Langkah kakinya berat, ingin rasanya Bulan berbalik dan kembali memeluk Alam. Tidak tahu kenapa dia ingin terus bersama cowok itu. Akan tetapi, mengingat semua yang dilakukan Alam selama ini, hanya ada luka yang diberi sosok itu. Bulan akui dia kalah dalam permainan cinta ini. Bulan menghapus air matanya dengan kasar, tidak boleh secengeng ini hanya karena baru putus cinta. Baiklah, perjalanan hidup Bulan masih panjang mungkin ada sosok lain yang bisa menggantikan Alam nantinya di dalam hidup Bulan. "Non, nggak apa-apa?" Pertanyaan itu meluncur dari sopir pribadinya. Tidak tega melihat Bulan menangis seperti ini. Bulan menggeleng pelan. "Saya nggak apa-apa, Pak." Suara Bulan tertahan. Gadis itu menatap keluar jendela, kembali lagi Bulan harus menata hatinya. Kini sudah hancur berkeping

