40

1166 Kata
Lima belas tahun kemudian ... "Athena dan Karenina bukan orang yang sama. Karena aku yakin, saat ingatanmu kembali, kau tahu benar siapa Karenina." Immanuel Gildan menunduk. Dia tersenyum pahit tatkala matanya mengintip ekspresi pilu Athena yang terluka dan gadis malang itu harus menjadi korban. "Jenderal, bagaimana kalau kita bertukar—" "Aku tidak akan menukar Athena dengan apa pun yang kau tawarkan." Jenderal menipiskan bibir menatap Immanuel Gildan. "Aku tidak tertarik. Setelah kau memutuskan untuk melepas semua yang Dalla berikan padamu, saat itu juga aku menganggapmu sebagai pengkhianat. Tidak ada kompromi yang cocok untukmu sekarang, Immanuel.” Immanuel Gildan mendengus pelan. "Kau mencintai Dalla dari apa yang aku duga." Letnan Edsel menghela napas panjang. Dia menatap sekelilingnya dan mulai merasa tak nyaman. Matanya melirik tajam pada Panglima Sai yang bersedekap, mengamati Immanuel Gildan dalam diam. "Panglima dan Letnan tahu bagaimana berpengaruhnya Karenina selama ini di hidupmu. Aku datang ke dalam Benteng Dallas saat usiaku sepuluh tahun. Dan aku mengerti bagaimana ketakutan dan kesepiannya dirimu." Athena menundukkan kepala. Tidak sanggup menatap mata Immanuel Gildan lebih lama lagi. Sang Jenderal menahan napas, kemudian mengembuskannya kasar ketika Letnan Edsel mendekat, membawa tubuh Athena tanpa perlawanan masuk ke dalam mobil militer. "Aku tidak tahu haruskah aku berterima kasih atau tersanjung padamu karena kau dengan senang hati membelokkan tekad yang seharusnya turun dari orang tuamu untuk mengkudeta kekuasaan Jenderal. Sekarang, kau hanya ingin merdeka tanpa mau melawanku." Sang Jenderal tersenyum sinis. "Kau tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranku." Alis Sang Jenderal terangkat. "Semua terlihat jelas." Jenderal menundukkan kepala. Menatap sepatu boot dengan picingan tajam. "Waktumu hanya satu hari untuk melarikan diri, Immanuel. Kau membunuh bayi di dalam kandungan istriku hanya untuk membawanya kembali padamu. Benar-benar tindakan bodoh. Aku tidak akan mentolerir itu." "Dia milikku." Senyum dingin Sang Jenderal terbit. "Dalam mimpimu." Letnan Edsel mendekat. Membawa pasukannya bersiap untuk mundur saat dia menyuruh mobil militer kembali lebih dulu dengan membawa Athena pergi. Sang Jenderal berbalik, memutar tubuhnya dengan senapan laras panjang di tangannya yang dengan santai dia mainkan sampai suara Immanuel Gildan menggema nyaring. "Siapa Athena bagimu? Jika kau menikahinya hanya karena dia seperti Karenina, aku benar-benar akan membunuhmu." Sang Jenderal melirik tubuh Immanuel Gildan yang menegang di belakangnya dengan ekspresi sinis. "Dia obatku." Dan ada kesakitan yang menyala-nyala di mata Immanuel Gildan saat kepergian Sang Jenderal bersama pasukannya. Karena Immanuel Gildan tahu, apa maksud dari obat yang Jenderal katakan tentang lukanya. *** Athena berdiri bersandar di tepi jendela yang tertutup dengan mata menerawang jauh memandangi bulan sabit di atas langit. Perasaannya tidak kunjung membaik bahkan setelah dokter berkali-kali memeriksanya dengan teliti. Pintu terbuka dan Athena memejamkan mata tanpa mau menoleh. Dia terlalu nyaman sendiri dan bergelung dengan dunia hampanya tanpa gangguan siapa pun. "Kau tidak ada di kamar." Itu bukan pertanyaan. Melainkan pernyataan. Athena menghela napas sebagai balasan. "Kau ingin tidur di sini?" Kepala Athena menoleh. Matanya menatap datar pada sosok Jenderal yang masih berpakaian lengkap seragam militer hitam Dallas. "Ya. Aku tidak ingin ada di satu ruangan yang sama denganmu." Sang Jenderal tertarik. Dia menutup pintu dan berjalan mendekati Athena yang bergeming. Memandangnya awas dan mengancam. Tetapi, Jenderal sama sekali tidak terpengaruh. "Katakan. Apa yang salah denganku?" Intonasi suaranya melembut dan Athena mendesis dingin. Dia berbalik, mengabaikan Sang Jenderal dan kembali melamun menatap pemandangan luar jendela. "Aku tahu kau sedang tidak bisa malam ini. Bahkan malam-malam selanjutnya karena kau harus pulih terlebih dahulu." Jenderal mendekat, menyentuhkan jemarinya yang besar ke pipi pucat itu. "Tapi aku akan menunggu." "Aku tidak siap jika kau mencari pengganti lain hanya untuk keturunan. Meskipun aku tidak bisa memiliki anak lagi, kau tidak seharusnya—" Kepala Sang Jenderal miring ke kanan. Ekspresinya tampak geli. "Pengganti? Kenapa harus? Dan siapa bilang kau tidak bisa memiliki anak lagi?" Ah, Immanuel Gildan. Athena mengatupkan bibirnya. Dia menatap Sang Jenderal cukup lama sampai akhirnya dia menghela napas lelah. "Terserah. Aku tidak mau dengar." "Aku akan meminta salah satu pegawai Departemen Kesehatan membawakan laporan kondisimu dari laboratorium jika kau meragukannya." Athena menatapnya sinis. Sungguh, karena Jenderal berpikir hubungan mereka sudah membaik. "Terima kasih. Dan, ya, aku bukan Karenina. Jadi, silakan pergi dari sini." Athena menunjuk pintu yang tertutup dengan dagunya. "Karena mulai detik ini hingga selamanya, aku tidak akan tidur di kamar yang sama denganmu. Aku akan menjaga jarak yang semestinya bisa aku lakukan. Selamat malam." Sang Jenderal mengetatkan rahangnya marah. Dia menarik kedua tangan itu hingga Athena memekik dan Sang Jenderal membawanya ke dalam pangkuannya saat dia duduk. "Pertama, aku tidak menyetujuinya. Kau istriku, kau bukan barang yang bisa aku pakai saat aku mau." Kepalan tangan Athena mengerat. "Aku ini ibaratkan cangkang tanpa isi. Kosong. Dan, kau benar. Karenina mengambil semuanya dariku hingga duniaku hampa. Aku tidak akan bicara tentang Karenina padamu." "Kenapa?" Sang Jenderal menahan sakit di wajahnya. "Itu mimpi buruk dan itu ... kesalahan." Athena menghela napas panjang. "Setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Seperti aku, kau, Letnan Edsel bahkan Panglima Sai. Aku pikir, bukankah itu manusiawi?" Sang Jenderal tersenyum pahit. Tangannya melingkar semakin erat memeluk tubuh mungil di pangkuannya. "Ini lebih mengerikan. Dan aku tidak akan menyebutnya manusiawi. Aku sudah lama mati rasa." Athena terpaku diam. "Apa kau akan kembali pada Immanuel Gildan jika aku tidak mencarimu ke markas persembunyiannya?" Alis Athena terangkat. "Kau mencariku?" Sang Jenderal hanya diam. Ekspresinya berubah kaku. "Tidak. Aku akan tetap pada kesepakatan kita. Tentang kompromi dan segala macamnya. Karena kupikir, aku bukan orang yang ingkar janji. Dan ... jika aku terlalu lama pada Immanuel Gildan, aku rasa kemarahanmu tidak akan bisa terkontrol lagi." Sang Jenderal menyipit sinis. "Kau terlalu lancang bicara seolah-olah aku membutuhkanmu di sisiku." Athena memiringkan kepala. Tersenyum dingin. "Berarti itu hanya ada di dalam halusinasiku saja. Kau menikah denganku karena aku seperti kekasih di masa lalumu dan kedua, karena keturunan. Sekarang semua jelas. Aku tidak akan menatapmu seolah-olah aku terluka dan aku korban. Walaupun kenyataannya seperti itu." "Lalu?" Athena mendesah pendek. "Aku akan menatapmu sama seperti saat kau memaksaku menikah denganmu. Benci." "Kau tidak bisa melakukannya." "Aku bisa lakukan apa pun yang aku mau, Jenderal." Athena melepas pelukan Sang Jenderal dan kembali berdiri tegak. Matanya menyorotkan pandangan yang sama sesuai ucapannya. "Selamat malam. Kau tahu kemana kau harus pergi untuk tidur." Sang Jenderal berdiri dengan senyum tertahan. Dia mengamati gaun tidur Athena yang senada dengan warna kulit bersihnya dan tangannya terulur, menangkup kedua pipi itu. Kemudian, mendaratkan bibirnya di bibir manis itu. Memagutnya pelan. Sang Jenderal melepas ciumannya tanpa permisi. Meninggalkan merah di kedua pipi Athena yang tertimpa cahaya lampu dari taman. Sang Jenderal tersenyum samar, kemudian berlalu pergi meninggalkan Athena di dalam kamar lain. Setelah pintu tertutup, Jenderal menuruni tangga dan bukan kembali ke kamarnya. Dia menepuk bahu salah satu militer hitam Dallas yang berjaga di dalam rumahnya dengan ekspresi datar. "Matikan penghangat di semua kamar kosong kecuali kamarku. Kamar-kamar itu tidak lagi berguna." Anggota militer hitam itu segera mengangguk. Dia berjalan pergi guna mematikan penghangat yang ada di dalam kamar lain selain kamar Sang Jenderal. Kemudian, kepala Jenderal terangguk pelan, dan dia berjalan naik kembali ke kamarnya dengan tenang dan perasaan menanti tak sabar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN