Erica tetap di rumah Al. Dia tidak pergi kemana-mana. Dia merasa lebih aman di sini sambil melihat kolam ikan luas yang berada di belakang teras rumah. Berbagai macam tanaman hias ada di sana mengelilingi kolam ikan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga ini? Dia memikirkan kejadian saat sarapan. Bagaimana Nick mencoba memperlihatkan bahwa antara Erica dan Al tidak ada cinta. Bagaimana Nick menatapnya dan mengatakan bahwa dia ada di belakang Erica kalau Al berani macam-macam dengannya.
“Nyonya,” salah satu asisten rumah tangga yang berusia sekitar 40 tahun menyapa Erica. Namanya Bibi Ella.
Erica menoleh dan melempar senyum ramahnya.
“Panggil saja saya Bibi Ella.”
“Oh iya, Bi Ella.” Erica mengangguk sopan.
“Semua orang sedang keluar ya.” Dia mendekati Erica dan berdiri tepat di samping Erica.
“Ya, Al sedang mengantar Papah dan Mamah ke bandara.”
Ada hening yang menyelimuti atmosfer keduanya.
“Sebenarnya, apakah Nyonya tahu kalau Tuan Nick dan Tuan Al pernah berseteru?”
“Eh,” Erica menoleh terkejut. “Berseteru?”
Bibi Ella mengangguk. “Sejak perseteruan itu, hubungan mereka seperti bukan hubungan kakak dan adik. Meskipun saling tidak menyukai tapi sebenarnya mereka saling menyayangi. Cuma ya, di dalam keluarga itu selalu ada saja konflik kan.”
“Berseteru karena apa?” tanya Erica penasaran.
“Itu sudah masa lalu, Nyonya. Tidak perlu dibahas. Tuan Nick memang terkadang suka bicara tanpa memikirkan akibat dari perkataannya. Tapi, menurut Bibi, Tuan Nicklah yang paling peduli pada orang-orang rumah. Dia hanya tidak menunjukkan kepeduliannya saja.”
***
Keluarga Herriot memiiki bisnis di bidang hotel, keuangan dan fashion. Travis memegang bisnis hotel dimana hotel milik keluarga Herriot adalah salah satu hotel bintang lima yang memiliki jaringan luas hingga ke Eropa. Nick memegang bisnis fashion dari mulai pakaian orang dewasa hingga anak-anak dan Al memegang bisnis keuangan.
Di antara ketiga putra keluarga Herriot, Nick adalah atasan yang paling disukai. Dia tidak menganggap dirinya sebagai atasan hingga merasa berbeda dari karyawannya tapi Nick selalu berusaha mendekatkan diri pada mereka. Namun, kalau ada yang berbuat kesalahan Nick tidak segan-segan untuk mengeluarkan mereka tanpa persetujuan HRD.
Al sedang menyesap kopinya saat ponselnya berdering. Sebuah pesan dari Cassandra.
Kamu pikir kamu bisa lari dariku?
Al membaca pesannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Satu sisi dia harus menjauhi Cassandra tapi di sisi lain dia tidak tega dengan apa yang dilakukannya. Dia bahkan tidak tahu kalau dia menikah karena perjodohan almarhum ayah Erica dan ayahnya yang dibuat dua puluh tahun lalu saat mereka masih kanak-kanak. Semua terjadi begitu saja tanpa bisa Al tolak. Ayahnya sedang sakit dan dia mau tidak mau harus menuruti keinginan sang ayah.
“Al, ayah tahu ini mungkin tidak adil bagi kamu. Tapi, hanya kamu yang bisa menjaga Erica dan membuat hutang budi ayah pada almarhum ayah Erica lunas.”
“Kenapa bukan Travis dan Nick?” Al bertanya dengan emosi tertahan. Dia tidak ingin menyakiti ayahnya.
“Karena pada saat itu hanya kamu yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan Erica. Kalian hanya berbeda empat tahun. Jarak Erica dan Nick tujuh tahun sedangkan Travis—sepuluh tahun. Dan ayah hanya berpikir kalau kamu cocok dengan Erica.”
“Kami akan sangat senang kalau kamu menikah dengan Erica, Al.” Kata mamah penuh harap pada putra bungsu kesayangannya itu.
“Kamu tahu, kekayaan yang kita dapatkan adalah sebagian modal bisnisnya dari ayah Erica. Dia membantu Papah hingga kita menjadi salah satu orang terkaya di negeri ini.
“Kita berhutang pada keluarga Erica.” Imbuh Mamah.
Al tidak bisa menolak keinginan orang tuanya.
“Tapi, Nick belum menikah.”
“Tak apa. Kakakmu itu kan memang tidak ingin berkomitmen. Dia menyukai kebebasannya tanpa terikat dengan siapa pun.” Kata Mamah yang memberikan hak kepada Nick untuk memilih keinginannya sendiri, berkomitmen ataupun tidak.
“Oke, Al setuju. Tapi...” Al menggantungkan kalimatnya.
“Tapi apa?” desak Mamah.
“Al ingin mengenal Erica dulu. Beri kami waktu tiga bulan—“
“Tidak, Al. Itu terlalu lama. Hanya satu minggu.”
“Apa?!” Al membelalak terkejut. “Satu minggu?”
Mamah mengangguk. “Dalam satu minggu Mamah akan mempersiapkan pernikahanmu. Jangan menolak pernikahan ini atau ayahmu akan kembali sekarat.” Ancam Mamah yang sukses membuat Al menyetujui pernikahan tanpa penolakan.
“Ayah sudah tua dan sering kesakitan. Dalam waktu sebulan saja ayah bisa keluar masuk rumah sakit beberapa kali, Al. Ayah ingin melihat kamu menikah dan Erica adalah pengantin wanita yang sudah kami pilihkan untukmu.”
***
Erica mencepol asal rambut hitam legamnya sebelum membaca surat perjanjian dari Al. Dia meraih surat perjanjian itu dan membacanya. Semua point dari surat itu masih bisa Erica maklumi. “Kenapa semua pointnya tidak menguntungkan Al dan merugikan aku ya.” Gumamnya heran sendiri. tidak ada pembahasan yang menyangkut hubungan intim. Erica bernapas lega dan tanpa pikir panjang menandatangani surat perjanjian map biru itu.
“Dasar pria bodoh,” umpatnya dengan hati riang karena kemungkinan Al tidak membaca surat perjanjian yang dia buat. Tunggu... Al tidak membaca surat perjanjian yang dia buat? Tidak mungkin kecuali kalau bukan Al yang membuatnya.
“Astaga! Kenapa aku berpikir kalau ini adalah surat perjanjian asli. Tidak mungkin Al hanya menyuruhku untuk diam di rumah dan hanya membolehkan memegang tangan dan mencium kening. Aneh! Sedangkan semalam dan hari ini saja pria itu selalu berusaha menyentuhku.”
Erica keluar dari dalam kamarnya dan dia berpapasan dengan Travis. “Kak,” sahutnya ramah.
“Halo, Erica.” Dia tersenyum tipis kemudian kembali melangkah. Beberapa langkah menjauh dari Erica, Travis berhenti kemudian dia berbalik dan mendekat pada Erica. “Apa Noura ada di rumah?”
“Tadi, Noura meminta izin untuk pergi mengurus bisnis katanya.”
“Oh, ya, terima kasih.” Travis mengangguk dan kemudian melanjutkan langkahnya.
Erica dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari rumah tangga Travis dan Noura. Padahal orang tua mereka sangat harmonis di mata Erica. Ketiga pria keluarga Herriot memang aneh. Travis yang dingin bermasalah dengan istrinya, Nick yang slengean dan enggan berkomitmen dan si bungsu Al yang penuh misteri.
Erica berpikir keras, dia takut Al hanya membodohinya dengan memberinya surat perjanjian seperti ini. Ya, pria itu jelas menjebaknya. Itu sudah pasti! Al menginginkannya dan dia membuat dua surat perjanjian yang mana surat keduanya sengaja Al ambil dan pisahkan. Lalu saat dia berhasil menyentuh Erica, dia akan berkata, “Kamu menyetujuinya.”
Salah satu kekurangan Erica adalah dia tidak bisa berpikir jernih saat sedang panik. Dia tidak bisa tenang. Dia meraih tas cokelat kulit mahal pemberian ibu mertuanya dan segera memesan taksi untuk pergi ke kantor Al.
***
Al kembali menyesap kopinya yang mulai mendingin. Dareen menatapnya penuh curiga. “Kamu yakin meninggalkan Cassandra adalah cara terbaik?” tanyanya tidak yakin dengan keputusan Al.
“Aku tidak punya pilihan. Siapa yang memulai mendekatiku dan siapa yang membuatku mabuk? Dia kan? Kenapa dia meminta pertanggung jawabanku?”
“Well, apa kamu tidak mencintainya?” tanya Dareen yang ngeri membayangkan pesan singkat Cassandra.
“Apa artinya cinta kalau aku tidak punya usaha untuk bisa bersamanya?”
“Kalau dia tidak meminta lebih selain kamu tetap bersamanya tanpa meninggalkannya bagaimana, Al?” Dareen tampak khawatir pada kehidupan Al dibandingkan Al sendiri. di banyak situasi Al selalu membantu Dareen dan Dareen merasa dia perlu menyelamatkan kehidupan Al termasuk membuat Cassandra menjauhi Al demi keutuhan dan kebahagiaan Al sendiri meskipun pernikahan Al dengan Erica hanya karena perjodohan.
“Aku tidak bisa.” Al menarik napasnya perlahan. “Aku memang mencintainya, Tapi, aku sendiri tidak sanggup kalau harus tetap berhubungan dengannya di saat aku berusaha untuk membuat Erica jatuh cinta padaku. Aku—“ Al hanya tidak ingin orang tuanya khawatir akan pernikahannya dengan Erica.
“Oke, apa kamu mencintai Erica, Al?” Dareen memiringkan kepalanya, menatap intens atasan sekaligus sahabatnya itu.
“Tidak.” jawabnya. Namun, dia sendiri heran kenapa dia selalu ingin membuat Erica nyaman berada di sampingnya. “Tapi, aku menginginkannya.” Al berkata dengan dahi mengernyit heran.
“Eh? Maksudmu, apa?” tanya Dareen ikut heran.
“Wanita itu membuat aku menginginkannya, kamu tahu, semacam membuat aku penasaran padanya. Cara dia menatapku, cara dia berbicara bahkan saat dia merasa tegang dan marah, membuatku penasaran.”
“Hahaha,” Dareen terbahak. “Itu awal dari jatuh cinta, Al.” Dareen kembali terbahak.
“Oh ya?” Al membayangkan cara Erica menatapnya. Dingin, sedikit ketakutan tapi juga dia dapat merasakan kehangatan wanita itu di balik sikap dinginnya.
“Apa kamu dan Erica sudah—“
“Belum.” Sela Al tanpa menunggu Dareen menyelesaikan kalimatnya. “Tidak semudah itu. Ada saja yang mengganggu. Erica tidak mau melakukannya.”
“Why?”
“Entahlah.”
“Apa dia tidak tertarik denganmu?”
“Tidak mungkin dia tidak tertarik denganku. Itu mustahil. Dia hanya perlu jujur untuk mengakuinya. Mungkin dia munafik.” Sebelah sudut bibir Al tertarik ke atas.
“Kamu mengatainya munafik, haha! Dia istrimu, Al.”
Telepon kantor di atas mejanya berdering. Al menempelkan kop telepon ke telinganya.
“Pak, ada istri Anda di sini. Dia ingin bertemu Anda.”
***