"Lo gila!" Bulan langsung mendorong dadaa Alam untuk menjauh setelah cowok itu mencium keningnya.
Bulan tertawa pelan kemudian menggeleng. "Lo ngungkapin cinta seenak itu," ujar Bulan seperti tak menduga, Alam dengan begitu gampang mengajaknya pacaran.
"Gue serius, Lan," sergah Alam cepat. Mengambil tangan Bulan kembali dan menggenggamnya erat. "Perasaan gue udah nggak bisa dibendung lagi." Alam menatap lekat mata Bulan.
Gadis itu langsung menoleh ke arah lain. Seperti enggan menatap mata kelam Alam terlalu lama.
"Gue nggak bisa jawab sekarang," balas Bulan. "Kasih gue waktu buat mikir," sambung gadis itu.
Alam tersenyum cerah, cowok itu langsung mengangguk. "Gue tunggu sampe besok di sekolah. Gue harap lo bisa kasih jawaban yang bisa bikin gue seneng," ujar Alam.
Bulan tak menjawab, malah melepaskan tangan Alam. "Mending lo pulang, udah malem gini," ujar Bulan.
Seakan tak mendengar, bukannya pergi. Alam malah semakin mendekati gadis itu, membuat Bulan sempat kalut jadinya. Alam pun menatap situasi, melihat keadaan sekitar. Tidak ada orang. Maka mengambil kesempatan, Alam mencium bibir Bulan cepat.
Tak peduli gadis itu malah membeku di tempatnya. "Malam calon pacar," ujar Alam setelah melepaskan tautan bibir mereka. Mengacak rambutnya Bulan dengan gemas dan berlalu dari sana.
Seperginya Alam. Bulan mendesis pelan dan memegang bibirnya yang sudah tak suci lagi karena perbuatan seorang Alam.
"Sial!" rutuk Bulan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah lagi.
Begitu hendak menaiki anak tangga pertama, Bulan terbelalak mendengar suara benda yang seperti sengaja dibanting bersamaan dengan teriakan seseorang.
Buru-buru Bulan berjalan cepat ke kamar maminya. Gadis itu seakan tak takut malah masuk ke dalam kamar itu.
"Mi," cegah Bulan menahan tangan sang Mami yang hendak melemparkan lampu tidur.
Wanita dengan rambut disisir rapi itu, Bulan yang menyisirnya tadi. Menatap Bulan dengan mata terbelalak. Setelahnya memegang kedua bahu Bulan, menatap gadis itu dengan menuntut.
"Mana Papih kamu? Mana, Bulan?" tanya wanita itu. Bulam terdiam tak bisa menjawab.
Mamih Bulan kemudian mengacak rambutnya dengn frustasi. "Mamih udah nungguin dari tadi! Tapi Papih kamu nggak pulang juga! Mamih kangen sama dia," ujar Seri— Mami Bulan.
"Mi, Mamih tidur dulu, ya. Papih pasti pulang kok," ujar Bulan lembut. Hampir setiap malam Bulan selalu begini. Jika ditanya lelah? Bulan pasti jawab iya. Akan tetapi, demi Ibunya Bulan tak ingin merasa lelah.
"Bohong!" Seri berteriak kencang di depan wajah Bulan, menjadikan gadis itu menutup matanya sesaat. "KAMU BOHONG! KAMU SEMBUNYIKAN KE MANA PAPIH KAMU ITU, HAH?!" amuk Seri. Wanita itu kembali mengguncang bahu Bulan.
Sehingga membuat Bulan kewalahan hanya untuk membuat sang Mami tenang. Hingga saat itu, Seri seakan sengaja mendorong tubuh Bulan. Membuat pelipis gadis itu tak sengaja terkena ujung tempat tidur.
"Mamih," panggil Bulan saat maminya hendak keluar kamar.
Tak bisa dicegah, wanita itu tetap kuar dari kamar. Berjalan ke ruang tengah dan melemparkan segala macam benda ada di sana, untuk mencari sang suami yang sudah lama tak dia lihat selama ini.
Sembari menahan tangis. Bulan berjalan menyusul Seri. Wanita itu duduk bersimpuh di lantai setelah capek menghancurkan semua barang-barang. Kemudian menangis pilu di sana.
Hati Bulan tentu saja terluka melihat betapa kacaunya, mamihnya sekarang. Mamihnya memang seperti orang gila setelah cerai dengan Papih. Bulan yang menjadi saksi disaat perceraian hari itu.
"Mamih!" panggil Bulan. Gadis itu mengusap air mata Seri, tak peduli kalau pelipisnya sekarang sudah mengeluarkan darah sedikit dari sana.
Gantian pula. Bulan yang memegang kedua bahu sang Mamih.
"Dengar Bulan, Mi." Bulan menatap maminya dengan tegas. "Ingat perkataan Bulan. Papih udah berubah, Mi. Papih nggak akan pulang lagi, jangan cuman Papih aja yang Mami pikirin. Ada Bulan di sini! Bulan yang akan selalu ada di samping Mami! Bukan siapa-siapa atau Papi sekali pun."
Namun, sepertinya. Seri yang menyukai perkataan Bulan tadi. Dengan teganya wanita itu menampar Bulan, membuat kepala gadis itu tertoleh ke samping.
"Anak kurang ajar! Tega sekali kamu bilang begitu!"
Maka malam itu, Bulan tak bisa menghindar dari amukan sang Mamih yang memukulnya dengan brutal.
Mungkin Bulan akan habis ditangan wanita itu, kalau saja pembantu mereka datang dan menolong Bulan dari amukan sang Mamih.
***
Dengan hoodie, Bulan bisa menutupi beberapa luka yang ada ditubuhnya karena pukulan dari maminya malam tadi.
Sementara Bulan yang kini berdiri di depan cermin, menekan handsaplas di dahinya untuk menutupi luka kecil di pelipis. Menghela napas pelan Bulan akhirnya keluar dari kamar untuk sarapan pagi sebelum berangkat sekolah.
"Mamih udah bangun, Bi?" tanya Bulan seperti pagi biasanya yang akan menanyakan keberadaan Mami kepada pembantu mereka.
"Belum, Non! Mungkin bangun siangan karena kejadian malam tadi," jawab Bibi itu.
Bulan mengangguk dan menghabiskan sarapannya dengan cepat. Setelah berpamitan dengan si Bibi, Bulan menyempatkan melihat keberadaan Mami di dalam kamar.
Bulan tersenyum kecil melihat wajah lelap mamihnya. Disaat seperti ini, Mamih akan terlihat tenang dan damai. Berbeda dengan malam kemarin yang sangat brutal memukul Bulan dengan benda-benda yang ada di dekatnya.
Sayangnya, seberapa banyak luka yang diberikan Mamih. Bulan tak bisa membenci wanita itu, karena di dunia ini. Bulan hanya memiliki Mamih, meski dia masih punya Papi dan dua Abang.
Namun, tiga pria itu tak pernah ada untuk Bulan setelah memulai hidup baru dengan keluarga masing-masing.
Bulam mencium dahi dan kedua pipi mamihnya. "Bulan sayang, Mamih," bisik Bulan seraya mengusap kepala wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu.
Seusai itu, Bulan berdiri dan keluar dari sana. Tanpa tahu setelah itu, Seri membuka mata dan menangis dalam diam.
Tiba di halaman rumah. Bulan sedikit terkejut mendapati Alam di sana. Cowok itu tersenyum manis.
"Ngapain?" tanya Bulan polos. Seharusnya dia marah karena ciuman pertamanya diambil oleh cowok ini. Akan tetapi, Bulan tidak bisa marah. Entah kenapa, dia juga tidak tahu.
Alam mendengkus kasar. "Jemput lo, lah! Siapa lagi?" Alam bertanya balik. Sebenarnya, alasan Alam menjemput Bulan ialah hendak menghindari Dara. Agar gadis itu tak berangkat bareng dengannya.
Mengingat adiknya itu hari ini pertama sekolah di satu sekolahan dengannya.
"Lo nggak perlu repot-repot jemput gue," balas Bulan santai. "Toh, ada supir yang anterin gue," sambung Bulan.
Tersenyum gemas, Alam sengaja mengacak poni Bulan seakan hendak membuat gadis itu marah. Dan ternyata terbukti, gadis itu langsung mendelik tajam ke arahnya.
"Udah, buruan naik! Ntar kita telat lagi," suruh alam menoleh ke arsh motornya.
Mau tak mau, Bulan akhirnya naik ke atas motor cowok itu. Bahkan Bulan terpaksa memeluk Alam dari belakang karena atas paksaan dari sepihak diantara mereka.
Ada sekitaran lima belas menit. Bulan turun dari motor Alam dan membiarkan cowok itu membukakan helm dari kepalanya, sama persis ketika cowok itu memasangkannya tadi.
"Thanks, atas tumpangan pagi ini," ujar Bulan setengah tulus.
Alam mengangguk. Saat melihat Bulan hendak pergi dari sana, buru-buru Alam mencegahnya.
"Bareng," ujar Alam seakan tahu melihat raut wajah Bulan yang seakan bingung.
Sepanjang koridor, Bulan merotasikan bola matanya ketika lagi-lagi tangan Alam tersampir di bahunya. Padahal Bulan sudah berulang kali menepisnya. Akan tetapi, Alam terlalu egois. Membuat Bulan jengah sendiri.
"Abang!" Teriakan itu menjadikan langkah keduanya terhenti. Tubuh Alam menegang sesaat, tapi tak berapa lama mencoba rileks. Memperhatikan adiknya yang berlari mendekat ke arahnya.
"Abang kenapa pergi dulu, sih? Aku kan mau bareng sama abang tadi," ujar Dara bersungut-sungut. Alam tak membalas, dan menoleh ke arah Bulan yang seakan tak nyaman bersda diantara mereka.
"Lan, kenalin, dia Dara adik gue," ucap Alam tiba-tiba. Alis Bulan terangkat satu. Mencoba tersenyum ramah ke arah gadis di depan sana.
Demi apa perasaan Bulan tiba-tiba tak enak sekarang.
Alam kembali menoleh ke arau Dara. "Dan Dara, ini Bulan, pacar gue!"
Mata Bulan langsung terbelalak. Menatap kesal ke arah Alam dan langsung melirik ke arah anak-anak lain. Yang sekarang sudah sangat terkejut karena pengakuan murahan dari Alam tadi. Sungguh, Bulan tak mau menjadi bahan sorotan sekarang.
"Lo apaan, sih! Kan gue belum jawab pertanyaan lo malam tadi," bisik Bulan. Kemudian mencubit perut Alam.
Alam meringis pelan. "Kelamaan nunggu jawaban dari lo. Sekarang lo milik gue," aku Alam, kembali melirik Dara yang sudah mematung dengan mata memerah.
Tanpa peduli, Alam menarik bahu Bulan dan mencium pipi gadis itu di depan anak-anak sekolah.
Sekali lagi. Alam membuat Bulan terkejut di pagi hari yang indah ini.