"Bulan!" Berlian di depan gerbang melambaikan tangannya, gadis itu berlari menyusul Bulan.
"Tumben berangkat naik angkot lagi? Nggak sama Alam?" tanya Berlian.
Bulan mendengkus kasar. Masih ingat sekali kalau dia dan Alam ada masalah. "Bosen aja," alibi Bulan.
Berlian langsung memicingkan mata, menatap Bulan dengan menyeledik. "Gue ramal, kalian pasti lagi berantem," kata gadis itu dengan wajah percaya akan ramalannya.
"Sotoy lo." Bulan mendorong dahi Berlian dengan tawa pelan dan berlalu dari sana. Melihat itu Berlian langsung menyusul Bulan lagi.
Sepanjang koridor keduanya bercanda seperti biasa, apalagi kedua sahabat mereka datang menyusul. Yaitu Janur dan Uteh, alhasil keempatnya berjalan menuju kelas mereka.
"Eh, bentar." Bulan menghentikan langkahnya, sontak membuat langkah ketiga temannya ikut berhenti juga.
Bulan berdecak setelah membaca pesan dari Papihnya.
"Kenapa?" tanya Uteh seraya merasa sahabatnya itu. Cowok itu ikut membaca pesan di ponsel Bulan.
Uteh tersenyum maklum membaca pesan itu yang lebih tepatnya adalah pesan ancaman bila Bulan tidak mengikuti keinginan pria itu.
"Datang aja, daripada lo dapat masalah," saran Uteh. Cowok itu bahkan mengusap rambut Bulan dengan gemas.
"Tapi kan, ish! Kalian tau kalo gue nggak suka dateng ke acara begituan," gerutu Bulan.
Janur yang sedari diam dengan wajah kantuknya, tiba-tiba membuka suara. "Kalo nggak suka ngapain lo datang? Bikin sakit hati aja nanti, ya."
Berlian menatap Bulan. "Tapi kalo Bulan nggak datang, pasti Papihnya gunain Mamih Bulan sebagai kelemahan Bulan," ujar Berlian penengah.
Bulan menghela napas. Hendak menjawab, tetapi tak jadi karena tangannya tiba-tiba di tarik oleh seseorang.
"Eh, eh, mau ke mana ini?" tanya Bulan panik. Dia menoleh ke belakang menatap tiga temannya. Hendak meminta pertolongan, tetapi Alam terlanjur membawanya ke belakang sekolah dan langsung mengurungnya dengan kedua tangan cowok itu.
"Lo kenapa, sih?" tanya Bulan heran, gadis itu sibuk mengusap pergelangan tangannya karena sakit akibat pegangan Alam terlalu kuat.
"Kenapa lo pergi sendiri ke sekolah? Sengaja menghindar, hm?" Alam balik bertanya.
Suasana hati Bulan yang dari malam tadi menang tak baik, di tambah pesan dari Papih yang buat Bulan semakin badmood dan sekarang Alam malah menambah masalah baru.
"Gue lagi nggak mood bahas masalah kemarin malam," ujar Bulan dengan mata menatap ke arah lain.
Alam menggeram pelan. Tangannya langsung memegang dagu Bulan, agar gadis itu menatap ke arahnya. Tidak tahu kalau cengkeraman tangannya di dagu Bulan, menimbulkan rasa sakit.
"Masalah tetap masalah. Dan gue mau selesaikan semuanya pagi ini juga," tekan Alam.
Bulan menepis tangan Alam dari dagunya. "Mending hubungan kita aja yang selesai, Lam. Udah nggak ada alasan buat lanjutinya. Gue terlanjur sakit hati karena tau, kalo lo sebenarnya jadiin gue pelampiasan," balas Bulan telak.
"Harus, ya, gue nggak percaya sama lo. Karena umumnya, semua laki-laki itu sama saja," lanjut Bulan.
"Sama apa?"
"Sama-sama tukang selingkuh, pengkhianat dan suka mainin hati perempuan," balas Bulan menjawab pertanyaan bodoh dari Alam tadi.
"Kita putus aja," telak Bulan.
Alam langsung menggeleng ribut. "Nggak gue nggak mau! Lo nggak boleh ambil keputusan sepihak," sangkal Alam.
"Gue udah nyaman sama lo, Bulan. Nggak semudah itu mengakhiri hubungan ini," ujar Alam memelas.
"Lebih baik diakhiri sekarang, sebelum gue makin jatuh ke lobang sakit hati dari perbuatan lo," balas Bulan.
Alam langsung menangkup wajah Bulan. Mengusap pipi gadis itu sengan lembut. "Nggak boleh! Sampai kapanpun, lo itu milik gue."
"Egois," cibir Bulan.
Keduanya terdiam berapa saatm sebelum Alam kembali bersuara.
"Jangan putus, ya," ujar cowok itu memohon.
Bulan mendengkus pelan. "Kasih satu alasan agar gue tetap bertahan di sisi lo," tandas Bulan.
Tak ada jawaban dari Alam. Membuat Bulan semakim tersenyum miris. Tak apa, hatinya sudah terbiasa disakitin.
Jangan Alam saja. Papih dan kedua abang kandungnya, bahkan dengan mudahnya menyakiti hati Bulan.
"Nggak ada alasannya, kan?" tanya Bulan menantang.
Gadis itu melepaskan tangan Alam dari wajahnya hendak pergi dari sana.
"Ada alasannya! Gue mulai cinta sama lo," ujar Alam tegas.
Bulan langsung berbalik dan bersedekap. "Gue nggak percaya. Mungkin rasa cinta lo sama gue, cuman sementara sekarang."
"Lo salah! Selama ini cuman lo dan Dara yang bikin hidup gue nggk menentu." Alam maju melangkah. "Sekarang gue sadar, kalo lo lebih penting dari pada adek gue sendiri." Tak sempat menjawab lagi, Alam buru-buru membungkam mulut Bulan dengan bibirnya.
Membuat Dara yang menjadi saksi di sana, mengepalkan tangan dengan mata memerah. Matanya menyorot benci ke arah Bulan.
"Tunggu aja waktu, ya, Bulan." Dara berlalu dari sana.
Sedangkan Alam langsung melepaskan ciumannya dari Bulan ketika melihat Dara sudah pergi.
Karena kebenarannya, Alam hanya ingin membuat adiknya sadar, kalo hubungan mereka itu salah. Dan sekali tanpa sadar memperlakukan Bulan sebagai pelampiasannya.
"Semua laki-laki itu nggak sama, Lan. Percaya sama gue, kalo di hati gue sekarang cuman ada lo." Alam membawa satu tangan Bulan dan menaruhnya di dadaa cowok itu. "Tetap jadi pacar gue, ya."
Dan bodohnya, Bulan kembali percaya dan pada akhirnya akan menyesal karena sudah mempercayai seorang Alam yang mengatakan bahwa semua laki-laki itu berbeda. Tidak sama.
Iya, berbeda dalam memberikan rasa sakit hati.
***
"Lo bodoh atau bego, sih?"
Bulan cukup terkejut akan pertanyaan dari gadis di sampingnya itu.
"Maksud lo?"
Dara tersenyum sinis, di sisi kiri dan kanannya ada Angel dan Laras.
"Udah jelas-jelas tau kalo Alam itu cuman jadiin lo sebagai pelampiasan. Dan bego, ya lo tetap mau berada di samping cowok itu," ujar Angel.
Bulan menatap jengah ketiganya. Dalam hati Bulan merutuk karena melarang Berlian untuk menemaninya ke toilet tadinya. Dan akibatnya, Bulan malah bertemu dengan tiga iblis berbentuk manusia ini.
"Sebelum ngomong, kalian harus tau faktanya dulu." Bulan bersedekap, tidak ada sorot mata takut akan di serang oleh tiga gadis itu. Kalau mereka serang, ya Bulan balas lah!
"Siapa yang nahan gue buat bertahan di sisi Alam? Kalo bukan Alam sendiri?" Bulan menatap Dara dengan santai. "Gue juga tau, kalo lo dalang di balik semua ini. Lo juga yang udah kirim foto malam tadi, biar gue bisa putus sama Akan langsung. Tapi apa? Malah Alam yang nahan gue, biar kita nggak putus."
Bulan semakin menyeringai. "Lo juga pasti tau, Dar. Karena lo dengar semua pembicaraan gue sama Alam di belakang sekolah pagi tadi."
Dara langsung memucat, sial! Sepertinya dia salah musuh kali ini, rutuknya dalam hati.
Bulan melangkah ke depan Dara. Hendak memegang rambut gadis itu, tapi langsung di tepis sang empu. Bulan tersenyum kecil.
"Gue bukan lawan yang sebanding sama lo, Dar. Karena gue bukan seorang protagonis yang mudah ditindas sama orang-orang kayak kalian," katanya menatap benci ke arah tiga gadis itu.
"Alam cuman milik gue," tanda Dara tiba-tiba.
"Oh, ya?" tanya Bulan dengan tawa di buat-buat.
"Posesif banget sih," ejek Bulan.
Menjadikan Dara semakin jengkel dibuatnya. Dara mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"Sampai kapanpun, gue nggak akan biarin Alam jatuh ke tangan cewek kayak lo. Alam cuman punya gue," tekan Dara.
Bulan mengangguk saja. "Terserah lo, sih! Tapi gue cuman mau bilang. Kalo lo dan Alam itu sedarah, kalian nggak bisa bersatu sampai kapanpun itu." Bulan tersenyum culas.
Tak mau kalah, Dara kembali menjawabnya. "Kita lihat, siapa yang bakal menang diantara kita. Lo atau gue," ujar Dara menantang. Gadis itu sengaja menyenggol bahu Bulan dan keluar dari toilet, yang langsung diikuti oleh Angel dan Laras.
Bulan mengusap bahunya yang disenggol Dara tadi. "Masih kecil aja udah kayak gini. Gimana besarnya nanti," gumam Bulan.