Sang Jenderal mengarahkan peledak berkekuatan tinggi dengan Immanuel Gildan dan Letnan Edsel di belakangnya. Dengan penawar yang Athena tinggalkan di gudang, dia mengarahkan moncong pistol itu guna menghentikan pasukan Nouva yang berhasil membuat militer hitam Dallas terpojok.
Letnan Edsel mendesis ketika dia siap melompat dan berlari mengejar Karenina yang ada di tengah-tengah pasukannya sendiri.
Jenderal melirik Immanuel Gildan yang berdiri kaku di belakangnya. Dia menghela napas pendek sebelum bicara. "Pergilah ke markas pusat komando militer Dallas. Kau diperbolehkan menerbangkan satu pesawat tempur. Bilang pada mereka, ini perintah dariku."
Immanuel Gildan memicing tajam pada Sang Jenderal yang menurunkan tangannya dari alat di telinganya. Rupanya Jenderal membiarkan isi di dalam pusat komando militer Dallas mendengar perintahnya.
Sang Jenderal tidak perlu membuang waktu menunggu Immanuel Gildan mematuhi perintahnya. Dia menekan pelatuk itu dan peledak itu menyemburkan rudal berkekuatan tinggi guna menyerang mereka dari dalam Benteng Dallas.
Dan Immanuel Gildan mendesis sebelum dia turun menjauhi Jenderal yang melirik dingin ke arahnya.
"Kau yakin sekali kalau aku masih bisa menerbangkan pesawat jet itu."
Sang Jenderal memasang ekspresi kaku saat dia melompat turun, menyimpan pistol rakitannya di dalam saku militernya yang kotor. "Jika Letnan Edsel dan Panglima Sai handal dalam mengemudikan tank militer. Kau tahu, bahwa lawan kuatku dalam adu menerbangkan pesawat tempur hanya dirimu. Kemampuanmu tidak akan hilang walau sudah tiga belas tahun berlalu."
Immanuel Gildan menipiskan bibir ketika dia menolehkan kepala menatap pusat komando militer Dallas yang ada di dalam gedung.
"Kita tidak punya banyak waktu."
Sang Jenderal berlalu pergi dari sisinya dan Immanuel Gildan mengepalkan tangan. Batinnya berkecamuk dan tanpa berpikir lebih lama lagi, dia berlari menuju ruangan pusat komando militer Dallas guna mematuhi perintah Jenderal.
Jenderal menoleh pada tank hitam pekat yang keluar dari garasi bawah tanah Benteng Dallas. Dia menatap datar pada sosok Panglima Sai yang keluar dari pintu tank dengan napas memburu.
"Kita harus menemukan istrimu secepatnya."
Sang Jenderal melompat naik masuk ke dalam tank militer saat dia menatap Letnan Edsel bergerak membunuh semua pasukan Nouva dengan menarik rambut Karenina lalu menyeret wanita itu dengan kasar.
Letnan Edsel menyeringai menemukan luka menganga di pipi Karenina yang mengeluarkan darah segar. Begitu pula dirinya dimana lengannya tergores cukup dalam hingga dagingnya terlihat. "Karenina, kali ini aku bersumpah aku akan menatapmu terbakar hingga kau jadi abu."
"Diam kau, Edsel!"
Letnan Edsel terkekeh pahit. Dia terus menyeret Karenina menjauh dari pasukannya dengan senjata rakitan Sang Jenderal yang telah diisi cairan penawar bagi pasukan Nouva agar mereka melemah dan sekarat. Letnan Edsel menembak ke arah mayat hidup yang mencoba membunuhnya. Ini adalah misil terakhir, peluru militer hitam Dallas yang terakhir untuk melenyapkan seluruh pasukan Nouva dibawah perintah Karenina.
Panglima Sai melompat turun dari tank militernya bersama Sang Jenderal yang membeku menemukan seluruh Distrik Jane kosong karena ditinggal penduduk yang hilang entah kemana.
Alis Sang Jenderal menekuk tajam. Dia berlari menembus sepinya Distrik Jane siang ini dan berusaha pergi ke goa dimana Athena pastilah tersekap di dalam sana.
Panglima Sai mendesis dingin saat dia mendobrak salah satu rumah dengan lampu teras yang menyala. Dan benar, semua rumah kosong. Begitu pula lampu yang masih menyala. Jelas sekali, Karenina membuang semua penduduk di sini ke tempat terpencil untuk dia jadikan kelinci percobaan.
Sang Jenderal mendobrak pintu dengan keras. Dia mencoba sekali lagi dengan mengerahkan kekuatannya untuk mendobrak pintu itu dan dia berhasil, menemukan ruangan yang porak-poranda dan sosok Ami yang tidak sadarkan diri dengan luka parah di kepala membuat Sang Jenderal menggeram marah bukan main.
Ami adalah pengkhianat.
Panglima Sai menyusul dengan ekspresi kaku. Dia menatap sekitarnya dengan sorot bingung kemudian jatuh pada Ami yang terlentang di atas tanah tak berdaya.
Sang Jenderal berdiri kaku menatap tabung berisi air yang penuh hingga ke ujung tabung kaca besar itu. Menenggelamkan seluruh tubuh kecil sang istri yang terapung di dalamnya dengan kedua matanya terpejam sempurna.
Bibir Sang Jenderal menipis ketat. Dia mengepalkan tangannya saat Panglima Sai mendekat dan Jenderal mundur tiga langkah ke belakang, mengarahkan pistolnya untuk memecahkan kaca tabung itu.
Suara letusan pistol menggema nyaring. Panglima Sai mengerutkan kening saat tubuh Athena terhempas jatuh ke lantai dan Jenderal mendekatinya. Menekan satu lututnya ke atas lantai dan membawa tubuh penuh luka nan pucat itu ke dalam pelukannya.
"Aku terlambat menyelamatkannya."
Suara Sang Jenderal bergetar hebat. Panglima Sai mendekat maju, dia menatap wajah pucat itu dengan sorot gusar. Kedua mata Athena terpejam erat. Mata pekat Panglima Sai meneliti luka-luka di tubuh Athena yang basah dan pudar—beberapa bahkan membiru dan berubah ungu pekat.
Kemudian, matanya berpendar ke seluruh ruangan. Menemukan ruangan yang porak-poranda tak beraturan membuatnya paham siapa yang melakukan ini dengan berani.
"Dia mencari kematiannya sendiri." Panglima Sai berbisik rendah dan dia melirik Sang Jenderal yang merapatkan pelukannya seakan tubuhnya yang panas bisa membuat tubuh gadis itu menghangat.
"Buka matamu, Athena."
Panglima Sai membuang wajahnya. Dia bergerak untuk menjauh dari perasaan asing yang dia rasakan karena mengerti bagaimana ketakutannya suara Sang Jenderal saat dia berbicara pada Athena yang terbaring.
“Buka matamu. Jangan tertidur di sini.”
Kemudian, suara desisan parau bercampur getaran hebat mengalun dari bibir Sang Jenderal yang berulang kali menggumamkan nama sang istri dalam panggilan parau.
Bahu Sang Jenderal merosot putus asa. Panglima Sai memicing tajam ke sekitarnya dan dia tahu, mereka harus bergegas cepat untuk kembali ke dalam benteng.
"Ledakkan tempat ini. Sekarang."
Panglima Sai menoleh pada Sang Jenderal yang masih berlutut dan bicara tanpa menoleh ke arahnya. Tatapan mata Sang Jenderal hanya terpusat pada satu titik; kedua mata sang istri yang kini terpejam.
"Jangan sisakan apa pun di dalam sini. Termasuk Distrik Jane," Panglima Sai terkejut saat Jenderal bangkit dengan membawa tubuh rapuh istrinya. "Ratakan seluruh Distrik Jane. Biarkan distrik ini rata dengan tanah. Aku tidak ingin distrik ini utuh seperti sedia kala."
"Bawa Ami ke dalam tank. Dia belum mati," Sang Jenderal memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Panglima Sai yang membeku. "Aku belum selesai dengan siapa pun yang berniat menggulingkan kekuasaanku."
Panglima Sai menatap punggung Sang Jenderal yang kian menjauh dari pandangan mata. Dia kembali menoleh, mengamati ke dalam ruangan ini dengan ekspresi dingin kemudian melakukan apa yang Jenderal katakan.
Membuat Distrik Jane rata dengan tanah.