33

2133 Kata
Sang Jenderal menaruh handuk yang basah selepas dia membersihkan diri dan mengusap rambut legamnya. Dia telah berganti pakaian dengan pakaian hangat karena Dalla dilanda hujan deras sejak matahari terbenam dan masih berlangsung sampai jarum jam menunjukkan angka sebelas malam. Dia membaringkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong. Di sampingnya, Athena terlelap memeluk dirinya sendiri dengan selimut yang merosot sampai sebatas pahanya. Kening Sang Jenderal mengerut dalam. Dia mengalami pagi yang buruk bersama sang istri. Dan apakah Athena masih ingin berdebat dengannya atau berkonfrontasi menyuarakan pendapatnya tentang wanita pengganti karena kemiripan fisik mereka? Lamunan Sang Jenderal lekas lenyap dari dalam kepalanya ketika tubuh mungil itu merapat ke dadanya dan melingkarkan tangannya ke perutnya tanpa permisi. Seolah dia sedang memeluk guling yang amat keras dan besar. Tubuhnya menggeliat tidak nyaman dan berulang kali dalam tidurnya Athena mendesis pelan. Sang Jenderal mengembuskan napas panjang. Dia memiringkan tubuhnya guna memberikan posisi yang lebih nyaman untuk Athena merapat ke arahnya dan mencari kehangatan di sela-sela udara dingin yang masuk ke dalam kamar mereka. Kepala Sang Jenderal menunduk dan menemukan lelehan air mata tumpah ke atas seprai. Dia terkejut bukan main. Jenderal menegakkan kepalanya dan menemukan kedua kelopak mata itu masih terpejam erat. Athena menangis di dalam tidurnya. Tangan Sang Jenderal terangkat saat dia mendengar isakan itu berbentuk bisikan lirih yang menyayat hati. Dia menurunkan kembali tangannya, membawa selimut itu naik hingga menutupi sampai bahu Athena. Tangisannya tidak kunjung berhenti dan Sang Jenderal mulai membencinya. Dia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Athena sampai ke atas kepalanya dan suara tangisan itu teredam samar-samar di telinganya. Kemudian, dia menghela napas panjang. Tahu tindakannya adalah tindakan terbodoh yang pernah dia lakukan sebagai seorang Jenderal tinggi, dia tidak tahu bagaimana cara membuat tangisan seseorang terhenti di saat orang itu tertidur pulas. Dia tidak tahu bagaimana cara menenangkannya. Dan Athena sama sekali tidak terbangun walau dia sedang bermimpi buruk. Tatapan mata Sang Jenderal jatuh ke perutnya. Tangannya terangkat, mengusap perut itu dari balik gaun tidur sang istri dengan lembut. Kepalanya menunduk, dia kembali menarik selimut sampai sebatas bahu sang istri dan membawa tubuh itu ke dalam pelukannya sendiri. Karena Athena yang tertidur jauh lebih mudah dijinakkan ketimbang ketika istrinya membuka mata dan sadar. Athena akan menantangnya dengan kekeraskepalaan yang sama dan mulutnya akan mengeluarkan kata-kata pedas yang mampu membuat Sang Jenderal bungkam. "Jangan menangis." Hanya itu yang mampu diperintahkan otaknya saat ini. Karena menyuruh Athena untuk diam di saat dia tertidur jauh lebih sulit dibanding ketika sang istri membuka mata dan siap memuntahkan seluruh kalimat di dalam kepala mungil itu padanya. Bibir Sang Jenderal jatuh untuk mengecup kening sang istri cukup lama. Sampai dirasa Athena tenang, dia baru melepasnya. Membiarkan hidungnya menghela aroma bunga dari rambut milik Athena dan ikut terlelap. Sang Jenderal hanya mengangkat alis di pagi hari ketika mereka bertemu di meja makan dengan Athena yang hanya mengonsumsi roti dan selai buah untuk sarapannya dengan segelas s**u cokelat hangat. Ada tiga roti di atas piring sebelumnya dan kini kosong, hanya menyisakan selai yang mengotori putihnya piring. "Ada bubur yang bisa kau makan. Kenapa kau memakan roti untuk sarapan?" "Apa pun yang kumakan, itu terserah padaku. Selama perutku kenyang, aku akan tetap memakan makanan yang kumau," balas Athena sinis dengan merobek rotinya menjadi dua bagian dan memasukkan separuhnya ke dalam mulutnya dengan potongan kecil. "Keras kepala." "Kau seharusnya juga berkaca, Jenderal." Athena menghela napas lelah dan dia menelan paksa rotinya dengan senyum tipis saat tatapan tajam Sang Jenderal mengarah padanya. "Aku akan menjadi istri yang baik dengan diawali mencuci piring bekas makanku sendiri." Athena menghabiskan sisa rotinya saat Sang Jenderal berdiri dan membawa alat bekas makannya ke wastafel, lalu membiarkannya begitu saja. Athena mengintip dari balik bahunya dan Sang Jenderal hanya mencuci tangan, bukan mencuci piring. Dia kembali membuang muka dan pandangannya saat Sang Jenderal memutar tubuh, menatap sang istri dengan datar. Athena berdeham pelan. Merasakan perasaan tak nyaman ketika dia melirik Sang Jenderal yang mendekat ke arahnya. Menundukkan kepala seraya meremas tepi kursi dan tepi meja bersamaan guna mengurung Athena agar tidak lari dari tempat duduknya. "Apa?" Athena menelan sisa roti di dalam mulutnya. Pandangan Sang Jenderal menyapu remahan roti yang ada di bibir sang istri. Lalu, kembali merambat naik untuk memaku kedua mata teduhnya. "Apa kau mau menurutiku untuk tetap tinggal di rumah sampai kau melahirkan nanti?" Athena menahan napasnya dan lekas mengusap bibirnya yang berantakan. Dia mengangguk pelan, mencoba melepas kungkungan itu, namun gagal. Sang Jenderal tersenyum tipis ke arahnya. Membuat Athena harus menyipit guna melihat apakah Sang Jenderal baru saja tersenyum tipis atau itu hanya ada dalam gambaran halusinasi sesaat saja. Gambaran-gambaran di dalam kepala Athena membuatnya lengah ketika Jenderal memagut bibirnya tanpa permisi dan menarik dagunya untuk membuka bibirnya yang rapat agar lumatannya semakin dalam mengecap seluruh rasa yang tertinggal di dalam mulut istrinya dengan gerakan pelan. Rasa selai yang tertinggal bergabung dengan rasa milik istrinya sendiri. Jenderal hampir saja terlena dengan ciumannya sendiri karena Athena membalas pagutan bibir mereka tanpa malu-malu. Sang Jenderal menarik wajahnya dengan deru napas Athena yang tersengal-sengal menemaninya. Dia menatap tajam kedua mata senada warna hutan pohon pinus itu dan mendapati senyum di wajah manis sang istri begitu lembut meluluhkan hatinya. "Minggir. Aku harus mencuci piring." Athena mendorong dadanya dengan paksa dan Jenderal memberi ruang untuknya pergi. Otaknya bekerja otomatis ketika mendengar suara perintah Athena yang berdiri membawa piring bekas makannya dan gelas s**u yang tandas ke wastafel. Jenderal kembali menegakkan tubuhnya, tertegun sejenak. Matanya menelusuri dua militer hitam Dallas yang berjaga di ruang tengah rumahnya sembari berdiri memunggunginya. Dia melirik tajam pada Athena yang mencuci piring dengan tenang dan lekas tubuhnya berbalik, menahan tubuh kecil itu untuk melarikan diri dengan kurungan tangan. "Kau mau apa?" Athena mematikan keran air dan mendengus menahan geli ketika kecupan panas dari bibir Sang Jenderal jatuh ke lehernya dan berhembus panas di belakang telinga dengan liar. "Aku rasa Letnan Edsel dan Panglima Sai mau menunggu sebentar lagi." Kening Athena berkerut mendengar bisikan parau itu. Dia belum sempat membuka mulut untuk bertanya atau sekadar membalik tubuh dan menatap mata Sang Jenderal ketika tubuhnya diangkat dari lantai dapur dan Sang Jenderal membawanya naik menuju kamar mereka. *** Panglima Sai menatap penampilan kusut Green Ariana. Dia benar-benar hidup seperti boneka. Sorot matanya tampak kosong dan otaknya mulai mati secara perlahan dan kini mendekati sempurna. Dia masih bernapas, tetapi jiwa di dalamnya sudah pergi melarikan diri. Terikat pada sesuatu yang menyakitkan dan jelas meronta-ronta meminta dibebaskan. Kepala Panglima Sai menoleh ke pintu masuk dimana Letnan Edsel yang menjadi tamu keduanya. Panglima Sai jelas menunggu Ami bersama Jenderal Levant. Karena kemarin Ami belum mempersiapkan cairannya, Jenderal menyuruhnya untuk membawa Ariana kembali ke kamar isolasi. Dan disinilah mereka berada. Saat Ami sudah siap dan Jenderal yang turun tangan langsung untuk mengawasi, Panglima Sai bersama Letnan Edsel tidak punya pilihan. "Kenapa wajahmu kusut?" Panglima Sai mendesis dingin. Raut wajahnya meledek terang-terangan. "Adakah kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan pada belahan jiwamu, Letnan? Karena aku tebak, kau pasti ingin bicara banyak hal." Letnan Edsel mengabaikan bagaimana ekspresi puas dari Panglima Sai saat ini. Dia mendesah panjang, bersedekap pada tembok kamar. "Tidak ada. Karena Jenderal yang akan memegang penuh kuasa atas diri Green Ariana sebagai penyusup ke dalam Nouva." Panglima Sai mengangguk singkat. "Mereka tidak akan mencurigai Green Ariana. Dia adalah pemimpin kelas tengah pemberontakan Distrik Sopa. Semua akan berjalan dengan semestinya.” Letnan Edsel memejamkan mata menahan debaran nyeri di dadanya. "Green Ariana tidak termaafkan dan aku sangat tahu." Panglima Sai melirik Sang Letnan dengan lirikan dingin. "Belajarlah untuk merelakan, Letnan. Kau bisa mencobanya dengan banyak para gadis di distrik yang ada di Dalla." Letnan Edsel hanya diam. "Kau mudah bicara karena kau belum pernah tahu bagaimana rasanya duduk di posisiku dan Jenderal sebelumnya." Panglima Sai menipiskan bibir. Dia secara spontan menyentuh bibirnya sendiri dengan usapan ringan dan seluruh gerakannya tertangkap mata biru tajam milik Letnan Edsel. Sudut bibir Sang Letnan tertarik sinis. "Ah, gadis berambut pirang itu rupanya mencuri kecupan pertama itu darimu?" Panglima Sai menurunkan tangannya dan dia menggeleng tegas. Dia memutar tubuhnya, balas menatap sorot tajam Sang Letnan dengan seringai lebar. "Aku bahkan hampir membunuhnya dengan menenggelamkannya di kolam dimana aku biasa mengasingkan diri. Tepat di depan bunker pribadiku.” Kedua mata Letnan Edsel membelalak. "Jangan gila." Panglima Sai terkekeh pahit. "Kau tentu tahu apa yang terjadi selanjutnya, Letnan." Letnan Edsel mengernyit tak sabar. Dia menatap Panglima Sai dengan pandangan menuduh. "Kau bercinta dengannya?" Panglima Sai menunduk. Ekspresinya berubah dingin dalam sekejap mata. "Tidak. Aku memperkosanya. Bercinta tidak ada di dalam kamusku. Dan, ya, aku memaksanya." Letnan Edsel menggelengkan kepala seraya berdecak sinis. "Jika Jenderal mendengar, dia akan—" "Aku tahu apa yang dia lakukan." Kepala Letnan Edsel dan Panglima Sai menoleh bersamaan ke sosok Jenderal yang masuk ke dalam ruangan dengan pandangan tajam. Ami sesaat masuk setelah Jenderal memperbolehkannya bergabung dan Letnan Edsel menghela napas. "Ucapan kalian terdengar sampai ke luar kamar dan lorong menjadi gaduh karena ulah kalian berdua yang terus bicara omong kosong." Panglima Sai tersenyum pahit pada Sang Jenderal yang menatapnya kaku. Dia membuang muka, melihat bagaimana Ami yang cekatan menempelkan alat berbentuk pin kecil di balik rambut belakang Green Ariana dengan tusukan dalam. Dan otomatis, jaringan kabel alat itu menyebar ke dalam kepala Green Ariana hingga masuk ke dalam otaknya. Tidak lama, Ami menyuntikkan cairan vitamin agar regenerasi wajah muda Green Ariana kembali dan tubuhnya terlihat lebih segar jauh dari sebelumnya. Setelah selesai, Ami segera beranjak dari hadapan ketiga petinggi Dalla dan dia bergegas keluar rumah sakit jiwa menuju Departemen Kesehatan secepatnya. Hanya perlu menunggu kurang dari dua puluh menit, Green Ariana telah kembali. Kedua matanya mengerjap seperti manusia normal pada umumnya. Hanya saja, sorot mata itu masihlah kosong. Ariana masihlah boneka. Letnan Edsel menipiskan bibir dan melirik pada Sang Jenderal yang bersedekap dan sedang bersandar. "Green Ariana." Green Ariana turun dari ranjang tidurnya dan berlutut di hadapan Sang Jenderal dengan ekspresi datar. "Salam, Jenderal." Dia menyapa dingin. Dan sosok Green Ariana yang hidup dalam jiwa lain membuat Letnan Edsel membisu. Letnan Edsel hanya menatapnya kosong dan Panglima Sai menyeringai lebar mendapati Ariana seutuhnya dikendalikan mereka. *** Di sisi lain, di kediaman rumah Sang Jenderal, Athena baru saja kembali dari membersihkan diri dan turun ke lantai dapur. Dia tersenyum menemukan segelas s**u hangat yang dia pesan untuk Sang Jenderal sebelum pergi bertugas bahwa dia meminta segelas s**u yang masih panas untuk dia minum di jam makan siang. Sang Jenderal pergi tanpa membuat janji padanya setelah dia menuntaskan hasrat tinggi Sang Jenderal yang tidak pernah padam pada tubuhnya. Athena bahkan dibuat kelelahan dan dia langsung terlelap sesaat setelah Sang Jenderal beranjak pergi dari kamar mereka. Dia meraih gelas s**u itu dan meminumnya. Athena membuka laci makanan dan menemukan aneka buah segar ada di dalam sana. Dia mengambil apel yang masih segar, mencucinya dengan air bersih dan memakannya. Langkahnya ringan menyusuri taman di depan rumah saat tatapan awas militer hitam Dallas terus mengikuti kemana istri Sang Jenderal melangkah. Mereka tidak melewatkannya sedikit pun sampai Athena berhenti di taman depan rumah dan menarik napas panjang. Immanuel Gildan mengintip dari balik pohon pinus tinggi dimana dia menatap Athena dari kejauhan tengah menikmati udara di siang hari yang sejuk karena sedikit mendung. Athena tengah berjalan-jalan santai menikmati waktu seorang diri. Dengan penjagaan militer yang tidak pernah lepas menatapnya dari kejauhan. Tatapan Immanuel Gildan turun ke perut gadis itu. Dimana perut rata itu mulai sedikit membuncit. Terlebih ketika Athena mengusap perutnya dengan hati-hati seolah tidak mau calon anaknya terluka. Maafkan aku, Athena. Kunyahan apel terakhir di mulut Athena terhenti. Dia terbatuk hebat saat dia memuntahkan isi apel itu dari dalam mulutnya dan para militer segera mendekatinya dengan panik. Athena terjatuh dan terbanting di atas tanah. Meringkuk menahan sakit di perutnya. Dia merintih pelan, mendesis parau ketika keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya dan rasa nyeri seperti terkena hantaman di perutnya semakin menjadi-jadi. Rasanya begitu menyakitkan. Sakit yang tidak terelakkan itu hampir membuat Athena kehilangan napas di paru-parunya. Militer hitam yang berjaga segera membawa mobil ke depan gerbang masuk rumah Sang Jenderal ketika mereka mulai panik menemukan darah yang mengalir dari dalam tubuh istri Jenderal membekas di atas tanah. Saat mereka membawa tubuh itu ke dalam mobil, darah terus menetes dan semakin deras mengalir hingga seragam militer salah satu anggota terkena bekasnya. Menyelipkan noda pada pakaian pekat yang mereka gunakan hingga membentuk sedikit cetakan dalam warna dimensi yang sedikit mencolok dan anyir. "Kita harus laporkan ini pada Jenderal secepatnya.” "Baik. Periksa apa yang terjadi di dalam. Aku rasa, Nona Athena baru saja memakan apel dan meminum s**u di jam makan siang. Salah satu dari makanan itu pastilah beracun." Athena menangis hebat merasakan sakit yang amat sangat di perutnya. Dia menggeliat menahan nyeri ketika dentaman rasa sakit di kepalanya membuatnya kehilangan kesadaran secara total dan darah yang mengalir tidak kunjung berhenti mengalir dari dalam perutnya yang terasa seperti putaran gasing. Sangat menyakitkan. Kemudian, Athena tidak sadarkan diri dengan wajah yang perlahan-lahan pucat pasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN