Jadi anak bungsu itu enak tidak enaknya harus di jalani. Dulu sebelum Papih selingkuh, Bulan sangat menyukai keluarganya. Apalagi mendengar kabar kalau Mamih sedang hamil lagi.
Bulan senang bukan main. Sayangnya, itu tidak berangsur lama, ketika Mamih jatuh dari tangga dan keguguran. Mamih sempat depresi, mungkin karena itu Papih jenuh dan malah melampiaskan dengan berselingkuh.
Penyebab itulah membuat Mamih Bulan semakin kacau. Apalagi sang Papih menuntut perceraian. Hingga Mamih rela sujud di kaki Papih untuk tidak bercerai. Dan Bulan adalah saksi dari perceraiannya itu.
Sayang seribu sayang. Kedua Abang Bulan tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka bertiga kecewa pastinya. Akan tetapi, Bulan tetap berada di sisi Makih hingga sekarang.
Tidak seperti kedua Abangnya, yang malah sudah berumah tangga. Dan Bulan sangat membenci istri-istri Abangnya itu. Entah kenapa Bulan selalu dikelilingi oleh orang jahat.
"Sudah, Nona." Bulan tersentak dari lamunannya.
Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin. Sangat cantik ketika di make up-in begini.
"Baju gue mana?" tanya Bulan ke pegawai yang dipercayakan oleh Papih untuk menyiapi ya, karena akan datang ke acara ulang tahun perusahaan pria itu.
"Ini, Non." Bulan menerima dress selutut berwarna dusty pink itu. Dan memakainya di kamar mandi.
Sebelum pergi ke pesta, Bulan menyempatkan untuk menemui Mamihnya yang sibuk melamun. Berpamitan sebentar, barulah Bulan diantar pergi oleh supir pribadi mereka.
Cukup memakan waktu setengah jam, barulah Bulan sampai di lobby kantor yang sudah di dekor. Bulan masuk ke dalam, banyak rekan kerja Papih yang berdatangan dan sebagian dari tamu, sudah Bulan duga kalau itu adalah tamu sepertemanan Ibu tirinya.
"Akhirnya kamu datang, Bulan." Suara Papih tidak berubah. Pria itu masih berwibawa seperti dulu. Hanya saja sekarang sudah takluk di bawah perintah iblis betina itu alias Ibu tiri Bulan.
"Kamu apa kabar, sayang?" tanya Papih.
Bulan menarik ujung bibirnya. "Baik," balasnya. "Kabar Papih gimana?" tanya Bulan balik, sudah ada dua bulan mereka tidak bertemu.
Bukan tak mau menemui Papih, hanya saja Bulan terlalu malas.
"Semakin baik setelah melihat kamu datang ke acara ini," balas Papih. Bulan tersenyum saja. Sebelum akhirnya dia diajak bertemu dengan rekan kerja Papih.
Selama mengikuti Papih, Bulan tidak melihat keberadaan Mamih tirinya yang entah di mana. Baiklah, Bulan suka jika tidak ada si pelakor itu.
Bulan benci pelakor.
"Pih," panggil Bulan.
"Kenapa sayang?" tanya Papih. Wisnu itu nama Papih Bulan.
"Capek," keluh Bulan karena sejak tadi berdiri terus.
Wisnu jadu merasa bersalah. "Maaf sayang, Papih lupa kamu dari tadi belum duduk. Kamu duduk aja di sana dulu," tunjuk Wisnu ke meja bundar yang terlihat kosong.
Bulan mengangguk saja dan segera duduk di satu kursi sana sambil menikmati minum dan alunan musik lembut yang di putar selama acara.
Dari kejauhan Bulan melihat Papih masih bercengkrama dengan rekan-rekan kerjanya. Awalnya Bulan merasa suka di sini karena tak ada di usik. Akan tetapi, itu tak berangsur lama karena seseorang datang.
"Kamu datang ternyata, saya pikir enggak."
Wajah Bulan langsung datar melihat orang itu. Bulan tetap mencoba santai dan meneguk minumannya.
"Gimana kabar Mamih kamu?" Resta sanga Ibu tiri bertanya.
"Semakin membaik," sahut Bulan. "Kenapa tante? Tante kelihatan nggak suka lihat Mamih saya sembuh," tanya Bulan melihat perubahan mimik wajah wanita itu.
Resta tersenyum simpul. "Saya hanya menunggu dia kembali ke sisi Tuhan," ujarnya enteng.
Tanpa sadar Bulan menggenggam erat gelas yang dia pegang. Suasana kembali mencengkram, tetapi situasi itu berubah ketika salah satu Abang Bulan datang.
"Lan, di panggil Papih ke sana," ujar Arlan.
Bulan langsung berdiri untuk menghampiri Papihnya.
"Jangan buat masalah!" bisik Alam memperingati, sebelum Bulan benar-benar menghampiri Papih mereka.
"Heem," sahut Bulan tidak minat. Kalau ada yang memancing amarahnya di sini, Bulan tak tanggung-tanggung akan membuat keributan di acara ini.a
"Kenalin, ini Bulan anak perempuan saya satu-satunya." Wisnu memperkenalkan Bulan sama seperti ke rekan-rekan yang lain. Bulan hanya bisa tersenyum canggung dan berkenalan dengan pria paruh baya yang dia tebak seumuran dengan Papih.
"Cantik anak kamu," puji orang itu.
Bulan tersenyum malu dan membungkuk sedikit. "Terima kasih, Om atas pujiannya. Memang faktanya saya cantik, seperti Mamih saya," balas Bulan.
Tawa rekan kerja Wisnu terdengar. Pria itu menatap Bulan kagum.
"Lihatlah, Wisnu. Anak kamu sama seperti mu yang selalu percaya diri," ujarnya.
Wisnu ikut tertawa seraya mengusap kepala Bulan.
"Pa."
Bulan mengalun pandangannya ke sosok yang baru saja datang, mengenakan jas hitamnya. Sangat cocok di porsi tubuh laki-laki itu. Sesaat Bukan terpaku.
"Adik kamu mana?" tanya pria yang berkenalan dengan Bulan tadi.
"Ke toilet temenin Mama," sahut sosok itu yang juga menatap Bulan.
"Oh, kenalin, Lam. Ini Bulan anaknya Om Wisnu yang punya acara malam ini," ujar Papa Alam.
Alam mengangguk pelan. "Kita udah kenal, Pa. Satu sekolah juga," ujar Alam.
"Oh, ya?" Wisnu langsung menoleh ke Bulan. "Iya, sayang? Kamu satu sekolah sama Alam?"
"Iya, Pa," sahut Bulan seadanya.
Alam tersenyum jadinya. Lewat dari sorot matanya Bulan jelas tahu kalau cowok itu ingin mengatakan ke para tetua bahwa mereka itu sepasang kekasih. Akan tetapi, Bulan menggeleng pelan untuk melarang cowok itu.
***
"Lo nggak pernah bilang kalau lo itu anaknya Om Wisnu."
Bulan menoleh ke Alam. "Lo nggak pernah nanya juga," sahut Bulan.
Menjadikan Alam mendengkus geli karena apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya. Alam mengulum bibirnya, hendak menanyakan sesuatu, tapi dia urungkan karena takut menyakiti hati gadisnya ini.
"Lo kelihatan makin cantik malam ini," celutuk Alam tak mengakui pandangannya sama sekali dari Bulan. Keduanya duduk tak jauh dari para tetua yang sibuk berbincang akan bisnis.
"Makasih. Papa lo juga bilang tadi, kalo gue cantik," jawab Bulan.
"Sial!" Alam sontak mengumpat membuat Bulan terkejut bukan main. Tapi tak berapa lama Alam tertawa pelan. "Berarti gue keduluan sama Papa sendiri, bilang lo cantik," ujarnya.
Bulan jadi tersenyum geli. "Lo juga tampan malam ini." Bukan menunjuk jas yang dikenakan Alam. "Apalagi pake jas begitu, lo makin kelihatan berwibawa. Dari dulu gue suka lihat Papih pake jas, dan sekarang lo orang kedua yang gue suka kalo lagi pake jas," jelas Bulan panjang lebar.
Alam jadi menaikkan satu alisnya. "Makasih pujiannya tuan Putri," ujar Alam tulus. Membuat Bulan kembali tertawa.
Dan itu tak luput dari perhatian Dara yang sialnya ditahan oleh Mamanya untuk menghampiri Alam.
"Mama baru lihat Alam tertawa lepas sama gadis lain, selain kamu, Dar," ujar Dera.
"Biasa aja, sih," ketus Dara. Dia sudah pamas dingin melihat Alam semakin dekat dengan Bulan. Kalau begini Dara harus menggunakan satu cara untuk merebut Abangnya itu lagi.
Dera mengernyit heran. "Kamu kenapa? Kayak nggak suka lihat Abangmu deket sama gadis lain," ujar wanita itu.
"Ya, emang nggak suka." Dara menjawab dengan ketus lagi. "Udah, ah! Semuanya ngeselin malam ini," ucapnya. Tanpa mendengarkan panggilan dari sang Mama, Dara memilih pergi dari kerumunan sana.
"Itu anak kenapa, sih," gerutu Dera. Tak memperdulikan Dara yang menganbek tak jelas, Dera memilih menyusul Alam untuk berkenalan dengan gadis bersama anak laki-lakinya itu.
"Alam!" panggil Dera.
"Ma." Alam langsung berdiri. Membuat Bulan mengernyit dan refleks ikut berdiri juga.
"Halo, cantik," sapa Dera lembut. "Kenalin saya mamanya Alam." Dera menjulurkan tangannya yang disambut oleh Bulan dengan kikuk.
"Bulan, tante."
"Wah ...." Dera berdecak kagum. "Cantik namanya."
Malam itu diselingi candaan, Dera bergabung dengan dua remaja itu. Berbicara banyak bersama Bulan sementara Alam janya menimbrung saja.
Sebelum Alam tiba-tiba bangkit karena terlalu kaget mendapati sebuah pesan. Tanpa mengatakan apapun pada dua perempuan itu. Alam berlari dengan tergesa-gesa rusak peduli beberapa orang yang dia langgar.
Isi pesan: gue wanda, adek lo lagi sama gue. Dtg kalo lo nggak mau kenapa-kenapa.
Tanpa menyelidiki lebih dulu, Alam langsung tancap gas menuju tempat yang sudah dikirimkan oleh musuhnya itu. Amarah Alam seakan meledak saat itu juga, saat dia tahu si Wanda kembawa Dara ke sebuah hotel.
Alam terlalu bego, hingga dia tidak tahu kalau semua itu hanya jebakan semata.