Dara turun dengan wajah masamnya. Alam mungkin sudah pergi ke kantor, terbukti suara mobil suaminya itu baru saja terdengar. Dara kembali duduk di kursi makan, membuat Dera mengernyit melihat wajah putrinya. "Kamu kenapa?" tanya Dera. Dara mendengkus panjang. "Aku curiga sama mas Alam, Ma." Dara bertopang dagu di atas meja. "Curiga kenapa? Kalian harus saling mengerti dan terbuka," jelas Dito. Pria itu sibuk membaca koran. Dara mengerucutkan bibirnya. "Masa mas Alam tiba-tiba ganti nomor pin ponselnya," sungutnya. Dera merotasikan bola matanya. "Cuman itu, jangan diperbesar. Mungkin Alam ada alasan lain karena nuker nomer pin, ya," balas wanita itu. "Iya," sahut Dito cepat. Pria itu mengangguk. "Papa bisa pastiin kalo Alam nggak bakal berani nyakitin kamu," jelasnya. "Masa sih?" ta

