bc

Gereja Iblis

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
city
medieval
mythology
small town
magical world
soul-swap
like
intro-logo
Uraian

Di balik gemerlap kota Ashford, berdiri St. Augustine Cathedral—gereja megah yang menjadi simbol keagungan bagi publik, namun menyimpan rahasia gelap di bawah altar sucinya. Di lorong-lorong bawah tanahnya, sekte pemuja Seven Princes of Hell melakukan ritual berdarah yang menakutkan.Elizabet Veronica, seorang wanita muda yang pernah menjadi bagian dari sekte itu, berhasil melarikan diri. Namun tubuhnya kini menandai dirinya sebagai tumbal terakhir, dengan simbol darah berbentuk pentagram tujuh titik di lengan kiri. Dimanapun ia pergi, bayangan kegelapan mengikutinya. Setiap malam, mimpi mengerikan menampakkan salah satu dari Seven Princes, menguji ketahanan mentalnya, dan membuat rasa paranoid terus menghantui.Dengan bantuan Eugene Timothy, jurnalis investigasi yang gigih, Elizabet mencoba mengungkap kebenaran di balik “gereja iblis” ini. Mereka harus menelusuri jejak Clavis Obscura, Kunci Kegelapan, yang diyakini disimpan oleh seorang pastor tua bernama Father Steven Philipe. Namun di setiap langkah, sekte dan makhluk kegelapan yang mereka panggil selalu siap menghancurkan siapa pun yang menghalangi rencana mereka.Kini Elizabet menghadapi pilihan mengerikan: melawan kegelapan untuk menghentikan ritual, atau menerima takdirnya sebagai tumbal terakhir. Dalam dunia di mana manusia pun bisa menjadi musuh, dan iblis menatap dari bayangan, keselamatan nyawa menjadi taruhan terbesar.Gereja yang indah di siang hari menjadi neraka yang hidup di malam hari. Setiap langkah bisa menjadi akhir, dan setiap bisikan membawa kematian.

chap-preview
Pratinjau gratis
Mimpi Buruk
"Elizabet… Venite…" "In tenebris…" "Venite ad nos…" "Septem… principes… inferni…" Elizabet membuka mata perlahan. Pandangannya kosong, tubuhnya gemetar halus. Namun telinganya menangkap bisikan itu dengan jelas, seperti mantra yang menembus langsung ke pikirannya, membuat jantungnya berdetak kencang. Ia menoleh ke arah jendela, dari sanalah suara itu seolah memanggilnya. Malam di Desa Duskwood terasa lebih sunyi dari biasanya, tetapi bisikan itu kini lebih nyata, lebih dekat. Tiba-tiba… Brakk…! Jendela terbuka sendiri, terdorong paksa oleh sesuatu yang tak terlihat. Angin malam masuk menyeret tirai tipis, rambut Elizabet berterbangan, dan udara malam menyusup ke kamarnya. "Ex sanguine… ex anima… tu es nostra…" Elizabet menunduk, tangan menekan lengan kiri tempat simbol pentagram tujuh titik dulu diukir dengan darah ritual. Panasnya merambat ke bahu, denyutnya berirama dengan bisikan itu, seakan menarik sesuatu dari dunia lain ke tubuhnya. "Aku… aku sudah keluar… aku sudah meninggalkan mereka… tapi mengapa mereka masih mengejarku?" pikirnya, napas tersengal. Trauma masa lalunya muncul: ritual malam yang gelap, darah orang tua, kesalahan masa muda yang tak bisa dihapus. Hatinya sakit, penuh rasa bersalah dan takut akan takdir yang mengikatnya pada sekte. "Elizabet… nomen…" "In tenebris… manet… eternum…" Elizabet melangkah perlahan mencoba menutup jendela itu kembali, namun.. matanya membelalak saat menoleh ke luar jendela, tubuhnya membeku. "Oh Tuhan…" gumamnya, menutup mulut dengan kedua tangan. Di bawah sana, di tepi hutan Black Hollow, berdiri seorang pria misterius. Bertubuh tinggi, mengenakan pakaian bangsawan hitam kuno dengan aksen emas tipis. Wajahnya tak terlihat, hanya mata merahnya yang menyala. Dan bayangannya… bukan hanya satu. Ada tujuh bayangan yang merayap ke arah berbeda, memanjang di tanah seperti ular hitam. Masing-masing bergerak sendiri, seakan memiliki nyawa. Saat pria itu mengangkat tangannya, simbol di lengan kiri Elizabet menyala, menimbulkan rasa panas berdenyut seperti disentuh bara api. "Aaarrgggh!" jeritnya, terhuyung ke belakang, tangannya mencoba menutup simbol itu, tapi denyutnya tak bisa dihentikan. Bayangan di dinding bergerak liar, menelan cahaya, menari di lantai, langit-langit, dan tirai. Aroma tanah basah dan logam menusuk hidungnya, menyengat sampai kepala terasa pening. "Tidak… tidak… aku bukan milik kalian… aku bukan lagi bagian dari ini…!" serunya dalam hati, air matanya menetes, tubuhnya gemetar hebat. Tapi bisikan itu tetap menembus kepalanya. "Ex sanguine… ex anima… Venite… servite… peccatum… aeternum…" Tiba-tiba, suhu di sekelilingnya menurun drastis. Napasnya membentuk uap tipis di udara. Ada suara samar di telinganya, bisikan yang lebih jelas, lebih menggigit. "Venite… nomen… aeternum… inexorabile…" Lampu padam. Sunyi. Hanya napasnya yang terdengar. Elizabet menjerit ketakutan, tapi suaranya seolah tidak terdengar. Kamar itu seperti tertutup oleh tabir tak kasat mata. Saat lampu menyala kembali, pria misterius dan ketujuh bayangan kini ada di dalam kamar. Mereka menempel di dinding, bergerak pelan, membentuk siluet mengerikan: tanduk, sayap, taring, mata menyala. Tujuh bayangan itu berderak, menyeringai tanpa wajah. Elizabet menunduk, menutup mata sekuat tenaga, mencoba menenangkan diri. Namun simbol di lengannya berdenyut lebih keras, panasnya menjalar ke seluruh lengan kirinya. Bayangan di belakang pria itu bergerak perlahan, memanjat dinding, menelan cahaya. Tirai menari liar di angin malam, aroma darah segar menusuk hidungnya. Setiap kali Elizabet mengedip, bayangan itu seakan semakin dekat, ingin menyentuh dan menyeretnya ke kegelapan. Elizabet menjerit panik, suaranya hampir pecah: "Tinggalkan aku! Pergi dari sini! Aku bukan milikmu!" Matanya memerah, air mata mengalir karena rasa sakit dan ketakutan. "Aku tidak… tidak akan ikut kalian lagi…" Ia mencoba mundur, tubuhnya tersandung meja, tetapi tangan kirinya tetap terkunci pada simbol pentagram yang berdenyut, memancarkan cahaya merah samar. Sensasi panas itu bukan hanya sakit, ada sesuatu dari dunia lain mengalir ke tubuhnya, ingin menguasai pikirannya. "Tidak… Jangan mendekat… Aku bukan bagian dari kalian lagi!" teriaknya, suaranya parau. Tabir gelap itu membuat jeritannya seolah hilang, dunia di luar lenyap. Pria misterius melangkah perlahan ke arahnya. Tujuh bayangan menyusul, menari liar di lantai, dinding, dan langit-langit. Elizabet berjalan mundur, terpojok, punggungnya menempel tembok. "Cepat pergi dari sini, jangan mendekat!" teriaknya, matanya menatap pria itu dengan ketakutan. Namun ketujuh bayangan segera menangkapnya. Mereka mencengkeram tangan dan kakinya, mengangkat tubuhnya ke udara, menekannya ke tembok. "Lepaskan aku… Dasar iblis!" teriak Elizabet, meronta-ronta. Tangan pria misterius itu mencekik lehernya dengan kekuatan tak manusiawi. Napasnya tersumbat, suaranya tercekat, tetapi matanya tetap menatap pria itu penuh kebencian. Ketujuh bayangan mencekeram tubuhnya lebih keras. "To... Tolong… Aku…" suaranya tercekat, serak, seolah tercekik oleh kegelapan itu sendiri. Tubuhnya bergetar hebat di udara, terjerat bayangan seperti ular hidup. Mata merah pria menyorot langsung ke matanya, membuat seluruh ruang terasa menyesakkan d**a. Tubuhnya semakin lemas, pandangan kabur… matanya menutup perlahan... Dan saat itu, tiba-tiba... Elizabet terbangun tersentak, tubuh basah oleh keringat dingin. Jantungnya berdegup tak karuan, napas tersengal, matanya liar menatap kamar yang kini sunyi... tidak ada pria misterius, tidak ada bayangan, hanya tirai yang berkibar pelan diterpa kipas angin. Ia duduk di tepi ranjang, kedua tangan menekan lengannya sendiri, tempat simbol pentagram tadi berdenyut. Rasa panas perlahan memudar, digantikan dingin menusuk tulang. Air matanya menetes, tersapu pipi pucat karena ketakutan. "Ah… itu… itu mimpi… bukan… nyata…" gumamnya pelan, suara bergetar. Ia menunduk, mencoba menenangkan napas, tapi hatinya tetap berdebar cepat. Tubuhnya gemetar hebat. Setiap detik terasa seperti bayangan itu bisa kembali menyentuhnya. Namun saat ia menoleh ke jendela, ternyata masih tertutup rapat. Elizabet menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, meski tubuhnya masih gemetar hebat. Ia menatap kamar yang sunyi, tirai menari pelan diterpa angin malam, suara kipas angin berdengung monoton seolah menjadi satu-satunya yang nyata. Namun di dalam hatinya, ketakutan tetap menempel seperti sesuatu yang gelap dan tak terlihat menunggu untuk kembali. Di luar, desa Duskwood tetap hening. Udara malam terasa berat, seakan menyimpan rahasia yang mengintai dari setiap sudut hutan Black Hollow. Lampu jalan berkedip samar, bayangan pepohonan menari liar di jalanan berbatu, membentuk sosok yang seakan mengikuti setiap langkah, meski tak ada seorang pun terlihat. Di pusat kota Ashford, jauh dari Duskwood, Eugene Timothy dan rekannya, Sarah Hopskin, berhenti di depan gereja St. Augustine. Mereka menelusuri kasus kecelakaan yang menewaskan orang tua Elizabet Veronica—kecelakaan yang terlalu sempurna, terlalu “terencana”. Catatan polisi menunjukkan kejanggalan: jejak darah, CCTV yang dihapus, saksi hilang secara misterius. Semua mengarah pada satu dugaan: gereja itu mungkin lebih gelap dari sekadar tempat ibadah. Udara malam terasa aneh, beraroma logam basah, seolah ada yang mengamati setiap gerakan mereka. Eugene menyalakan ponsel, memeriksa rekaman CCTV yang baru saja ia ambil di lorong bawah gereja. Layar berkedip, menampilkan bayangan samar tapi bukan manusia, bukan hewan, tetapi entitas lain. Sosoknya hitam memanjang dengan mata merah menyala yang bergerak. "Ini… apa itu?" gumam Eugene, jantungnya berdetak cepat. Sarah menelan ludah, matanya pucat. "Aku… aku tidak tahu, tapi ini… ini bukan rekayasa," katanya, suara gemetar. Di saat yang sama, jauh di Duskwood, Elizabet merasakan lengannya berdenyut lagi. Simbol pentagram tujuh titiknya menyala samar di bawah cahaya lampu kamar. Suara bisikan itu kembali lagi kini lebih dekat, lebih jelas. "Venite… servite… peccatum… aeternum…" Elizabet menatap jendela, merasakan tatapan mata merah itu, mata yang sama yang muncul di mimpinya menembus kegelapan malam. Di Ashford, Eugene menekan tombol rekam sekali lagi, tetapi layar ponsel membeku. Bayangan mhitam itu muncul di belakang mereka, bahkan sebelum mereka menyadarinya. Sarah berbalik, terengah-engah. "Eugene… kita… ada sesuatu di sini…!" Dan satu hal jelas bagi semua pihak: kegelapan itu sudah mulai bergerak, dan tidak ada yang aman. Lampu jalan berkedip. Suara bisikan menyebar di udara kota. Dan kemudian… layar ponsel Eugene tiba-tiba mati.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook