Kenangan menikam setiap saat, kini seolah menjelma menjadi senjata. Axel dan Bimo saling merindu. Hari pernikahan semakin dekat. Hati Axel tak karuan. Kesedihan menghujam dirinya berulang, tetapi ia tak kuasa untuk menghentikan pernikahan omnya. Seperti pagi ini, Axel melihat ke luar jendela, hujan turun sejak pagi, tempias airnya membentuk bulir-bulir di kaca jendela. Mengantar lamunannya ke waktu lalu, kenangan dengan omnya memenuhi ingatan. Omnya tak pernah marah bila dia bermain hujan beda dengan ayahnya yang serba tidak membolehkan. Saat itu Axel sangat bahagia melambaikan tangan melewati kaca jendela di mana omnya menyaksikan dirinya menari di bawah kaki hujan. Axel menghela napas, teringat omnya membuat dirinya sesak. Beberapa kali dia berkata ikhlas, tetapi sebenar

