"Kau akan pergi ke Distrik Rose untuk waktu yang cukup lama. Ketika kau kembali, itu hanya untuk melapor atau ketika aku memanggilmu mengenai urusan yang mendesak. Kau paham, Panglima?" Panglima Sai mengernyit. Menemukan Sang Jenderal tengah memandangnya tajam dan meneliti bagaimana ekspresi kakunya itu berubah cair saat dia menyerah di bawah tatapan dingin Sang Jenderal dan mengangguk pasrah. Letnan Edsel yang duduk hanya bisa menahan senyum. Dia jelas lebih berpengalaman dari diri Sang Panglima yang awam. "Dia seperti keberatan untuk pergi." "Tidak. Tidak sama sekali, Jenderal." Panglima Sai menyela dengan dingin. Mengerling pada Letnan Edsel yang mengangkat alis menatap penuh cemooh dan jelas sekali, Sang Letnan yang ditakuti militer hitam Dallas sedang menggodanya. "Baik. Persiapk

