43

1993 Kata
Athena terjebak di antara dia harus melarikan diri atau tetap diam di tempat sampai dia membeku, dan kemudian mati. Dia tidak bisa. Tidak akan bisa. Dia harus bergerak sebagai manusia yang memiliki tekad dan keberanian, dia tidak akan tetap diam di tempat dan melihat keadaan semakin kacau. Saat Athena membuka pintu kamar, dia tersentak akan sesuatu. Sesuatu yang mencurigakan dari Ami ketika dia keluar ruangan dan menemukan gadis itu tertawa lepas seakan dia menemukan sesuatu yang luar biasa dalam hasil percobaannya. Sesuatu yang sama sekali belum pernah Athena lihat di diri Ami—gadis lugu itu sebelumnya. Tidak ada yang pernah tahu isi hati seseorang. Athena selalu merapalkan mantera itu di dalam hatinya. Kini bercokol bagai paku di kayu di dalam kepalanya. Dia menahan napas. Menatap lirih pada pintu kayu yang dia banting sepuluh menit sebelumnya. "Aku harus lakukan sesuatu." Athena bergegas masuk ke dalam kamar kembali saat dia menemukan Jenderal tengah mandi. Dia berjalan pelan, berusaha sebisa mungkin meredam suaranya saat suara pancuran air Sang Jenderal tidak lagi terdengar. Dia bertekad untuk tidak boleh menangis. Terlebih di depan Sang Jenderal yang mungkin sekarang menertawainya keras di dalam kamar mandi. Dalam hatinya, Jenderal itu merasa puas karena berhasil membuat dunianya jungkir balik dalam waktu semalam. Dan Athena membencinya. Athena meraih mantel hitamnya. Agar mudah berkamuflase di dalam gelap. Karena mantel bulu yang dia miliki hanya tiga warna. Hitam, putih s**u, dan cokelat tua yang pekat. Dia berlari menuju pintu dan Athena mencoba melompati balkon dengan cara yang sama. Saat para militer hitam Dallas berpatroli, Athena bersembunyi di dalam semak-semak dan kembali keluar ketika semua dirasa aman. Dia berbelok ke arah Departemen Kesehatan. Saat lampu sorot dari pihak militer berputar menyoroti jalan di sekitar, tugas Athena hanya perlu menghindari lampu sorot itu dan tetap berkamuflase dalam gelap. Dia berhasil masuk setelah bertarung dengan bayangan militer hitam Dallas selama lima belas menit. Kemajuan yang bagus, Athena. Menikahi Jenderal itu tidak buruk juga. Athena berlari menembus lorong di dalam gedung Departemen Kesehatan. Dia mendorong pintu baja itu, menemukan ruangan itu kosong dan langkah Athena terpaku diam mengamati Ami yang tengah mengendap-endap dari militer hitam Dallas dengan membawa kunci berwarna perak di tangan kirinya. Alis Athena terangkat. Dia mengikuti gadis itu diam-diam dan menemukan Ami berbelok ke arah gudang simpanan bawah tanah. Athena termangu. Bukankah ini gudang terlarang karena terdapat pembatas hitam milik para militer Dallas? Ketika Ami membuka pintu, Athena mengintip dari tempatnya bersembunyi. Ratusan bahkan ribuan botol cairan ada di dalam sana terpantul ke dalam matanya melalui penerangan yang terang secara otomatis menyala ketika seseorang masuk. Athena berjengit. Mencoba menyelinap masuk saat Ami terburu-buru dan mengambil sesuatu dari sana. Dia menghubungi seseorang melalui alat kecil di telinganya. "Cepat! Jemput aku. Aku akan membakar semua ribuan penawar ini jika Nyonya Karenina ingin aku menghilangkan senjata berbahaya yang bisa membunuhnya dan pasukannya kembali. Kita tidak punya banyak waktu sekarang.” Ami mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sepi. Athena menutup mulutnya tak percaya. Karenina masih hidup? Bayangan di dalam goa yang dia lihat adalah Karenina? Yang terlewat oleh mata elang Panglima Sai? Tangan Athena tertarik menampar pipinya sendiri. Misinya adalah misi berbahaya. Dan mungkin bisa membuatnya kehilangan nyawa. Yang dia hadapi adalah Karenina. Karenina yang membuat Sang Jenderal dan ketiga sahabatnya menderita dan meninggalkan bekas menganga di tubuh mereka. Athena menoleh, mencari tombol bantuan darurat untuk menyalakan alarm berbahaya yang terhubung langsung ke dalam Benteng Dallas. Dia menekan tombol kecil berwarna merah itu dan alarm meletus memekakkan telinga. Kedua giok hijau Athena melebar sempurna menemukan Ami memegang pistol di tangannya guna berjaga-jaga saat dia berdecak dan mengumpat karena lupa menutup pintu dan kerasnya suara alarm sampai ke telinganya. Ami melempar pistolnya dan berlari. Athena berdiri dari persembunyiannya. Dia menatap cairan berwarna kuning muda yang ada di dalam ribuan botol kaca yang tertutup rapat. Senyumnya mengembang tipis. Dia merasa gelisah, tapi tenang secara bersamaan. Tangannya bergerak menulis sesuatu dari kertas bekas yang tak terpakai di atas meja. Dia meninggalkan pesan untuk Sang Jenderal sebelum dia membawa pistol itu ke dalam saku mantelnya dan ikut berlari mengejar Ami. Athena menatap mobil berbentuk lonjong yang mirip seperti mobil militer hitam Dallas. Dia naik ke belakang mobil itu, bersembunyi di dalam bagasi saat dia samar-samar mendengar suara Ami mendekat dan perlahan deru suara mesin mobil yang bergerak sampai ke telinganya. Dia memejamkan mata. Menahan sesaknya berada di tempat sempit seperti ini selama beberapa menit ke depan, membuat Athena kehilangan konsentrasi akibat benturan yang disebabkan jalanan bebatuan di dalam perbatasan hutan. Kepalanya berulang kali terantuk bagian dalam mobil yang keras dan pengap. Dengan tangan bergetar, dia membuka sedikit pintu bagasi agar mendapat pasokan udara di dalamnya. Napas Athena megap-megap. Dia berulang kali memejamkan mata guna menetralisir perasaan tak nyaman di dadanya. *** Mobil berhenti tak lama kemudian. Athena keluar dan berguling di atas tanah. Dia mendesis menahan sakit di lengan dan bahunya, kemudian bangkit dan bersembunyi sebelum Ami dan sosok asing itu menangkapnya. Nouva. Athena ada di Distrik Jane. Dia mengamati sekitarnya dan menemukan semua rumah kosong dan hanya lampu teras yang menyala. Matanya melebar panik. Dia mencoba berlari dan mengintip ke dalam jendela yang tidak tertutup tirai. Kosong. Tidak ada siapa pun di dalam rumah. Athena mencoba mengetuk pintu yang seluruhnya terkunci. Tidak ada siapa pun di dalam rumah. Dan ini mencurigakan. Apa yang mereka rencanakan? Ami dan dua pria berwajah kaku layaknya mayat hidup itu berjalan masuk ke dalam goa. Goa yang sama yang Athena temui saat dia mencari sosok Mia dan siapa gadis malang itu. Ketika Athena berjalan, dia menemukan Green Ariana berdiri. Tidak. Gadis itu tergantung dengan luka sayatan dan cambukan yang mengerikan. Athena mendesis. Menutup mulutnya yang ternganga. Malang sekali. Boneka itu—Green Ariana hanya mampu merintih. Mulutnya seakan kaku tidak bisa mengeluarkan teriakan atau sekadar meminta pertolongan siapa pun yang ada di sini untuk menolongnya pergi. Di saat tubuhnya penuh luka dimana-mana dan Ariana tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap diam. Ami masuk ke dalam dan Athena melesat ikut masuk saat pintu itu sengaja dibiarkan terbuka. Karena kondisi Distrik Jane yang sepi, dan Athena mempertanyakan kemana semua penduduk malam ini, dia memutuskan untuk mencari tahu nanti setelah semuanya selesai. Tubuh Athena membeku hebat tatkala dia melihat sosok Karenina—dengan bekas luka bakar yang hampir memudar sempurna dengan rambut merah muda pekatnya yang terjulur hingga sepunggung berdiri kaku, menatap Ami dengan sorot dingin. Athena terpaku. Kedua matanya pecah saat dia mengerjap membayangkan bagaimana kejahatan Karenina di masa lalu yang membuat semua orang menderita. Ami tersenyum dingin menatap Karenina. Athena bergeser semakin rapat dan berlindung di balik lemari besar yang dia yakin berisi senjata atau cairan yang dikembangkan laboratorium Dalla untuk keperluan mereka di masa depan telah berhasil diselundupkan oleh Ami. "Nyonya Karenina. Lukamu sudah membaik. Aku harap kau cepat pulih. Jenderal akan sangat senang melihatmu." "Levant, kah?" Suara Karenina mengalun dan Athena memejamkan mata menahan rasa sakit saat dia menyebut nama Sang Jenderal seolah mereka telah akrab. "Bagaimana dirinya? Terakhir aku bertemu dengannya, sepuluh tahun lalu. Itu sangat lama. Apakah dia masih setampan dulu? Atau, ada yang berubah darinya? Biasanya jika seseorang semakin dewasa, perubahan itu pastilah ada.” Kedua tangan Athena terkepal. "Jenderal masihlah sama. Kau ingin tahu apa hasil penelitian dari laboratorium bagian kejiwaan? Kau berhasil membuat Jenderal Dalla rusak. Mentalnya telah rusak." Athena menunduk, menahan gumpalan rasa sakit yang amat sangat karena Sang Jenderal. Mereka membicarakang Sang Jenderal tanpa peduli bagaimana luka pria itu selama ini. Karenina tertawa keras. Dia terbahak-bahak hingga tangannya harus memegang perutnya yang sakit. "Levant yang malang. Kenapa dia larut dalam luka sejauh ini? Dia mungkin berpikir bahwa aku semudah itu mati? Cih. Dasar Jenderal bodoh.” Karenina duduk di kursi kebesarannya. Menatap lengan kurusnya yang pucat dan tampak mulus. "Aku memang tertembak. Jenderal Akram menembak bagian d**a bawahku dua kali. Kemudian, dia menarikku ke dalam bara api dan berusaha membuatku hangus. Terima kasih pada Dokter Lim karena dia membuat kekacauan sebelum akhirnya dia mati karena melindungiku." Ami menatap mata hijau Karenina dengan pandangan datar. "Dokter Lim mati untukmu." Karenina tersenyum tipis. "Dia pria yang mudah tertebak. Aku hanya tidur sekali dengannya. Bermain kotor bukan sesuatu yang menjijikkan. Terkadang kita perlu pengorbanan untuk memuluskan suatu rencana." Karenina dan Ami menoleh mendengar suara rintihan Green Ariana yang tercekik dan tergantung di atas langit-langit goa. Karenina turun dari kursinya, memandang Green Ariana tajam. "Keluarga Green yang dihormati dari Distrik Sopa ..." Suara Karenina mengalun tajam. "Saat aku pergi ke dalam Benteng Dallas, Green Xie berusaha mengkudeta pasukanku. Dia meremehkan kekuatanku. Dan lihat? Mereka mati semudah itu di tangan Jenderal Akram. Mereka memang tidak bisa diandalkan. Distrik Sopa tidak akan bisa maju dan bergerak jika aku melepaskannya begitu saja.” Athena menatap pistol hitam di tangannya. Dia menghitung dalam hati berapa tembakan yang bisa dia gunakan untuk menghancurkan sekiranya beberapa barang yang berguna bagi Karenina untuk melenyapkan Sang Jenderal dan Dalla. Tidak, Dalla harus tetap aman. Dia tidak bisa memegang senjata. Tidak sama sekali. Bahkan menembak tidak pernah ada dalam bayangan kepalanya. Hanya saja, ini darurat dan mendesak. Athena tidak mungkin melemparkan pistol ini hanya untuk melarikan diri. Terlebih dia sudah memasukkan cairan penawar untuk menghancurkan Karenina dan pasukannya di dalam pistol ini. Tarikan napas Athena berubah gusar saat dia melirik tajam pada Karenina yang menarik rambut panjang Green Ariana dan gadis itu hanya mampu memekik lemah menahan sakit. Athena tidak lagi tahan. Dia mendorong sekuat tenaga lemari kaca itu dan jatuh, pecah berkeping-keping hingga kepingannya menyebar di atas lantai dengan keras. Menimbulkan bunyi pecahan dan bedebum yang memekakkan telinga. Lantas, semua kepala menoleh padanya. Athena berlari saat Karenina melotot tak percaya menatap sosoknya. "Siapa dia?" Karenina berteriak saat Athena berlari mencoba menghancurkan cairan-cairan lain yang entah untuk apa—di dalam goa agar Ami tidak bisa lagi menggunakannya. "Istri Jenderal Dalla." Kedua manik Karenina memicing tajam. "Dia istri Levant?" Suaranya menggelegar bagai petir di siang hari. "Aku sudah lama tertidur dan Amante Levant telah memiliki istri? Bagaimana bisa Jenderal itu menikah?” Athena mendesis dingin saat dia berbalik, menatap Karenina yang mengernyit mengamati sosoknya yang serupa. Dan Athena mendengus jijik, seolah memandang dirinya yang lain. "Ya. Aku istrinya. Kenapa? Dari nada suaramu, kau terlihat tidak menyukainya?" Athena menarik sudut bibirnya sinis. Dia mengarahkan moncong pistolnya ke atas bohlam lampu yang besar, dan menembakkan satu peluru ke arah sana hingga pecahannya jatuh bertebaran ke bawah, menimpa Ami yang belum sempat melarikan diri hingga dia terjatuh dan terkena pecahan itu lalu tak sadarkan diri. Athena mendesis dingin ketika dua mayat hidup itu mengejarnya. Dia melihat Karenina menggeram marah padanya dan wanita itu menarik rambut Green Ariana hingga gadis malang itu terhempas ke bawah dan terbanting keras tak berdaya. Athena menjerit keras. Dia mencoba menabrakkan tubuhnya pada lemari kaca dan dia terpeleset, hingga telapak tangannya terkena pecahan kaca dan robek. Dia tidak peduli. Dia kembali bangun, mencoba memecahkan puluhan cairan itu di dalam lemari kaca dan menghancurkannya dengan kedua tangannya. Melemparkannya pada dua mayat hidup yang menatapnya tajam dengan kedua bola mata mereka memutih sempurna. Karenina berteriak marah. Dan Athena menoleh dingin padanya. "Aku bahkan berani bertaruh dengan kematianku sendiri bahwa kau tidak akan bisa hidup lebih lama tanpa bantuan cairan ini, bukan?" Athena melemparkannya ke arah Karenina hingga tabung kaca itu membentur tembok goa dan hancur berkeping-keping. “Selamat tinggal pada wajah mudamu. Kau tidak seharusnya hidup dengan wajah palsu seperti itu lagi.” Karenina membeku menatap Athena dengan sorot dingin. Tubuhnya terpaku, bergetar menahan kepalan tangannya saat Athena terlalu gesit untuk kembali menghindar dan merusak segala sesuatu yang berhubungan dari laboratorium Dalla. "Karenina, Karenina," bisik Athena seraya tangannya terarah menembak salah satu mayat hidup itu dan meledakkan kepala mereka. Seketika dia ingin muntah karena melihat tulang tengkorak kepala yang pecah dan isi otak tercecer. "Aku tidak tahu kalau manusia macam dirimu layak hidup. Seharusnya, kau mati. Karena tidak ada yang bisa kau perbuat di sini selain menciptakan perang dan kejahatan." Karenina mendengus dingin. Athena menghitung sisa pelurunya dalam hati dan dia mulai ketakutan. Dia terpojok sekarang. "Kau tidak akan pernah bisa duduk di kursi tertinggi di tubuh Dalla. Tidak akan pernah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN