42

3773 Kata
"Selamat pagi." "Oh, hai, selamat pagi." Athena tidak henti-hentinya membalas sapaan pegawai Departemen Kesehatan pagi ini yang begitu ramah menyapanya saat dia berjalan masuk untuk memeriksa laporan mingguan dari setiap kamar yang ada di Departemen Kesehatan. Dia tidak lelah, hanya saja ini terasa aneh. Dia membuka pintu dan menemukan Ami—yang cepat pulih masih berkutat dengan cairan-cairan aneh yang tidak Athena kenal ada di dalam tabung dan dia genggam. "Ami." Ami menoleh. Matanya membelalak menemukan Athena berdiri di belakangnya. "Nona Athena?" Dia menaruh tabung itu di atas meja. "Bagaimana bisa? Apa kau sudah lebih baik?" Kepala Athena mengangguk pelan. Dia tidur nyenyak semalam walau punggungnya sedikit nyeri, tetapi dia merasa lebih baik. "Aku ... baik." Dan dia berbohong. Karena bagaimana pun, kehilangan itu menyakitkan. Terlebih dia akan menjadi seorang ibu. Ami mengangguk pelan. Dia bergegas mengambilkan segelas teh hangat di dalam teko untuk Athena. "Duduklah dulu. Aku belum menulis laporan. Maukah menunggu hingga percobaanku selesai?" "Oh, tentu. Aku santai hari ini." Ami mengangguk pelan dan Athena dalam diam menyesap teh lemon hangatnya. "Kau melakukan riset untuk apa?" "Ada sesuatu yang berkembang di dalam tubuh Dalla." Ami melirik Athena sebentar. "Aku yakin kau tahu ini. Tentang Nouva. Jenderal memintaku untuk terus melakukan percobaan menghentikan laju perkembangan pesat mayat hidup itu sebelum mereka lepas dan membahayakan rakyat Dalla yang tak berdosa." Athena memejamkan mata. Karenina. Dia membuka matanya lagi dan sepasang iris teduh itu berubah pilu. "Panglima Sai bilang, itu berbahaya. Militer hitam bisa saja kewalahan menghadapi pasukan mengerikan itu.” "Sangat. Karena memakai sampel darah milik Jenderal selama bertahun-tahun. Ini menjadi pekerjaan sulit bagi kami. Jenderal mencoba menyalurkan darahnya agar kami bisa menciptakan suatu cairan ampuh untuk melawan mereka di samping senjata yang sedang Jenderal kembangkan untuk melawan musuh-musuhnya. Dia meminta seluruh ilmuwan yang ada untuk menciptakan racun atau penawar balasan bagi lawannya nanti.” Athena mulai tertarik. "Jenderal kembangkan?" Kepala Ami terangguk pelan. Dia mengaduk cairan itu dengan sendok kecil berukuran mini. "Ya. Jenderal banyak merancang senjata mematikan terbaru dan canggih bagi militer Dalla sebelum diproduksi massal. Oleh karena itu, dia bisa mengetahui dengan jelas seluruh senjata di dalam Dalla karena dia sendiri yang merancangnya." Sudut bibir Athena tertarik. "Aku pikir dia hanyalah Jenderal yang duduk di dalam ruangan dan memerintah pada dua tangan kanan terbaiknya. Karena yang kulihat, hanya Panglima Sai dan Letnan Edsel yang banyak bergerak." Ami menoleh dengan senyum ramah pada Athena. "Tidak, Nona Athena. Panglima Sai memang bertangan dingin, hanya saja jika Jenderal terlalu malas untuk meladeni pemberontak kecil, mereka akan menjadi santapan Panglima Sai yang haus darah. Letnan Edsel bertugas untuk merapikan kebrutalan Panglima Sai jika selesai walau dibalik itu, terkadang Letnan Edsel sama kejamnya. Kita tidak pernah tahu sisi tersembunyi dari orang-orang hebat ini." Sisi tersembunyi ... Ami benar. Ekspresi Athena berubah muram saat dia memikirkan Karenina dan dampaknya bagi Sang Jenderal hingga saat ini. Seolah Sang Jenderal terbelenggu akibat Karenina dan tidak bisa lepas. "Ini laporannya." Athena menerima laporan itu dan memeriksanya sekilas. Dia berdiri, memberikan gelas tehnya yang kosong pada Ami. "Terima kasih." Kepala Ami mengangguk pelan. Dia tersenyum saat Athena berjalan pergi keluar ruangan dan dia kembali berkutat dengan pekerjaannya. Athena kembali ke Departemen Pangan. Dia menata beberapa laporan dan memeriksanya. Fokusnya hari ini adalah untuk mendata semua ketertinggalannya dan membuat daftar baru agar tidak lagi berantakan. Athena akan sibuk dan mengabaikan tentang Jenderal dan Immanuel Gildan yang membuat kepalanya pening hampir pecah. Lima belas menit berlalu, Athena mendengar pintu diketuk pelan. Dia bergumam singkat, menemukan Panglima Sai masuk dengan senyum dingin. "Selamat siang, Nona Athena." Dia menutup pintu di belakangnya hati-hati. Athena hanya mengangguk tanpa menjawab. Panglima Sai mendekat. Dia memberikan cokelat karamel batangan dan gula-gula manis di dalam toples kecil. "Semoga harimu menyenangkan." Dia bicara tanpa intonasi ceria. Ekspresinya terlalu datar dan kaku. Membuat Athena mengernyit berulang kali menatap makanan manisnya dan pada Sang Panglima. "Dari siapa?" Panglima Sai terdiam. "Yang jelas, ini bukan dariku. Karena aku tidak mungkin merayumu hanya untuk membuat Sang Jenderal menyeretku ke tengah lapang dan menghabisiku." Athena mendengus pelan. "Oke. Aku menerimanya." Panglima Sai menatap muram cokelat karamel dan gula-gula itu yang Athena taruh ke dalam laci meja. "Tidak ada kata apa pun yang ingin kau sampaikan?" Kening Athena berkerut. "Tidak ada. Kau boleh pergi." Panglima Sai menipiskan bibir. Jelas sekali, Athena tidak perlu perumpamaan halus untuk mengusirnya pergi kalau dia ingin. Panglima Sai menghela napas pendek. Dia membawa sepatu boot hitamnya melangkah keluar ruangan dan terdiam sebentar. Letnan Edsel mengangkat alis menemukan Panglima Sai yang masuk ke dalam ruangan sepuluh menit yang lalu hanya berdiri seperti arca batu tanpa mengeluarkan kalimat apa pun di hadapan Jenderal yang duduk, memangku dagu dengan sorot dingin. "Dia tersanjung. Sangat. Dia juga mengucapkan terima kasih dalam nada ceria.” Panglima Sai berkata dengan intonasi datar. Sang Jenderal merespon dengan dengusan dingin. "Benarkah?" Kepala Panglima Sai terangguk pelan. Letnan Edsel berpaling, menatap ekspresi muram Sang Jenderal yang kentara. "Sudah kuduga dia akan tersanjung." Letnan Edsel yakin ini bukan ungkapan kebahagiaan, melainkan penuh luka. Jenderal kembali pada dirinya sendiri yang kokoh dan tak tertembus. Dia menegakkan punggung, menyapu iris pekat Panglima Sai dengan pandangan memerintah. "Pergi ke Distrik Jane. Awasi Green Ariana karena dia sudah berhasil masuk ke salah satu rumah penjaga pintu goa itu." Kepala Sang Panglima terangguk singkat. Dia segera berbalik, meninggalkan Letnan Edsel yang masih membisu bersama Sang Jenderal di dalam ruangan. "Kenapa kau tidak memberitahu Athena tentang Immanuel Gildan yang membunuh bayinya. Apa kau tidak ragu tentang perasaan istrimu sendiri pada Immanuel Gildan?" Alis Sang Jenderal terangkat tinggi. "Sedalam perasaan apa pun Athena pada Immanuel Gildan, pada akhirnya dia akan menyerah dan pasrah pada kesepakatan kami. Dia terikat denganku, dan sampai mati kami akan terus bersama sebagai pasangan suami istri." "Hanya kematian yang bisa memisahkan kalian." Mata Sang Jenderal terpejam erat. "Jika aku bisa, aku akan membunuhnya layaknya Jenderal Akram membunuh Karenina di depan mataku." Letnan Edsel terperangah. "Jenderal, kau tidak mungkin melakukannya." "Siapa tahu?" Letnan Edsel mendesis dingin. Dia ingin menyelak ucapan Sang Jenderal, tetapi sepasang mata pekat itu menusuknya tajam. "Seperti aku yang menuruni gen unggul dari Jenderal Akram, begitu pula anakku. Dia akan mewarisi gen unggul dariku. Kau tahu, bagaimana berambisinya gen unggul itu dalam memimpin dan menciptakan kekacauan yang bisa membuat orang lain terluka." Letnan Edsel terpaku diam. "Aku tidak akan membiarkan keturunanku mengalami masa-masa gelap dan mengerikan itu. Dia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tegas dan mampu membedakan mana hal yang baik dan buruk tanpa kekerasan terlalu berlebihan. Generasi yang akan datang akan merubah dunia tanpa menimbulkan perang lagi.” Sang Jenderal menghela napas panjang. Ekspresinya menyorot tajam. "Dia memilikiku sebagai ayahnya. Dan dia memiliki Athena sebagai ibunya. Itu bukan sesuatu yang harus aku khawatirkan di masa depan." Letnan Edsel menyeringai lebar menatap wajah Sang Jenderal. "Dia juga memiliki kalian. Letnan dan Panglima terbaik yang mungkin akan melindunginya sama sepertiku di saat aku tidak ada di sampingnya." "Kau sudah memikirkannya sejauh ini." Sudut bibir Sang Jenderal tertarik. "Aku memikirkannya setelah aku merasa tidak bisa menjaga kandungan istriku dengan baik. Aku bersalah atas kejadian ini. Keturunan yang diharapkan para tetua dan saat mereka tahu Athena keguguran, mereka sangat terpukul. Aku tahu, ketakutan mereka menjadi kenyataan karena Karenina kembali bergerak setelah kematiannya." Jenderal bertopang dagu dengan ekspresi ketat. “Sosoknya tidak ada lagi. Namun, Karenina selalu menebar kebencian dimana-mana. Dia seperti bangkit dari kematiannya hanya untuk membuatku kembali hancur.” *** Jenderal masuk ke dalam kamarnya. Menemukan sang istri yang tidak lagi memberontak dan memilih untuk duduk diam di atas sofa, menatap jauh ke luar jendela yang sedikit pekat karena awan mendung sejak siang belum beranjak pergi. Sang Jenderal menutup pintu. Dia tidak sengaja berjalan tanpa perlu bersusah payah meredam alas sepatu boot miliknya sendiri. Menggantung mantel hitamnya, Jenderal duduk di tepi ranjang. Melepas sepatu boot-nya dan kaus kaki. Lalu bergerak memijit bahunya sendiri. Tatapanya awas melirik tajam pada sang istri yang masih duduk dalam diam. Seolah dia larut dengan dunia yang dia ciptakan sendiri, Jenderal ingin tahu apa yang dia pikirkan selain kematian calon anak mereka. "Jika kau berpikir tentang kandunganmu yang rusak. Itu tidak terjadi." Jenderal menghela napas. Dia menatap kedua kakinya yang polos dan bergerak untuk membuka kancing seragam militernya. "Kau masih bisa mengandung. Jangan dengarkan kata Immanuel Gildan atau Maru sekali pun. Mereka pembohong.” "Apa kau mencintaiku?" Sang Jenderal mengangkat alis. Gerakan tangan membuka pada kancing seragamnya mengendur. "Jika aku bertanya pada Gildan, dia akan langsung menjawab tanpa perlu berpikir dua kali. Secara spontan," Athena melirik Sang Jenderal dari bahunya. "Bagaimana denganmu?" Sang Jenderal terdiam membisu. Dia menatap Athena dengan sorot dingin tak terbaca. "Kau tahu bagaimana benar diriku." Kepala Athena menggeleng pelan. Dia membalik tubuhnya. Duduk tegak menatap Sang Jenderal bosan. "Aku sama sekali tidak tahu." "Athena." Sang Jenderal memanggilnya putus asa. Dia melepas semua kancing seragam militernya dan pakaian hitam lengan panjang yang membungkus tubuh kekarnya terlihat. "Jangan memancingku malam ini. Aku sedang tidak ingin berdebat." "Bisa kau jelaskan bagian mana aku memancingmu, Jenderal?" Sang Jenderal mengetatkan rahang. Dia menatap Athena dengan pandangan menyapu dingin tiada tara. Suasana di sekitar Athena mencekam dan kamar mereka berubah sesak. Athena harus bertahan. "Aku rasa kau tidak lupa dengan kesepakatan kita." Kepala Athena menggeleng tegas. "Oh, tentu tidak. Aku masih mengingatnya dengan jelas di dalam kepalaku. Tidak ada yang kulewatkan satu kata pun di sini." Athena mengetuk kepalanya dua kali dengan telunjuknya. Sang Jenderal membisu diam. "Apa yang Karenina lakukan padamu, itu bukanlah sesuatu yang mengarah ke positif. Aku berani bertaruh dengan nyawaku sendiri sekali pun.” Sang Jenderal menatap datar wajah Athena yang diliputi kemarahan dan kekecewaan amat jelas. Seolah Athena baru saja mengetahui sesuatu yang tersembunyi di belakangnya. Tanpa Jenderal tahu. Sang Jenderal memiringkan kepala. Menilai ekspresi wajah Athena. "Ada yang kau sembunyikan dariku?" "Tidak ada." Alis Sang Jenderal terangkat. Dia mendengus pelan dengan raut sinis. "Kau mencoba bercanda?" "Aku sedang tidak melucu di hadapanmu." "Athena." Athena tetap diam tanpa membalas panggilan dingin Sang Jenderal. "Lantas, bisakah aku bertanya pertanyaan yang sama denganmu?" "—apa kau mencintaiku?" Athena menarik sudut bibirnya. "Kau berhalusinasi, Jenderal." Sang Jenderal hanya berekspresi kosong tanpa reaksi apa pun seolah dia mampu menebak dengan jelas kedalaman isi hati sang istri. "Kali ini kau berbohong." Dia menebak, seringainya melebar puas. "Kau berbohong." "Apa?" Athena mulai marah. Dia mendesis ringan dan menatap jengkel pada Sang Jenderal yang masih menyeringai di hadapannya. "Dengar, aku tidak—" "Sebut namaku." Bibir Athena terkatup rapat detik itu juga. Merasakan paru-parunya kosong tanpa udara. Dia merasakan suasana di sekitar mereka bertambah sesak. " ... sebentar." "Sebut namaku. Tanpa embel-embel Jenderal. Kau hanya menatapku sebagai seorang pria. Seorang suami. Dan bukan sebagai petinggi dalam tubuh Dalla.” Athena terperangah tak percaya. Jangan tertipu akal busuknya. Athena berkata dalam hati dengan debaran di d**a penuh antisipasi. "Terkadang, Letnan Edsel dan Panglima Sai memanggil namaku saat kami bicara dalam suasana sebagai kawan, bukan atasan dan bawahan. Selain itu, mereka tetap menghormatiku selayaknya prajurit militer Dallas." "Aku tidak akan melakukannya." Athena membalas tajam. Sang Jenderal mengangkat bahu dengan santai. Seolah dia tidak terpengaruh saat nama Karenina kembali mengudara. "Baik. Aku memakluminya. Kau bisa memanggilku di saat kegiatan intim kita—atau ketika kau merasa kau membutuhkanku?" Kedua giok hijau itu melebar panik. Dia melempar bantalan sofa ke d**a Sang Jenderal dengan desisan tajam. Sang Jenderal menepis bantal itu dengan mudah. Dia memiringkan kepala, terkekeh serak. "Aku tidak tahan ingin membawamu ke ranjang ini dan melakukan apa yang seharusnya suami istri lakukan di malam mereka. Hanya saja, kau perlu waktu, aku tidak akan memaksa." "Pergilah mandi!" Athena berteriak jengkel. Dia menghentakkan kaki ke atas karpet beludru tebal dan bersiap meninggalkan tempat jika suara Sang Jenderal tidak menahannya. "Kau tidak perlu tahu apa pun tentang Karenina. Itu bukan sesuatu yang ... menyenangkan." "Tetapi kau mencintainya." "Kesimpulan yang diambil Immanuel Gildan ternyata jauh lebih berbahaya," Jenderal berbisik ngeri. "Panglima Sai dan Letnan Edsel juga berpikir demikian." Athena menahan diri selama beberapa saat sebelum dia berbalik. Menemukan Sang Jenderal memunggunginya dengan bahu tampak tegang. "Kenapa kau tidak menyangkalnya?" "Aku tidak akan menyangkal apa pun yang mereka pikirkan. Bahkan jika kau ingin menduganya seperti itu di dalam kepalamu, aku tidak akan berusaha menghapusnya. Aku akan membiarkan kau dan siapa pun berpikir itu.” Mata Athena mengerjap pedih. "Siapa Karenina?" Sang Jenderal terdiam cukup lama. Dia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. "Obatku." Athena berharap Sang Jenderal mau menatapnya untuk sekadar menebak apakah dirinya sedang bercanda atau tidak. Karena yang Karenina lakukan bukanlah sesuatu yang baik, dia tidak pantas dikatakan sebagai obat, bukan? "Jenderal." Athena memanggilnya pelan. "Yang kau lihat sebagian dari militer hitam Dallas dan segala reputasi mereka, itu benar adanya. Aku mengatur segalanya agar militer Dallas ditakuti rakyat Dalla. Pelatihan yang kuat dan keras membuat mereka tahan dalam situasi apa pun dan tetap tenang. Kuatnya pelatihan militer juga membuat mereka kehilangan cinta dan cahaya di dalam diri mereka sendiri. Membuatnya menjadikan manusia tanpa belas kasihan dan bengis. Bertangan dingin dan seolah-olah membunuh tanpa berpikir panjang." Sang Jenderal melirik Athena dari balik bahu lebarnya. "Tidak terkecuali aku. Jenderal Akram membuatku mati rasa selama puluhan tahun." Athena menatap dinding bercat cokelat tua di dalam kamar dengan sorot bingung dan kacau. Dia gamang. Haruskah dia mendekat dan memberikan tepukan pada Sang Jenderal dan mengatakan bahwa semua akan membaik? Atau dia menjadi pasif dan tetap berdiri layaknya patung tanpa hati di sini? Dia bukan militer hitam Dallas. Dia tidak dilatih untuk membunuh perasaannya sendiri. Dia hanya manusia biasa yang tumbuh dipenuhi kasih sayang dari sang ibu yang telah lama pergi dan keluarga panti yang menerimanya dengan tangan terbuka dan penuh kehangatan. Athena melangkahkan kakinya tanpa ragu. Dia berjalan hingga Sang Jenderal secara tiba-tiba memutar tubuhnya, merentangkan tangannya saat Athena mendesak ke dalam dirinya dan Sang Jenderal membawanya ke dalam dekapan erat. "Katakan ini pada Panglima Sai dan Letnan Edsel—" Sang Jenderal berbisik di balik bahu Athena yang harum dan lembut. "—delapan belas tahun yang lalu. Aku, Amante Levant yang membunuh kakak dan ibuku." Tubuh Athena menegang sempurna saat Sang Jenderal memiringkan kepala dan bersandar pada sisi rambutnya. Tanpa melepas pelukannya. Athena tidak mencoba meronta, dan Sang Jenderal tidak berniat melepaskan diri atau membiarkan sang istri lari dari dirinya. "Kau ingin tahu alasan mengapa aku menikahimu?" Athena tidak ingin mendengarnya. Tidak, berhenti. Dia mulai takut sekarang. Tangannya tanpa sadar bergetar dan seringai mengerikan Sang Jenderal terbit di wajahnya yang dingin merasakan ketakutan Athena di dalam pelukan mereka. "Jenderal—" "Kau dan Karenina ... tidak jauh berbeda. Kemiripan kalian membuatku limbung. Aku membenci Jenderal Akram karena dia membunuh Karenina di depan mataku, bukan karena aku mencintainya." Sang Jenderal tertawa parau di balik bahu Athena. "Tapi karena aku ingin, Karenina mati di tanganku sendiri. Sama seperti kakak dan ibuku." "—juga ayahku. Jenderal Akram." Kedua mata Athena melebar. Dia mendesis, mencoba melepaskan diri dan menyesali tindakannya yang menuruti kata hati dengan tak sabar. Jenderal yang memeluknya berubah menjadi iblis tak memiliki hati dan itu membuatnya ketakutan. Dia lebih baik menghadapi Jenderal dalam masa tenang dibanding Jenderal dalam topeng pekatnya. "Athena, saat aku melihatmu aku seperti melihat Karenina. Dan segala macam tentang kesakitan dan teriakan Karenina karena balasan dariku terngiang di dalam kepalaku. Aku tidak akan membiarkannya mati dengan mudah." Athena terisak pelan. "Jangan lakukan ini." Sang Jenderal terkekeh pelan. Wajahnya tampak puas dan cengkramannya pada diri Athena mengencang seolah dia bisa meremukkan gadis itu di dalam pelukannya hanya dengan sekali putar. "Ini baru tahap awal. Dan mendengarmu menangis sekarang, aku—" Sang Jenderal terdiam kaku saat dia lengah dan Athena mendorongnya menjauh. Menampar pipinya dengan keras dan terengah-engah, meninggalkan bekas cakaran di pipi kiri Sang Jenderal dengan titik-titik darah pekat mulai timbul dan membercak. "Tidak akan ada Karenina mau pun Athena lagi di hidupmu Jenderal. Ini yang terakhir kalinya kuperingatkan. Aku dan Karenina berbeda. Aku bukan Karenina yang menginginkan kekuasaanmu mau pun kedudukan tertinggi di Dalla. Aku bukan Karenina yang ambisius mendapatkan tahta dengan lakukan segala cara agar dia keluar sebagai pemenang terbaik." Athena terengah-engah dengan air mata yang mengalir. "Aku bukan Karenina!" Dan disertai teriakan parau untuk terakhir kalinya. "Tidak akan ada Sara atau Athena. Tidak akan ada gadis yang sama yang kau anggap Karenina lagi. Tidak akan ada," Athena mendekat dengan telunjuk mengancung ke hadapan Sang Jenderal. "Jika kematian yang hanya bisa memisahkan aku denganmu, aku akan melakukannya." Athena berbisik dingin dan berlalu pergi. Membanting pintu terlalu keras dan tubuh Jenderal yang kaku semakin kaku. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Hantaman rasa sakit di kepala dan dadanya melebar begitu menakutkan hingga Sang Jenderal berlutut di atas karpet, menarik rambutnya sendiri dengan geraman sakit yang tidak tertahankan. Athena melarikan diri darinya. Dan Jenderal mengepalkan tangannya terlalu erat hingga dia tanpa sadar hampir menghancurkan kamar ini. Jenderal limbung. Merasakan perasaannya kebas saat Athena berteriak bahwa kematian hanya akan memisahkan mereka. Dan berbagai pikiran tentang dia yang akan kehilangan gadis itu semakin menghantuinya. Dada Sang Jenderal naik turun secara kasar. Dia menunduk semakin dalam. Menarik napas panjang dan mencoba meraih sisa-sisa pengendalian dirinya yang sudah setipis benang untuk kembali utuh menjadi kesatuan yang sempurna. Dia bertahun-tahun melakukannya dengan baik. Dan mengapa ancaman lemah Athena mampu membuatnya hancur hingga berkeping-keping? *** "Apa?" Immanuel Gildan segera melompat dari kursi kayunya. Menatap Maru bersama dua anggota Partai Merah lain dengan tatapan terkejut luar biasa. "Aku bahkan melihatnya dengan—" Maru menggeleng pelan. Ekspresinya begitu kacau dan bingung secara bersamaan. Immanuel Gildan melirik senjata kecil di saku jaket lusuhnya dan dia menahan napas. "Siapkan senjata kalian dan bahan obat-obatan. Mari, kita pergi ke Benteng Dallas." Immanuel Gildan menarik sulur rambutnya dengan raut gelisah. "Kita sapa Jenderal, kemudian aku akan membawa Athena lari dari sana secepatnya." Para anggota tanpa banyak berpikir segera melompat turun dari tempat mereka masing-masing dan bergerak untuk menggali senjata rakitan dan curian mereka yang tersembunyi di dalam tanah. Bersama obat-obatan yang mereka perlukan untuk cadangan jika mereka terluka. Immanuel Gildan mengambil rompi anti pelurunya dengan tenang. Ekspresinya tetap terkendali saat dia mengantungi beberapa senjata dengan teliti dan menilai adakah yang tertinggal di dalam laci penyimpanan. Karena mereka akan pergi berperang, tentu saja semua pasokan obat dan senjata harus selalu sedia. Maru menatap Immanuel Gildan dalam gamang. Informasi yang dia dapatkan benar-benar akurat dan ini membuatnya terkejut luar biasa mengingat saat Sang Jenderal datang ke markas mereka, dia mendengar semua obrolan itu tanpa terlewat sedikit pun. Maru tanpa sadar menahan napasnya sendiri. Panglima Sai bergegas masuk ke dalam ruangan Sang Jenderal dimana Letnan Edsel sudah ada di sana. Ekspresi Sang Letnan begitu kacau dan Panglima Sai juga sama kemelutnya dengan dirinya. "Jenderal, mereka sudah semakin dekat. Dan infomasi yang kudapatkan—" Panglima Sai menahan napas. "Rumahmu, kini rata dengan tanah." Letnan Edsel memejamkan mata. Dia meremas kedua tangannya di belakang punggungnya dengan erat. Otaknya sedang berputar cepat memikirkan rencana mendadak mereka untuk menahan pasukan Nouva mendekat ke Benteng Dallas dengan cepat. "Salam, Jenderal." Panglima Sai dan Letnan Edsel menoleh bersamaan ke arah anggota militer hitam Dallas yang berjaga di dalam Departemen Kesehatan. "Jenderal, Nona Athena, istri Anda meninggalkan satu ruangan yang dipenuhi cairan kuat untuk mengalahkan pasukan Nouva. Dia meninggalkan catatan ini di depan pintu saat kami mendobraknya." Panglima Sai terperangah tak percaya. Dia melirik tajam pada Letnan Edsel yang mendesis menatap Sang Jenderal dingin. "Athena menghilang dan biar kutebak, ini karenamu?" Letnan Edsel menelengkan kepalanya dengan miris. “Kau benar-benar kehilangan istrimu kali ini.” Sang Jenderal tidak membalas sindiran pedas dari Letnan Edsel. Dia hanya diam dan menarik kertas itu dari tangan anggota militernya. Membacanya dalam diam tanpa terlewat. Sebelum mereka memusnahkannya, aku harus menyembunyikan ini dari mereka. Ini menakutkan karena aku tidak tahu harus bertindak apa. Dalla dalam bahaya. Kau harus bergerak cepat. Aku berharap semua berhasil dan kalian menemukan kemenangan mutlak. Tangan Sang Jenderal terkepal erat. Dia meremas kertas itu dengan ekspresi dingin yang kentara. Sang Jenderal meraih topi militernya dan bersiap untuk turun ke gudang senjata ketika sosok Green Ariana muncul di ambang pintu. Manusia tanpa jiwa itu melangkah masuk, otaknya sudah diprogram untuk mengingat dengan jelas apa saja yang dia lihat dan dia dengar selama masa penyusupannya. "Nyonya Dalla ... istri Jenderal Dalla ..." Green Ariana tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat dia limbung dan jatuh ke atas lantai dengan keras. Membuat Letnan Edsel dengan sigap segera mendekatinya, membawanya ke dalam gendongan dan merasakan tubuh yang kaku itu begitu dingin di telapak tangannya. Panglima Sai tahu keadaan semakin terpojok dan dia harus cepat sebelum kehabisan waktu. Dia bergegas keluar dari ruangan Sang Jenderal dan memerintah dengan kasar pada setiap militer untuk bersiaga dan bergerak lebih cepat membentuk formasi bertahan dan menyerang yang sudah mereka latih selama di dalam militer. Mata Sang Jenderal melirik tajam pada ledakan besar yang menghanguskan puluhan pohon pinus di dekat Benteng Dallas. Letnan Edsel mendesis dingin, merasakan tubuh Green Ariana semakin dingin dan dia harus bergegas pergi melindungi negaranya. Dengan berat hati, dia membawa tubuh itu pada militer Dallas yang lewat. "Bawa dia ke gudang bawah tanah. Kunci setelah itu. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali aku." Kepala anggota militer hitam itu mengangguk pelan. Dia membawa tubuh lemah Green Ariana ke gudang dan Letnan Edsel berlari bersama Jenderal yang melompat turun pergi ke gudang senjata. "Aku akan mengemudikan tank militer. Kita akan memakai cairan penawar yang Athena lindungi pada militer hitam Dallas." Sang Jenderal menipiskan bibir seraya mengangguk. Athena. Dia membayangkan keadaan sang istri yang hilang sejak pagi tanpa jejak. Ekspresinya begitu muram mengingat pertengkaran mereka dan Athena yang membahas tentang kematian. Kepingan tentang mayat hidup ini menghantui Sang Jenderal tanpa permisi. Percobaan Dokter Lim benar-benar hebat hingga membuat Sang Jenderal di masa muda sekarat karena melawan mereka. Tank militer yang dikemudikan Letnan Edsel menembus pintu baja dengan keras. Jenderal mendesis dingin saat dia merangsek keluar dari dalam tank dengan ekspresi dingin. Siap memerintah pada pasukan militernya dan dia terkesiap. Terkejut luar biasa saat sosok itu muncul dari hutan pohon pinus yang terbakar dengan jubah cokelat tuanya yang pudar. Panglima Sai keluar dari mobil jeepnya dan membeku hebat. Begitu pula Letnan Edsel yang melompat turun dan berdiri di sisi Sang Jenderal. "Jenderal Levant ... senang melihatmu lagi." Semua pasang mata fokus pada dirinya. Wanita paruh baya, yang masih tetap sama. Dengan penampilannya yang sedikit lusuh, tanpa mengurangi kadar kecantikannya yang melegenda. Yang membuat hampir separuh dari isi Dalla tersihir karenanya. Yang membuat Jenderal muak. Panglima Sai mengepalkan tangan dan Letnan Edsel bergeming menahan diri di tempatnya saat Jenderal menyipit tajam pada sosok itu. Sosok yang berusaha mendekat, tapi barisan para militer menahannya tetap di tempat dengan senjata dan perisai mereka. "Karenina." Suara Sang Jenderal mengalun dingin bagai alunan musik kematian yang membuat Karenina tertawa keras. "Mengejutkan, bukan? Aku datang untuk memberitahumu. Bahwa aku, Karenina, ada di depan matamu." Dan setelah tawa Karenina hilang, Sang Jenderal baru tersadar satu hal. Bahwa Athena ... benar-benar lenyap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN