Clara Lissa lagi-lagi mengamati Eros yang sedang berada di sebuah café. Clara begitu suka mengikuti ke mana Eros pergi. Melihat dari jauh dan memperhatikannya diam-diam. Dia tidak punya nyali untuk datang mendekat. Kesialannya adalah dirinya selalu merasa rendah diri setiap ingin menemui laki-laki itu secara langsung. Jangankan mengutarakan perasaan, hanya berpapasan saja ia tidak berani.
Eros merupakan gambaran sempurna dan nyata dari tokoh imajinasinya. Bukannya Clara tidak cantik, hanya saja tidak ada yang meliriknya dengan penampilannya yang sekarang. Tidak ada yang salah dengan Clara. Lantaran ibunya yang meninggal, sang ayah sama sekali tidak memberitahu anaknya dalam hal berpakaian dan bersikap layaknya seorang putri yang bermartabat. Ayahnya hanya ingin anaknya bahagia dan tidak merasa terganggu dengan apa yang ada di diri putrinya. Ayah Clara selalu melihat kalau putrinya adalah gadis tercantik di dunia dalam berbagai keadaan. Di mata George, Clara Lissa itu sempurna.
Clara bukan orang yang begitu memperhatikan apa yang ada di tubuhnya. Ia menggunakan apa saja yang menurutnya nyaman, tanpa peduli dengan pendapat orang lain tentang dirinya. Pikirnya, selama ia tidak mengganggu orang lain maka dia akan terus bertahan dalam kebiasaannya.
Clara kembali memesan kudapan untuk dirinya. Ia melihat ke ponselnya. Bosan dengan Eros yang tidak terlihat jelas, ia membuka sosial media. Eros jarang membagikan foto atau kalimat-kalimat, tapi beberapa teman Eros sering melakukannya. Berharap akan ada foto Eros di sana. Teman-teman Eros suka membagikan kebersamaan mereka. Kadang kalau Clara beruntung ia akan menemukan wajah Eros di akun teman-temannya.
Terdengar suara kursi yang digeser. Clara langsung menghentikan aktivitasnya dan melihat siapa yang mendatangi mejanya. Clara agak bingung ketika dia mengenal teman Eros yang menghampirinya. Mereka adalah Trevor dan Davis.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian pasti salah tempat.” Clara segera melindungi dirinya. Berhadapan dengan pria bukan keahlian Clara. Ia tentu cemas ketika dipandangi oleh kedua teman Eros begitu intens.
“Aku melihat kau sering mengamati kami … dari jauh.” Trevor mengulum senyumnya.
“Ya, kau memperhatikan kami dan itu sangat sering.” Davis memojokkan Clara. Pada akhirnya ada teman-teman Eros yang mengetahui kegiatannya.
“Tidak … kalian pasti salah sangka. Aku tidak mengikuti atau memperhatikan kalian.” Clara Lissa menyangkal, tapi wajahnya terlalu terlihat polos. Orang bodoh juga tahu kalau gadis di depan mereka sedang berbohong.
“Langsung saja, siapa yang kau incar?” Davis tidak mau berbasa-basi lagi.
“Kalian salah sangka. Aku tidak melakukannya.” Clara terlalu gigih untuk menutupi kenyataan yang sedang coba ia sembunyikan.
Trevor langsung merebut ponsel Clara dan Davis menahan Clara agar memudahkan temannya mengetahui apa yang sedang Clara sembunyikan.
“Kembalikan ponselku!” Clara menggapai agar ponselnya kembali kepadanya, sialnya Davis menghalangi. “Kembalikan!” Clara cukup gigih sehingga Davis terpaksa menarik kedua tangan Clara.
“Ada banyak foto Eros. Gadis ini menyukai Eros.” Trevor terkekeh. Ia melirik ke arah Davis. Mereka seperti merencanakan sesuatu yang jahat.
“Kumohon kembalikan ponselku. Aku tidak akan mengikuti kalian lagi.” Clara hampir menangis. Memohon agar kedua orang itu tidak membuatnya semakin malu.
“Ayo, kita beri tahu Eros soal ini.” Davis memberi usul.
“Jangan, kumohon jangan lakukan itu.” Clara tidak percaya jika kali ini dia harus ketahuan.
“Ini kukembalikan. Kau tidak asyik.” Trevor menaruh ponsel itu ke meja dan Clara langsung mengambilnya.
“Tolong, jangan beri tahu siapa-siapa.” Clara kembali memohon. Akan sangat memalukan ketika semua orang tahu kalau dirinya sangat menyukai Eros. Hanya tinggal setahun lagi ia berada di kampus. Ia tidak mau tahun terakhirnya menjadi lebih menyedihkan gara-gara diejek oleh banyak orang.
“Eros harus tahu kalau kau menyukainya. Apa kau tidak ingin cintamu berbalas?” Davis terlihat sedang membujuk.
“Tidak. Aku tidak mau.” Sangat konyol jika Eros mau dengannya. Clara tidak bodoh. Pasti dua orang itu sedang berbohong kalau mau membantunya. Itu sangat tidak mungkin.
“Aku akan membantumu agar cintamu diterima oleh Eros. Aku berani jamin kau tidak akan menyesal.” Trevor ikut membujuk sambil mengamati Clara Lissa yang terlihat manis dengan kepolosannya itu. Sudah bisa dipastikan kalau gadis di depannya terlihat murni. Jarang-jarang Trevor menemukan gadis seperti Clara Lissa. Beruntungnya, Clara terlihat goyah dengan bujukannya.
“Kami tahu kalau kau menyukainya sejak lama. Pasti kami akan membantumu.” Davis kembali memberikan rasa simpatinya. “Kau hanya perlu mencoba dan kami berjanji akan membantumu. Apa kau tidak mau bersama dengan Eros?”
“Aku ….” Clara tidak bisa melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
“Percayalah, kami akan membantumu.” Trevor kembali mengatakan kalau mereka bersedia menjadi penghubung antara Clara dengan Eros.
“Aku sudah menyimpan nomorku di ponselmu. Kalau kau berubah pikiran tinggal hubungi aku dan kami akan membantumu.” Trevor memilih caranya sendiri agar Clara mau menerima bantuannya.
Davis menyeringai ke arah Trevor dan mereka meninggalkan Clara Lissa yang sedang bingung dengan Davis dan Trevor yang tiba-tiba berbaik hati kepadanya. Apa dirinya sedang tidak bermimpi? Pasti ada yang salah. Akan tetapi, Clara menemukan nomor Trevor di ponselnya. Ini sepenuhnya bukan mimpi. Apakah Davis dan Trevor sungguh-sungguh ingin membantunya?
***
Clara sangat bosan berada di perpustakaan seorang diri. Ada banyak sekali pekerjaan rumahnya yang belum bisa ia kerjakan. Kepalanya sudah mau pecah dan dia tidak mengerti dengan keinginan dosen yang menyuruhnya membuat makalah. Sudah berjam-jam Clara membolak-balik buku, tapi tidak ada satu kalimat pun yang berhasil ia susun untuk makalahnya itu. Ia malah tergoda untuk membaca novel yang lebih bisa dicerna oleh otaknya, tapi jika dia melakukannya sudah dapat dipastikan kalau dia akan mendapatkan nilai terendah di kelasnya. Dari sekian banyak hal, Clara benci kuliah.
Tanpa diduga-duga, Ada Trevor, Davis, dan Cal yang mendatangi Clara. Beruntung perpustakaan sedang sepi, sehingga Clara tidak begitu menjadi pusat perhatian. Ketiga teman Eros itu memiliki reputasi yang sangat terkenal. Clara tentu tidak mau menjadi sasaran mahasiswi yang iri kepadanya. Padahal ia tidak melakukan apa-apa dan mereka bertiga datang sendiri. Clara Lissa sama sekali tidak mengundang mereka.
“Hai, manis. Kau tidak menghubungiku?” Trevor bertanya.
“Untuk apa aku menghubungimu?” Clara menjawab dengan ragu.
“Padahal kami berniat baik.” Davis terlihat sedih.
“Tapi aku tidak mungkin mengiyakan mau kalian. Aku tidak butuh bantuan siapa-siapa. Kalian salah sangka.” Kembali Clara ingin menyakinkan kalau Trevor dan Davis salah sangka.
“Kami ingin Eros menemukan kekasih yang baik dan kau terlihat baik, makanya kami memaksa.” Cal ikut-ikutan.
“Tapi aku tidak mau.” Tolak Clara dengan sopan. “Maaf.”
“Kau harus datang ke sini. Eros akan datang. Saat itu kau bisa menyatakan cintamu. Kau tenang saja, aku jamin Eros akan menerimamu. Dia sebenarnya lebih menyukai wanita yang sederhana dan baik. Kau lihat saja dia tidak memiliki kekasih, kan?” Trevor meyakinkan.
“Kau harus datang, jangan mengecewakan kami.” Timpal Cal yang menatapnya dengan tulus.
“Tapi aku ….” Ucapan Clara langsung dipotong oleh Davis.
“Tidak ada tapi-tapian. Kau harus datang atau kau tidak pernah memiliki kesempatan. Eros akan ke Jepang dan kami tidak tahu Eros akan kembali kapan. Jika kau berhasil aku rasa Eros akan membawamu berlibur bersama. aku berani bertaruh kalau Eros akan memilihmu.” Davis terlihat bersungguh-sungguh.
“Ingat, kau harus datang.” Trevor berpesan.
Setelah melihat wajah Clara yang tampak bingung mereka pun pergi meninggalkan Clara Lissa. Gadis itu tidak tahu apakah harus mengikuti saran mereka atau tidak. Ia melihat ke kertas yang disodorkan. Ada waktu dan alamat yang tercetak di sana. Itu adalah sebuah undangan pesta yang Trevor berikan kepadanya.
Clara tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Mereka mengatakan akan membantunya. Benarkah kalau Eros menyukai wanita yang seperti dirinya? Clara Lissa tidak yakin, tapi dalam hatinya ada harapan yang besar agar cintanya terbalaskan. Clara berada dalam situasi yang begitu membuatnya bingung. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.