Jenderal belum benar-benar pergi dari kamar putranya yang masih terjaga malam ini. Mikail tidak bersuara. Hanya berbaring dengan kedua mata membuka. Menatap pada langit-langit kamar. Anaknya berusaha mengurangi gelisah yang muncul di dirinya sendiri. Jenderal tidak mengerti benar bagaimana menghibur putranya. Karena dia tidak terbiasa untuk menghibur dirinya sendiri, terutama orang lain. "Kenapa belum tidur?" Mikail melepas jemari tangannya yang memilin selimut sutra. Membungkus tubuh kecilnya sampai sebatas d**a. "Ayah, apa semua akan baik-baik saja?" Jenderal terpaku selama beberapa saat. Pertanyaan polos itu terlontar dari anaknya yang masih berusia lima tahun. Genetik seorang Amante Mikail tidak akan bisa berbohong. Seratus persen menurun darinya. "Apa yang kau cemaskan?" "Banyak

