Alam tertawa pelan seraya membalas pesan dari Bulan. Rasanya Alam lebih hidup lagi ketika bersama gadis itu. Alam juga merasa bahagia sekaligus semakin tak mau melepaskan gadis satu itu. Pintu kamar Alam terbuka dengan kasar. Tentu saja Alam terkejut bukan main. Sembari memegang dadanya, Alam menghela napas melihat Dara yang membuka pintu tadi. "Ap—" ucapan Alam terpotong. "Udah ada seminggu sejak kejadian malam itu, Abang bahkan belum jujur ke Mama dan Papa," sentak Dara dengan wajah berang. Alam mengembuskan napas pelan. "Iya, Dar. Gue bakal ngomong sama Mama dan Papa, tapi nggak sekarang. Gue belum siap nerima amukan dari Papa," jelas Alam. Namun, Dara seakan tak mendengarkan Alam. Gadis itu terus menuntut agar Alam berani membuka mulut. "Oke, kalo Abang nggak mau ngomong sama ora

