41

1441 Kata
Mata Athena sulit terpejam. Di tengah kemelut rasa dingin yang benar-benar membuat tubuhnya menggigil hebat, dia tidak bisa barang sejenak memejamkan mata. Terlebih di luar sedang badai. Dan kamar benar-benar dalam keadaan tidak bersahabat. Terima kasih. Siapa pun yang mematikan pemanas secara sengaja atau memang pemanas ini rusak, Athena berharap dirinya tetap sehat dan tidak terkena serangan jantung. Athena berharap hidupnya selalu dilimpahkan kebahagiaan. Athena melompat turun dari ranjang. Dia tidak mungkin membuka jendela bertralis ini. Dia sama saja cari mati. Atau yang terbaik, pindah ke kamar utama? Athena mencebik sebal. Ini pasti ulah dirinya. Dengan langkah lebar, Athena beranjak pergi keluar dari kamar. Dia berjalan mengendap-endap menuju kamar lain, membuka pintu dan mendapati kamar ini sama dinginnya dengan kamarnya. Athena mendesah panjang, meraup selimut besar ke dalam tangan kecilnya dan membawa selimut itu ke dalam kamarnya. Sebelum dia menutup pintu, dia menatap pintu kayu berwarna cokelat tua yang pekat dengan sorot datar. Dia berjalan, menyentuhkan jemarinya ke ujung pintu yang bolong, dia menghela napas lelah. Terasa sangat hangat. "Memang menyebalkan." Athena mengumpat pelan. Berbalik kembali menuju kamarnya dan menutup pintu. Ingin membanting pintu itu, tapi dia urungkan karena ini tengah malam. Sang Jenderal berbalik. Menatap antisipasi dan penuh penantian ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup. Dia mampu melihat dengan baik di dalam kegelapan. Ada siluet kaki yang berkali-kali mondar-mandir. Sudut bibir Sang Jenderal tertarik. Dia menatap waspada pintu kamarnya dan menunggu sekali lagi. Saat dia menatap langkah kaki mendekat ke pintu, dia tidak bisa menahan senyumnya lebih lebar lagi. Dia bergeser, memberikan ruang yang lebih lebar untuk Athena di sisi tempat tidurnya. Namun sayang, yang dia harapkan tak kunjung tiba. Athena kembali berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Karena suara pintu tertutup mengusik pikiran Sang Jenderal yang mendesis dingin dalam hati. Athena memejamkan mata. Kini dia lebih hangat dengan dua selimut tebal yang membungkus dirinya. Dia tenggelam di dalam balutan selimut putih senada dengan warna salju ini. Layaknya Athena kecil yang gemar tenggelam di tengah salju dengan mantel bulunya semasa di panti. Helaan napasnya berubah berat. Dia rindu semuanya. Rindu dengan Wise Cassandra, Bibi Fumi dan dia rindu saat-saat panti yang berisik dan anak-anak berebut makanan satu sama lain. Dia merindukan semua orang yang menemani hari-harinya beranjak dewasa. Pintu kamarnya terbuka dan Athena memejamkan mata berpura-pura tertidur ketika seseorang menyalakan saklar lampu dan suara sang suami menyapa telinganya. "Athena." Athena masih dalam mode tertidur pulas yang disengaja. "Athena, kau tidak kedinginan?" "Jangan pedulikan aku." Athena membalas tanpa membuka mata. Dia merapatkan selimut hingga sebatas leher. Sang Jenderal menghela napas lelah. "Pemanas kamar ini rusak. Aku sudah bertanya pada militer yang berjaga." "Bohong. Kamar ini dan kamar sebelah terasa sangat dingin. Kamarmu hangat." Alis Sang Jenderal tertekuk tajam. Meskipun begitu, raut wajahnya tetaplah datar. Seolah raut datar itu memang harga mati. Athena memberanikan diri membuka mata, menatap Sang Jenderal yang berdiri di ambang pintu menatapnya ragu. "Sebenarnya, aku bisa menghangatkanmu. Mengingat saat ini kondisimu belum pulih benar, aku tidak akan mengambil resiko menyakitimu. Jangan membantah, cepat kembali atau kau membeku sampai besok." Athena mendesis pelan mendengar kalimat Sang Jenderal yang dimana dia menyebutkannya secara santai dan tanpa ekspresi apa pun, tapi terselip godaan yang membuat Athena memerah. "Diam. Jangan mesum." "Aku tidak mesum." Sang Jenderal menghela napas panjang. Dia mematikan lampu kamar dan kembali menutup pintu. Meninggalkan perdebatan mereka yang tidak akan berhenti sampai di sini jika Jenderal meladeninya, Athena akan terus bicara sampai pagi. Sang Jenderal tahan dalam kondisi dingin selama berjam-jam karena latihan fisik di militer hitam Dallas benar-benar harus membuat tubuhnya tahan banting. Bahkan di saat cuaca ekstrim pun, tubuh harus mampu beradaptasi. Jika kesulitan makanan, jika sedang dalam keadaan perang dan cuaca tidak mendukung, tubuh harus tetap prima. Jenderal menutup pintu kamarnya dan menyadari bahwa Athena memang benar-benar ingin menjaga jarak darinya. Sesuai apa yang gadis itu katakan, dia akan kembali menjadi dirinya yang dulu penuh benci dan tidak ada kehangatan. Sang Jenderal menunduk, memegang dadanya sendiri yang berdenyut tak nyaman. Sesaat setelah Sang Jenderal pergi, Athena membawa kedua selimutnya menuruni tangga dan dia merasa kakinya benar-benar hangat. Dia tidak memedulikan tatapan bingung para militer yang berjaga ketika melihat Nyonya Dalla berbaring di atas karpet tebal ruang tengah, menggelar selimutnya dan menarik selimut yang lain untuk menutupi tubuhnya. *** Saat Jenderal turun, dia berhenti sejenak mengamati sosok yang terlelap dalam tidur dengan selimut membungkus tubuh rapuhnya. Alis Sang Jenderal terangkat. Logikanya bahkan tidak sampai ke dasar mengenai tentang Athena yang melarikan diri darinya dengan cara yang tidak masuk akal. Benar-benar keras kepala. Sang Jenderal melirik pada dua anggota militer hitam Dallas yang menatap Athena bingung bercampur gusar. Secara tidak langsung, mereka menebak bagaimana hubungan di antara Sang Jenderal dengan istrinya sedang tidak baik. Dan di sisi lain, mereka paham bagaimana keras kepalanya sang istri yang sering membangkang perintah suaminya sendiri. "Biarkan saja. Jika dia terbangun, nyalakan kembali penghangat di setiap kamar.” Jenderal memasang mantel hitamnya dan lantas berjalan tenang melewati sosok yang masih terlelap tidak peduli jika matahari perlahan sudah duduk di peraduan. Walau udara masih terasa dingin, awan kelabu yang menggayuti perlahan lenyap seiring hembusan angin yang menjauhkannya pergi. Panglima Sai terdiam sebentar. Menatap rumah kayu mungil yang tampak asri dan nyaman dengan sorot datar. Dia berpikir haruskah dia memberitahu Wise Cassandra bahwa Departemen Pangan mendata lebih pasokan makanan untuk anak-anak panti? Ini perintah Sang Jenderal. Dan kebetulan, Letnan Edsel tidak ada di sana karena Sang Letnan sedang bertugas di sekitar benteng sebagai tugas harian. Panglima Sai menghela napas pendek. Dia tidak seharusnya bersikap lemah seperti ini hanya karena wanita. Anak-anak mulai bermain. Yang besar menggambar di halaman rumah dan yang kecil mengejar layang-layang. Selalu pemandangan pagi yang sama yang dilihat Panglima Sai setiap dia mengawasi mereka tanpa lelah. Ketika benang layang-layang itu tersangkut seperti biasa, Panglima Sai bersikap dingin. Dia terus berjalan memasuki pekarangan rumah dan mengetuk pintu kayu kecil itu. Tidak butuh waktu lama sampai Wise Cassandra membukakan pintu dengan celemek hijau pudarnya. Tatapan pekat mata Panglima Sai turun mengamati penampilan lusuh gadis itu, namun terlihat manis. Panglima Sai berdeham pelan. "Jenderal memintaku kemari untuk memberitahumu sesuatu." Alis itu terangkat tinggi. Seolah Wise Cassandra ingin segera berlari menghindarinya sejauh mungkin. Pegangan tangan gadis itu pada daun pintu bergetar. Senyum sinis Panglima Sai terbit. "Kau takut padaku?" "Cepat katakan apa yang Jenderal inginkan." Panglima Sai masih mempertahankan senyum angkuhnya. "Anak-anak mendapat jatah sekitar dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Mengingat kebutuhan pangan mereka akan lebih banyak. Kau bersedia menjadi wali dan bertanggung jawab jika terjadi kesalahan?" Kepala pirang itu mengangguk tanpa berpikir dua kali. Dia seharusnya cepat lari sebelum Panglima Sai memaksakan kehendaknya lagi padanya. "Aku akan ke sana setelah selesai membuat sarapan." Wise Cassandra tidak perlu berlama-lama sekadar menyapa Panglima Sai ketika dia membanting pintu dan Panglima Sai membeku di depan pintu kayu itu. Alisnya terangkat, sorot matanya menelaah ke dalam pintu itu seolah-olah mangsa yang telah lama dia incar tersembunyi di dalam sana. Saat Panglima Sai berbalik pergi. Dia melihat Letnan Edsel beranjak mendekat dengan mobil jeep militernya. Anak-anak menatapnya dengan pandangan kagum, berbeda dengannya yang ditatap dingin dan ketakutan. Letnan Edsel hanya mengangkat alis menemukan Panglima Sai baru saja berkunjung di panti mungil itu pagi hari. "Ini tidak biasanya kau menunjukkan wajahmu di sini terlalu pagi." Letnan Edsel mengusap dagunya. "Kau punya kepentingan?" "Jenderal memberikan mandat agar aku memberitahu Wise Cassandra untuk pergi ke Departemen Pangan secepatnya." "Ah," Letnan Edsel mengangguk pelan. "Aku mengerti." Letnan Edsel berjalan santai melewati bahu Sang Panglima yang kaku saat kepala itu menoleh, memicing tajam pada punggung berseragam militer Dallas itu. "Letnan." Kepala Letnan Edsel tertoleh. "Kenapa kau kemari?" Letnan Edsel mengintip ekspresi datar Panglima Sai dari balik bahunya. "Bukankah aku katakan sebelumnya padamu bahwa aku tertarik dengan Wise Cassandra sekarang? Tentu saja, aku datang untuk mencoba sarapan yang dia buat." Panglima Sai mendengus tajam. "Bersama anak-anak? Aku rasa kepalamu terbentur sesuatu atau ini efek yang dahsyat pasca bertemu Immanuel Gildan? Letnan, karena kuyakin kau—" "Panglima Sai, kau seharusnya tahu kalau aku bukanlah sosok yang dingin dan tak lagi tersentuh kehangatan sepertimu. Seolah cinta di dalam diriku telah lama dihisap habis oleh seseorang di masa lalu. Aku masih memiliki perasaan itu. Ketika ada orang lain yang berlaku baik, aku masih mampu merasakannya. Walau militer hitam mengajariku untuk tangguh tanpa belas kasihan dan dingin." Panglima Sai menyeringai lebar. "Kau benar. Tidak seharusnya aku lancang dengan memberitahu apa batasanmu." Alis Sang Letnan terangkat. Dia berbalik meninggalkan Panglima Sai yang terpaku diam di tempatnya dan berjalan santai menembus jalan setapak kecil untuk beristirahat sejenak. Setelah dirasa Sang Panglima menjauh, Letnan Edsel segera menghentikan langkahnya. Dia menengadah, menatap rimbunnya daun di atas akar menjulang pohon pinus yang lebat. "Semua orang berhak bahagia. Tidak terkecuali kau, Panglima."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN