Suasana aula yang megah itu mendadak mencekam. Di balik jendela kaca besar, lampu sirine polisi mulai memantul di langit-langit kristal, memberikan nuansa merah dan biru yang kontras dengan gaun champagne Alana. Nathan dan Kenzie terpaku, menatap Alana seolah-olah wanita itu baru saja menusukkan belati tepat ke jantung mereka.
"Kau... kau benar-benar melakukannya, Al?" suara Kenzie bergetar. Tangannya yang tadi menggenggam erat jemari Alana kini terkulai lemas. "Setelah semua yang aku korbankan untuk membawamu pulang dari London?"
Alana tidak menatap Kenzie. Ia menatap lurus pada Wijaya, ayah kandungnya yang masih duduk tenang di kursi roda. "Tanda itu, Ayah. Sekarang."
"Alana, berhenti!" Nathan melangkah maju, menghalangi pandangan Alana ke arah pintu utama. "Kau pikir dengan menjebloskan kami ke penjara, kau akan bebas? Kau lupa siapa yang menghapus jejakmu di London? Siapa yang memalsukan identitasmu agar kau tidak terseret kasus Sterling? Jika kami jatuh, kau ikut jatuh, Alana!"
"Aku sudah jatuh sejak hari pertama aku masuk ke rumah ini, Kak!" teriak Alana, suaranya pecah. "Aku jatuh setiap kali kalian menyentuhku dengan alasan cinta, padahal itu hanya obsesi! Kalian tidak mencintaiku... kalian hanya ingin memilikiku!"
Nathan tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar sangat terluka namun tetap dominan. Ia mendekat hingga d**a bidangnya menyentuh bahu Alana. "Obsesi? Mungkin. Tapi bisakah kau membohongi tubuhmu sendiri, Alana? Bisakah kau melupakan bagaimana detak jantungmu saat aku menciummu di helikopter itu? Atau bagaimana kau bersandar pada Kenzie di ruang rahasia?"
Kenzie ikut mendekat, berdiri di sisi lain Alana. "Dia benar, Al. Kau benci kami karena kita mengira kita sedarah. Tapi sekarang penghalang itu hilang. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Tanpa rahasia, tanpa ketakutan akan dosa."
"Awal yang baru di atas penderitaan orang lain?" Alana menunjuk ke arah Tuan Arkananta yang masih terduduk lemas. "Lihat pria itu. Dia ayah kalian. Dan kalian menghancurkannya hanya untuk mendapatkan aku. Apakah itu yang kalian sebut cinta?"
"Dia bukan ayah kami lagi sejak dia mencoba menjualmu pada Sterling!" raung Kenzie. "Kami melakukannya untukmu!"
Pintu aula terbuka lebar. Belasan polisi masuk dengan senjata lengkap, dipimpin oleh seorang komisaris yang tampak sangat menghormati Wijaya. Para tamu undangan mulai berhamburan keluar dengan panik, meninggalkan pusat konflik yang semakin panas.
"Tuan Wijaya, kami siap melakukan penangkapan," ucap sang Komisaris.
Wijaya menatap Alana, memberinya isyarat dengan anggukan kepala. "Pilihan ada di tanganmu, Putriku. Sebutkan nama mereka, dan malam ini juga mereka akan mendekam di sel."
Nathan menatap moncong senjata para polisi itu dengan tenang, lalu kembali menatap Alana. Ia mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka lebar di hadapan Alana.
"Jika kau ingin aku hancur, lakukan dengan tanganmu sendiri, Alana. Berikan perintah itu pada mereka," bisik Nathan, matanya mengunci tatapan Alana. "Tapi jika kau pergi bersamaku sekarang, aku bersumpah... aku akan memberimu dunia yang tidak pernah bisa diberikan oleh pria tua di kursi roda itu."
"Jangan dengarkan dia!" Kenzie menyela, ia berlutut di depan Alana, memegang kedua tangan gadis itu. "Ikutlah denganku, Al. Kita lari. Aku punya segalanya untuk kita memulai hidup baru. Bukan sebagai Arkananta, bukan sebagai Wijaya. Hanya kita."
Alana merasakan dadanya sesak. Di depannya ada dua pria yang telah mengukir luka dan gairah dalam hidupnya. Nathan dengan perlindungannya yang mencekik namun megah, dan Kenzie dengan cintanya yang liar namun jujur. Di belakangnya, ada ayah kandungnya yang menawarkan keadilan yang terasa dingin.
"Alana..." panggil Nathan lagi, suaranya kini terdengar sangat manis, sangat baper, seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu. "Ingat mawar biru di lehermu. Itu bukan sekadar perhiasan. Itu adalah janjiku bahwa aku akan selalu menjadi langit untukmu."
Kenzie mencium punggung tangan Alana, air mata mengalir di pipinya yang lebam. "Aku mencintaimu, Al. Lebih dari nyawaku sendiri. Tolong... jangan biarkan mereka membawaku pergi darimu."
Alana menatap polisi-polisi itu, lalu menatap Wijaya. Ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Kenzie. Ia melepas kalung mawar biru dari lehernya dan menjatuhkannya ke lantai marmer dengan denting yang memilukan.
"Pak Komisaris..." suara Alana bergetar.
Nathan memejamkan mata, bersiap untuk hal terburuk. Kenzie menundukkan kepala, bahunya berguncang karena isak tangis yang tertahan.
"Maafkan saya," ucap Alana. "Ada kesalahpahaman. Mereka tidak menculik saya. Mereka adalah kakak saya yang mencoba menyelamatkan saya dari perdagangan manusia yang dilakukan oleh Tuan Arkananta dan Lord Sterling."
Wijaya tersentak di kursi rodanya. "Alana! Apa yang kau lakukan?"
Alana berbalik menatap ayahnya dengan tatapan yang sangat dewasa. "Aku tidak ingin keadilan yang dibangun di atas penjara untuk orang yang mencintaiku, Ayah. Aku ingin keadilan bagi pria yang benar-benar menjualku."
Alana menunjuk ke arah Tuan Arkananta yang kini gemetar ketakutan. "Tangkap dia. Dia pelakunya."
Polisi segera bergerak meringkus Tuan Arkananta. Suasana menjadi kacau saat pria tua itu berteriak-teriak menyumpahi anak-anaknya.
Nathan membuka matanya, menatap Alana dengan pandangan yang tak percaya. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya, sangat erat hingga Alana sulit bernapas. "Kau... kau menyelamatkan kami?"
"Aku tidak menyelamatkan kalian," bisik Alana di d**a Nathan. "Aku hanya memberikan kalian satu kesempatan terakhir untuk membuktikan bahwa kalian bukan monster seperti dia."
Kenzie bangkit dan ikut memeluk Alana dari belakang, menenggelamkan wajahnya di bahu Alana. "Terima kasih, Al... terima kasih."
Wijaya menatap pemandangan itu dengan kemarahan yang tertahan. Ia menyadari bahwa meski ia adalah ayah kandungnya, ia telah kalah oleh ikatan obsesi yang dibangun oleh dua bersaudara Arkananta itu selama sepuluh tahun.
"Kau akan menyesal, Alana!" teriak Wijaya saat ia didorong keluar oleh pengacaranya. "Mereka akan menghancurkanmu!"
Setelah aula itu kosong dan hanya menyisakan mereka bertiga di bawah temaram lampu kristal yang mulai redup, Nathan melepaskan pelukannya namun tetap memegang pinggang Alana.
"Sekarang tidak ada lagi Ayah, tidak ada lagi Sterling, dan tidak ada lagi rahasia sedarah," gumam Nathan.
Kenzie memegang tangan Alana, menatapnya dengan penuh cinta. "Hanya kita bertiga, Al. Seperti yang kau inginkan."
Alana menatap mereka bergantian. "Kalian pikir ini selesai? Aku menyelamatkan kalian dari penjara, tapi aku belum memaafkan kalian."
Nathan tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat manis namun tetap penuh rencana. Ia menarik Alana menuju pintu keluar.
"Kita punya banyak waktu untuk meminta maaf, Alana. Lagipula..." Nathan menggantung kalimatnya sejenak.
"Lagipula apa?" tanya Alana waspada.
Nathan menatap Kenzie, lalu kembali pada Alana dengan kilat mata yang sangat posesif.
"Kau baru saja memberikan pernyataan resmi pada polisi bahwa kami adalah kakakmu. Artinya, di mata hukum, kita tetap harus tinggal di satu rumah yang sama sebagai keluarga... atau publik akan curiga."
Kenzie menyeringai nakal. "Dan kau tahu apa artinya itu, Al? Kau akan tetap berada di bawah pengawasan kami dua puluh empat jam penuh."
Alana mendongak, menatap langit Jakarta yang mulai terang. Ia menyadari bahwa pilihannya tadi bukanlah pintu menuju kebebasan, melainkan babak baru dalam cinta segitiga yang semakin rumit dan manis secara terlarang.
"Jadi... ke mana kita pergi sekarang?" tanya Alana lirih.
Nathan membukakan pintu limusin hitamnya, membungkuk sedikit dengan gaya yang sangat elegan.
"Ke rumah baru kita, Alana. Tempat di mana kau akan belajar bahwa menjadi seorang Wijaya atau Arkananta tidaklah penting..."
Nathan menjeda, menatap bibir Alana dengan lapar.
"...yang penting adalah, kau adalah milik kami berdua, dan malam ini, perayaan yang sesungguhnya baru saja dimulai."