"Amante Sebastian bukanlah gen unggul yang lahir sebagai penerus Dalla. Dia tidak akan bisa memimpin. Dia akan gagal dalam banyak hal. Kita tidak akan berharap banyak pada gen tidak berguna sepertinya.”
Amante Levant terdiam di sudut pintu yang celah kecilnya terbuka. Kedua matanya yang bulat menatap kosong pada kedua alas sepatu kecilnya yang kotor karena salju. Tangan kecilnya saling meremas satu sama lain dengan gugup. Dia tidak sengaja mendengar para tetua dan petinggi di Dalla sedang rapat bersama sang ayah, Jenderal Akram yang berulang kali menghela napas gusar.
Dia berlari menuju taman di dalam Benteng Dallas yang dipenuhi salju dan tanaman yang kering tertimbun bersama ratusan salju yang menggumpal. Membekukan tanaman beserta tanah yang sebelumnya kering dan tandus.
Mata pekatnya menatap datar pada sosok cantik bertubuh tinggi yang membungkuk ke arah Amante Sebastian dengan senyum manis. Levant perlahan mendekat, ingin mendekati mereka berdua ketika Amante Sebastian menatapnya dingin, sang kakak bukan menyambutnya baik melainkan membuang muka sinis.
"Kakak." Levant kecil menyapanya riang. Seolah dia menutup telinga kecilnya dari kejadian pagi tadi dimana dia mendengar rapat yang dilakukan Jenderal Akram dengan para tetua dan tangan kanan terbaiknya di dalam ruang rapat.
Levant kecil tahu kalau mereka semua membenci Amante Sebastian.
"Pergilah Levant. Jangan bermain di sini."
Amante Levant menutup mulutnya yang terbuka. Ada udara yang berhembus berat melalui kedua lubang hidungnya. Dia mengerjap, menatap kedua mata sang kakak yang tidak pernah menatapnya sayang padanya. Sikap sang kakak selalu dingin padanya. Seakan ada jembatan panjang yang membatasi mereka berdua terlalu tebal.
Gadis itu tersenyum menatap keduanya. Dia mengulurkan tangan, mengusap rambut Amante Levant dengan sayang. "Tidak apa. Setelah ini, aku akan menemanimu."
Senyum Amante Levant melebar polos. "Benarkah?"
Kepala merah muda pekatnya mengangguk. Levant mengamati postur tinggi gadis itu dengan mata berbinar kagum. Kedua matanya berbentuk seperti kucing dengan warna hijau yang senada dengan warna hutan pohon pinus di kala musim semi. Senyumnya menenangkan dan sorot matanya begitu hangat. Dia menawarkan kenyamanan lain yang tidak pernah Levant rasakan selama lima tahun dia hidup.
Amante Sebastian mendesis dingin. Tatapan matanya menyapu dingin tak bersahabat pada sang adik saat dia berlari, membelah tebalnya salju yang menutupi permukaan tanah di dalam Benteng Dallas dan menjauh dari Amante Levant dengan kedua mata terpejam.
"Kau .... siapa?"
Gadis itu membungkuk dengan kedua mata menyipit manis. "Aku?" Dia mengulurkan tangannya guna mengusap pipi bulat Levant yang pucat karena udara dingin di Dalla. "Karenina. Dan aku bekerja untuk Departemen Kesehatan. Aku asisten Dokter Lim." Dia menjelaskan dengan gamblang dan kepala Levant terangguk pelan. Otaknya yang cerdas mampu mencerna seluruh ucapan Karenina dengan cepat.
Kepala Levant tertoleh. Dia memandang punggung kecil sang kakak yang semakin jauh dari pandangannya. Kedua matanya mengerjap pedih. Dia menunduk, menatap kedua kakinya dengan pandangan terluka.
"Kau menyayangi kakakmu?"
Levant kecil hanya diam. Dia tidak menjawab, melainkan semakin menundukkan kepala dalam-dalam.
"Aku sudah menduganya. Kau dan kakakmu sangat mirip." Karenina tersenyum hangat. Dia menepuk bahu kecil Levant dengan tepukan lembut. "Tetapi, aura Amante Sebastian tidak setangguh dirimu. Kau dan dirinya berbeda. Seperti ... kau mungkin lebih hebat darinya?"
Kedua manik pekat Levant melebar takjub. "Benarkah? Aku lebih hebat dari kakak?"
Karenina mengangguk dengan tawa pelan. "Lihat, wajahmu berseri-seri. Kau ingin sekali mengalahkan kakakmu, ya?"
Levant menggeleng dengan raut sendu. "Aku ingin kakak melihatku. Aku ingin ibu melihatku. Aku tidak ingin mengalahkan siapa pun.”
Karenina terdiam sebentar. Dia mengangkat alis menilai ekpsresi polos Levant kecil yang nyata. Tidak ada kepura-puraan pada kedua matanya yang menyorot pilu. Levant kecil hidup dalam ketidakadilan di dalam rumahnya. Atap yang seharusnya melindunginya, berubah menjadi neraka. Rumah yang seharusnya menjadikannya sebagai tempat terbaik, tidak lagi ada. Karena Levant kecil terlihat sangat menderita.
"Levant."
Anak itu menoleh dan menemukan Jenderal Akram memanggilnya dari seberang ruangan dengan ekspresi datar. Jenderal Akram menyilangkan kedua tangan di belakang punggung.
"Ayah." Levant meninggalkan Karenina yang tercenung di belakangnya. Gadis berusia dua puluh tahun itu menatap Levant dengan tatapan intens saat pandangannya tertangkap pandangan Jenderal Akram dan dia menarik sudut bibirnya, tersenyum manis.
Jenderal Akram berjalan di sisi Levant kecil yang ceria. Berceloteh tanpa henti tentang pengamatan kecil yang dia lakukan di lapangan Benteng Dallas dan melihat para militer tangguh itu berlatih tanpa mengenal lelah. Dan Jenderal Akram diam-diam mengamati Karenina yang tidak pernah melepas pandangannya dari mereka yang mulai menjauh.
***
Jenderal Akram menipiskan bibir. Dia menatap Karenina yang terlentang di bawahnya dan terengah-engah. Tubuhnya yang telanjang penuh peluh dan basah. Gadis itu memejamkan mata, meremas seprai satin hitam dengan cengkraman kuat.
"Kenapa kau selalu mengeluarkannya di dalam?"
Jenderal Akram menyeringai. Dia menunduk, mengecap permukaan d**a padat milik Karenina dengan usapan tangannya merambat naik, mencekik leher gadis itu dengan erat. "Karena aku mau. Dan aku bisa lakukan apa pun untuk sekadar kemana aku harus membuang s****a terbaikku."
Karenina mengetatkan rahang tak terima. Dia memejamkan mata. Menarik napas saat Jenderal Akram kembali mendesak miliknya masuk ke dalam miliknya yang belum sepenuhnya pulih. Karenina dipaksa sekali lagi untuk menerima dan mendesah. Menahan rintihan ngilu akibat gesekan dua alat kelamin di bawah perutnya.
Dengan terbatuk-batuk akibat cekikan kencang Jenderal Akram, Karenina membuka mulutnya untuk bernapas. Jenderal Akram melesakkan lidahnya masuk, menikmati rasa di dalam mulutnya tanpa ampun dan dia kesulitan bernapas. Saat desakan demi desakan berubah semakin liar dan panas. Ranjang berderit tak karuan. Menciptakan dentuman pada dinding yang dingin akibat benturan keras dan hunjaman yang terlampau kuat.
Amante Sebastian menatap tak percaya apa yang dia lihat di depan matanya. Dia mengerjap, merasakan sekujur tubuhnya membeku hebat. Dia memang tidak mengerti apa yang sang ayah lakukan bersama gadis asing bernama Karenina itu di kamar putih. Hanya saja, yang mereka lakukan entah mengapa membuat Amante Sebastian jijik setengah mati.
"Kakak? Kenapa kakak belum tidur?"
Amante Sebastian melompat terkejut menemukan Amante Levant terbangun di tengah malam dengan kedua mata memerah akibat kantuk. Dia menipiskan bibir. Kepala Sebastian tertoleh ke arah pintu dan dia mendorong Levant menjauh. "Jangan kemari. Pergilah ke kamarmu."
Levant mengernyit tak mengerti. Kedua matanya membulat sedih menatap wajah kaku sang kakak. "Apa kakak membenciku? Kenapa kakak tidak pernah mau bermain denganku?”
Amante Sebastian terdiam. Dia menghela napas seraya berbalik memunggungi Levant yang menatapnya penuh luka. Anak berusia tujuh tahun itu hanya diam, kemudian menuruni tangga dengan langkah pelan.
Meninggalkan Levant sekali lagi dalam kebingungan yang luar biasa.
Mengapa semua keluarganya membencinya?