11. Clara Yang Membosankan

1138 Kata
Lissa menghela napas berat. Ia membuka lemari pakaian Clara yang penuh dengan pakaian yang membosankan. Lissa lebih suka gaya sporty. Sudah sejak lama Lissa ingin membuang semua pakaian Clara, tapi tidak mungkin dalam waktu dekat. Ia masih bertanya-tanya apakah dirinya sudah benar-benar mati, atau jangan-jangan … Lissa pusing kalau berpikir tentang hal itu. Semuanya tampak tidak masuk akal dan kepalanya tidak mampu mencernanya dengan baik sejak sadar di kasur Clara Lissa Lavolta. Kalau dia membuang pakaian-pakaian Clara, bagaimana kalau misal dia kembali lagi? Mungkin Lissa akan membeli beberapa pakaian yang sesuai dengan minatnya. Pada akhirnya, Lissa mengambil pakaian secara acak dan mengambil tasnya. Hari ini ia harus pergi ke kampus. Entah apa yang nanti akan terjadi di sana. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri dan menjalani hari-harinya dengan baik sebagai mahasiswi jurusan sastra. Sesampainya di kampus, Lissa mencari-cari ruang kelas yang biasa digunakan sesuai dengan jam mata kuliah yang ia dapat dari meminta ke bagian kemahasiswaan. Ia mengaku kehilangan salinan jadwalnya. Menurut Lissa, Clara bukanlah orang yang memiliki banyak kenalan. Ketika dia melintas tidak ada satu orang pun yang memperhatikan dirinya. Apalagi sekarang ponsel dan nomornya baru. Benar saja ketika berada di kelas hanya ada beberapa orang yang menyapanya, tapi tidak terlalu akrab. Lissa malah bersyukur sekali, karena ia tidak perlu banyak berbasa-basi. Ia mulai menghafal dan mengingat nama teman sekelasnya yang tidak sengaja disebutkan disaat jam kelas berlangsung atau disaat pergantian jam. Lissa yang cerdas langsung bisa mengenali wajah teman sekelasnya tanpa kesulitan. Akan butuh waktu, sampai Lissa mengenal semua nama teman sekelasnya yang berjumlah 35 orang itu. Ia hanya perlu menajamkan telinganya untuk tahu siapa nama mereka yang ada di dalam kelas. Beberapa hari berlalu dengan sangat baik. Lissa akan pulang ketika jemputannya tiba dan sedikit berinteraksi dengan teman sekelasnya. Ia mengerjakan tugas yang terlalu mudah dari dosennya dan mulai sedikit demi sedikit menata hidupnya. Awalnya tidak mudah, karena Clara Lissa memiliki kehidupan yang berbeda jauh dengan dirinya. Clara cukup beruntung, karena memiliki ayah yang sangat penyanyang dan toleran. Perlahan tapi pasti, Lissa mulai terbiasa dengan kehidupan Clara. Ia sudah akrab dengan Jannet dan pengurus rumah yang lain. Setiap harinya, Clara selalu berpikir apa yang menyebabkan dirinya bisa berpindah ke tubuh Clara. Ia tidak mengulik lagi soal kematiannya di Paris, alasannya karena pasti ada sesuatu yang harus ia selesaikan di sini. Bukannya Clara Lissa meninggal karena diperkosa beramai-ramai oleh teman-temannya? Ia bingung, karena tidak ada teman sekelasnya yang tampak seperti mereka. Akan tetapi, orang yang sudah menghabisi nyawanya tampak seumuran. Kalau bukan teman kuliah lalu siapa? Clara Lissa tidak terlihat seperti perempuan yang memiliki banyak teman dan dia tidak banyak bergaul dengan orang lain di luar kampus. Kehidupan Clara begitu monoton. Ada sopir yang setiap hari mengantarnya ke mana-mana. Secara terang-terangan Lissa mengobrol bersama para pengurus rumahnya dan sopirnya tentang Clara, agar dirinya tahu seperti apa kehidupan Clara Lissa Lavolta yang sesungguhnya. Tidak ada yang salah dengan Clara. Gadis itu hanya terlalu tertutup dan tidak mudah bergaul. Dari pakaiannya saja sudah terlihat kalau Clara Lissa adalah anak yang baik. Lissa masih berpikir bagaimana caranya dia mengetahui keadaannya. Meskipun Clara sangat mirip dengan dirinya ketika muda dulu, Lissa bukanlah pemilik asli tubuh itu. Ia masih ingin tahu soal dirinya yang masih ada di Paris. “Jannet, aku bosan di rumah.” Lissa mengaduk-aduk makan siangnya. Hari ini ia pulang lebih awal karena tidak banyak jadwal kelas. Lissa lebih akrab dengan Jannet. Mungkin gadis itu sebaya dengannya, tapi jika dengan Clara maka Jannet lebih tua. “Mau ke mana? Aku akan mengantarmu.” “Jalan-jalan. Ke mana saja.” “Oke. Aku akan bersia-siap. Jannet yang terlihat senang segera menghilang dari hadapan Lissa. Gadis itu segera masuk ke kamar agar tidak membuat Jannet menunggu. lagi-lagi Lissa bingung ingin memakai baju yang mana. Semua baju Clara bukan seleranya. Lissa dan Jannet berjalan di sepanjang jalan, meninggalkan sopir keluarga Lavolta di tempat parkir. Lissa dan Jannet melihat ke samping kanan dan kiri untuk melihat toko-toko berjajar rapi. Banyak tempat makan di jalan itu, sehingga ia dapat mencium aroma wangi makanan yang menggoda. Lissa dan Jannet masuk ke kedai kue dan memesan beberapa potong sebelum melanjutkan perjalanan mereka lagi. Lissa berhenti di depan toko pakaian dan melihat pakaian di etalase yang sengaja dipajang. Lissa belum masuk. “Mau membeli baju? Ayo, masuk.” Jannet mengajak Lissa masuk ke toko pakaian yang menjual pakaian anak-anak remaja dan dewasa. Kebanyakan untuk keperluan wanita. “Aku sepertinya butuh beberapa baju untuk berkencan.” Jannet tampak ceria sekali, ketika melihat baju yang bagus di depan matanya. “Aku akan mencoba beberapa pakaian.” “Itu ide bagus!” Jannet langsung berseru. “Kau paling tidak suka kalau kusuruh untuk mencari pakaian yang bagus. Lissa, kau harus membeli beberapa. Aku memiliki kartu yang khusus digunakan untuk keperluanmu. Kau tenang saja.” Jannet yang bersemangat langsung mendorong tubuh Lissa ke rak dress yang tampak indah. “Aku ada uang.” Lissa masih ingat kalau di dompet dalam tas kampusnya ada beberapa lembar uang dan kartu debit. Lissa tahu kalau kartu debit itu pasti ada isinya, meskipun Lissa belum mengecek sendiri. “Kau harus membeli tas juga sepatu.” Jannet segera berlari ke arah tas dan memilih. Wanita memang selalu hilang kendali ketika melihat sesuatu yang bagus. Lissa mencari beberapa baju yang akan ia beli, kalau bisa untuk stok satu minggu, agar ia tidak perlu memakai baju milik Clara yang membosankan. Lissa mengambil jaket berbahan jeans dan kulit. Lissa juga mengambil kaos dan dress yang bisa digunakan untuk acara resmi mau pun acara santai. Jannet tampak memperhatikan. Akhirnya nonanya mau membeli beberapa pakaian untuk dirinya sendiri. Lissa akan tidak suka kalau dia memilihkan pakaian yang sesuai dengan umurnya. Padahal Lissa adalah anak orang kaya, tapi Lissa lebih suka memakai pakaian milik ibunya. Jannet tahu kalau Lissa begitu mencintai ibunya, tapi itu bukan alasan bagi Lissa untuk terus-terusan berpenampilan seperti ibunya yang sudah berumur. Clara Lissa masih muda. “Lissa!” Jannet berseru. “Apa?” “Kau perlu tas baru untuk ke kampus.” Jannet memilihkan 2 tas yang lebih modis dengan ukuran yang agak besar, agar Lissa bisa memasukkan laptopnya. “Ambil saja. Nanti aku akan memakainya.” Jawab Lissa asal. “Sungguh kau akan memakainya, Lissa?” “Iya.” Jawab Lissa yakin. “Oke. Kau harus mengikuti apa yang kuinginkan. Sayang jika kau membeli sedikit barang.” Jannet jelas akan menghabiskan uang banyak hari ini, tapi demi Lissa terlihat cantik itu semua sepadan. Sepertinya Lissa dapat langsung akrab dengan Jannet yang selalu memperlakukannya seperti temannya sendiri. Beruntung Jannet tidak curiga kepada Lissa, kalau sebenarnya dia bukanlah Clara Lissa yang Jannet kenal sebelumnya. Jannet senang, karena pada akhirnya anak majikannya mau membeli pakaian yang ia pilihkan. Jannet malah merasa kalau apa yang terjadi pada Lissa adalah sesuatu yang baik. Jannet tidak akan pernah tahu, karena Lissa akan tetap bungkam soal keadaannya yang mengalami pertukaran tubuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN