bc

Wasiat

book_age18+
30
IKUTI
1K
BACA
second chance
arrogant
drama
office/work place
regency
tricky
Writing Academy
widow/widower
stubborn
wild
like
intro-logo
Uraian

Banyu Gesang memimpikan sebuah pernikahan yang penuh cinta dengan orang yang ia cintai, Dewi Kirana. Naas datang saat virus C-19 menyerang dunia, merenggut kekasih hatinya, menenggelamkan jiwanya kedasar bumi.

chap-preview
Pratinjau gratis
Merindukan
“Hai Nyonya Banyu.” Seorang pengantin pria yang tampan mengoda pegantin wanita yang terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin putih dan mahkota seperti seorag ratu yang naik takhta. “Hai Tuan Banyu, selamat ya kamu sudah berhasil menjebak seorang perempuan untuk hidup selamanya denganmu.” Pengantin wanita juga menggoda pengantin pria, lengan yang menggelayut manja pada leher sang pengantin pria, memperlihatka betapa bahagianya mereka. “Salahmu mau terjebak dalam perangkap maduku, ingat kamu tidak akan bisa lepas sekarang.” “Begitukah? Kamu juga tidak akan bisa lari dariku, akan aku kejar kamu sampai ujung dunia.” “I love you honey, my bojo Dewi Kirana.” “I love you more honey, my bojo Banyu Gesang.” Usia mereka masih 26 tahun tapi mereka  menikah, perkenalan mereka sangat singkat, tapi mereka tahu mereka ditakdirkan untuk bersama. “Maaf pak, sebagai dokter saya hanya dapat memberikan informasi berdasarkan kajian ilmiah, bahwa istri bapak kemungkinan tidak dapat melahirkan, tapi mari kita berserah pada Sang Pencipta.” Sebuah vonis yang datang dari dokter kandungan bagaikan hukuman mati untuk istri tercinta, tapi tak mengapa, dia menikahinya bukan karena inginkan anak, dia menikahinya karena dia mencintainya. Mereka masih bisa bahagia. Sebuah dering yang memekakkan telinga, membangunkan Banyu. Hanya mimpi ternyata. “Selamat hari pernikahan honey.” “Yang ke sebelas ya? Wah... kamu mau hadiah apa? Oke nanti aku bawakan Red velvet cake kesukaanmu dari toko kue biasanya ya.” Sebuah dering telepon masuk pada gawai yang tergeletak di atas nakas. “Ya.” “Hari ini ada penandatanganan kontrak kerjasama pukul 10 pak,bapak harus datang.” “Ya.” Banyu bersiap kerja, sebagai pemilik dari sebuah management artist dia sangat brdedikasi dengan pekerjaannya. Perusahaan ini diwarisakan dari ibu nya, dia hanya tinggal melanjutkan mengelola usahanya saja. Di dalam mobil mewah terdengar lagu melankolis yang mengalun mendayu-dayu membuat suasana hati menjadi kelabu. “Akh, hari masih sepagi ini sudah ada yang memutar lagu melankolis seperti ini.” Ada jeda sebentar dan tarika nafas, lalu Banyu melanjutkan. “ya, aku tahu ini lagu favoritmu, tapi aku benci lagu ini.” Maybe my love will come back someday only heaven knows and maybe our heart will find a way and only heaven knows “Lihatkan lagu ini selalu membuat aku menangis. Ya aku tahu kamu tidak suka aku menangis, aku lucukan kalau menangis, hidungku merah dan mataku jadi segaris.” Jalanan Jakarta tidak pernah lepas dari kata macet, dan kalau macet bisa berjam-jam, membuat Banyu dapat memainkan gawainya. “Honey, hari ini Jakarta lengang banget, mungkin akibat PSBB ya? Kamu pasti lagi main hape ya?” “Iya, makanya aku bisa dengar suara kamu.” “Aku bawakan kamu bekal makan siang loh mas, nanti dimakan ya, walau rasanya ga seperti di restoran tapi itu makanan favorit kamu, dan itu masakanku.” “Iya sayang aku selalu makan masakan kamu, menurutku itu enak.” “Kamu pasti bilang enak kan, karena aku tahu kamu cuma punya dua rasa, enak sama enak banget. Ya kan?” “Hahahaha, kamu memang paling mengerti aku.” Kemacetan mulai terurai, mobil mulai melaju lagi menuju kantor. “Selamat pagi, pak. Agenda bapak hari ini hanya tanda tangan kerjasama, lalu memeriksa semua laporan yang sudah ada di meja, lalu makan malam dengan crew film.” “Makan malam di skip aja Sis.” “Tapi pak ini merayakan film kita masuk box office loh pak.” “Sampaikan selamat dan terimakasih untuk kerja kerasnya saja Sis.” “Banyu, sekarang aku bicara sebagai sahabat kamu bukan sekretaris kamu. Kamu harus lebih banyak bersenang-senang!” “Terimakasih sarannya Sis. Aku selalu bersenang-senang.” Hufft. Desahan nafas terdengar di ruangan kantor yang sunyi ini. Langit sore sungguh cantik dibulan ini, warna orange kemerahan yang mendominasi pandangan terasa sangat menyejukan, tapi untuk hati yang kesepian, semua keindahan ini tidaklah berarti. Banyu memarkirkan mobilnya di sebuah cafe and bakery shop langganannya. Hampir setiap malam dia kesini untuk membeli cake atau makan malam. “Bungkus satu paket nasi bakar ya, sama red velvet seiris aja.” “Baik, ditunggu ya pak.” Banyu duduk menunggu pesanannya di kursi tunggu sambil memainkan gawainya. Di sebelahnya duduk seorang pengemudi ojek online. “Aku bawakan kamu bekal makan siang loh mas, nanti dimakan ya, walau rasanya ga seperti di restoran tapi itu makanan favorit kamu, dan itu masakanku.” Banyu tersenyum mendengar voice note Kirana. “Hari ini istrinya ga masak ya mas?” pengemudi ojek online bertanya pada Banyu. Banyu hanya tersenyum menanggapinya. “Itu kok pesanannya tadi cuma satu aja?” “Iya buat saya aja.” Jawab Banyu. “Istrinya ga dibeliin mas?” “Tidak, dia sudah meninggal. Ini voice note dia dulu.” Ada jeda dan tarikan nafas lalu Banyu melanjutkan. “Kalau saya sedang merindukannya, saya akan putar ulang setiap voice note dan videonya.” Ada senyuman kesedihan yang terpancar dari wajah Banyu. “Maaf mas saya lancang.” “Tidak apa mas” Pesanan sudah jadi, Banyu kembali ke mobil dan melaju pulang ke rumah. “Honey, apa kamu merindukan ku disana?”    

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dia Suamiku

read
821.1K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.0K
bc

Accidentally Married

read
110.2K
bc

KISSES IN THE RAIN

read
58.1K
bc

FINDING THE ONE

read
34.6K
bc

Hubungan Terlarang

read
513.2K
bc

Air Mata Maharani

read
1.4M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook