PART 7

1174 Kata
“Aurora Evellina.” Panggilan untuk wanita itu pun terdengar. Aurora pun berdiri dari tempat duduknya dan mulai memasuki ruangan yang sama saat wanita yang turut mendaftarkan diri untuk menjadi sekretaris si CEO. Bayangkan saja Aurora harus bersaing dengan empat puluh sembilan wanita dan tentunya dari sebanyak itu akan hanya satu yang diterima. Dan wanita itu yakin dia hanya menunggu waktu untuk disingkarkan. Sial, bau kopi masih ada di sekitar dirinya. Ini semua gara-gara pria yang tadi menyebabkan dia jatuh. Sudahlah, sekarang dia harus menyelesaikan interview dulu dengan sang CEO. Untuk HRD, dia sudah melakukan tesnya dan untungnya semua bisa wanita itu lewati. “Masuk.” Terdengar suara khas seorang pria dewasa dari dalam sana. Aurora pun segera memasuki ruang sang CEO dan mencoba menetralkan rasa gugupnya. Tidak, dia harus terlihat pede, inilah salah satu harapannya untuk bisa memiliki kehidupan yang lebih layak. Aurora pun berjalan ke meja besar di depan sana yang pastinya tempat pengeksekusian terakhirnya. Dilihatnya sang CEO membelakangi tubuhnya, pria di sana entah sedang apa Aurora pun tidak tahu. “Nona Aurora Evellina,” ucap pria di sana yang belum sama sekali dia lihat rupanya. Wanita itu pun membenarkan perihal namanya sendiri. Dan dia sedikit tidak senang ketika melihat calon atasannya seperti tidak menghargai orang lain. Lihat saja, bahkan beliau tidak mempersilakan wanita ini duduk. Apakah seperti ini prosedur interview dalam suatu perusahaan? Aurora pun tampak bosan terlebih lagi pria di sana malah diam dan tidak mengucapkan kata apa pun setelah menyebutkan nama lengkapnya. Orion membaca profil wanita yang menarik perhatiannya. Awalnya dia sedang menunggu siapa wanita yang bertemu dengannya di toilet tadi. Yang berani mengabaikan dan menghiraukannya. Sebelumnya tidak pernah ada satu orang wanita pun yang berani mengabaikannya seperti ini. Wanita ini berbeda, cukup menarik bagi Orion untuk dicoba. Lantas keberuntungannya pun datang saat melihat foto wanita itu di profil yang sudah Pram siapkan. Aurora, nama yang cukup bagus. “Selamat kamu diterima di perusahaan ini,” kata Orion tenang sambil membalikkan kursi singgasananya. Aurora pun dibuat syok kala kursi itu berputar dan menghadap dirinya. “Anda?” Bukankah ini Mas yang tadi di toilet? Kenapa dia ada di sini? Jangan-jangan .... “Oh iya saya lupa. Perkenal nama saya Orion Aldebaran CEO dari perusahaan ini,” ujar Orion dengan pedenya sambil meletakkan map yang berisi profil wanita di depannya ini. Dia sudah mendapatkan sekretaris barunya. “Nona Aurora?” Panggilan Orion membuat hayalan wanita itu buyar. “Maaf? Anda mengatakan sesuatu?” tanya Aurora yang mengetahui keteledorannya. Bagaimana bisa dia tidak fokus saat dalam inteview kerja seperti ini. Interview? Bahkan dia saja belum dipersilakan untuk duduk. Haruskah dia meminta pria di depan sana untuk mempersilakan dia untuk duduk? “Silakan duduk Nona Aurora. Interview kerja kita masih berjalan,” jawab Orion bermaksud menyindir wanita di depannya untuk lebih fokus. Aurora pun mengangguk dan mulai mengambil tempat percis di depan Orion. Gugup? Tentu saja, apalagi ketika Aurora mengingat tadi dia memaki seorang CEO. Sial, namun dia tidak merasa bersalah karena bajunya menjadi kotor karena kesalahan pria di depannya ini. “Nama saya Orion Aldebaran selaku pemilik sah perusahaan ini. Mulai besok Anda sudah bisa bekerja menjadi sekretaris saya,” jelas Orion yang membuat isi kepala Aurora menjadi blank. Ini serius dia diterima bekerja? Dengan tes seperti ini? Semudah ini? Aneh. Namun, dibalik keanehan itu, Aurora pun mengangguk dan menerima uluran tangan Orion yang ia ketahui sebagai pemilik perusahaan ini. Ya, kehidupannya akan lebih baik nantinya jika bekerja di sini. Aurora yang terhanyut dengan lamunannya pun tidak sadar jika Orion tengah menuju ke tempat dirinya duduk. Memandang wanita itu dengan memuja. Biasanya Orion lah yang dipuja oleh para wanita, namun sekarang malah terbalik. “Eh?” Wanita itu nampak terkejut kala merasakan sentuhan di bahunya. Wanita itu pun menengok dan mendapati Orion di sebelahnya sedang memandangnya secara terang-terangan. Pandangan itu lagi, Aurora sangat membenci pandangan pria yang memandangnya seperti ini. Mereka seperti menelanjanginya dengan terang-terangan padahal saat ini dirinya sedang memakai pakaian lengkap meskipun pakaian kurang bahan. “Anda melamun Nona. Tidak baik melamun di saat seperti ini, nanti Anda bisa kerasukan,” ucap Orion yang membuat Aurora mendelik kepada pria itu. Pemikiran seperti apa itu? Di jaman sekarang masih saja percaya tahayul. “Maaf, Pak. Besok-besok saya tidak akan melakukan itu lagi,” balas Aurora yang diangguki saja oleh Orion. “Bibir ini,” kata Orion tiba-tiba sambil memegang bibir wanita itu dengan usapan lembut. Tentu saja wanita itu terkejut mendapat serangan seperti ini dari orang yang baru ia kenal. Bahkan mereka baru dua kali bertemu dalam sehari. Aurora ingin memberontak namun entah kenapa tubuhnya terasa kaku terlebih lagi ketika Orion dengan berani mecondongkan dirinya ke tubuh Rora. “Bibirmu sangat menggoda,” bisik Orion s*****l di telinga Aurora yang membuat wanita itu menjadi geli sendiri. Dengan sedikit dorongan, Aurora pun menjauh dari tubuh Orion. “Maaf, Pak, ingat batasan Anda,” ingatkan wanita itu secara profesional. Baru saja dia diterima kerja namun Orion sudah bertindak kurang ajar seperti ini. Dasar pria mata keranjang. Orion yang mendengar perkataan sekretaris barunya pun menjadi tertawa sendiri. Batasan? Dia tidak kenal dengan yang namanya batasan. Yang dia tahu apa pun yang dia mau pasti terwujud. “Menarik,” kata Orion yang memperhatikan Aurora kembali membuat wanita ini merasa tidak nyaman. “Saya suka baju yang kamu pakai. Mulai besok dan seterusnya pakailah pakaian seperti ini.” Aurora mendelik mendengar perintah dari atasannya ini. Pakaian seperti ini? Tidak. Dia hanya akan sekali memakai pakaian seperti ini. Cukup sudah dia dilihat secara terang-terangan oleh karyawan di dalam kantor ini. “Maaf, Pak. Untuk itu saya tidak bisa melakukannya. Hanya hari ini saya memakai pakaian seperti ini. Besok dan seterusnya saya akan memakai pakaian yang lebih sopan,” jawab Aurora yang mencoba untuk terlihat tetap sopan tanpa mengurangi rasa ketidaksukaannya dengan tatapan yang diberikan oleh pria ini. “Kenapa begitu? Ini perintah dari saya selaku atasan kamu. Apa kamu berani menolak perintah saya?” tanya Orion menggunakan alpa tone nya. Apa yang dia inginkan selalu dia dapatkan bukan? Termasuk Aurora tentunya. “Tapi, Pak, ini h–mmmppphh.” Orion yang kesal mendengar penolakan dari wanita ini pun segera membungkamnya. Tentunya bibir mereka saling bertemu dengan Aurora yang tampak terkejut dan syok hingga tubuhnya menegang. Ini gila! Mereka baru hari ini dan pria di depannya sudah berani melakukan ini kepada dirinya. Aurora yang sudah mencapai kesadarannya pun dengan sigap mendorong Orion sekuat tenaga. Pria itu malah menyeringai sambil melihat Rora yang mengatur napasnya. “b******k!” maki Auora yang sudah tidak peduli jika di depannya ada pemilik perusahaan ini. “Ingat batasan Anda, Pak. Atau saya akan melaporkan tindakan ini sebagai pelecehan,” ancam wanita ini yang membuat Orion terkekeh geli. “Saya melakukan apa yang sudah kamu suruh Nona,” jawab Orion santai. “Bibir kamu memanggil-manggil saya dan tentu saja diri saya pun tak tahan untuk mencicipinya. Manis,” lanjut Orion sambil mengusap salivanya yang masih tertinggal di bibir merah jambu itu. Aurora pun reflek mendorong tangan Orion yang semakin kurang ajar kapada dirinya. “Breng–mmmppphh.” Lagi dan lagi Orion menyumpal mulut Aurora yang memaki dirinya. Dari pada mulut itu digunakan untuk memaki, alangkah lebih baik jika Orion menyumpalnya dengan ciuman panas yang sudah dia kuasai. Aurora memberontak dan mendorong d**a Orion agar melepaskannya namun Orion tentu semakin memperdalam ciuman keduanya dan tak membiarkan wanita ini untuk telepas darinya. “Your mine,” bisik Orion di sela-sela ciumannya yang membuat wanita itu pun nampak terkejut. “Yak! Dasar gila!” teriak Aurora tepat di muka atasannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN