Cassandra tersenyum semringah saat melihat Al datang ke rumahnya. Dia membelai perut kecilnya seakan-akan perutnya sangat berharga. Cassandra mendekati Al yang masih berdiri di ambang pintu. Wajahnya dingin, enggan menatap lama kekasihnya atau mungkin mantan kekasihnya mengingat hubungan mereka masih belum ada kejelasan. Dengan gerakan tiba-tiba Cassandra memeluk Al erat. Yang dipeluk hanya berdiri kaku tanpa mau membalas pelukan Cassandra.
“Aku merindukanmu, Al. Dan anak yang di dalam kandunganku—“
“Cassandra, lepaskan aku.” Al melepaskan cengkeraman pelukan Cassandra. Dulu, dia memang menikmati pelukan Cassandra, tapi sekarang semuanya berbeda. Bahkan pelukan Cassandra yang selalu menggairahkan saat ini rasanya hambar.
Cassandra menatap Al kecewa. “Kenapa? Kamu tidak merindukanku?” dia mengerjapkan mata seakan meminta belas kasih.
“Aku ingin memastikan kalau kamu memang benar-benar hamil dan anak dalam kandunganku itu anakku.”
“Kamu meragukanku?”
“Well, aku tidak seceroboh itu. Aku hanya butuh kepastian.”
“Kenapa kamu berkata seperti itu, Al? Aku menyerahkan semuanya kepadamu dan ini balasan yang aku terima?”
Al menatap Cassandra beberapa saat. Cassandra menarik pergelangan tangan Al dan membawanya duduk di atas sofa. “Katakan padaku apa Erica begitu istimewa hingga kamu berubah seperti ini?” tanyanya tajam. Dia menatap intens Al.
“Jangan bawa-bawa Erica dalam masalah kita.” Pinta Al.
“Tapi, sejak kamu menikah dengannya sikapmu berubah.”
“Aku harus menjaga kondisi kesehatan Papahku. Aku tidak ingin keadaannya buruk. Aku mohon beri aku waktu, Cassandra. Dan tentu saja aku harus memastikan kalau kamu memang benar-benar hamil.”
“Oke, kalau kamu tidak yakin kalau aku sedang mengandung anakmu, ayo kita buktikan dengan menemui orang tuamu.”
Seketika Al menatap angker Cassandra. Dahinya mengernyit tebal. “Jangan pernah lakukan itu atau aku tidak akan pernah sudih untuk menemuimu lagi.” Ancam Al yang seketika membuat Cassandra seperti kucing yang bertemu dengan anjing.
“Kamu tidak merindukanku?” tanya Cassandra membelai sebelah pipi Al.
“Hentikan, Cassandra. Saat ini aku belum bisa berbut apa-apa untukmu. Mengertilah. Aku dan Erica baru menikah dan orang tuaku punya ekspektasi lebih pada pernikahan kami.” Al masih dengan sabar menjelaskan.
Cassandra menarik napasnya perlahan. “Aku sudah menolak puluhan permintaan desain gaun pengantin karena aku terlalu memikirkanmu.”
“Aku minta ma’af soal itu.” kata Al ringan.
“Aku ingin kamu tetap di sampingku, Al. Aku tidak ingin mati karena mencintaimu.” Cassandra menempelkan kepalanya pada d**a Al.
“Tapi, aku tidak bisa. Posisiku berbeda dengan dulu. Aku berharap kamu dapat memakluminya, Cassandra.”
“Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”
Pertanyaan itu membuat Al bingung. Apakah dia masih mencintai Cassandra atau tidak? yang jelas saat ini perasaannya hanya tertuju pada Erica meskipun dia sendiri mengakui kalau keinginanya pada Erica tidak lebih dari sekadar tertarik.
“Al,” Cassandra mendongak menatap wajah Al yang datar. “Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”
“Aku rasa pembahasan kita bukan lagi tentang cinta, tapi tentang kehamilanmu. Apakah aku benar-benar ayah dari janin yang kamu kandung?”
“Kamu masih saja mempertanyakan itu?!” Cassandra tampak marah. Dia menjauhkan kepalanya dari d**a Al. “Apa menurutmu aku begitu mudah tidur dengan lelaki lain selain dirimu, Al?!”
Al teringat akan sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya mulai membuatnya ragu pada Cassandra. Tepat saat jam menunjukkan jam sepuluh malam saat Al ingin menginap di rumah Cassandra tanpa memberitahu kekasihnya itu, Al mendapati seorang pria asing ada di dalam rumah. Dan pria itu tampak gugup saat melihat Al di depan pintu dan segera melesat pergi dari rumah Cassandra. Cassandra sendiri tampak santai dan mengatakan kalau pria tadi adalah teman sekolahnya.
Al bukan pria bodoh yang percaya begitu saja pada ucapan Cassandra. Saat itu juga cinta Al pada Cassandra memudar. Sialnya dia belum mengambil keputusan apa-apa untuk berpisah dari Cassandra hingga saat ulang tahun Cassandra, Al mabuk parah. Dan malam itu dia tidak tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Cassandra.
“Percayalah padaku, Al, dan jangan pernah tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu.”
“Emmm, aku harus pergi ke kantor, Cassandra. Aku punya banyak pekerjaan di kantor. Aku akan mampir lagi kalau nanti ada waktu.” Al bangkit berdiri dan meninggalkan Cassandra.
Wanita yang memiliki nada suara manja itu menatap Al hingga pria itu lenyap dari pandangannya. “Kamu pikir bisa lepas dariku dengan mudah, Al?” dia tersenyum sinis. “Aku bahkan lebih dari yang kamu pikirkan, Al.” Cassandra membelai perut kecilnya.
***
Untuk pertama kalinya Al bertemu dengan Cassandra saat Al menemani salah satu temannya yang mendatangi kantor Cassandra untuk mengadakan kerja sama event peluncuran produk kecantikan terbaru. Saat itu Cassandra yang selalu mengenakan dress motif vintage terlihat sangat cantik.
Wajahnya seakan memberikan kesegaran tersendiri bagi Al yang saat itu pikirnnya sedang runyam akibat konflik dengan sang kakak—Nick. Konflik yang membuatnya harus rela tergantikan. Konflik yang membuatnya sangat marah pada Nick dan sejak konflik itu, dia menganggap Nick bukan lagi sebagai kakak tetapi musuh. Musuh dalam selimut.
“Hai,” sapa Cassandra ramah.
“Hai juga,” balas Al tersenyum ramah.
Dan akhir dari pertemuan awal mereka, Cassandra memberikan kartu namanya pada Al dengan alasan jika Al menikah pria itu perlu memesan gaun pengantin wanita padanya. Al yang memiliki ketertarikan pada Cassandra menerima kartu nama itu. Berselang empat hari dari pertemuan pertama mereka, Al mencoba mengirimi Cassandra pesan dan mengajaknya untuk bertemu.
Kencan pertama mereka memberikan kesan yang manis bagi Cassandra maupun Al sendiri. Obrolan mereka nyambung dan Al merasa Cassandra memiliki persamaan dengan seseorang yang menjadi awal konflik antara Nick dan dirinya.
***
Al menatap Erica yang tertidur pulas. Wajah Erica tampak lembut seperti seorang bayi ketika tertidur. Al terus menatap wajah Erica hingga dia menyadari kalau seseorang di sana mungkin sedang berusaha membuat pernikahan Al dan Erica selesai. Cassandra. Al tahu Cassandra adalah wanita yang akan melakukan apa pun agar bisa mencapai ambisinya. Al menyesal karena telah menjalin hubungan dengan Cassandra yang notabene jauh berbeda dari wanita yang dicintainya dulu.
Wanita yang kini hanya meninggalkan luka dan kenangan manis. Al menyesal karena tidak pernah mengatakan apa pun pada wanita itu tentang cintanya hingga wanita yang kini hanya tinggal nama itu menganggapnya tak lebih dari sekadar adik dan sahabat.
“Kenapa kamu menatapku begitu?” tanya Erica saat matanya terbuka. Erica langsung terbangun dan menutupi bagian dadanya meskipun dia menganakan piyama.
Al tersenyum sinis. “Menurutmu? Apa kamu pikir aku akan menelanjangimu saat kamu tertidur?”
“Aku rasa kamu akan melakukan hal lebih tidak hanya menelanjangiku dan menatap tubuhku saja kan?”
“Hahaha, kamu tahu yang aku mau, Erica. Tapi, pun kalau aku melakukannya aku akan melakukannya karena aku memang ingin dan karena lebih cepat hamil lebih baik kan, Mamah dan Papah pasti sedang menunggu kabar penting ini.” Al menyeringai sembari mendekati Erica.
Erica membuang wajah. Dia takut akan terpikat pada pria yang masih belum menyerah padanya bahkan saat dia memiliki kunci rahasia Al.
“Jangan pernah menyentuhku secuil pun, atau aku akan mengatakan kehamilan Cassandra pada orang tuamu.” Ancam Erica dengan mata menatap tajam pada pria yang semakin dekat dengan wajahnya itu.
“Aku suka caramu mengancamku, Erica.” Dia menyeringai. Seringai yang membuat Erica nyaris jatuh pada rasa terpikat.
Al sebagai pria dia sudah sangat sempurna dengan apa yang dimilikinya. Tampan dan memiliki segalanya. Semua wanita akan jatuh hati padanya dalam waktu sedetik saja. tapi itu tidak berlaku pada Erica. Erica tidak akan mudah jatuh pada Al begitu mudah, tapi dia yakin waktu akan membuatnya jatuh pada Al jika pria itu terus saja menggodanya.
“Kamu sebaiknya mengurus kekasihmu itu, Al. Dia sedang hamil dan menuggumu untuk bertanggung jawab dan kamu malah mencoba membuatku tertarik dengan segala tingkah konyolmu itu.”
“Well,” Al memiirngkan kepala menatap Erica intens. “Aku akan bertanggung jawab kalau Cassandra benar-benar hamil dan janin yang dikandungnya adalah anakku. Aku pasti bertanggung jawab, Erica.” Al menyapukan jarinya di sebelah pipi Erica yang memanas karena sentuhan lembut itu.
“Aku dengar kamu tidak pernah pacaran?” tanya Al mengejek.
Erica melepaskan jari Al dari pipinya.
“Kenapa wajahmu memerah begitu, Sayang. Tak apa, aku bisa mengajarimu.”
“Ajari saja dirimu sendiri untuk tidak mengobrak-ngabrik urusan pribadi orang lain.” Erica menatap tajam Al.
“Kamu istriku, dan aku berhak tahu urusan pribadimu.”
“Jangan mengakui aku sebagai istrimu kalau kamu saja tidak bisa menjadi suami yang baik, Al. Kamu bahkan tidak bertanggung jawab pada kekasihmu dan membiarkan dia terus-menerus mengancamku.”
Ekspresi Al berubah serius. “Apa dia masih menghubungimu?”
“Setiap hari.” Jawab Erica dengan menekankan setiap patah kata yang dikeluarkan dari kedua daun bibirnya.
“Kenapa kamu tidak block nomornya?”
“Aku sudah memblokirnya lebih dari dua kali tapi dia terus-terusan mengirimiku pesan dengan nomor yang berbeda.”
Al terdiam. Dia tampak berpikir keras. Bukan apa-apa tapi Al merasa apa yang dilakukan Cassandra memang keterlaluan. Kenapa Erica terus diteror? Erica bahkan tidak tahu apa-apa. mungkin kalau Erica diberi pilihan dia pasti akan menolak perjodohan dengan Al tapi, tidak ada pilihan untuk Erica. Dia harus menikah dengan Al. Dan itu suatu kewajiban yang harus Erica lakukan kalau dia masih ingin dianggap sebagai anak dari ayah dan ibunya. Dan lagi, perusahaan keluarga Erica setelah dikelola keluarga Herriot berangsur-angsur keadaannya membaik. Erica perlu berterima kasih pada Al.
“Bukankah kita bisa melaporkannya ke polisi?” Erica bertanya dengan sebelah alis terangkat.
“Ya, kamu benar. Tapi itu beresiko, Erica. Sangat berisiko bahkan untuk kemajuan perusahaanmu juga.”
Erica menelan ludah.
“Aku akan mengurusnya.”
“Oh ya? Pastikan agar dia tidak mengancamku lagi, aku muak pada ancamannya.” Erica meninggalkan kamarnya.
Erica mengambil botol wine di dalam lemari es dan berdiri di atas rooftop memandangi langit gelap. Sesekali dia menenggak wine dengan perasaan kesal. Soal wine dia sudah lama tidak pernah minum wine. Terakhir kali dia minum wine saat dia bermasalah dengan mantan kekasih terakhirnya.
“Di sini kamu rupanya.”
Erica menoleh pada sumber suara.
Al Willian Herriot.
“Kenapa kamu mengikutiku?”
Al meraih bahu Erica saat dia berdiri tepat di samping Erica. Erica menatap lengan Al yang berada di atas bahunya. “Jangan mengira aku menyukai apa yang kamu lakukan, Al.” Dia melepas pergelangan tangan Al.
“Mulutmu bisa saja berkata berkata demikian tapi aku yakin hatimu mengatakan yang sebaliknya.”
“Cih!”
Travis dan Noura yang berniat membahas pernikahan mereka ke depannya di atas rooftop. Sayangnya, di sana ada Al dan Erica. “Aku rasa kita tidak perlu membahasnya sekarang.” Kata Noura.
“Ya, tapi lebih baik kita bergabung dengan mereka.” Travis melambaikan tangan pada Al dan Erica yang menoleh ke arah belakang.
Travis dan Erica berjalan mendekati Al dan Erica.
“Kalian di sini, mengejutkan juga.” Komentar Travis.
“Erica merasa butuh lebih banyak oksigen. Napasnya tersengal-sengal saat berada di dalam kamar.” Al menoleh dan menyeringai pada Erica yang menatapnya kesal.
“Well, kalian sudah merencanakan bulan madu kalian?” tanya Noura.
“Belum.” Jawab Al.
“Mungkin mereka tidak ingin bulan madu.” Komentar Travis diselingi tawa kecil.
Noura menoleh pada botol wine yang dipegang Erica. “Kamu minum wine?” tanyanya pada Erica.
“Ya,” sahut Erica agak ragu.
“Mah!” teriak Selina di belakang.
Semua mata tertuju ke sana. Nick sedang menggendong Selina.
Nick menurunkan Selina yang berlari ke arah ibunya. “ Dia menangis tadi karena ibu dan ayahnya tidak ada di dalam kamar.” Kata Nick sebelum melesat pergi meninggalkan mereka.
Al menatap Erica yang tertunduk. Al berasumsi kalau Erica merasa bersalah pada Nick. Kesalahan apa yang dibuat Erica pada Nick? Apa karena dia sekarang mulai menjauhi Nick? Apa pun itu Al senang melihat Nick tersiksa. Sama seperti dirinya dulu yang tersiksa karena cintanya pada wanita yang diakui Nick sebagai kekasihnya.
***