Ada kebiasaan buruk Bulan. Gadis itu sangat suka memakan jambu biji yang masih mentah dan langsung diambil dari pohonnya. Mungkin nasib baik atau keberuntungan Bulan.
Di belakang sekolah ada satu pohon jambu biji. Yang sekarang sudah berlebat buah. Dua tahun sekolah di sini, Bulan sudah biasa mengambil jambu biji kalau tak ketahuan sama guru.
Seperti sekarang Bulan bukannya belajar di dalam kelas. Gadis itu memilih bolos demi untuk menikmati jambu biji kesukaannya. Gadis itu bahkan sudah berada di atas pohon dan mengambil satu buah jambu biji dan memakannya di atas pohon.
Tahu apa rasa jambi biji yang belum benar-benar matang? Rasanya ah, jangan ditanya. Sialnya Bulan sangat menyukai hal itu.
"Nggak ada yang enak selain lo," ujar Bulan menatap jambu biji ditangannya kemudian menggigitnya dengan kuat sehingga terdengar bunyi.
Sambil makan jambu dan menikmati semilir angin. Bulan memejamkan nata sesaat. Setelah ada satu jam di sana, bell istirahat bahkan sudah berbunyi. Seakan puas menikmati makan jambunya, barulah Bulan turun dari pohon.
Nasibnya kali ini kurang beruntung sekali. Begitu hendak turun kaki Bulan malah terpeleset, dengan mata terpejam dalam hati Bulan berdoa ada seorang pangeran yang akan menolongnya. Meski dia sedikit ragu dengan hal itu.
Rupanya doa Bulan terkabulkan dengan cepat. Buktinya bukan merasakan sakit dari tubuhnya karena jatuh dari atas pohon. Bulan malah merasakan ada seseorang yang menangkap tubuhnya ini.
Mata Bulan sontak terbuka lebar. Disitulah Bulan menatap sosok mata kelam yang sangat begitu damba bila dilihat lebih dekat seperti ini. Tangan Bulan bahkan tak sengaja sudah melingkar dileher pemuda itu.
"Lo bolos?" Pertanyaan dari pemuda itu membuat Bulan hendak turun dari gendongan. Akan tetapi, pemuda itu malah menguatkan gendongannya.
"Bukan urusan lo," sahut Bulan.
Alam— pemuda itu hanya tersenyum tipis.
Bulan juga tahu semenjak satu tahun adanya, Alam merupakan sosok yang teguh untuk meluluhkan hatinya yang serasa sudah membeku ini.
"Turunin, ih!" suruh Bulan.
Akhirnya Alam menurut, menatap ke atas pohon setelahnya melirik ke bawah pohon di mana ada beberapa bekas biji jambu berceceran di sana.
"Lo makan jambu mentah," tanya Alam seakan tak habis pikir.
Bulan hanya melengos panjang. "Kenapa? Ada rugi, ya, sama lo kalo gue makan jambu mentah?" sarkas Bulan.
Alam merotasikan matanya. "Ntar lo bisa sakit perut kalo makan jambu mentah, Bulan." Pemuda itu mengusap kepala Bulan gemas.
"Apa, sih!" Bulan menepis tangan cowok itu.
"Lo unik, Lan. Makanya gue tetap maju walau lo jelas-jelas nolak gue," ujar Alam. Menjulurkan tangannya ke pipi Bulan dan mengusapnya pelan.
Bulan sempat tertegun, tetapi urung tak langsung menjauhkan tangan Alam dari pipinya.
"Udah, ah! Gue mau ke kantin," ujar Bulan hendak melangkah.
Namun, kerah belakang seragam sekolahnya di tarik oleh cowok itu.
"Astaga! Lo napa sih?" jerit Bulan ketika tubuhnya dipaksa mundur lagi.
"Bareng," sahut Alam cuek kemudian merangkul bahu Bulan menuju kantin. Tak peduli kalo anak lain menatap aneh ke arah mereka. Yang terpenting Alam merasa biasa saja.
***
"Adik kamu besok akan pindah ke sekolah kamu," ujar Papa Alam malam itu.
Ruang makan lengang sekejap. Sebelum Alam meletakkannya sendoknya sedikit kasar, melirik sekilas adiknya yang sudah tersenyum malu.
"Kenapa harus pindah ke sekolah Alam sih?" tanya cowok itu heran.
Papa Alam mengangkat bahunya acuh. "Adik kamu yang minta," jawab sang Papa.
Alam mendengkus pasrah. Gadis yang berstatus jadi adiknya itu sangat manja sekaligus ada satu rahasia yang mereka simpan sejak lama.
Usai makan malam. Papa sudah beranjak menuju ruang kerjanya. Sementara Mama di dapur sibuk membereskan sisa makanan.
Alam meneguk air minumnya hingga tanda. Melirik keadaan ruang makan dan setelahnya menatap sang adik saat merasa cuman mereka yang ada di situ.
"Ke kamar gue," ujar Alam dingin.
Raut wajah gadis di seberang Alam itu mendadak lebih cerah. Sontak menganguk mantap.
"Aku bantu Mama dulu, tapi ya, Bang." Sang adik berseru yang dibalas oleh gumaman oleh Alam sendiri.
Alam pun bergegas naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya yang ada di ujung lorong. Sementara di depan kamarnya ada kamar adiknya tadi. Sudah hampir sebulan Alam tak masuk ke dalam sana, karena kejadian satu hari itu.
Sekitar ada lima belas menit menunggu kedatangan sang adik. Alam membuka pintu kamarnya setelah ada mengetuknya dari luar.
Alam menggerakkan kepalanya menyuruh adiknya itu masuk ke dalam. Setelah mengunci pintu, Alam bersedekap menatap gadis itu.
"Jelasin kenapa kamu mau pindah ke sekolah, Abang?" tanya Alam.
Dara sang adiknya hanya menunduk malu. Memilin jemarinya.
"Nggak aku kasih tau, pun. Abang juga udah tahu, aku nggak bisa jauh dari abang." Gadis itu memberenggut kecil.
Alam menghela napas. "Please, Dar. Kamu harus bantu aku buat hilangin perasaan yang nggak seharusnya ada dihati aku buat kamu." Alam mengusap wajahnya kasar.
Dara menatap Alam dengan tajam. "Perasaan kita nggak ada salah, Bang! Ini murni perasaan cinta bukan yang lainnya, Abang jangan keliru," sahut Dara.
"Dar." Alam maju melangkah mendekati sang adik. "Papa sama Mama pasti bakal marah kalo tau kita saling cinta. Jadi, aku mohon hentikan semua ini." Menghembuskan napas berat. Alam memegang kedua bahu Dara. "Cari cowok lain, yang bikin kamu bisa move on dari aku. Perasaan ini nggak bisa dilanjut. Hubungan kita jelas terlarang," jelas Alam.
Dara menggeleng kuat. Matanya berkaca-kaca. "Itu nggak adil!" Dara menyentak tangan Alam dari bahunya.
"Kenapa kita nggak bisa bersama-sama kalau kita saling cinta? Berarti Tuhan nggak adil, bukan?" tanya Dara dengan air mata sudah menganak sungai membasahi pipinya.
"Aku cinta sama Abang. Abang juga cinta sama aku, nggak ada yang nggak mungkin termasuk hubungan aneh kita ini," lirih Dara.
Tak kuat melihat adiknya menangis karena sedari kecil Alam selalu berteguh hati untuk membuat adik kecilnya ini selalu bahagia. Alam akhirnya merengkuh tubuh Dara dan memeluk gadis itu erat.
Tidak peduli kaos hitamnya basah akibat tangis dari Dara. Setelah beberapa menit tangisan Dara terhenti, gadis itu mengurai pelukan.
Menangkup wajah Alam. "Dari dulu Abang selalu menuruti aku. Jadi, untuk kali ini turutin kemauan aku, Bang. Jadilah pacar aku," ucap Dara. Setelahnya dengan berani berjinjit dan mencium bibir Alam yang ini bukanlah pertama kali dia lakukan. Mungkin ini adalah kali ketiganya mereka berciuman.
Anggap saja mereka gila.
Alam masih terdiam, tidak membalas ciuman gadis itu meski Dara sibuk menyecap bibir Alam. Saking geram karena tak ada balasan dari Alam. Dara menggigit bibir Abangnya itu, barulah ciuman itu terbalas.
Dara tersenyum kemenangan dibalik ciuman. Apalagi satu tangan Alam menahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman itu.
Ada satu menit mereka berciuman. Alama melepaskan tautan itu, kemudian menggeleng kecil membuat Dara mengernyit heran.
"Maaf, Dar! Tapi aku nggak bisa melanjutkan semua ini. Aku udah punya pacar."
Tubuh Dara membeku. Dia tak bergerak sama sekali ketika Alam sudah keluar dari kamar itu, meninggalkan Dara yang mengamuk di sana karena tak terima sang Abang punya pacar baru.
***
Ini gila! Anggap saja Alam sudah memang gila. Usai berciuman dengan Dara dan mengatakan kalimat omong kosong. Alam keluar dari kamar dan sekarang sudah mematikan motornya di depan gerbang rumah Bulan.
Ada satu hal yang harus Alam lakukan, demi perasaan cinta ke Adiknya menghilang. Dia harus melampiaskan ke seseorang tidak peduli dia dianggap berengsek nantinya.
Hanya saja, Alam tak mau melanjutkan hubungan terlarang mereka itu. Setelah mengirimi pesan ke Bulan dan mengatakan dia di depan rumah gadis itu.
Alam bersandar di motornya. Kemudian berdiri tegak saat melihat Bulan datang menggunakan baju tidur Doraemon yang sialnya sangat imut di mata Alam.
"Lo ngapain datang malam-malam ke rumah gue?" tanya Bulan dan bersedekap.
Alam langsung mendekati gadis itu, menarik kedua tangan Bulan dan menggenggamnya.
"Mungkin ini terlalu tergesa buat lo, Lan. Tapi gue udah memantapkan hati." Alam menahan napas sekejap. "Jadi pacar gue, ya? Jangan nolak, karena dikamus hidup gue penolakan itu nggak ada."
Setelahnya Alam mendekat dan mencium dahi gadis itu cukup lama. Alam memejamkan matanya, berharap keputusan ini tak salah jalan nantinya.
Sementara Bulan masih berdiam tak mengerti apa yang dikatakan Alam tadi, sekaligus terlalu shock saat Alam mencium dahinya.