Lissa berjalan dalam keheningan. Ia tidak tahu mengapa dirinya kembali berada di tempat yang suram. Biasanya Lissa akan menemukan sosok Clara. Akan tetapi, sekian lama dia berjalan tidak ada satu orang pun yang ia temui. Akhirnya Lissa memilih berhenti dan duduk di salah satu tempat yang temaram. Tidak ada rasa takut yang hinggap padanya. Ia hanya menunggu kedatangan Clara.
Tiba-tiba lampu padam lalu hidup kembali, selama beberapa kali lampu mati. Lissa mengamati sekitar dan belum juga menemukan petunjuk. Hingga sosok Clara muncul di depannya. Masih menggunakan pakaian yang sama ketika dirinya meninggal. Clara menatap Lissa dengan raut wajah sedihnya. Lissa selalu melihat aura kesakitan dan kepedihan di mata Clara. Memang tidak mudah meninggalkan dunia dalam keadaan yang mendadak dengan cara yang tragis. Clara pasti tidak rela dirinya mati begitu saja. Meskipun kehidupan Clara biasa saja, Lissa akui kalau segala kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan baik oleh orang tuanya yang lumayan kaya.
“Lissa ….”
“Hmn.” Lissa menatap Clara yang menjulang tinggi di depannya. Dalam posisi duduknya ia tahu kalau tinggi badan mereka hampir sama. Lebih tinggi Clara sedikit, dibandingkan dengan Lissa.
“Joan yang pertama menyiksaku.” Clara mengadu.
“Apa aku harus membunuh Joan terlebih dahulu?”
Clara Lissa mengangguk. Lissa terlihat sedang berpikir. Tubuh Clara sudah lebih baik, setelah menerima banyak latihan yang sengaja dilakukan oleh Lissa. Tubuh Clara hanya perlu terbiasa dan merasakan lebih banyak penderitaan untuk bisa memiliki kemampuan seperti Lissa.
“Aku akan melakukannya.” Ucap Lissa yakin.
Clara duduk di samping Lissa dengan pandangan mata yang kosong. Lissa tidak tahu kalau jiwa Clara bisa terlihat sangat kasian, sehingga dirinya selalu saja iba kepadanya. Meskipun dia cantik, nasibnya sangat buruk sekali. Lalu apa bedanya dengan dirinya sendiri? Bukannya Lissa mati muda?
“Sebentar lagi ayahku ulang tahun, aku ingin memberikan kado syal rajutanku sendiri. Aku belum sempat menyelesaikannya.”
“Aku akan menyelesaikannya.” Lissa tiba-tiba mengatakannya, padahal dia tahu pasti kalau dirinya sama sekali tidak bisa melakukannya. “Aku akan mencoba … membuatnya. Kau tahu … kalau aku kurang begitu bisa … melakukan hal-hal seperti itu.” Ucap Lissa agak kikuk.
“Aku tahu. Kalau tidak bisa kau bisa membelikan syal warna biru untuk ayahku? Biru adalah warna kesukaannya.”
“Aku akan membeli ketika aku tidak bisa membuatnya.” Lissa memutuskan. Hatinya tergerak, karena perasaannya ikut sakit ketika Clara bersedih. Ia selalu tidak tega dengan Clara.
“Maaf, aku selalu merepotkan.”
“Tidak, sama sekali tidak merepotkan.” Lissa cepat-cepat menyanggah sebisanya, agar Clara tidak perlu merasa sungkan kepadanya.
“Aku tahu kau cukup susah dengan orang-orang yang selalu menjahiliku dan setumpuk tugas kuliahku. Sebenarnya aku seperti melimpahkan semuanya kepadamu.”
“Tidak. Ini bukan masalah besar.
“Aku hanya ingin bertemu dengan ibuku, tapi aku belum bisa melakukannya. Itu adalah salah satu hal yang membuatku sedih.” Clara bercerita.
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu. Aku terjebak dan selalu berada di sekitarmu. Sayangnya, aku hanya bisa menemuimu di alam mimpi, bukan di kehidupan nyatamu.”
“Aku akan menyelesaikan segala keinginanmu, aku rasa kau belum bisa tenang sebelum semuanya selesai.” Lissa berpendapat kalau Clara tidak akan pernah pergi dengan tenang sebelum orang-orang yang membunuhnya mendapatkan ganjarannya.
“Aku tidak tahu. Aku kesepian, Lissa. Sejak dulu aku hanya memiliki ayah dan ibu, juga asisten rumah tangga yang ada di rumah. tidak ada yang betah menjadi temanku.”
“Aku akan mencoba membuatmu memiliki banyak teman. Kau tenang saja.” Lissa menghibur. Entah mengapa begitu mudah bagi Lissa untuk mengabulkan apa saja yang Clara inginkan. Apakah hanya karena balas budi? Clara sudah meminjamkan tubuhnya untuk ditinggali oleh Lissa.
“Itu semua tidak penting, aku tidak bisa merasakannya sendiri. Kadang aku suka bertanya-tanya mengapa hidupku selalu penuh dengan hal-hal yang membosankan dan ketika aku mati aku masih harus merasakan kesendirian. Aku sesekali berjumpa dengan ibuku, tapi aku hanya bisa melihatnya tersenyum lalu menghilang. Harapanku adalah bisa bersama dengan ibuku. Apakah arwah yang gentayangan masih bisa memiliki harapan?”
“Kenapa kau mengatakan seperti itu?” Lissa semakin bingung dengan pembicaraan Clara yang menurutnya melebar ke mana-mana.
“Itu yang kurasakan saat ini. Kesepian … sendirian ….”
“Aku harus pergi, Lissa.” Tambah Clara.
“Oke. Jaga dirimu.”
“Apa yang harus kujaga? Aku sudah tidak memiliki fisik lagi.”
“Maaf.” Lissa jadi merasa bersalah. “Aku yang akan menjaga tubuhmu.”
“Terima kasih.” Clara lalu menghilang dari sebelah Lissa
Lissa terengah-engah di atas tempat tidurnya. Lampu kamar masih menyala dan ia baru saja ketiduran. Lissa mengusap matanya lalu melihat ke arah buku yang berserakan di ranjangnya. Dengan langkah malas Lissa memungut dan membawanya kembali ke rak buku. Lissa tidak merasa ngantuk lagi.
Terdengar suara helaan napas dari mulut Lissa. Ingatannya masih terjaga dengan baik. Lissa mengingat apa yang ia katakan bersama dengan Clara. Gadis itu harus mencari pria bernama Joan. Lissa tidak tahu seperti apa wajah Joan. Lissa hanya mengenal wajah mereka, tanpa mengetahui namanya. Ini adalah sesuatu yang harus segera Lissa selesaikan. Besok ia akan mencari tahu soal mereka. Sudah cukup lama Lissa menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri. Ia harus bisa menyelesaikan permintaan Clara. Bagaimanapun juga, sudah seharusnya dirinya ikut membalaskan dendam Clara. Gadis itu mati dengan cara yang tidak benar. jika mereka masih bisa tertawa bebas, itu akan membuat Clara semakin sedih di alamnya.
Segalanya sudah terlambat, tidak ada hal yang bisa Lissa lakukan selain mengikuti kemauan Clara. Hatinya tergerak dan ikut merasakan kepiluan itu. Lissa masih ingat bagaimana cara mereka memperlakukan Clara. Mereka seperti tidak pernah berpikir kalau tanpa seorang wanita mereka tidak akan pernah hidup. Mereka sangat kejam. Apakah orang tua mereka tidak berpikir jika anaknya begitu menjijikkan? Bahkan binatang masih tetap menjaga kelompoknya, tapi mereka begitu kejam terhadap Clara. Tidak berperikemanusiaan.
Lissa membongkar lemari Clara, ia memang menemukan kotak kecil berisi syal yang belum jadi dan beberapa tumpuk benang. Mungkin itu adalah syal yang dimaksud oleh Clara. Lissa mengambilnya dan mengamati. Warnanya memang biru. Itu adalah Syal yang ingin Clara hadiahkan kepada ayahnya disaat ulang tahunnya nanti. Lissa tidak pernah memiliki keluarga. Bersama ayah Clara, Lissa merasakan bagaimana mendapatkan cinta dari seorang ayah. Lissa tidak bisa merajut. Akan tetapi, ia akan berusaha dulu untuk membuat syal.
Masih ada waktu baginya untuk belajar merajut. Lissa membuka laptopnya dan melihat-lihat video yang disebar secara gratis tentang teknik-teknik merajut. Ia hanya perlu mencari sesuatu yang mirip. Ada banyak sekali video tentang merajut. Lissa hanya ingin merajut syal untuk ayah Clara. Mungkin besok ia akan ke toko buku untuk membeli buku merajut. Setelah dilihat-lihat, merajut tidaklah mudah. Clara pasti sangat berbakat, karena syal buatannya sudah selesai setengahnya dan lumayan bagus.
Selama hidup, Lissa lebih suka menembak dan berkelahi daripada melakukan kegiatan seperti memasak, merangkai bunga, apalagi merajut syal. Bukannya Lissa kurang feminim, hanya saja hal-hal seperti itu sama sekali tidak ingin Lissa lakukan. Ia harus banyak belajar, agar Clara tidak dicurigai oleh banyak orang. Meskipun Lissa bukanlah Clara, orang-orang hanya tahu kalau dirinya adalah Clara. Memang sangat tidak masuk akal, tapi itulah yang terjadi.