Maafkan Aku.
Gaun pengantin ini terlalu berat.
Bukan karena lapisan satin dan renda yang berlapis-lapis, bukan karena manik-manik mutiara yang menyiratkan cahaya bulan. Beratnya datang dari harapan yang dikhianati, dari janji yang ternyata jerat, dari kenyataan bahwa gaun putih ini kini dihiasi percikan darahku sendiri—keluar dari sudut bibirku yang tersenyum pahit.
Napasku tersengal. Setiap tarikan menusuk sisi kiriku di mana tusukan pedang William telah merobek kulit dan daging. Darah elf. Hijau keemasan di bawah sinar matahari, tapi dalam kegelapan ini, hanya terasa hangat dan licin di antara jari-jariku yang gemetar.
“Mengaku, Hana!” Suara itu memangkas desir angin malam yang membelai rambutku yang panjang. “Akui bahwa racun itu buah tanganmu! Akui bahwa kutukan yang membuat mereka meringis kesakitan itu berasal dari sihir busuk elf sepertimu!”
William berdiri sepuluh langkah dariku, siluetnya tegas melawan langit berbintang. Pangeran Tampan. Calon Raja. Kekasih yang dijanjikan. Pedang peraknya masih meneteskan darahku, diarahkan tepat ke jantungku yang berdetak kencang. Wajahnya, yang biasa menghangatkan bagai mentari musim semi, kini membeku dalam kemarahan dan kebencian yang tak kukenal.
Di bawah sana, dari balik tebing tempat aku berpijak, suara riuh rendah mencapai telingaku yang runcing. Teriakan, ratapan, gemerincing senjata. Istana berduka. Pesta pernikahan kami berubah menjadi malapetaka. Tamu-tamu yang berdansa, tertawa, menikmati hidangan berlimpah, tiba-tiba tersungkur, memuntahkan cairan pekat, dan kulit mereka terukir simbol-simbol hitam.
Racun dan kutukan, katanya. Dan semua mata—termasuk sepasang mata biru yang dulu memandangku dengan kekaguman—beralih kepadaku. Elf dari Hutan Terlarang. Pengantin yang tak pantas. Pelindung hutan yang dianggap penyihir jahat.
Aku menarik napas dalam, meski sesuatu seakan mencekat kerongkongan. “Kau tau itu tidak benar, William,” bisikku, serak oleh darah dan kekecewaan. “Kau yang membawaku ke sini. Kau yang bersumpah melindungiku.”
“Aku tertipu!” hardiknya. Dia maju satu langkah, pedangnya berkilat lebih dekat. “Tertipu oleh kecantikanmu, oleh kata-katamu yang manis. Kau hanya ingin mendekati kerajaan, menghancurkan kami dari dalam!”
Aku melihat ke arah jurang di belakangku. Gelap. Dalam. Jauh di sana, di ujung horizon, bayangan Hutan Aethelvera, rumahku, seperti samar-samar memanggilku dalam duka.
Aku ingat pertama kali bertemu William. Dia tersesat di tengah hutan, terdesak oleh segerombolan serigala. Aku menyelamatkannya dan menyembuhkan lukanya dengan lumut rembulan. Matanya, biru seperti danau di pagi hari, memandangku bukan sebagai monster, tapi sebagai keajaiban. Dia datang lagi, dan lagi, membawa cerita tentang dunia manusia, tentang istana yang megah, tentang keinginannya untuk menyatukan kami. Aku, yang ditugaskan menjaga keseimbangan, telah jatuh cinta padanya.
Perjamuan malam ini seharusnya menjadi puncaknya. Pernikahan simbolis. Elf dan manusia. Hutan dan kerajaan. Gaun ini adalah hadiahnya, ditenun dengan benang emas dan sutra. Dia sendiri yang membantu mengenakannya, ciumannya lembut di pundakku, bisiknya, 𝘒𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘳𝘢𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘏𝘢𝘯𝘢. 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶.
Dan, aku percaya.
Sampai cangkir anggur pertama diangkat, sampai ratu—ibunya—tersungkur pertama kali. Sampai teriakan mencekam memecah musik. Sampai William, dengan wajah pucat dan marah, berbalik kemudian menuduhku dengan mata berkobar. Sampai pengawalnya menyerbu, dan pedang yang seharusnya memotong tali pita pernikahan, justru menembus sisiku saat aku mencoba melarikan diri, menuju satu-satunya jalan yang tidak dijaga: tebing ini.
“Mengaku!” teriaknya lagi. Sekarang hanya berjarak lima langkah. Suaranya pecah, tapi apakah itu kemarahan atau sesuatu yang lain? “Aku akan memberimu pengadilan yang sepadan jika kau mengaku!”
Pengadilan? Aku hampir tertawa. Pengadilan bagi elf di kerajaan manusia hanya punya satu akhir: tiang pembakaran. Atau, lebih buruk, pengasingan kekuatan dan hidup sebagai tahanan.
Darah terus mengalir dari sisi tubuhku. Kekuatanku, sihir hijau yang biasanya menyala-nyala di ujung jari, kini redup, terkuras untuk bertahan, untuk menahan rasa sakit yang menggerogoti. Kutukan? Racun? Itu bukan caraku. Elf Aethelvera menghormati kehidupan, bahkan kehidupan manusia yang serakah. Tapi ada tangan lain di sini. Aroma magi hitam, busuk dan kental, sempat kucium sebelum kekacauan terjadi. Aroma yang samar-samar pernah kuhirup di jubah penasihat pribadi William, Lord Viren.
Namun, apa gunanya sekarang?
Aku melihat ke mata William. Mencari secercah keraguan, kenangan, cinta yang pernah ada. Yang kudapati hanya dinding es yang kokoh. Dia sudah memilih. Memilih tahta, memilih kerajaannya, memilih untuk menjadikanku kambing hitam. Rasa sakit di dadaku melebihi luka di sisiku.
“William,” lirihku, tenang dan terdengar asing di telingaku sendiri. “Hutan Aethelvera tidak akan melupakan pengkhianatan ini.”
Dia terdiam. Genggaman pada pedangnya tampak goyah. “Ini bukan pengkhianatan, Hana. Ini keadilan.”
Keadilan. Kata yang indah untuk membunuh kepercayaan.
Angin bertiup lebih kencang, membelai gaun pengantinku, membawa suara dedaunan dari jauh. Ibu Pohon, mungkin, sedang meratapi nasib salah satu penjaganya. Aku merasakan panggilan itu, lemah, nyata, dari kegelapan jurang. Bebas. Atau mati. Keduanya lebih baik daripada ini.
Dengan sisa kekuatan terakhir, aku merapikan gaunku yang compang-camping, menyeka darah di sudut bibirku dengan lengan yang masih gemetaran. Lalu, aku tersenyum. Bukan senyum sinis atau penuh kebencian, tapi senyum lembut, senyuman yang dulu sering kupakai saat memandangnya di balik rimbun pepohonan, penuh rasa ingin tahu dan harapan.
Itu membuatnya tertegun. Matanya membelalak, sedikit bingung.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya, kehilangan sedikit ketegasan.
Aku tidak menjawab. Alih-alih, aku merentangkan kedua tanganku ke samping, seperti burung yang akan terbang, seperti penerimaan, seperti pelukan terakhir untuk dunia yang telah berubah terlalu cepat. Gaun putihku mengembang, tercoreng darah hijau dan tanah, menari dalam hembusan angin.
“Hana, jangan!”
Terlambat.
Aku memandangnya untuk terakhir kali. Menghirup napas dalam, mencium campuran aroma darahku, malam, dan membawa sisa-sisa ingatanku saat bersama William.
“Tidak ada pengakuan dari diriku, Pangeran,” bisikku. “Hanya kebenaran yang akan kuterjunkan bersama tubuhku.”
Aku menjatuhkan diri ke belakang.
Dunia terbalik. William, wajahnya yang pucat dan terkejut, langit berbintang, tebing batu yang cepat berlalu—semuanya berputar. Angin meraung di telinga, menerbangkan rambutku, menarik tubuhku ke dalam pelukan kegelapan yang dingin.
Tidak ada teriakan. Hanya kelegaan yang tiba-tiba, anehnya.
Lepas dari sakit. Lepas dari pengkhianatan. Lepas dari gaun pengantin yang menenggelamkan impian.
Sebelum kegelapan sepenuhnya menyambut, sebelum tubuhku menghantam sesuatu yang keras di bawah, pikiranku melayang ke aroma lumut rembulan, ke nyanyian ibu pohon, ke hutan yang selalu menungguku.
Dan senyumanku, mungkin, masih terulas.
𝑴𝒂𝒂𝒇𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒖, 𝑨𝒆𝒕𝒉𝒆𝒍𝒗𝒆𝒓𝒂. 𝑷𝒆𝒏𝒋𝒂𝒈𝒂𝒎𝒖 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒕𝒖𝒉.
Namun, ini bukanlah akhir. Kegelapan itu berkata, semua hanyalah awal yang tertinggal.