, termasuk diantaranya adalah belajar.
Ayah Lissa berangkat ke kantornya bersama dengan Lissa. Hari ini ayahnya mengantar sampai ke kampus. Hal itu membuat Lissa senang. Selama hidupnya gadis itu tidak pernah merasakan perasaan sehangat ini. Ia tidak pernah diperlakukan begitu baik. Ia tidak memiliki keluarga. Andai ibu Clara masih hidup, pasti kehidupannya akan lengkap. Diam-diam dirinya sadar jika itu bukanlah kehidupannya. Apa yang dia miliki sekarang adalah milik Clara. Mengingat hal itu membuat Lissa bersedih.
Lissa tidak tahu apakah tubuh Clara akan terus menjadi tempat baginya. Lissa masih agak khawatir soal itu. Apalagi ia tahu kalau dirinya sudah benar-benar terbunuh. Kalau ia masih hidup, tidak mungkin jiwanya terperangkap di tubuh Clara.
Lissa melangkahkan kakinya dengan sangat mantap. Gadis itu ke kampus dengan gaya terbaiknya. Rambutnya diikat ekor kuda dan itu terlihat cocok dengan style-nya yang agak tomboy. Lissa bisa menggunakan berbagai jenis pakaian dan ia akan tetap terlihat cantik. Seperti hari ini, ia tidak menggunakan pakaian yang feminim. Joan suka dengan perempuan cantik dan bebas, agak berani dan tomboy. Lissa sedikit tahu tentang Joan yang menjadi targetnya. Hari ini Lissa ada janji dengan Joan.
Beberapa orang melihat Lissa yang baru saja melintas. Mereka tampak terpana dengan wajah Lissa yang begitu bersemangat dan segar. Bagaimana Lissa tidak bersemangat, hari ini ia akan menghabisi Joan. Dia akan mengajak Joan pergi ke suatu tempat dan membunuhnya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Lissa adalah seorang agen yang sangat berpengalaman. Ia memiliki kemampuan dalam melenyapkan nyawa manusia sejahat Joan. Kali ini tubuh Clara sudah sangat kuat. Ia akan bisa melakukan tugasnya dengan baik. Lissa hanya perlu membuat Joan lengah lalu membuatnya membayar semua yang sudah ia lakukan kepada Clara.
Joan tidak bisa dibiarkan hidup. Pria seperti Joan akan membuat wanita lain sebagai mainannya. Sudah cukup Clara yang menjadi korban. Lissa tidak mau ada korban jiwa lagi yang berjatuhan. Ia tahu kalau membunuh orang adalah kegiatan melanggar hukum, tapi Joan sudah bermain-main dengan hukum untuk menutupi kejahatannya. Ini sangat tidak adil bagi Clara. Lissa ingin Clara tenang dalam kematiannya. Sehingga ia harus menjalankan tugasnya dengan baik. Bukan hanya karena Lissa menepati tubuh Clara, tapi lebih kepada jiwanya tidak terima atas perlakuan Joan dan teman-temannya yang begitu kejam.
Sehabis dari café di mana Joan dan Lissa kemarin bertemu, Lissa mengajak Joan ke suatu tempat yang sepi. Di mana ia tidak akan menemukan CCTV yang akan merekam mereka. Lissa mengendarai mobil sport Joan dengan begitu mahir. Joan yakin jika Lissa adalah wanita yang berasal dari keluarga kaya. Semua pakaian yang melekat ditubuhnya terlihat bagus dan sikapnya lumayan baik. Tidak terlihat seperti dibesarkan dari keluarga biasa. Joan ingat kalau ayah Lissa adalah seorang bankir. Tidak salah ia menjadikan Lissa pacarnya. Sepetinya Joan harus menyatakan cinta kepada gadis yang sedang asyik dengan mobilnya. Tampilan gadis di sebelahnya cukup cantik dan terlihat menggemaskan.
“Aku suka ke sini jika sedang pusing. Ada danau di hutan ini. Kau hanya perlu berjalan sebentar.” Lissa tahu kalau tempat yang ia datangi tidak biasa. Tampak jelas kalau Joan sedang mengamati sekitar saat Lissa menghentikan mobilnya. “Ayo, keluar! Apa kau takut?” Lissa tersenyum.
“Tidak. Kau bersamaku untuk apa aku takut.” Joan mengenyahkan rasa penasarannya. Ada yang aneh, tapi ia tetap mengikuti gadis yang lebih dulu berjalan masuk ke dalam hutan.
“Ayo.” Lissa tersenyum sangat cemerlang, Joan langsung yakin kalau gadis itu tidak akan berbuat macam-macam. Lagi pula ia adalah seorang pria yang kuat. Sayangnya, Joan tidak tahu kalau Lissa memiliki keahlian dalam melumpuhkan lawannya dengan sangat baik. Jika tidak kuat, mana mungkin Lissa sering mendapatkan banyak misi berbahaya.
Setelah masuk agak dalam, Joan menemukan sebuah danau yang Lissa maksud. Memang pemandangan di depannya terlihat bagus dan menenangkan. Tidak salah Lissa mengajaknya ke tempat itu. Meskipun terpencil, itu sepadan dengan pemandangan yang disuguhkan.
“Kau pasti belum pernah ke sini.” Lissa menggenggam tangan Joan agar mengikutinya untuk terus maju ke depan.
“Clara, dari mana kau bisa menemukan tempat ini.”
“Dari penjelajahanku. Aku suka pergi ke tempat-tempat yang tidak biasa.”
“Seperti?” Joan menaikkan sebelah alisnya.
“Aku sering jalan-jalan. Aku selalu penasaran dengan tempat-tempat baru. Aku sering sekali jalan-jalan ke luar negeri dan menemukan tempat baru di sana. Aku mengajakmu ke mari karena ini adalah tempat yang pas untukmu.”
“Pas untukku?” Joan tidak mengerti.
Lissa tertawa, Joan pun ikut tersenyum. Lissa langsung menendang salah satu kaki Joan dan menarik kerah bajunya hingga masuk ke dalam air danau. Lissa agak kesulitan, karena Joan begitu kuat dan berusaha melawan, tapi Lissa berusaha menahannya. Dengan susah payah kedua tangan Lissa menahan kepala Joan agar tetap berada di dalam air. Joan meronta-ronta kehabisan napas, tapi Lissa tidak peduli. Lissa menindih tubuh Joan dengan brutal. Apa pun itu, Lissa akan berusaha agar Joan tunduk.
“Tempat ini adalah yang terbaik untuk kematianmu. Memangnya kau mau mati di mana? Jangan terlalu banyak memilih.” Lissa menyeringai.
Joan ingin meminta tolong, tapi setiap ia membuka mulut maka air akan masuk ke mulutnya lebih banyak. Joan tidak kuat dan lama-lama menjadi lemas. Lissa masih membenamkan kepala Joan ke air danau yang terlihat indah itu. Lissa masih menunggu hingga Joan sudah benar-benar mati. Lissa tahu kalau ada kemungkinan Joan menahan napasnya, sehingga dia mengatasinya dengan terus membenamkan kepalanya di air.
“Apa kau sudah mati?” Lissa bertanya konyol. “Ini sudah lama, jika kau berpura-pura mati berarti kau bukan manusia. Sepuluh menit sudah bisa membunuh manusia. Akan tetapi, ini sudah lebih dari itu.”
Lissa mendorong tubuh Joan ke dalam danau dan mengamati sekitar. Jangan sampai ia meninggalkan jejak kaki atau benda yang akan memberatkannya. Tidak akan ada yang tahu kalau telah terjadi pembunuhan di tempat itu. Lissa tahu kalau hutan itu sangat sepi. Ponsel Joan mungkin sudah tenggelam. Ia tidak perlu khawatir. Ia hanya perlu membersihkan jejaknya di dalam mobil Joan. Lissa buru-buru meninggalkan Joan yang sudah meninggal. Lissa segera menyembunyikan mobil Joan ke dalam hutan. Ia berharap mayat Joan ditemukan beberapa hari lagi. Lissa mengotak-atik mobil Joan agar tidak terlacak dengan mudah. Setelah dirasa aman, Lissa meninggalkan tempat itu dengan perasaan senang.
Tugasnya sudah selesai hari ini. Lissa berjalan untuk mencari kendaraan umum. Agak jauh dari tempatnya sekarang, tapi itu tidak menjadi masalah bagi Lissa. Ia memang mencari tempat yang sangat sepi, agar kegiatannya semakin leluasa. Ia hanya perlu menunggu Clara untuk memberi petunjuk siapa yang akan ia bunuh selanjutnya. Jangan salahkan Lissa, mereka yang sudah menyakiti Clara. Sudah bisa dipastikan kalau Lissa tidak meninggalkan barang bukti yang akan menyeretnya. Ia sudah ahli dalam hal-hal seperti itu. Masa lalu yang banyak memberikan pelajaran dalam pembunuhan kali ini.