Athena membeku hebat menatap sosok Panglima Sai yang merangsek masuk ke dalam ruangan tanpa permisi. Melihat bagaimana wajah yang terbiasa kaku dan tidak punya mimik muka lain selain datar, Athena menduga sesuatu yang salah terjadi sebelum ini. Dan dia adalah satu-satunya orang yang tidak paham akan situasi apa pun.
Dia kembali berbalik, mengejar Panglima Sai yang berhenti di tengah ruangan terang berpendar cahaya biru muda sebagai penerangan. Kepalanya menengadah ke atas dan sosok-sosok berbalut perban putih itu tergantung di atas langit goa dengan mengerikan.
"Aku bahkan kehilangan kata-kata menatap ini semua." Panglima Sai menarik sulur rambut legamnya dengan desisan dingin. Sepatu boot miliknya bergema sampai ke telinga Athena yang diam tanpa tahu harus bicara apa.
"Karenina ... Karenina, si jalang itu," Panglima Sai berdecak memutari isi ruangan yang besar dan amat luas. Mampu menampung ratusan sosok mengerikan yang terbalut di dalam perban dan hanya menampilkan sederet wajah dingin nan pucat seperti mayat.
"Apa yang terjadi? Kenapa Karenina lakukan ini?"
"Apalagi selain menginginkan runtuhnya kekuasaan Jenderal?" Panglima Sai mendekati Athena dengan langkah lebar. "Jenderal Akram sudah membantai seluruh pemberontak yang tersisa. Sayangnya, Karenina berhasil mengantisipasinya dengan baik.”
Ada senyum pahit terpatri di wajah dingin Sang Panglima. Matanya berkeliling menatap di dalam ruangan dan dia menghela napas panjang.
"Saat usia kami tujuh belas, kami dihadapi dengan pasukan yang sama. Pasukan tanpa logika dan jantung yang dihidupkan dari para mayat yang telah lama mati. Mereka diawetkan, kemudian diberi suntikan penyembuh guna membangun jaringan-jaringan yang telah lama mati di dalam tubuh mereka. Semua kembali, terkecuali otak dan jantung."
"Mereka mayat hidup?"
Kepala Panglima Sai mengangguk samar. "Ya. Mayat hidup yang tidak terkalahkan. Saat aku dan Letnan Edsel berusia tujuh belas, kami dibebaskan untuk membunuh pasukan ini. Aku hanya mampu membuat sekarat salah satunya dari lima percobaan dan Letnan Edsel hanya membunuh satu. Itu pun hanya membuat mereka mundur."
Sekuat itukah mereka hingga militer hitam Dallas kewalahan?
Athena terperangah tak percaya. "Dan apa maksudmu dengan Jenderal akan tamat?"
Panglima Sai memejamkan mata. "Mereka kembali dihidupkan dengan sampel darah milik Jenderal Levant. Kau tahu artinya apa. Mereka tidak terkalahkan. Bahkan denganku, dengan Letnan Edsel sekali pun."
Panglima Sai menatap kosong ke seluruh penjuru ruangan. "Bertahun-tahun Jenderal Levant terbelenggu menjadi kelinci percobaan Karenina. Karena Amante Sebastian, kakak Sang Jenderal tidak memiliki gen unggul layaknya Jenderal Akram yang menurun pada Jenderal Levant. Maka, Jenderal Levant menjadi korban percobaan segala penelitian yang ada di Dalla sebagai sampel pemula.”
Athena mundur dengan kepala menggeleng nyeri. Dia tidak bisa menalar ini semua dengan baik. Napasnya terasa tersedot paksa dari paru-parunya hingga kosong. "Berhenti. Aku tidak akan dengar apa pun." Kepalanya menggeleng pedih tanpa sadar.
"Kekuasaan Jenderal Levant di Dalla akan berakhir jika mereka berhasil mengerahkan pasukan ini ke Dalla sebagai bentuk pemberontakan kelas tinggi yang menakutkan."
Mata pekat Panglima Sai mengerling pada perut rata Athena. "Anak yang kau kandung adalah harapan kami. Harapan Jenderal Levant selama ini kalau-kalau pemberontak melakukan sesuatu yang tidak bisa kita duga sebelumnya. Dan, instingnya benar-benar tajam untuk menduga sesuatu yang akan terjadi di masa depan.”
Athena menunduk, mengusap perutnya dengan hati-hati. "Jika Jenderal tewas ... apa anakku akan menjadi penerusnya?"
Bibir Sang Panglima mengetat. "Ya. Itu sudah pasti. Kau seharusnya tahu mengapa Jenderal begitu menjagamu dari kejauhan. Karena ini. Karena kita tidak pernah bisa memprediksi masa depan."
Panglima Sai menghela napas panjang. Dia berjalan ke luar ruangan diikuti langkah Athena yang menatap seluruh ruangan dengan sorot pudar dan menutup pintu berlambang harimau itu dengan gerakan pelan.
"Aku akan mengabari Letnan Edsel dan Jenderal setelah ini. Kita harus bergerak sebelum pasukan ini sempurna seutuhnya. Militer harus bisa menimalisir keadaan sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.”
"Tunggu." Athena berjalan mengejar langkah Panglima Sai yang terburu-buru. "Kau tahu, setiap percobaan pastilah ada ilmuwan yang berperan di penting belakangnya. Siapa yang melakukan ini?"
"Dokter Lim."
Alis Athena terangkat. "Aku pernah mendengar namanya."
"Dia ilmuwan hebat sekaligus dokter terbaik yang Dalla miliki era Jenderal Akram. Banyak militer dan korban kelainan genetik sembuh di tangannya. Dia benar-benar menjadi orang terpercaya Jenderal Akram, dan Karenina mengacaukannya segalanya.”
Panglima Sai melirik Athena dari balik bahunya. "Usiaku sepuluh tahun saat aku dibawa ke militer karena aku mencuri gandum dari Departemen Pangan. Aku lahir di Distrik Rose, dan aku yatim piatu. Aku tahu benar apa yang terjadi di dalam tubuh pemerintahan."
"Di mana Dokter Lim sekarang?"
"Dia tewas. Jenderal Akram meledakkan kepalanya dengan peluru yang dibuat Sang Jenderal sendiri untuk mengeksekuki Dokter Lim."
Athena mengerjap sendu. Dia menunduk, mencoba menahan diri agar tidak mendesak Panglima Sai menceritakan segalanya. "Dan dugaan Jenderal Akram tentang ramuan ini benar adanya. Dokter Lim memproduksinya secara massal dan memberikannya pada Karenina guna menghidupkan kembali para pemberontak yang mati di tangan Sang Jenderal sebelum para militer sempat membakar mayatnya."
"Apakah ini alasan Jenderal Akram membunuh Karenina?"
Kepala Panglima Sai mengangguk ragu. "Jenderal Levant juga menjadi alasan kuat mengapa Jenderal Akram membunuh Karenina."
Athena mendesak Panglima Sai untuk kembali bicara. "Apa kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri? Kematian Karenina?”
Panglima Sai menipiskan bibir. Dia melirik Athena dingin dan lantas mengangguk pelan. "Ya. Aku dan Letnan Edsel menjadi saksi dalam diam. Jenderal Akram membunuh Karenina di depan Jenderal Levant. Sepuluh tahun yang lalu."
Panglima Sai bergegas pergi tanpa bicara karena dia merasa dia sudah banyak bicara memberikan informasi pada Athena yang haus akan keingintahuan. Panglima Sai memanggil salah satu anggota militer yang berjaga di Distrik Jane dan menyuruhnya menyiapkan mobil jeep untuknya kembali ke Benteng Dallas.
"Aku akan membawamu kembali, Nona Athena. Aku yakin, Jenderal tidak akan senang dengan kekeraskepalaanmu yang satu ini."
***
Athena membaringkan diri di atas ranjang. Setelah dia meminum obat dan vitamin yang Ami berikan, Athena lekas berbaring untuk beristirahat sejenak dari kepenatan yang mengganggu pikirannya selama berjam-jam tanpa bisa dia tahan.
Napasnya memberat ketika tangannya mengusap perutnya dengan hati-hati. Dia berharap calon anaknya nanti akan tumbuh sehat dan kuat, tidak mudah terpengaruh dengan apa pun yang ingin menghancurkannya. Dia akan menjadi anak yang kuat dan hebat di masa depan.
Senyum lirihnya timbul. Athena memejamkan mata, menahan diri untuk tidak menangis karena hormon emosionalnya mengguncang hatinya tanpa permisi. Dia memeluk dirinya sendiri dan bergumam dalam hati untuk meminta maaf pada bayi yang tumbuh di dalam perutnya karena hidup kesulitan bersama dirinya yang tidak pernah mau menurut apa kata sang suami.
Athena menarik gulingnya yang beraroma buah dan bunga. Jelas, ini aromanya. Athena ingin memeluk sesuatu yang lain, yang bisa membuatnya tenang dan menjauhkannya dari segala mimpi buruk yang datang setiap saat.
Di tempat lain, Sang Jenderal mengetatkan rahangnya sempurna mendengar semua informasi yang dilontarkan Panglima Sai selama masa pengintaiannya. Terkecuali tentang Athena. Dia tidak bicara untuk satu itu karena Letnan Edsel memberi isyarat mata bahwa lebih baik tidak menceritakan tentang insiden kaburnya Athena dari rumah.
Letnan Edsel juga telah memperingati militer yang melihat kepergian Athena untuk membiarkannya karena Panglima Sai ada untuk menjaganya. Dan militer hitam yang berjaga di dalam maupun di luar rumah Sang Jenderal menurutinya. Dia datang hanya untuk melapor keadaan para pensiunan petinggi yang pernah mengabdi pada Dalla di era Jenderal Akram.
"Nouva?" Sang Jenderal mengernyit dengan senyum dingin. Kepalanya bersandar santai pada kursi seolah ratusan mayat hidup yang siap menghantui Dalla bukanlah sesuatu yang besar. "Karenina memberi kode rahasia itu dengan nama Nouva?"
Kepala Panglima Sai mengangguk pelan. Bibir Sang Jenderal tertarik dingin. "Aku yakin jika anaknya laki-laki dia akan memberikan nama itu untuknya. Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak padanya. Anaknya perempuan dan lemah. Karenina tidak bisa berharap banyak dari gadis tak berguna itu."
Letnan Edsel hanya diam dengan wajah datar.
"Panggil Ami kemari." Sang Jenderal memberi perintah pada Letnan Edsel. "Panglima Sai, bebaskan Green Ariana dan bawa di ke ruanganku. Aku punya rencana untuk gadis tak berjiwa itu."
Tangan Letnan Edsel terkepal spontan. "Maaf?"
Raut sinis di wajah Sang Jenderal membuat Letnan Edsel bungkam dan mengutuk kesalahannya.
"Aku punya rencana. Kau tidak perlu ikut campur terlalu jauh, Letnan. Karena aku tidak akan berbuat lebih untuk menyakiti gadis yang kau cinta selama belasan tahun."
Panglima Sai bergegas pergi dan Letnan Edsel belum beranjak dari tempatnya ketika dia memandang ekspresi kaku milik Sang Jenderal di kursi kerjanya.
"Kau tahu arti Nouva?" Sang Jenderal bergumam dingin. "Cemerlang. Dia akan menjadi cahaya bagi para pemberontak berotak picik macam Karenina."
Sudut bibir Sang Letnan tertarik. Alisnya terangkat dengan raut meledek terang-terangan. "Aku harus bertaruh selama belasan tahun untuk melihat hari ini. Menyaksikannya secara langsung di depan mataku bahwa kau, Jenderal terbaik di Dalla tidak lagi bicara soal Karenina dan segala omong kosongnya. Kau terlihat benar-benar membencinya sekarang."
Sang Jenderal mendengus dingin menanggapi sindiran dari Sang Letnan.
Letnan Edsel menyeringai lebar. "Apakah efek seorang Felice Athena sedahsyat ini padamu? Gadis Lithium yang kau cari-cari selama hidupmu, sudah menancapkan efeknya padamu? Kenapa aku terkejut?"
"Kau seharusnya tidak bicara terlalu banyak. Kau lupa dengan apa yang kuperintahkan?"
Kepala Letnan Edsel menggeleng tegas. "Aku akan melaksanakannya. Hanya saja, aku ingin benar-benar melihatnya dari matamu, Jenderal."
Mata Sang Jenderal memicing tajam dan Letnan Edsel sama sekali tidak gentar mendapat tatapan tajam itu.
"Karena kau tahu, Jenderal. Saat kau sendiri bebas dari ikatan Karenina yang memenjarakan hati dan kepalamu, saat itulah aku dan Panglima Sai bebas dari belenggu rasa sakit kami di masa lalu karena dirinya dan dirimu."
Letnan Edsel membungkuk sopan pada Sang Jenderal yang terdiam kaku mendengar ucapannya. Sebelum Letnan Edsel benar-benar pergi, dia menatap mata Sang Jenderal seolah menyiratkan rasa terima kasih yang besar dan baru berjalan pergi meninggalkan ruangan yang senyap dan kosong.