20. Tidak Pernah Melihat

1187 Kata
Hari ini, Lissa pergi ke kampus dengan pakaian yang begitu menarik perhatian beberapa orang. Meskipun hanya dress lengan panjang warna putih sebatas lutut, Lissa terlihat menonjol dengan rambut barunya yang ia warnai pirang. Jangan lupakan bandana hitam yang membuatnya semakin imut dengan tampilan barunya. Sepatu boat-nya terlihat serasi dengan bandananya. Lissa lebih terlihat seperti akan syuting daripada ke kampus. Sayangnya, Lissa tidak pernah peduli dengan pendapat orang lain. Ia hanya perlu membuat dirinya menarik, agar Joan melihatnya. Lissa tampak segar, karena ia sudah menemukan di mana dirinya bisa menemukan Joan. Target barunya itu akan pergi ke sebuah café yang ada di depan kampus pada jam tiga sore. Lissa tidak tahu apakah hari ini ia akan ada di sana atau tidak. Ia harus mencari cara agar Joan berpisah dengan teman-temannya. Akan sangat mencurigakan jika Lissa membunuh Joan saat mereka sedang berkumpul bersama. Setelah menyelesaikan tugasnya di kampus, Lissa segera mencari café yang biasa Joan kunjungi. Berkat meminta tolong pada beberapa orang mahasiswa dengan imbalan uang, akhirnya Lissa bisa mengetahui di mana dirinya bisa menemui Joan yang sendirian dengan mudah. Saat Lissa menginjakkan kaki di depan café yang dimaksud, ada rasa ragu yang hinggap. Akan tetapi, ia tetap memasuki tempat itu. Joan belum terlihat, tapi ia harus melakukan sesuatu untuk menarik perhatian Joan agar melihatnya. Lissa memilih tempat duduk yang agak tersembunyi. Dari situ ia bisa melihat seluruh pengunjung yang datang dengan sangat mudah. Lissa segera memesan minuman dan mengambil laptopnya agar tidak ada orang yang mengganggunya. Tidak lupa Lissa memesan kue sebagai teman menunggunya. Satu jam berlalu dan Joan tidak kunjung datang. Mungkin hari ini laki-laki itu tidak datang. Lissa jadi cemberut dan memilih pulang. Berarti apa yang dikatakan oleh orang-orang yang sudah dibayarnya percuma. Akan tetapi, Lissa akan datang lagi besok di jam yang sama. Tidak mungkin Lissa langsung menghampiri Joan di kampus, terlalu banyak orang yang akan melihatnya. Meskipun Lissa ingin membunuh Joan, tapi ia tidak mau masuk penjara. Lissa harus menjaga tubuh Clara dengan baik. Segera Lissa membereskan buku dan laptopnya. Selepas membayar tagihan, Lissa ke luar dan menemukan Joan berada di depan hidungnya. Joan sedang melihat Lissa yang tidak sengaja menyenggolnya di depan pintu café. Lissa ceroboh, karena tidak hati-hati dan terlalu senang. Pria yang ia tunggu akhirnya datang. “Maaf … aku tidak sengaja.” Lissa buru-buru meminta maaf, tapi Joan sepertinya sedang mengamati dirinya. “Oke.” Joan masuk begitu saja, tanpa melihat lagi ke arah Lissa. Lissa segera mengekor di belakang Joan. Laki-laki itu tampak bingung, karena Lissa mengikutinya. “Ada apa?” “Apa kau sudah memaafkanku? Kau pergi begitu saja setelah mengatakan oke.” Lissa protes. Lissa membutuhkan waktu lebih lama agar Joan benar-benar mengamatinya. Benar saja, Joan memang terlihat tertarik dengan Lissa yang terlihat sangat imut dengan pakaian yang membalut tubuhnya. Lissa langsung duduk di depan Joan. “Temani aku di sini kalau begitu, sebagai penebus kesalahanmu.” “Oke. Aku akan mentraktirmu kalau begitu. Sebagai tanda permintaan maaf.” Lissa tersenyum cerah. Mau tidak mau Joan ikut membalas senyuman Lissa. Setelah memesan, Lissa banyak diam, sedangkan Joan hanya memandangi minumannya dan terlihat menikmati waktu minum kopinya dengan begitu khidmat. Lissa tidak ingin mengganggu Joan. “Apa kau mahasiswa kampus di depan itu? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?” “Aku belum mengatakan apa-apa.” Lissa terlihat sok tahu di mata Joan. Laki-laki itu masih belum menampakkan minatnya secara nyata kepada Lissa. “Nalarnya café ini lebih sering dikunjungi oleh anak-anak dari kampus depan. Karena aku sering menghabiskan waktu di tempat ini.” Lissa sangat lancar ketika membohongi Joan. Padahal ia baru pertama kali datang ke tempat itu. “Aku juga tidak pernah melihatmu. Sayang sekali, kalau aku melewatkan bocah seperti dirimu.” Lissa langsung tersipu malu, “Kau dari fakultas mana? Aku anak sastra semester 7.” “Pantas kita tidak pernah saling melihat, kita beda gedung. Aku mengambil jurusan fisika.” “Kau pasti pintar sekali. Namaku Clara.” Mata Lissa berbinar senang, Lissa terlihat sangat kagum kepada Joan. Meskipun hanya pura-pura, Lissa harus memainkan perannya dengan baik. Ia akan menggunakan dirinya sendiri untuk membawa Joan ke suatu tempat untuk menghabisi nyawanya. Sekarang ia hanya perlu membuat mangsanya lengah dan mudah diperdayai. “Joan. Aku sama sekali tidak terlihat pintar, meskipun aku mengambil jurusan itu.” “Tapi sangat sulit masuk ke fakultas itu. Kau paling tidak harus pandai berhitung. Selain itu setiap tahun persaingan sangat ketat untuk bisa masuk ke sana. Aku tidak mampu untuk masuk ke fakultas selain sastra. Kau tahu … aku kurang suka dengan berhitung.” Lissa tersenyum manis ke arah Joan yang terlihat sedang memperhatikan Lissa. “Mau berteman denganku.” Joan berinisiatif. “Tentu saja. Aku akan senang mendapatkan teman baru. Maaf untuk yang tadi.” “Tidak masalah. Boleh aku minta nomor ponselmu.” “Oke. Coba sebutkan nomormu terlebih dahulu. Aku akan mengirimkan pesan untukmu.” Joan menyebutkan nomor ponselnya dan Lissa terlihat senang sekali setelah memberikan nomornya kepada Joan. “Clara, kapan-kapan kita perlu bertemu lagi. Kupikir kau teman ngobrol yang asyik.” “Benarkah?” Lissa terlihat senang sekali. “Aku juga senang bisa menemukanmu hari ini.” “Apa kau sudah memiliki kekasih?” Lissa terlihat membelalakkan matanya, Lissa terdiam, melamun. “Tidak. Aku belum memiliki kekasih. Kenapa?” Lissa bertanya. “Tidak, aku hanya tidak mau dimarahi oleh kekasihmu.” “Tidak.” Lissa menggelengkan kepalanya, “Aku belum memiliki kekasih. Tidak ada yang menyukaiku … sepertinya.” Lissa agak ragu mengatakannya. “Hahahaha … tidak mungkin. Kau terlihat cantik.” “Aku merasa tersanjung. Tapi aku tidak secantik itu.” Lissa merendah. Lissa meminum jus yang ia pesan bersama dengan minuman Joan. “Kau sering datang ke sini?” “Sering, karena kopi di sini lumayan enak. Kau perlu mencobanya.” Joan menawarkan. “Aku akan mencobanya suatu hari nanti. Aku tidak pernah memesan kopi di sini.” Lissa berkata jujur. “Bagaimana kalau besok kita ke sini lagi?” “Oke, jam berapa? Aku sering ke sini, tapi tidak pernah melihatmu. Mungkin kita biasa memiliki waktu yang berbeda ketika berkunjung ke sini.” “Aku akan menghubungimu.” Joan melihat ke arah ponselnya. Ada nama Clara di sana. “Ya. Aku akan datang.” Lissa berjanji kepada laki-laki di depannya yang sedang berseri-seri menatapnya. Joan cukup senang ditemani oleh Lissa yang memilih wajah yang imut dan dandanan yang menyegarkan. Joan ingin memiliki Lissa untuk dirinya sendiri. Begitu sayang jika gadis seperti Lissa ia buang begitu saja. Joan baru tahu kalau masih ada wanita cantik di kampusnya. Lissa terlihat ramah kepada Joan. Sesekali Lissa akan memujinya, memberikan kesan kalau Lissa menyukai dan kagum kepada Joan. Lissa harus banyak berpikir agar Joan menjadikan dirinya sebagai teman atau kekasihnya. Lissa masih merencanakan skenario kematian Joan. Ternyata tidak sesulit itu mendekati Joan. Pria itu begitu terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja. Lissa tidak habis pikir mengapa Joan harus menjadi salah satu orang yang ikut membunuh Clara. Joan terlihat memiliki wajah yang tampan dan berasal dari keluarga yang kaya. Sayangnya, ia tidak tahu kalau di depannya adalah sosok wanita yang sudah ia sakiti sedemikian rupa hingga tewas. Kini wanita itu sedang menuntut balas atas kematiannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN